CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
97. Sandaran Hati


__ADS_3

Hari itu Dean sudah menyelesaikan berkas pembelaannya untuk kasus tuduhan perebutan lahan secara ilegal oleh Hartono Coil di Kalimantan.


Setelah mengingat, menimbang dan memutuskan, akhirnya Dean mengambil kasus perebutan lahan secara ilegal oleh Perusahaan Tambang Hartono Coil di Kalimantan sebagai satu hal penting yang harus diselesaikannya lebih dulu.


Secara sederhana paparannya adalah, Perusahaan Tambang Hartono Coil diduga telah merebut lahan milik warga secara paksa dengan ganti rugi yang tidak sesuai puluhan tahun lalu.


Pak Hartono yang sekarang menjabat sebagai Menteri dituding menggunakan kekuasaannya untuk menutupi hal itu dan mengesahkan lahan itu menjadi milik perusahaannya.


Perusahaan tambang Pak Hartono juga dituduh melakukan transaksi dengan perusahaan-perusahaan ilegal yang memonopoli hasil tambang untuk dijual ke luar negeri.


Perusahaan Tambang Hartono Coil juga dituduh melakukan penggelapan pajak selama bertahun-tahun.


Untuk kasus penggelapan pajak, Hartono Coil sedang dalam proses investigasi Tim pusat Dirjen Pajak.


Untuk kasus penggelapan pajak, Dean dan Pak Hartono beserta seluruh tim perusahaan mereka telah melakukan rapat berkali-kali dan dan tidak khawatir akan tuduhan itu. Karena Hartono Coil selalu melakukan kewajibannya sebagai salah satu perusahaan penyumbang pajak terbesar di Kalimantan.


Sedangkan untuk kasus perebutan lahan, berkasnya telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri dan masuk ke ranah hukum pidana.


Dean adalah Pengacara Hukum Perdata yang berfokus pada hukum bisnis. Dia sama sekali belum pernah menggunakan kemampuannya untuk membela kasus pidana.


"Bapak jadi mewakili Pak Hartono untuk sidang lahan di Kalimantan?" tanya Ryan yang sore itu duduk di seberang meja kerjanya.


"Jadi, gua harus dampingi pengacara yang lain. Sidang pertamanya akhir bulan ini. Gua udah berusaha ngumpulin semua bukti-bukti surat tanah dari jaman dulu yang diserahkan dan diganti nama secara sah oleh perusahaan. Dalam kasus ini ada permainan Yan," tukas Dean.


"Si Atmaja nggak cuma mau bikin Papa miskin. Tapi dia juga pengen kalo Papa bisa berakhir di penjara. Atau setidaknya dipecat dengan tidak hormat dari jabatannya. Yang paling kecil dari itu semua, nama Papa udah hancur." Dean mengetuk-ngetukkan sebuah pena ke atas meja.


"Sayang banget, masa jabatan Pak Hartono padahal sebentar lagi selesai. Tapi udah terlanjur kisruh," ujar Ryan.


"Eggak apa-apa. Kita sekeluarga udah tiba di sini. Sekarang gua cuma mikir gimana caranya membuktikan dengan elegan kalo lahan tambang itu adalah milik Papa selama puluhan tahun. Yang dibelinya dengan resmi dan ganti rugi yang sesuai kepada warga yang tinggal di sana dulunya." Dean memandang sekretarisnya.


"Kalo lahan tambang itu sampai lepas, Papa bisa runtuh. Gua tau banget gimana Papa membesarkan perusahaan tambang itu sampai seperti sekarang. Gua banyak kehilangan masa kecil gua Yan. Kedua orangtua gua sibuk membesarkan perusahaan itu. Membuka lahan pekerjaan untuk ribuan orang. Hartono Coil bukan soal keluarga Hartono aja, ada nasib keluarga-keluarga yang lain di sana. Meski berkasnya lengkap tapi gua sadar berkas itu masih banyak kelemahannya."


