CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
106. Wanita Pemilik Saham


__ADS_3

Kalau suka, klik tombol like dulu ya biar nggak lupa.


Selamat membaca sayang-sayang aku :*


**********


Dirja telah berusia genap sebulan saat pagi itu Dean kembali berpamitan akan berangkat ke Kalimantan mengikuti sidang di Pengadilan Tinggi selama beberapa hari ke depan.


Pak Hartono baru saja masuk ke mobil, Irman masih berdiri di depan pintu mobil karena menunggu Dean yang masih mengobrol di teras.


"Berapa lama di sana?" tanya Winarsih berdiri di depan teras sembari menggendong Dirja yang tampak segar selesai mandi.


"Paling lama seminggu. Ntar aku sering-sering video call ya. Pasti kangen ama bayi ini," ujar Dean menunduk mencium pipi dan tangan Dirja berkali-kali. Ciuman terakhir Dean mengarahkan ciumannya ke dada Winarsih.


"Ih, bisa diliat Pak Hartono itu!" pekik Winarsih terperanjat.


"Targetnya bukan Papa, tapi Irman," tukas Dean tertawa puas. "Baik-baik ya kamu, jagain anak kita. Nantikan kepulanganku. Itu korsetnya dipake terus. Aku udah bayangin mau pegang pinggang Bu Winar nanti." Dean mengedipkan sebelah matanya.


Winarsih susah payah menahan tawanya melihat ekspresi Dean. "Jalannya jangan buru-buru. Kakinya baru sembuh," ujar Winarsih yang pipinya kembali dicium oleh Dean.


"Iya Bu Winar. Jagain Ibu ya Nak," ujar Dean mengecup pipi montok bayinya.


Dean kemudian berjalan memasuki mobil. Beberapa saat lamanya seperti biasa, Winarsih berdiri di teras memandang hingga mobil yang membawa suaminya lenyap dari pandangan.


"Sus, jam berapa jadwal ibu ke rumah sakit hari ini?" tanya Winarsih.


"Bulan ini jadwalnya sore bu," jawab Perawat yang mendampingi Bu Amalia.


"Oh begitu, ya sudah," jawab Winarsih. Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur masih dengan menggendong Dirja di dadanya. Dia hendak bertanya pada Si Mbah soal beberapa bahan makanan yang dipesannya kemarin.


Kemajuan Bu Amalia sangat pesat. Saat Winarsih menanyakan kepada perawat wanita yang mendampingi ibu mertuanya itu, dia mengatakan bahwa Bu Amalia sudah lumayan banyak berbicara.


Masih menurut Si Perawat, ibu mertuanya sudah sering bercakap-cakap ringan dengan Pak Hartono. Bahkan ia mulai bisa meminta masakan khusus yang disukainya sebagai menu makan.


Namun anehnya, entah karena gengsi atau memang membatasi percakapannya bersama Winarsih, Bu Amalia seringnya hanya mengangguk atau mengatakan ya atau tidak saja jika berbicara dengannya.


Winarsih tak memaksakan ibu mertuanya untuk berbicara banyak dengannya. Ia tetap berlaku seperti biasa. Winarsih berpikir, mungkin Bu Amalia belum dapat memilih kata-kata atau momen yang pas untuk berbicara padanya.


Namun perubahan yang paling menyenangkan hati Winarsih adalah, Bu Amalia selalu berbinar saat melihatnya datang membawa Dirja ke dekat wanita itu.


Tangan ibu mertuanya perlahan mulai bergerak sedikit demi sedikit. Dalam seminggu terakhir, dia sudah bisa membelai Dirja meski bayi itu harus tetap dipegangi saat berada di pangkuan utinya.

__ADS_1


"Jamu yang kemarin sudah habis Win?" tanya Mbah seraya meletakkan sekeranjang kecil rempah dapur di atas meja 'kerjanya'.


"Udah Mbah, udah diminum semua," jawab Winarsih.


"Iya, itu penting untuk kondisi tubuh usai melahirkan. Apalagi kamu masih muda. Sayang kalo tubuh nggak dirawat." Mbah memilih-milih beberapa bumbu dapur yang akan diolahnya.


"Pak Dean juga ngasi saya minuman sarang walet. Banyak sekali. Katanya sehari harus diminum 3 botol. Saya sampai eneg," tukas Winarsih menepuk-nepuk pelan pantat bayinya yang sedang berusaha memasuki alam tidur di pangkuannya.


"Sarang walet? mahal itu Win, Dean memang selalu di luar dugaan. Hal sekecil itu dia masih inget. Berarti dia bener-bener mau kamu muda terus." Mbah terkekeh-kekeh. "Dasar anak itu," gumam Mbah pelan.


"Bu Winar!" panggil Novi yang datang tergesa-gesa melongok ke dapur.


Winarsih sedang duduk di kursi seberang Mbah yang mulai mengupas berbagai temu-temuan untuk dibuatkan jamu.


