
Minta di-like dulu ya... Babnya panjang nih.
Kalo udah, selamat membaca :*
************
Setelah dipijat sebentar, Dean kembali bangkit dari pangkuan Winarsih. Bu Amalia yang sempat melihat Dean berbaring manja di pangkuan isterinya, mendatangi Winarsih saat makan malam selesai dan puteranya naik lebih dulu ke lantai dua.
"Kenapa dia?" tanya Bu Amalia.
"Habis balik dari dapur cemberut. Kayaknya habis marah-marah, nggak tau sama siapa," jawab Winarsih.
"Paling sama Lutfi. Tina terus ikut-ikutan karena mau menarik hati Lutfi. Mau ngasi tau Dean jangan marah-marah gitu juga susah," tukas Bu Amalia.
"Kenapa Ma?" tanya Winarsih heran.
"Karena Mama kalau marah ya sama kayak dia," jawab Bu Amalia kalem.
Winarsih segera menyadari hal apa yang mungkin membuat Dean keluar dari dapur dengan raut wajah semerah itu.
Setelah membantu membereskan makan malam dan mendorong kursi roda Bu Amalia kembali ke kamarnya diiringi Babysitter yang sedang menggendong Dirja, Winarsih naik ke lantai dua.
"Mas..." panggil Winarsih melihat Dean berbaring di ranjang.
"Ya,"
"Kirain udah tidur"
"Belum, nunggu kamu. Sini, anaknya taruh di sini dulu." Dean menepuk sisi kanannya meminta Winarsih meletakkan bayi yang hampir pukul 9 malam itu belum tidur.
Winarsih meletakkan bayi montok bermata sipit yang sepertinya memang sedang aktif-aktifnya malam itu. Biasanya sebelum jam 8 malam, bayi itu sudah terkapar tidur di dalam boxnya.
"Ini kenapa belum tidur?" tanya Dean menciumi pipi bayinya. "Apa harus diunyel-unyel dulu kayak ibunya baru bisa tidur nyenyak?"
Winarsih yang sedang mengganti pakaiannya menoleh pada Dean yang sedang berbaring memunggungi posisi lemari.
"Kalau nyusu kenyang mungkin sebentar lagi tidur," jawab Winarsih.
"Sini Win, susuin anaknya cepet. Kasian mulutnya udah mangap-mangap gitu. Kasian dan lucu banget," ujar Dean yang sedang menjawil-jawil pipi anaknya.
Winarsih merangkak naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi kanan bayinya yang langsung memutar arah begitu melihat kehadiran ibunya.
"Tau ibu dateng ya?" sapa Winarsih tersenyum memandang anaknya di bawah cahaya lampu kuning kamar.
Dua puluh menit menyusu, Dirja langsung memejamkan matanya. Bayi laki-laki itu memang sangat sehat dan bertubuh gempal.
"Dirja ini keajaiban buat aku," ucap Dean tiba-tiba yang masih berbaring miring memandangi anaknya menyusu.
"Kenapa?"
"Kalo dia nggak ada... Mungkin ceritanya beda." Dean mengelus pipi anaknya yang kini sudah tertidur.
"Nggak langsung diangkat ke box?" tanya Dean pada Winarsih.
"Sabar ya Pak, anaknya baru tidur. Kasian. Mulutnya juga masih di dada ibunya. Sebentar lagi ibunya Dirja ngelonin bapaknya. Bapaknya sabar," ucap Winarsih tersenyum geli.
"Kamu ini..." Dean memberengut.
"Lagi sensitif kayaknya," ucap Winarsih.
"Enggak kok," jawab Dean cepat.
"Mas, aku mau minta sesuatu. Boleh nggak?" tanya Winarsih.
"Boleh. Memangnya kamu mau minta apa lagi? Aku udah berada di posisi yang cuma bisa ngasi anak aja ke kamu." Dean tertawa kemudian langsung diam karena lengannya ditepuk oleh Winarsih.
"Aku kepingin desaku punya penggilingan padi sendiri. Nggak perlu yang terlalu canggih atau mahal. Tapi untuk petani kecil yang mau konsumsi beras sendiri nggak perlu jauh-jauh pergi ke penggilingan dan bayar. Aku kepikiran gimana kalau desaku punya semacam paguyuban. Jadi alat penggilingnya dirawat sama-sama dan dipakai gratis sama-sama. Karena selama ini kalau mau giling padi harus pergi agak jauh dan sewa kendaraan. Kadang yang mau digiling juga sedikit untuk makan sehari-hari. Menurut Mas bagaimana?" Tangan Winarsih berpindah ke pinggang suaminya.
"Bagus. Pemikiran kamu bagus. Membantu meringankan beban petani kecil kan, nanti kalau pulang ke Jambi kita liat sama-sama ya... Hmmm-- tapi..."
