CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
72. Where Are You (2)


__ADS_3

"Mama kayaknya udah lupa ya? rumah ini udah Papa berikan atas nama Dean Ma. Dan sehari setelah menikah dengan Winarsih, Dean memberikan semua apa yang Dean miliki untuk istri Dean. Jadi Ma, rumah ini milik Winarsih. Dia berhak tinggal disini lebih dari siapapun. Termasuk kita. Maafin Dean Ma,"


Dean menyeret langkahnya meninggalkan Bu Amalia yang tersengal-sengal mendengar perkataan Dean barusan.


"Mama belum selesai bicara Dean!! Dean!!" Bu Amalia terus meneriaki Dean yang masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamar.


Setiba di kamar, Dean mencampakkan kopernya dan menjatuhkan dirinya di ranjang.


"Aku baru nyampe rumah ya Win. Kamu lagi ngapain?" Belum apa-apa, tapi Dean sudah merindukan isterinya itu.


"Papa? Oh ada. Tadi baru balik dari luar kota. Udah ketemu kok. Papa sehat. Kamu udah makan?"


"Mama? Mama juga sehat. Semua baik-baik aja. Jam berapa jadwal operasi Yanto?"


"Aku udah makan. Banyak banget. Makan Sop Iga. Mbah yang masak," jawab Dean berbohong. Padahal sejak tiba di Jakarta tadi dirinya bahkan belum sempat meminum segelas air putihpun.


"Kamu jangan capek-capek ya-- ntar aku susul lagi ke sana kalo urusan di sini udah kelar. Eh--Win, ada telfon masuk. Aku tutup dulu ya Sayang. Ntar aku telfon lagi. Jaga anakku ya Win,"


Dean mengakhiri pembicaraan dengan isterinya dan menjawab panggilan masuk yang ternyata berasal dari Ryan.


"Ya? di mana Yan? sama siapa? temennya yang mana? Ntar malem aja gua susulin langsung ke lokasinya. Lu balik aja ke rumah. Jangan ke kantor ya. Banyak wartawan. Gua nggak apa-apa. Udah basah Yan, takut apa lagi sih gua?"


Dean menarik dan menghela nafas panjang. Telepon barusan adalah dari Ryan yang baru saja mendapatkan informasi soal perkiraan keberadaan Disty.


Setelah menyebarkan video Dean kepada wartawan, pria itu menebak, Disty pastilah bersembunyi untuk sementara waktu agar berita itu terblow-up dengan sempurna.


Ryan mengatakan bahwa malam nanti, kemungkinan besar Disty akan menghadiri sebuah pesta di sebuah club malam yang terletak di pinggiran Jakarta.


Meski berita itu masih berstatus 'mungkin', tapi Dean tak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk mendatangi perempuan itu.


Masih pukul 15.00 dan perutnya tak ada menunjukkan tanda-tanda lapar. Dia berencana akan berangkat dari rumah selepas magrib.


**********


Pukul 17.00 Yanto telah didorong menuju ruang operasi. Winarsih mengantarkan adiknya itu hingga ke depan pintu ruang operasi sembari mencoba menghubungi Dean.


Tapi meski sudah menunggu sebanyak tiga kali panggilan, Dean tak kunjung menjawab panggilan itu.


Setelah melihat jam, Winarsih berasumsi kalau suaminya itu mungkin sedang tidur karena kelelahan.


Operasi Ventricular Sentral Defect (VSD) biasa memakan waktu waktu selama hampir 6 jam. Meski kata Dokter, operasi itu tidak tergolong operasi yang berbahaya, tapi tetap saja operasi tersebut memiliki resiko.


Pukul 20.00 malam, Winarsih duduk di ruang operasi bersama Ibunya. Novi duduk tak jauh dari mereka sembari tangannya terus mengetikkan sesuatu pada ponselnya.


Operasi dinyatakan dimulai pukul 18.00 tepat tadi. Dan kini telah lewat dua jam Yanto sedang berjuang di dalam ruangan operasi itu.


Waktu terasa berjalan sangat lama bagi Winarsih. Perutnya yang biasa sangat mudah merasa lapar, kini terasa kenyang. Meski wajahnya terlihat tenang, tapi sebenarnya, Winarsih sedang khawatir sekali.


Pukul 21.00 tepat, ponselnya bergetar. Dengan wajah mengantuk dan lelah, Winarsih menjawab panggilan Dean.


"Pak Dean ke mana? tidur ya? tadi sore saya menelfon,"


"Sudah. Saya sudah makan. Yanto masih di dalam. Ada Ibu dan Novi kok di sini," jawab Winarsih atas pertanyaan Dean soal adik dan ibunya.


"Pak Dean, lagi di mana--?" tanya Winarsih. Itu adalah kali pertama dia menanyakan keberadaan suaminya itu.


