CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
87. Aku Di Sini


__ADS_3

"Mama benar-benar enggak nyaman, duduk di sini sama perempuan itu. Rasanya nggak enak aja Pa," ujar Bu Amalia saat mereka tiba di depan ruang operasi.


Suara Bu Amalia benar-benar jelas terdengar oleh setiap orang yang berada di depan ruangan itu. Pak Hartono yang sepertinya tampak lelah hanya berdiri bersandar ke dinding dengan memijat-mijat dahinya.


Dean telah didorong masuk melewati pintu ruang operasi. Sesaat kemudian seorang perawat berjalan mendekati mereka.


"Keluarganya pak Dean? ibu istrinya?" tanya perawat pada Winarsih.


Baru saja Winarsih hendak menarik nafas ingin menjawab pertanyaan perawat, Bu Amalia berdiri dari duduknya.


"Saya Ibunya, mau bertanya apa? saya yang lebih mengerti soal anak saya." Bu Amalia melambai memanggil perawat yang sedang memegang sebuah papan pencatat.


"Pasien atas nama Dean Danawira Hartono benar Bu?" tanya perawat.


"Benar," jawab Bu Amalia sekilas melirik Winarsih yang duduk tegak menatapnya tanpa ekspresi.


"Golongan darahnya A ya Bu?" tanya perawat lagi.


"Ya benar, A" jawab Bu Amalia lagi. Mendengar jawaban Bu Amalia, perawat itu terlihat mencatat sesuatu di atas papan.


"Pak Dean pernah mengalami kecelakaan sebelumnya Bu?"


"Pernah, sudah lama sekali. Sewaktu duduk di bangku kelas 2 SMA. Kaki kanannya patah karena kecelakaan mengendarai sepeda motor besar."


Bu Amalia mengetatkan wajahnya memandang Winarsih yang menyimak setiap perkataannya kepada perawat.


"Kecelakaan sepulang mengantar pacarnya dulu. Sama aja. Sama-sama pembawa sial buat Dean," gumam Bu Amalia yang membuat perawat di depannya menaikkan alis.


"Ada alergi obat?" tanya Perawat itu lagi.


"Alergi penisilin, amoxilin dan yang sejenisnya dalam bentuk injeksi," jawab Bu Amalia.


"Tidak ada riwayat penyakit bawaan?"


"Nggak ada," tukas bu Amalia.


"Tulang kering kaki kanan Pak Dean sepertinya retak Bu. Kemungkinan besar di tempat yang sebelumnya pernah cedera ya. Nanti selesai operasi perutnya, Dokter Orthopedi periksa Pak Dean lagi. Saya permisi dulu Bu," ucap Perawat itu kemudian masuk ke ruangan operasi.


Bu Amalia kembali duduk di kursi ruang tunggu sambil mencengkeram sebuah tas tangan yang sejak tadi berada di pangkuannya. Wajah wanita tua itu terlihat lelah, cemas dan marah dalam satu waktu.


Winarsih yang sejak tadi mendengarkan percakapan Bu Amalia dan seorang perawat, menangkap tatapan penuh benci dari wanita itu.


Winarsih tak mau melawan tatapan Ibu Mertuanya itu, sekarang dia berpikir bahwa Bu Amalia ada benarnya. Dia belum mengetahui apa-apa soal Dean.


Golongan darahnya A, tungkai kaki kanannya pernah patah, alergi penisilin dan amoxilin bentuk injeksi. Itu adalah hal-hal baru yang diketahuinya tentang Dean.


Bagaimanapun, peran seorang ibu takkan pernah terganti bagi anaknya. Kesedihan hati ibu Amalia pasti persis sama dengan yang dirasakan oleh ibunya saat Yanto terbaring lemah di rumah sakit.


Winarsih kembali melirik ibu mertuanya, terbetik perasaan kasihan saat melihat tangan yang menunjukkan guratan usia sedang menggenggam erat tali tas.


Rambut wanita itu pun terlihat berantakan. Bu Amalia biasanya tampil selalu rapi, tapi tidak malam ini, saat Dean sedang tertimpa musibah.

__ADS_1


Hampir pukul 2 dini hari, saat Dokter Bedah mengumumkan pada mereka bahwa operasi Dean akan segera dimulai.