"Tapi apa?"
"Itu Dirja udah nyenyak, mulutnya udah nggak nyusu lagi. Jadi aku angkat ke boxnya ya. Biar bisa gantian sama bapaknya. Lagian biar negosiasi kita lancar Win." Dean bangkit mengangkat bayinya menuju box yang berada di sisi kanan mereka.
"Tidur yang nyenyak ya Nak, kan udah kenyang. Kita gantian," gumam Dean menutup kelambu putih tile ke sekeliling ranjang kecil Dirja.
"Menurut Mas gimana kalau ada paguyuban gitu?" ulang Winarsih bertanya.
"Pertama ya harus dibentuk dulu paguyubannya. Bener ada yang mau ngurus nggak. Jangan sampai kamu sudah keluar sesuatu yang banyak, tapi malah terlantar di sana. Kedua, alat penggiling padi juga pasti ada biaya servis atau perbaikan kalau rusak. Jadi apa anggota paguyuban mau menanggung bersama atau kamu juga yang harus benerin. Itu harus jelas dari awal. Yang ketiga... baju kamu jangan dikancingin dulu Win," ucap Dean menarik tangan isterinya yang sedang memegang kerah bajunya.
"Yang ketiga itu?" tanya Winarsih.
"Enggak, masih ada yang ketiga. Aku jadi lupa karena kamu bergerak mau nutup ini. Coba kalo tadi nggak ditutup mungkin ideku lancar keluarnya," ujar Dean kembali membuka satu kancing baju yang sempat ditutup isterinya.
"Jangan pelit-pelit Win, aku udah ikhlas kamu nggak inget besok hari apa." Dean menurunkan baju Winarsih hingga memperlihatkan bahunya.
"Jadi yang ketiga apa?" tanya Winarsih lagi.
"Belum inget. Mau bantu aku biar inget? Ini demi kesejahteraan desa kamu juga," ujar Dean menarik daster lepas daster isterinya hingga melewati kepala.
__ADS_1
"Demi kesejahteraan desaku..." gumam Winarsih.
"Iya, pasti. Bisa aku pastikan desa kamu pasti sejahtera dengan kepengurusan paguyuban kalo sesuai dengan masukan-masukanku. Masukanku itu nggak pernah ada yang salah. Itu Dirja hasilnya." Dean kembali tertawa dan naik menindih tubuh isterinya
"Badan Mas berat," ucap Winarsih.
"Kalo pas enak kamu nggak pernah bilang berat meski ditindih," jawab Dean. "Aku ke bawah ya Win."
Dengan cepat Dean memiringkan tubuh isterinya dan meraih pengait bra hingga terlepas. Kemudian tangannya menarik lolos penutup tubuh bagian bawah Winarsih.
Winarsih hanya menatap wajah pria tampan bermata sedikit sipit yang mulai menekuk dan menunduk di antara kedua kakinya.
Winarsih sedang tak menjejak bumi. Sapuan lidah suaminya di bawah sana membuat ia mencengkeram tangan yang sedang meremas dadanya. Tak perlu waktu lama, ia mendesah dan mengerang. Kakinya sudah mengejang dan nafasnya menghembus keras.
Winarsih mengerang panjang.
"Huss... Berisik. Kamu tadi ngelarang aku, tapi kalo lagi enak nggak kerasa ya Win berisiknya?" Dean terkekeh melihat mata sayu isterinya yang belum menjejak bumi sepenuhnya.
"Udah..." erang Winarsih.
"Belom Win, aku suka liat muka kamu jadi gitu. Lagi ya..?" Tangan Dean kembali mengusap keras bagian sensitif isterinya.
"Mas..."
"Hmmm--" jawab Dean memandang wajah isterinya yang kembali menatapnya redup.
"Udah..." Winarsih kembali mengerang.
"Bekal untuk aku besok," jawab Dean.
"Bekal ya..." Winarsih tak sanggup menjawab perkataan suaminya karena ia kembali merasakan lidah Dean menyesap bagian inti tubuhnya di bawah sana.
"Mas..." Winarsih kembali mengejang dan meluruskan kakinya. "Udah... Cepet..."
"Dik Win udah nggak sabar rupanya," tukas Dean kemudian bangkit melepaskan seluruh pakaiannya dan memulai aksi yang sesungguhnya.
Pandangan Dean tak lepas dari isterinya. Ia benar-benar menikmati bagaimana Winarsih yang sekarang menjadi lebih ekspresif mengeluarkan lenguhan dan desahan yang semakin membangkitkan jiwa kelelakiannya.
Saat mulai bergerak di atas tubuh isterinya, Dean bertanya, "enak Win?"
Winarsih yang sedang mengerang dan meringis memandang mata sipit yang sedang memandangnya dari atas tubuh.
"Masa ditanya sih?" Winarsih masih meringis.