Selama ini, Winarsih selalu sungkan untuk bertanya di mana, dan apa yang sedang dilakukan suaminya.


"Di rumah ngapain? di kamar yang mana?" tanya Winarsih lagi.

__ADS_1


Kali ini dia benar-benar rewel ingin mengetahui keberadaan suaminya. Maka saat Dean mengatakan sedang berada di ruang kerja Pak Hartono, Winarsih merasa lega.


Entah mungkin karena hormon selama masa kehamilannya ini, tapi saat Dean tak berada di dekatnya, pikirannya tak tenang. Seperti ada yang kurang.


**********


Pukul 18.00 Dean baru saja terbangun dari tidurnya. Merasa dirinya terlambat, Dean langsung bergegas ke kamar mandi.


Dia tak boleh terlambat mendatangi club di mana Disty akan berpesta malam ini. Sebelum memastikan bahwa wanita itu memang berada di sana, dia harus menunggu di tempat parkir, di mana dia bisa mengawasi pintu masuk club itu.


Dean memang tak mau mengajak Ryan untuk urusannya soal Disty kali ini. Meski Ryan memaksa, Dean tak mau kalau keributannya dengan perempuan itu dilihat orang lain. Bahkan oleh sekretarisnya sendiri.


Jam 20.00 kurang seperempat Dean tiba di halaman sebuah hotel, setelah dua kali ke luar masuk, akhirnya dia mendapatkan tempat parkir yang strategis.


Setelah menekan tombol breaker mobil, Dean mengambil ponselnya. Dia melihat dua kali panggilan tak terjawab dari isterinya pada pukul 5 sore tadi.


Dean langsung menelepon istrinya itu.


Malam itu, Winarsih sedikit berbeda. Isterinya itu berkali-kali menanyakan soal keberadaannya. Winarsih tak pernah seperti itu sebelumnya.


Istrinya tadi mengatakan kalau saat itu operasi Yanto sedang berlangsung. Kemungkinan baru akan selesai tengah malam nanti.


Setelah meyakinkan Winarsih, bahwa saat itu dia sedang berada di ruang kerja papanya, istrinya itu terdengar sedikit lega saat mengakhiri pembicaraan.


Sudah lebih dari 1 jam Dean berada di dalam mobil dengan mesin yang menyala, tapi belum ada tanda-tanda Disty datang ke tempat itu.


"Yan, lu yakin tempatnya ini? yang ngasi info siapa?" tanya Dean saat menghubungi Ryan via ponselnya.


"Temennya yang mana? sekantor? oh, iya. Gua inget. Ya udah deh gua tunggu sebentar lagi. Siapa tau aja dia--" perkataan Dean terhenti.


Matanya melihat sebuah sedan hitam yang diberikan-nya kepada Disty sebagai hadiah ulang tahun tampak memasuki pelataran hotel.


"Eh Yan, udah dulu ya. Gua ngeliat dia baru dateng. Gua tutup dulu. Ntar gua kabarin. Lu jangan telepon-telepon gua dulu, sampe gua yang nelpon elu," Dean buru-buru mengakhiri pembicaraannya.


Dean sedang berada di sebuah basement tempat dimana pintu masuk klub itu terlihat tak jauh dari tempatnya parkir.


Saat memastikan bahwa Disty telah memasuki ruangan, Dean mematikan mesin mobil dan berjalan perlahan menyusul wanita itu.


Saat melangkahkan kaki masuk klub itu, Dean disambut dengan musik menghentak dan ruangan yang nyaris tanpa cahaya.


Cukup lama dia menyesuaikan pandangan yang di dalam ruangan. Dan saat matanya menangkap sosok yang tak asing lagi, Dean mempercepat langkah kakinya untuk memperpendek jarak dengan Disty.


Disty terus berjalan menembus lautan manusia yang basah oleh peluh, hanyut oleh irama dan mabuk oleh alkohol.


Dari kejauhan, Dean melihat langkah kaki Disty seperti sedang melewati sebuah jalan yang banyak lubangnya.


Ternyata wanita itu sudah mabuk sejak tiba tadi.


"Dis!!" panggil Dean.


Disty langsung menoleh ke belakang. Kini mereka berada di sebuah lorong gelap yang kanan kirinya adalah jajaran KTV room.


"Dean suamiku-- aku kangen--" Disty merentangkan kedua tangannya saat melihat Dean mendekat.


"Nggak usah ngaco! kamu mabuk. Aku ke sini nyari kamu cuma mau nanya, kapan kamu mau keluar dari rumahku? atau perlu aku yang mengeluarkan semua barang-barangmu ke jalan?" tanya Dean tanpa basa-basi.