"Ya?" Winarsih mendongak menatap Novi yang datang melambaikan kertas.


"Sini dulu Bu, ada yang mau saya sampaikan." Ekspresi Novi terlihat tak sabar.


"Bisa tolong panggilin babysitter-nya Dirja? biar dibawa ke kamar aja. Udah pules," pinta Winarsih pada Novi yang kemudian menuju pesawat telepon extension di dinding dapur.


Beberapa saat kemudian babysitter Dirja muncul dan mengambil bayi itu untuk dibawa ke kamarnya.


"Ada apa?" tanya Winarsih kemudian. Novi menggandeng lengan istri atasannya itu dan membawanya ke kamar.


"Sampai ada 12 begini. Banyak juga ya Nov," ujar Winarsih.


"Iya Bu, ternyata bisa sebanyak itu. Saya juga nggak nyangka,"


"Kamu cuma harus menjawab biasa saja Nov. Bilang saja kalau pemiliknya sedang tidak bisa dihubungi," ujar Winarsih.


"Iya Bu, pasti," tegas Novi.


**********


Dean telah duduk di ruang tunggu bandara sambil membuka ponselnya. Sesaat membuka ponselnya, matanya tertuju pada satu berita yang didapatnya dari Manager Keuangan Grup Cahaya Mas.


Dean segera meletakkan ponsel dan beralih kepada tablet yang berada di dalam tasnya.


Ia langsung menuju fitur email dan membaca email itu satu persatu dengan seksama. Ternyata dugaannya benar, yang memborong saham Grup Cahaya Mas itu bukanlah salah satu perusahaan suruhan Dennis Atmaja.


Perusahaan Dennis Atmaja sepertinya bergerak lambat karena saat ini perusahaan milik pria tua itu sedang berburu saham. Mengejar pembeli terbesar saham Grup Cahaya Mas baru-baru ini.

__ADS_1


Dugaan Dean lagi-lagi benar. Tujuan dari Dennis Atmaja, pada ujungnya adalah ingin mengambil sebagian perusahaan orang tuanya itu.


Memang dalam soal persaingan bisnis ini adalah hal yang lumrah. Jika memiliki cukup modal, seseorang bisa dengan mudah menguasai satu perusahaan saat kondisi perusahaan lainnya sedang merosot.


Tampaknya Dean juga harus bergerak cepat untuk menghubungi pembeli saham itu. Ia harus membujuk agar Si Pembeli menyadari ada perusahaan lain yang mengincar saham miliknya.


"Yan, lu ada kontak pembeli saham Grup Cahaya Mas kemarin? kalo ada, sambungkan telfon untuk gua," pinta Dean pada Ryan yang juga sedang sibuk dengan tabletnya.


"Hah? apa?" tanya Ryan sedikit bingung.


"Itu, yang beli saham Grup Cahaya Mas kemarin, yang ngeborong. Gimana sih lu. Telponin sekarang untuk gua," ulang Dean lagi.


"Emang kenapa?" kata Ryan.


"Gua khawatir. Kalo harga saham itu ditawar tinggi, bisa-bisa dia bakal ngejualnya lagi ke salah satu perusahaan Dennis Atmaja. Barusan Kepala Keuangan Grup Cahaya Mas ngasi gua data soal belasan nama perusahaan yang sedang gencar menanyakan soal penjualan saham." Dean menatap tabletnya seraya mengernyitkan dahi.


"Udah buruan telepon, gua mau bicara. Atau lu nggak ada kontaknya?" tanya Dean.


"Ada kok, ada. Enggak mungkin nggak punya. Sebentar nih, saya sambungkan teleponnya." Ryan meraih ponselnya dan mencari nama seseorang di daftar kontak.


Setelah terdengar nada sambung beberapa kali di seberang telepon, suara seorang wanita terdengar menyapa.


"Sebentar Bu, ini ada yang mau bicara," ujar Ryan pada wanita di telepon, kemudian ia mengangsurkan ponselnya pada Dean.


Dean cepat-cepat meraih ponsel itu. Dan sebelum mulai berbicara, Dean sempat berdehem sekali.


"Halo?" ujar Dean dengan nada suara penuh wibawa dan kharisma.


"Ya Pak? ada apa? kok nelponnya pakai nomor Pak Ryan? nggak kenapa-napa kan?" tanya suara Winarsih yang terdengar was-was di seberang.


"Hah? kok kamu Win?" tanya Dean bingung.


"Apanya? kok pake kok? memangnya Bapak mau ngomong sama siapa lagi?" tanya Winarsih bingung bercampur sedikit kesal.


"Kok bini gua?" tanya Dean seraya menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Kan memang Bu Winarsih yang memborong saham Grup Cahaya Mas," ujar Ryan menyeringai.


"Hah?"


To Be Continued.....

__ADS_1


Dikit ya? Partnya dibagi dua,


Mudah-mudahan sebentar lagi up :*


__ADS_2