"Surat-surat baru, di tahun-tahun setelah ataupun sebelum pendirian Hartono Coil bisa saja muncul ke permukaan seperti surat buatan jin. Ada tangan-tangan berkuasa di sana," jelas Dean setengah melamun.


"Sahamnya anjlok Pak, nggak ada harganya. Bapak nggak takut miskin? sekarang aja kita dapet 2 pembatalan klien. Nama dan karir Pak Dean juga sedang dipertaruhkan di sini," kata Ryan.


"Kalo gua jatuh miskin, setidaknya gua udah pernah kaya Yan. Ribet amat lu. Yang jelas, kalo gua miskin, lu pasti lebih miskin lagi." Dean menaikkan alisnya.


Dan memang seperti harapan pesaing bisnis Pak Hartono, nilai saham Hartono Coil hancur-hancuran. Para pemegang saham yang tak berani berspekulasi, sekarang berlomba-lomba menjualnya.


Bisa dikatakan, sekarang Dean sedang sepi job. Dia mempergunakan waktunya itu untuk mempersiapkan sidang pertamanya di Pengadilan Negeri Kalimantan Selatan mewakili Hartono Coil.


"Ya udah Pak, udah malem. Jangan pulang lama-lama, kaki masih begitu. Meski yang nusuk udah ketangkep tetap aja dalangnya belum," ujar Ryan.


"Pokoknya si Atmaja banyak habis duit deh. Itu nggak akan bakal ngaku. Kalo mantan sopirnya ngaku, bisa-bisa dia atau keluarganya juga ikut mati. Jadi dia mending dapat duit, terus bertahan beberapa tahun di penjara sampe dibebasin."


"Ya udah Yan, balik yuk. Gua kangen ama istri. Kayaknya belakangan gua pulang kemaleman terus. Dia selalu udah tidur." Dean bangkit meraih tongkat dan berjalan ke luar dari balik mejanya.


Dean tiba di rumahnya hampir pukul jam 9 malam. Dean melihat Novi yang sudah berpakaian rapi sedang berjalan ke teras rumah.


"Istri saya mana Nov?" tanya Dean.


"Di kamar Bu Amalia Pak," jawab Novi.


"Eh? kok bisa?" Dean mendongak melihat ke lantai dua yang sedang dalam keadaan sepi.


"Permisi dulu Pak,"


"Mau ke mana?"


"Itu mau ketemu Pak Ryan, ada yang mau dibicarain." Novi menunjuk sedan hitam Dean yang dikendarai Ryan masih terparkir di depan teras rumah.


"Hmmm." Dean mengangguk kemudian berjalan menuju tangga besar. Langkahnya perlahan-lahan menaiki anak tangga menuju kamar orangtuanya.


Pintu kamar itu tak tertutup rapat. Dean mencoba melongok ke dalam melihat apa yang sedang di lakukan isterinya.


Pandangannya tertuju pada Bu Amalia yang sedang duduk di kursi roda membelakanginya. Winarsih berada terlindung di balik tubuh wanita itu, terdengar sedang membujuk agar Bu Amalia mau makan.


Beberapa saat lamanya Dean terpaku mendengar perkataan isterinya. Winarsih yang selalu dicerca ibunya habis-habisan itu kini tengah membujuk dengan cara unik.


Dean bahkan tak mengharapkan isterinya itu bakal mau mendekati ibunya mengingat semua hal buruk yang telah dikatakannya pada Winarsih.


Kata-kata Winarsih soal Dean kepada Bu Amalia malam itu membuat hatinya terenyuh. Winarsih yang diam-diam tapi sangat cermat memperhatikannya. Yang tak membuat Dean semakin berat karena jarang bertanya.


Winarsih memberikannya kebebasan berpikir. Isterinya itu mengerti bahwa dia perlu waktu untuk tenang tanpa digerecoki. Karena Winarsih yang memberikan waktu kepadanya, mereka kini seperti memiliki jarak.