"Aku bilang aku kangen kamu Dean. Aku harus ngasih video-video itu ama wartawan untuk bikin kamu balik secepatnya ke Jakarta. Kamu ngapain di kampung-kampung sana? kalau pembantu kamu kabur, biarkan aja dia pergi ke tempat asalnya. Dia emang nggak pernah cocok ama kamu Dean," ujar Disty dengan mata yang sudah layu karena alkohol.


Dean mencengkram wajah Disty dengan satu tangannya, "Jangan pernah sebut pembantu. Dia adalah istri sahku. Kamu bukan siapa-siapa. Jangan pernah kembali lagi ke rumahku atau--"

__ADS_1


"Atau apa? kamu jangan lupa aku bisa menghancurkan kan si Hartono itu sekarang juga. Kalau aku nggak bisa memiliki kamu Dean, maka orang lain juga nggak boleh. Lepaskan tangan kamu sekarang," Disty menepis tangan Dean. Kemudian berbalik dan membuka salah satu pintu KTV yang ternyata adalah ruangan tujuannya.


Wanita itu berjalan terburu-buru hingga Dean harus ikut masuk ke dalam ruangan itu dan mencengkeram tangannya.


"Perempuan kayak kamu emang nggak pernah tau cara menghargai orang lain," bisik Dean di telinga Disty masih dengan mencengkeram tangan wanita itu.


"Lepasin aku! ngapain kamu di sini? harusnya kamu temui wartawan-wartawan yang udah berkumpul di depan kantormu sejak kemarin malam" desis Disty mencoba melepaskan cengkeraman tangan Dean.


"Jangan pernah lagi kembali ke rumahku!"


"Tapi ibumu masih sayang denganku Dean. Bagi Bu Amalia, aku adalah menantunya. Bukan pembantumu itu. Sadarlah Dean, kamu terlalu banyak bermimpi dengan drama si miskin itu,"


"Aku janji Dis, tanganku sendiri yang akan melemparkanmu ke luar dari rumahku. Sebentar lagi tunggu aja," emosi Dean menghempaskan tangan wanita itu.


"Guys.... kenalin ini adalah Dean Danawira Hartono, suamiku," Disty mengambil sebuah gelas cocktail dan meminumnya.


Beberapa orang pria yang sudah mabuk berat karena alkohol dan narkoba hanya mengangkat minumannya ke arah Disty sebagai syarat bersulang atau perkenalan mereka kepada Dean.


"Kamu udah berhasil menghamili pembantumu itu. Gimana kalo malam ini, kamu mencobanya dengan aku? Aku ingin anak dari kamu. Anak kita pasti cantik dan nggak kampungan," Disty tertawa terbahak-bahak.


"Istriku pernah bilang, kalo aku lebih cocok memakai sesuatu yang bersih. Jadi aku pasti nggak akan cocok memakai kamu!" sinis Dean.


"Berengsek!!" maki Disty.


Tiba-tiba ruangan KTV yang tadinya gelap gulita menyala seluruhnya.


"Semua harap diam di tempatnya masing-masing. Jangan ada yang bergerak untuk membuang atau menyimpan sesuatu. Kedua tangan harus nampak,"


Mata Dean mengerjap memandang sekeliling yang ternyata tampak sangat kacau.


Polisi. Belasan polisi satuan narkoba sedang masuk ke ruangan itu. Beberapa orang polisi wanita tampak mendekati beberapa wanita yang berpakaian nyaris setengah telanjang.


"Ini suami saya. Saya ke sini bersama suami saya," Disty memeluk lengannya dengan cara berdiri yang tak bisa menyembunyikan kondisi mabuknya.


Dean memejamkan matanya.


"Win, aku kangen--" bisiknya dalam hati.


**********


Hampir tengah malam, operasi Yanto belum juga selesai. Winarsih yang merasa pegal telah duduk berjam-jam memutuskan berjalan-jalan ke lantai dasar untuk membeli air mineral.


Novi telah tertidur dengan bersandar ke dinding di sebelah ibunya.


Saat tiba di lobby rumah sakit yang terletak sebuah mesin penjualan minuman. Telinganya menangkap suara televisi yang diputar pelan namun terdengar sangat jelas di ruangan yang nyaris kosong itu.


Reporter baru saja menyebutkan sesuatu yang sering didengarnya.


Perlahan kaki Winarsih mendekati televisi yang sedang memutar sebuah HEADLINE NEWS.


Pemilik The Danawira Law Firm Terjaring Razia Narkoba Bersama Isterinya di Sebuah Klub Malam.


Matanya nyaris tak mempercayai apa yang tertulis di layar televisi.


Tapi saat dilihatnya punggung seorang pria tinggi yang dikenalinya sedang berjalan di sebelah seorang wanita, jantung Winarsih terasa berhenti seketika.


To Be Continued.....


Tolong tinggalkan jejak gaesss...

__ADS_1


Agar kalian bisa kuingat,


Tak hanya sekedar lewat.


__ADS_2