
"Geser dikit, jangan di situ," pinta Dean masih dengan posisi bersandar.
"Ke sini?" tanya Winarsih menggeser posisinya menjadi sedikit ke kanan Dean.
"Iya,"
"Cium Win," pinta Dean lagi. Dean memejamkan matanya.
"Buka ini Win." Dean menarik lengan kiri isterinya dan meremas dada wanita itu.
Winarsih menegakkan tubuh dan membuka kancing pakaiannya. Saat kancing di dressnya terbuka hingga ke bagian perut, Dean menarik tubuhnya agar mendekat.
"Aku kangen banget ini kamu Bu," gumam Dean menurunkan penutup dada isterinya.
Bibirnya langsung mendekat dan menempeli puncak dada itu.
"Tangannya tetap disitu Win, enak." Dean bergumam di sela-sela sesapannya.
"Aku pengen tapi takut kamu capek lagi," ujar Dean melepaskan ciumannya pada dada Winarsih.
"Jadi maunya gimana?" tanya Winarsih.
"Maunya ya gitu," ujar Dean pelan. "Sini Win aku cium dulu."
Dean menarik tubuh Winarsih untuk bersandar ke tubuhnya. Bibirnya menyeruput lama bibir isterinya seolah benar-benar sudah lama tak melakukan hal itu.
Pelan-pelan tubuhnya mendorong dan meletakkan Winarsih hingga berbaring di ranjang. Dengan sebelah tangannya Dean mengangkat dress dan menarik turun pakaian dalam Winarsih.
"Aku cium ini dulu ya, aku kangen. Udah seminggu lebih aku nggak liat ini." Dengan sebelah tangan masih tersangkut dengan gipsnya dan kaki kanan yang diluruskan, Dean menunduk dan mengecup candunya di bawah sana.
Winarsih yang juga merasa telah lama tak merasakan ciuman suaminya di bawah sana hanya memejam dan mendesah pelan.
Ciuman-ciuman Dean yang awalnya lembut dengan sapuan bibirnya, kini semakin cepat dan terburu-buru.
Winarsih mengerang dan kakinya menegang hingga nyaris menjepit kepala Dean di bawah tubuhnya.
"Win, aku masih di bawah sini," ujar Dean kemudian bangkit.
"Sebentar aja kok, kamu tiduran aja. Aku nggak bisa memamerkan banyak gaya sekarang ini." Dean menurunkan boxernya lebih ke bawah kemudian mengangkat kaki Winarsih untuk bertumpu dengan bahu sehatnya.
Dean yang biasa memasuki tubuh isterinya sembari meremas, memijat atau membenamkan ciuman di puncak dada wanita itu, kini hanya bisa menatap Winarsih yang berbaring telentang di depannya.
Winarsih memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya. Wanita itu memang jarang sekali menatap wajah suaminya saat sedang berhubungan.
__ADS_1
Dean mengayun perlahan memegang paha isterinya dengan tangan kanan. Dia merasa bagian tubuhnya dipijat di dalam sana. Sepertinya beberapa hari tak menyentuh Winarsih membuat pertahanannya juga tak lama.
"Win, liat aku," pinta Dean yang merasa sebentar lagi akan mencapai puncak. Tangannya menyibak atasan yang menutupi dada isterinya agar pandangannya kepada sepasang bukit mengagumkan itu tak terhalang.
Winarsih membuka matanya dan bersitatap dengan Dean. Wajah tak bernoda dengan alis hitam rapi itu sedang memancarkan tatapan sendu kepadanya.
Goresan kecil di atas alis kanannya karena kecelakaan itu tampak mulai mengering. Beberapa gumpalan rambut turun ke dahi suaminya. Dean memang tampan sekali, batinnya.
Saat memandang mata suaminya, Winarsih merasakan dirinya kembali diajak terbang. Bagian dirinya terasa mencengkeram milik suaminya sesaat sebelum pria itu berhenti karena telah mencapai puncak.
"Bu Winar telat ya?" tanya Dean.
Winarsih yang tiba-tiba rasanya diajak kembali ke bumi tak bisa menjawab apa-apa karena memang dia belum selesai.
Dia malu menjawab pertanyaan suaminya yang selalu to the point.
"Aku capek, nggak bisa double. Ampun. Kakiku pegel, perutku ngilu. Sini Bu Winar aku cium-cium aja." Dean merebahkan tubuh ke samping kanan isterinya masih dengan nafas terengah-engah.
"Apanya? nggak apa-apa kok," kilah Winarsih.
"Nggak usah malu-malu, kan biar sama-sama enak. Aku nggak mau Bu Winar tidur dalam keadaan penasaran dan kekurangan," gumam Dean membuka pakaian isterinya hingga tak bersisa.
"Masuk sini," ajak Dean merentang sebuah selimut ke atas tubuh polos isterinya.