"Enak kan..."
"Dik Win... Udah tiga kali aja. Mas-mu sekali juga belom," ujar Dean.
"Aku udah lemes. Lama banget," ujar Winarsih.
"Suamimu perkasa, harusnya kamu seneng Sayang..." Dean memiringkan tubuh Winarsih dan menuntun tubuh wanita itu untuk tengkurap.
"Kepalanya di bantal aja, jadi nggak capek. Aku agak lama. Mungkin efek marah-marah tadi," ujar Dean beralasan yang sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali.
Winarsih sudah meletakkan kepalanya di bantal dan mencengkeram bantal itu dengan kedua tangannya. Winarsih merasakan Dean merenggangkan kakinya dan kini ia sedang bersiap menunggu suaminya itu kembali memasuki tubuhnya.
Posisi itu selalu membuatnya menahan nafas. Rasa-rasanya seluruh bagian kelelakian suaminya itu menghujam penuh dan terlalu dalam. Meski ia pada akhirnya mengerang dan mendesah keras karena aksi suaminya itu.
Dean mulai mengeluarkan desahan dan erangannya sendiri. Gerakan suaminya itu semakin lama semakin cepat.
"Aduh Win..." erang Dean di sela-sela gerakannya. Dean mencengkeram erat pinggang Winarsih. Gerakannya semakin cepat tapi belum juga terhenti. Dean mulai menunduk memeluk tubuh isterinya dari belakang dan meremas dada wanita itu.
Mulutnya berada di telinga Winarsih yang memiringkan wajahnya. Winarsih bisa mendengar segala desahan yang dikeluarkan suaminya dengan jelas.
"Dikit lagi Sayang..." erang Dean. Sesaat kemudian dia menggigit dan menyesap keras pundak isterinya. Dean kemudian menghujam berkali-kali dan berhenti menindih tubuh isterinya dari belakang.
"Enak banget Win..." Nafas Dean yang hangat dan terengah-engah berada di telinga Winarsih.
"Yang ketiga apa?" tanya Winarsih mengetes ingatan suaminya.
"Yang ketiga, paguyuban itu harus kamu yang punya lokasinya. Jadi nggak ada satu pun warga desa yang merasa memiliki. Itu untuk menghindari otoriter dan perasaan ingin menguasai di hati tiap pengurusnya. Kamu mau ngetes aku?" Dean tertawa kecil.
"Dean Danawira itu dulu cowo Asia idaman di kampus Berkeley. Cewe-cewe bule aja penasaran dengan kemampuanku." Dean tertawa kemudian melepaskan tubuh isterinya dan berguling ke samping.
"Penasaran apanya? Gombalnya?" tanya Winarsih kemudian kembali telentang dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Itu salah satunya. Tapi aku kan pinter Win, kalo aku nggak selesai kuliah tepat waktu, dulu mama ngancem bakal menghentikan uang saku dan fasilitasku selama di sana."
"Iya, Bapaknya Dirja memang pinter kalo urusan pendidikan."
"Maksud kamu kalo urusan lain aku nggak pinter gitu?"
"Urusan kerjaan juga pinter," jawab Winarsih.
"Urusan yang nggak pinter urusan apa?" tanya Dean penasaran.
"Ya nggak ada."
"Pasti ada. Urusan perempuan nih pasti maksud kamu. Iya kan?" Dean yang merasa memang selalu lemah untuk urusan satu itu kembali memberengut menatap tajam isterinya. Winarsih yang melihat hal itu tertawa menutup wajahnya dengan selimut untuk meredam tawa.
__ADS_1
Masih dengan wajah cemberut Dean menarik selimut isterinya. "Jangan tutup-tutup pake selimut. Kamu nggak boleh pake baju. Gini aja sampe pagi," sungut Dean.
***********
Pagi itu seperti biasa Winarsih menyiapkan pakaian untuk suaminya ke kantor. Sebelum menyampirkan celana bahan berwarna hitam yang akan dipakai Dean hari itu, Winarsih menyelipkan sebuah amplop putih kecil ke saku kanan celana itu.
"Beneran nggak inget ya," ujar Dean saat mencium pipi isterinya di depan teras.
"Ya udah ngantor sana. Udah siang," pinta Winarsih.
Dean duduk di belakang setir dan melakukan mobilnya setelah memberikan lambaian tangan yang hampir tak henti-henti karena Dirja yang mulai mengenalinya tertawa-tawa melihat aksinya.
Sepanjang perjalanan Dean mulai memikirkan kenapa isterinya tak ingat bahwa hari itu adalah hari ulangtahunnya. Apa saat hari pertama mereka menjadi suami isteri ia kurang menekankan perkenalan dirinya pada wanita itu?