Setiap malam Dean hanya sempat mencium dan membelai rambut isterinya yang sudah terlelap. Perutnya semakin besar, dan kali terakhir ke Dokter Kandungan, Dean tak sempat menemani.


Winarsih dengan tenang dan tak mengeluh pergi bersama Novi untuk memeriksakan keadaan anak mereka di dalam perutnya.


Dia rindu isterinya.


Kemudian Winarsih yang terburu-buru ke luar kamar Bu Amalia nyaris menubruk Dean yang masih bersiap-siap akan pergi dari depan pintu kamar itu.


Tongkat yang menyangga tubuhnya membuat pergerakannya lama.

__ADS_1


Sedikit terkejut Winarsih menyadari kehadirannya di depan pintu kamar. Tapi raut senang langsung terpancar di wajah wanita itu.


"Hati-hati," ucap Dean memeluk tubuh isterinya.


Padahal mereka adalah suami-isteri dan tinggal sekamar tapi jarang bertemu bisa membuat jantung Dear berdebar karena merasakan tubuh Winarsih menempelinya barusan.


"Kamu kangen aku ya?" tanya Dean memandang perut isterinya yang sangat besar.


Winarsih mendongak menatap suaminya dan mengangguk.


"Maafin aku ya Win, belakangan terlalu sibuk. Sampai aku nggak sadar anak kita sebentar lagi lahir. Anakku kira-kira kangen Bapaknya nggak ya?" tanya Dean lagi setengah tersenyum.


Winarsih hanya diam mengatupkan bibirnya. Dean gemas sekali pada wanita muda yang sedang hamil besar anaknya itu.


"Ngeliat dari ekspresi Ibunya, kayaknya anakku pasti sedang kangen-kangennya ini," ujar Dean mendorong pintu kamarnya.


Ya. Dia memang pulang ke rumah lebih awal untuk ini. Rasanya sudah lama sekali dia tak menyentuh isterinya. Beban pikiran yang menumpuk dan begitu banyaknya hal yang harus dikerjakannya, membuatnya hampir stres. Terutama saat melihat keadaan ibunya.


"Kamu ngapain aja hari ini?" tanya Dean pada Winarsih yang sedang membantu melepaskan kancing kemejanya.


"Belajar bersama Novi," jawab Winarsih.


"Bu Winar belajar apa dengan Novi? pelajaran dari aku aja belum habis," ujar Dean seraya memandang dada isterinya yang sedang menunduk. Sepasang benda itu telah meracuni pikirannya sejak tadi.


"Banyak, Novi mengajari saya banyak hal. Bapak udah makan?" tanya Winarsih setelah berhasil melepaskan kemeja suaminya.


"Belum, kayaknya lambungku masih bisa bertahan Bu. Ada sesuatu yang lebih mendesak," ujar Dean menarik tangan isterinya ke dekat ranjang.


"Bukain Win," pinta Dean menunjuk celana bahannya yang masih terkancing.


Winarsih yang telah duduk di tepi ranjang meraih pengait celana bahan hitam yang dikenakan Dean.


Tanpa menoleh pada suaminya yang dengan sabar melihat tangan cekatannya menurunkan resleting celana. Benda di balik boxernya sudah tegak sejak tadi. Winarsih seperti pura-pura tak menyadari apa yang baru saja tak sengaja disentuhnya.


Dean menunduk mencium Winarsih. Memegangi leher isterinya untuk mendongak dengan sebelah tangan kirinya. Dengan sapuan yang sedikit terburu-buru, Dean membenamkan ciumannya di bibir wanita itu.


Tangan kirinya kemudian beralih ke dress yang dikenakan Winarsih yang ternyata tanpa kancing depan. Dean melepaskan ciumannya dengan mata yang sudah sayu.


"Nggak ada kancingnya ternyata. Buka Win, semuanya. Aku dah kangen banget." Dean menanggalkan boxernya terburu-buru seraya matanya memandang Winarsih yang membisu sedang melolosi pakaiannya sendiri.