Winarsih bersama Novi dan Ryan duduk berjarak satu baris bangku dari Bu Amalia dan Pak Hartono yang juga tengah menunggu jalannya itu.


Di seberang mereka duduk, Fika dan Irman. Sebenarnya sikap cemburu Dean kepada Irman itu tak sepenuhnya tak berdasar. Entah sejak kapan, tapi sebagai seorang pria normal yang bisa dikatakan pernah menjadi pria mata keranjang, Dean menyadari hal itu.


Dan tadi, sejak Winarsih tiba di rumah sakit, Irman memang sesekali terlihat melirik menantu Bosnya dengan pandangan yang tidak bisa dimengerti.


Fika dan Ryan melakukan kegiatan yang sama, keduanya tengah melihat headline berita yang sekarang sedang ramai muncul terkait kecelakaan yang menimpa Dean.


"Mobil yang menabraknya langsung raib," gumam Ryan yang membuat Novi di sebelahnya melirik.


"Pelakunya pasti sama," sambung Ryan lagi masih menggulir layar tabletnya.


"Bu Winar nggak mau istirahat dulu?" tanya Novi pada Winarsih yang masih duduk tegak memegang perut dengan kedua tangannya.


"Enggak usah Nov. Saya di sini aja," tolak Winarsih lembut pada Novi duduk di sebelahnya.


Bagaimana mau beristirahat, kantuknya saja sudah hilang sejak Novi mengetuk pintu kamarnya tadi.


Hampir dua jam berlalu, kemudian Dokter yang memeriksa Dean tadi di UGD ke luar dari ruang operasi. Sambil melepas penutup kepalanya, Dokter itu berkata,


"Operasinya sudah selesai ya, semuanya lancar."


Bu Amalia dan Pak Hartono berjalan mendekati Dokter Firza yang akan menjelaskan kondisi Dean.


"Luka tusukannya cukup dalam mengenai bagian usus halus, jadi saya harus memotong usus halusnya sepanjang 40 senti. Karena usus itu saluran ya, ada isi usus, cairan usus, gas dan kuman normal. Jadi untuk mencegah kuman normal itu mengkontaminasi rongga perut, jadi usus yang rusak harus dipotong. Tapi nggak apa-apa. Kondisi pasien sangat stabil," ujar Dokter Firza seraya melemparkan pandangan pada Winarsih yang berdiri di kejauhan mendengar penjelasannya.


"Ya sudah, saya permisi dulu. Sebentar lagi Pak Dean sudah bisa dibawa ke ruang pemulihan. Saat ini masih dalam pengaruh bius. Keluarganya bisa istirahat, besok pagi bisa jenguk di ruang rawat." Dokter Firza mengangguk pada Pak Hartono dan Bu Amalia kemudian berlalu dari sana dengan langkah santai.


**********


"Pak Dean sudah bangun kan Nov? Pak Hartono dan Bu Amalia masih di kamarnya?" tanya Winarsih yang terburu-buru keluar dari salah satu kamar mandi lobby rumah sakit.


"Iya Bu, sudah bangun. Tapi Bu Amalia masih di dalam." Novi berdiri di luar kamar mandi masih dengan memegang tas bawaan Winarsih.


"Apa saya ganti baju aja ya Nov? saya mau seger kalo ketemu Pak Dean," tanya Winarsih seolah pada dirinya sendiri.


Novi mengulurkan tas yang tak berapa lama kemudian diaduk-aduk isinya oleh Winarsih.


Tak berapa lama Winarsih kembali ke luar kamar mandi dengan sebuah dress baru dan wajahnya terlihat lebih segar.


Berkali-kali dia mematut wajahnya di depan kaca sebelum meninggalkan kamar mandi wanita itu. Novi tersenyum melihat persiapan Winarsih untuk menemui suaminya yang baru terbangun dari anestesi panjang.


"Sudah cantik sekali, Pak Dean pasti senang," ujar Novi kembali menenteng tas dan berjalan menggandeng Winarsih menuju lift.


Pintu kamar rawat Dean terbuka sedikit, memperlihatkan Pak Hartono dan Bu Amalia yang sedang berdiri di kedua sisi putranya. Irman dan Fika berdiri tak jauh dari Pak Hartono.


Ryan duduk setengah tertidur di salah satu sofa menyandarkan kepalanya.