"Aku masih mau lepas kangen dengan yang ini." Dean kembali menunduk menciumi dada Winarsih.
Tangannya sudah kembali turun menjelajahi bagian sensitif isterinya hingga wanita itu kembali mengerang. Dan beberapa saat kemudian Dean tersenyum saat kaki Winarsih mengejang menjepit tangannya di bawah sana.
Dean menyeruput lama puncak dada isterinya sebelum melepaskan tangannya dari bawah sana.
"Enak ya Win?" tanya Dean saat Winarsih memandangnya.
"Pedes Pak,"
"Ha? apanya?"
"Ini." Winarsih melirik ke puncak dadanya yang memerah.
"Oh, maaf. Tapi ini salah Bu Winar. Aku gemes." Dean meraih wajah isterinya dan mengecup pipi wanita itu berkali-kali.
**********
"Udah hampir tiga minggu, tapi belum ada kabar dari pengejaran pelaku penusukan itu?" tanya Pak Hartono pada Dean saat mereka bertemu di meja makan.
__ADS_1
"Lari ke Riau, plat mobilnya juga palsu. Paling-paling kalo ketangkep ntar motifnya dendam. Meski dia mantan sopirnya si Atmaja, pasti si tua itu udah nyediain Pengacara mahal untuk belain dia." Dean meneguk tehnya.
"Kamu diminta bersaksi?" tanya Pak Hartono.
"Pasti Pa, kalo sidang Dean pasti bersaksi. Mantan sopirnya itu pasti udah dibayar sangat mahal biar nggak buka mulut. Mungkin seluruh biaya hidup keluarganya bakal ditanggung. Dan dia juga pasti tau kalo buka mulut pasti akan bahaya buat keluarganya semua,"
"Itulah alasan kenapa kita jangan sampe berhutang budi pada orang lain. Apalagi dengan seseorang kayak si Atmaja itu. Mantan supir itu pasti banyak berhutang budi makanya Atmaja dengan gampang memeras." Pak Hartono menautkan jari-jarinya di bawah dagu.
Bu Amalia yang biasanya ikut sarapan, hari itu sedang merasa tak enak badan. Jadi wanita itu memutuskan untuk sarapan di kamar. Mba Tina baru saja kembali dari lantai atas seusai mengantar senampan penuh makanan.
"Isterimu mana? kenapa nggak ikut makan di sini?" tanya Pak Hartono.
"Katanya dia sungkan, dia tau Papa mau ngobrol sama Dean. Jadi dia sedang sarapan di belakang dengan Mbah,"
"Bahumu gimana? udah enakan?" tanya Pak Hartono memandang bahu Dean yang kini telah terbebas dari gipsnya.
"Udah enakan, lagian kan cuma dislokasi. Tinggal ini yang belum bener. Kata Dokter retaknya belum kembali ke posisi yang bener. Masih sakit kalo dibawa jalan tanpa tongkat." Dean memandang sebuah kruk siku yang terletak tak jauh darinya.
Sudah hampir seminggu ini Dean seperti seorang manula yang ke mana-mana menggunakan tongkat di siku kanannya.
"Makanya kamu jangan terlalu banyak bergerak. Itu karena luka lama yang kembali terbuka makanya begitu. Kalo mau cepat sembuh, kamu jangan terlalu aktif. Istirahat yang bener," sergah Hartono pada pada anaknya.
"Ya--susah kalau nggak aktif," gumam Dean.
Kemudian terdengar sepasang langkah kaki mendekati meja makan. Fika menghampiri mereka tergesa-gesa dengan sebuah tablet di tangannya.
"Maaf Pak, mengganggu waktu sarapannya. Saya mau ngasih lihat ini." Fika sedikit menunduk menunjukkan sesuatu di layar tabletnya. Pak Hartono memandang kepada layar tablet dengan wajah mengeras.
Pria tua itu kemudian mendongak menatap anaknya.
"Akhirnya serangan itu datang De, hari ini Papa udah jadi headline," ucap Pak Hartono.
Dean buru-buru meraih ponselnya dan membuka portal berita. matanya langsung tertuju pada tiga berita teratas di kolom ekonomi.
'HARTONO COIL DAN CAHAYA MAS GRUP MILIK MENTERI HARTONO DIDUGA MELAKUKAN PENGGELAPAN PAJAK'
'PERUSAHAAN TAMBANG MILIK MENTERI HARTONO MELAKUKAN PENYEROBOTAN LAHAN MILIK PEMERINTAH'
'MENTERI HARTONO DIDUGA MENYALAHGUNAKAN WEWENANGNYA SEBAGAI MENTERI UNTUK KEUNTUNGAN PERUSAHAAN PRIBADI'
"Pa--"
"Kamu belum dikasi istirahat De," ucap Papanya.
__ADS_1
To Be Continued.....