"Ini dilepas semua," ujar Dean dengan tangan kirinya beralih ke punggung isterinya meraih pengait br*a.


Dean menghela nafas panjang saat berhasil melepaskan semua pakaian isterinya.


"Berapa lama lagi kata Dokter kemarin?" tanya Dean sambil memilin puncak dada Winarsih.


"Katanya udah turun ke posisi lahiran. Kepalanya udah masuk panggul. Dalam dua minggu ini," jawab Winarsih menatap Dean yang berdiri di depannya.


Pandangan akan kelelakian Dean yang terpampang tegak di depannya sangat mengganggu. Bisa-bisanya pria itu berbicara santai padanya.


Dean memegang benda kebanggaannya itu dan meraih leher Winarsih agar lebih mendekat dan mengerti apa yang diinginkannya.


Seperti memang sedang menunggu apa yang diperintahkannya, Winarsih langsung membuka mulut dan setengah melahap bagian tubuhnya itu.


Dean memejamkan matanya dan mengerang. Tak sengaja ia mencampakkan tongkat yang sejak tadi berada di siku tangan kanannya.


Kedua tangannya kini meraih kepala Winarsih untuk menuntun agar bibir isterinya melahap lebih dalam.


"Kangen banget Bu Win...." ucap Dean di sela-sela erangannya.


Pandangan Dean tertuju melihat bibir Winarsih yang sedang melingkupi benda yang merindukan tempatnya itu.


"Kamu cantik banget, pandang aku Bu Winar," ujar Dean.


Winarsih memandang Dean yang sedang terengah-engah menikmati kehangatan mulutnya.


Jemarinya menelusuri bibir bawah Winarsih yang basah. Dean sangat menyukai pemandangan itu. Di mana dia merasa sebagai seorang laki-laki sempurna dan perkasa saat kelelakiannya begitu dipuja.


"Aduh--nggak tahan. Udah Win, udah mau dapet. Ntar malah ke luar di mana-mana," ujar Dean terkekeh.


"Gimana?" tanya Winarsih yang sekarang sepertinya sama terburu-burunya dengan Dean.


"Di pinggir sini aja, kakiku bisa ke ranjang" pinta Dean seraya merebahkan Winarsih dengan bokong yang mencapai tepi ranjang.


Dean menekuk kaki isterinya dan berdiri di antara kedua kaki itu. Seperti biasa, Winarsih selalu memalingkan wajahnya.


"Liat aku dong Win, udah sering beginian kamu masih malu terus menyambut kedatanganku. Kamu harus liat, kan katanya kangen," ujar Dean seraya mengusap bagian sensitif isterinya.


"Tuh, kamu udah nggak perlu aku bantu lagi. Bu Winar bener-bener kangen aku." Dean terus mengusap bagian sensitif Winarsih hingga wanita itu kelolosan sebuah desahan yang sejak tadi ditahannya.


"Udah lama banget kayaknya. Ntar kalo aku cepet. Aku boleh lanjut di putaran kedua ya Bu," ucap Dean kemudian memasuki tubuh isterinya.


Dean bergerak maju mundur perlahan dengan pandangan mereka yang bersitatap. Winarsih mengerang saat benda kelelakian suaminya itu menghujam dalam.


"Enak banget Bu, kamu hangat." Dean menunduk dan bertumpu dengan kedua tangan di atas tubuh isterinya.

__ADS_1


Tubuhnya terus mengayun, dada isterinya yang semakin luar biasa terlihat bergerak gaduh di bawah sana. Winarsih terlihat menggigit bibir bawahnya. Bersamaan dengan itu Dean merasa bagian kelelakiannya seperti dicengkeram.


Winarsih sedang menuju puncak kenikmatan yang diberikannya. Dean semakin mempercepat gerakan, matanya tak lepas memandang Winarsih yang sedang mengerang nikmat karena ulahnya.


Pemandangan paling menakjubkan bagi Dean, saat isterinya mengejang dan mendesah di saat bersamaan. Dia bangga bisa mencukupi semua kebutuhan isterinya lebih dari cukup.