"Eh itu istri Dean udah nyampe," tukas Dean tiba-tiba melihat ke arah pintu.

__ADS_1


"Yan! panggil istri gua masuk," pinta Dean pada Sekretarisnya. Ryan langsung membuka mata dan bangkit menuju pintu.


"Kamu ini, Mama masih mau ngomong." Bu Amalia terlihat gusar dengan tingkah anaknya yang memanggil Winarsih.


"Win, sini--" panggil Dean merentangkan tangan kanannya ke arah Winarsih yang melangkah perlahan mendekatinya melewati belakang Pak Hartono.


"Kamu kok udah cantik banget pagi-pagi di rumah sakit? majuan dikit ke sini," pinta Dean lagi yang tangannya langsung menggenggam tangan isterinya.


Bu Amalia mundur sedikit menjauhi ranjang Dean dan Pak Hartono menggeser letak tubuhnya untuk memberi ruang pada Winarsih.


Ryan hanya menghela nafas menatap Atasannya, kemudian kembali ke sofa untuk melanjutkan tidur.


"Selama aku operasi, kamu nggak pulang ninggalin aku kan?" tanya Dean menatap isterinya.


"Enggak," jawab Winarsih sedikit melirik risih kepada Pak Hartono yang tengah berdiri memperhatikan mereka.


Menyadari kedua orangtuanya masih berada di sana, Dean menoleh ke arah Pak Hartono.


"Pa, Papa nggak ada rencana bawa Irman pulang dari sini?" tanya Dean pelan pada Pak Hartono.


Pak Hartono mengernyit heran memandang Dean, "Irman yang harusnya bawa Papa pulang, kok malah Papa yang bawa Irman pulang?"


Pak Hartono menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Dean.


"Ayo Ma, kita pulang. Anakmu sudah sehat itu! sudah mulai aneh-aneh yang dibilangnya," ajak Pak Hartono pada Bu Amalia yang masih memberengut.


Irman dan Fika mengikuti langkah Pak Hartono meninggalkan ruang rawat Dean.


"Win," panggil Dean saat sudah memastikan orangtuanya meninggalkan kamar itu.


"Ya Pak?" Winarsih menatap Dean dengan pandangan haru. Dia begitu gelisah menantikan operasi pria yang sedang menggenggam tangannya ini.


Jemari Winarsih merapikan beberapa helai rambut Dean yang turun ke dahi. Kemudian jemarinya turun mengusap alis mata suaminya.


"Mmmm, Win" panggil Dean lagi.


"Ya--" sahut Winarsih yang kini menyandari ranjang, masih membelai pipi Dean perlahan. Tanpa disadari Dean air mata istrinya itu sudah menggenang.


"Kamu kenapa? aku udah baik-baik aja Win. Kamu sedih kenapa?" tanya Dean memandang isterinya yang masih mengusap alisnya berkali-kali.


"Pagi tadi saya baru tau sedikit hal tentang Pak Dean dari Bu Amalia. Saya yang sudah menjadi istri, baru tahu golongan darah Pak Dean. Seandainya cuma saya yang ada di sini, saya pasti nggak bisa jawab pertanyaan para perawat itu. Saya bener-bener nggak tau apa-apa soal Pak Dean," lirih Winarsih dengan setetes airmata jatuh ke pipinya.


"Ya ampun istriku, nanti aku minta Ryan kasih CV lengkapku ke kamu. Hal itu jangan ditangisi. Itu masalah yang nggak mendesak," jawab Dean mengangkat helaian rambut Winarsih dan menyelipkannya ke belakang telinga.


"Yang nusuk Pak Dean juga pasti niatnya mau membunuh, sebelum ketangkep, saya pasti nggak akan tenang kalo Pak Dean di luar rumah." Winarsih terisak menumpahkan kekhawatirannya.


"Itu juga nggak usah dikhawatirkan. Pasti ketangkep, nanti aku yang bawa sendiri ke pengadilan. Anakmu lahir pasti ditemani Bapaknya. Harusnya kamu lebih prihatin dengan kakiku ini loh Win. Aku cemas soal kakiku ini. Gimana dengan kegiatan rutin kita?" tanya Dean dengan wajah frustasi memandang kakinya yang dibebat gips tebal.


To Be Continued.....


Sesuai janji yaa... :*

__ADS_1


__ADS_2