Ah tak mungkin pikirnya. Winarsih itu tipe wanita yang sangat detil meski ia terlihat diam. Masa Winarsih sampai lupa dengan hari lahir suaminya yang tampan ini pikirnya.
Dean melangkahkan kakinya di sepanjang lorong menuju ruangan kantornya masih dengan wajah sedikit muram. Meski tadi malam percintaannya bersama Winarsih sangat luar biasa, tapi ia merasa sedikit ada yang kurang karena merasa hari istimewanya dilupakan.
"Pagi Pak..." Terdengar sapaan beberapa pegawai yang disambut Dean dengan anggukan kecil.
"Pak itu di dalem ada..." Ucapan Ryan terhenti. Sebelum selesai ucapan sekretarisnya, Dean telah membuka pintu ruangannya.
"SURPRISE....!!!" Teriakan bersamaan Toni, Langit dan Rio memenuhi ruangan kantornya.
Dean tergugu memandang ketiga sahabatnya yang berwajah riang telah stand by di kantornya demi sebuah kejutan di hari ulangtahunnya.
Tapi Winarsih isterinya lupa, pikirnya.
"Selamat ulang tahun Pak Dean, semoga panjang umur sehat-sehat selalu dan bisa jadi advokat nomor 1 di Indonesia," ucap Toni yang hari itu kebagian tugas membawa senampan kue ulang tahun berukuran cukup besar.
"Semoga semakin langgeng dan bahagia bersama keluarga dan nggak tergoda wanita manapun di luar sana," tambah Langit yang memegang sebuah kado cukup besar.
"Dan makin sayang kita bertiga tentunya," sambung Rio yang membawa lima buah balon silver.
"Kaget nggak?" tanya Toni.
"Kaget, tapi lu bertiga begini pasti dalam rangka bujukin gua. Ya kan?" tanya Dean berjalan mendekati Toni dan meniup lilin di atas kuenya.
"Horeeee" sorak Rio.
"Buka dong kado dari kita," pinta langit menyodorkan bingkisan yang terlihat cukup berat.
"Bentar," Dean berjalan menuju meja kerjanya dan meletakkan tablet dan ponselnya di sana. Kemudian ia kembali mendekati Langit dan mengambil bingkisan dari tangan pria itu.
"Makasi ya... Meski norak gua tetep suka," ucap Dean.
"Kita tau dong, Pak Dean tetap suka hal-hal picisan kayak gini. Pak Dean kan selalu pengen diperhatiin." Rio tertawa-tawa.
"Apaan sih lu..." sergah Dean.
Kemudian tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka dan seorang wanita cantik masuk dengan sebuah kue berwarna merah di tangannya. Ryan yang tampaknya ingin memberitahu kehadiran wanita itu terlihat serba salah karena tak bisa mencegah.
"Selamat Ulang Tahun De..." ucap Ara yang berdiri manis di depan pintu yang sekarang sudah kembali ditutup oleh Ryan.
"Kok??" Tanya Dean bingung melihat ketiga sahabatnya.
"Bukan kitaaaa....!!" seru ketiga pria yang kini sedang duduk di sofa ruangan kantor nyaris serentak.
"Aduuuhh..." ujar Dean meletakkan bingkisan yang tadi diterimanya dari langit.
"Kok gitu sih De? Aku cuma mampir mau ngucapin selamat ulang tahun," ucap Ara.
"Nggak perlu... Ckk," Dean berdecak kesal. Ia mengira urusannya dengan Ara telah selesai. Ara mengingat hari ulang tahunnya tapi Winarsih tak mengingatnya sama sekali.
"Gini Ra..." Dean berdiri memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dan alisnya terangkat saat merasakan sebuah benda berada di dalam saku celananya.
Dean menarik benda yang ternyata sebuah amplop putih kecil. Sejenak Dean tercenung dan tersenyum simpul. Ruangan itu ikut senyap memperhatikan wajah Dean yang seketika menjadi sumringah.
Dean menatap tulisan,
'Selamat Ulang Tahun Mas Dean Sayang, Bapaknya Dirja, Suaminya Winarsih'
Dean kemudian membuka amplop putih itu masih dengan senyuman. Saat amplop itu terbuka dan Dean mengeluarkan isinya.
"HAH??!!" seru Dean.
"Kenapa???" tanya ketiga sahabatnya yang masih menunggu dengan wajah tegang di sofa.
To Be Continued.....
Pesan penulis :
Karena berhubung Author udah ditelfon emak diminta mudik lebih cepat, jadi waktu giveawaynya author perpendek sampai hari selasa tanggal 13 April 2021 jam 22.00
Author mau mudik ke Medan. Jadi minta vote-nya aja hari Senin ya... Biar langsung dibereskan semuanya.
Harap maklum dengan aku yang labil dan hidup berpindah tempat ini.
Makasi sayang-sayangnya Pak Dean semuanya.
__ADS_1