"Sekarang aku ya Win," ucap Dean bangkit dan menyatukan kaki isterinya ke samping.


"Kamu nanti capek kalo begitu terus." Dean memandang isterinya yang masih terengah-engah seperti belum kembali menjejak bumi.


"Pak," panggil Winarsih yang tergeletak polos memandang suaminya.


"Ya Sayang? kenapa?" tanya Dean yang sedang meremas dada isterinya sebelum kembali memasuki tubuh wanita itu.


Winarsih seperti berpikir-pikir tapi kemudian menggeleng.


"Lupa," katanya kemudian.


"Belum ilang enaknya, jadi sampe lupa," ujar Dean tersenyum.


Winarsih yang berbaring miring kembali menggigit bibirnya. Dia merasa bagian tubuh Dean terlalu dalam menghujamnya. Winarsih malu mengakui pada dirinya sendiri, kalau sebenarnya dia diam-diam memuja bagian tubuh suaminya itu.


Dean memang sangat tampan, terlebih saat pria itu memegang sesuatu yang siap memasuki tubuhnya. Dean terlihat jantan sekali. Bahkan tongkat yang harusnya membuat jelek penampilan, jadi bisa terlihat begitu bagus padanya.


Dean terus bergerak cepat sembari meremas dan memijat dada Winarsih.


"Ayo Win, sama-sama. Liat aku sini." Dean memanggilnya untuk menoleh. Winarsih kembali merasakan gulungan hasratnya memuncak saat bersitatap dengan mata sedikit sipit yang sedang memandangnya.


"Aduh Bu Winar, aku cinta kamu," ucap Dean kemudian mengerang dan menghujamkan tubuhnya ke depan berkali-kali.


Winarsih mengejang dan meluruskan tiap jemari kakinya menahan agar erangannya tak ke luar terlalu keras. Dean menyadari hal itu dan kembali tersenyum terengah-engah menatap isterinya.


"Kalo udah gede banget perutnya, kira-kira ituku langsung ke luar nggak Win?" tanya Dean saat merebahkan dirinya di samping Winarsih.


Lagi-lagi Dean melontarkan pertanyaan yang membuat Winarsih kelimpungan.


"Ya smua kayaknya ke luar Pak,"


"Anakku udah deket banget dong ya ke bawah. Aku nggak sabar Win ketemu Dean sachet ini. Kayaknya dia udah nggak sachetan lagi, perut kamu besar banget soalnya." Dean mengelus perut isterinya dengan tangan kirinya.


Dean tengah berbaring bertumpu dengan sebelah tangan, menghadapi Winarsih yang berbaring telentang sembari mengusap-usap dagu suaminya.


"Iya, Dokter bilang bayinya bisa sampai 4 kilo lahirnya. Memangnya Pak Dean dulu lahirnya sebesar itu? kayaknya dulu Ibu Saya bilang, saya lahir cuma 3 kilo aja." Winarsih memiringkan tubuhnya menghadap Dean. Kini perut mereka bertemu dan tangan suaminya mengusap-usap punggung sampai ke bokongnya.


"Kata Mama aku lahir 4.3 kilo Win. Anaknya Pak Dean nggak mungkin kecil dong. Bibit unggul ini," ujar Dean mendekap isterinya.


"Tongkatnya belum bisa dilepas sama sekali?" tanya Winarsih.


"Masih ngilu kalo berat badanku ditumpukan semuanya. Dulu waktu patah, aku sempat operasi. Enam bulan baru sembuh. Kalo retak ini mungkin sebulanan lagi udah bener." Dean mengusap bokong isterinya berkali-kali.


"Win, salah satu faktor ketampananku bisa hilang," ujar Dean kemudian.


"Apa itu?" tanya Winarsih.


"Kekayaan."


"Pak Dean tetap tampan kok. Kan udah dari lahirnya begitu," jawab Winarsih.


"Tapi skincare-ku mahal Win," gumam Dean meremas bokong isterinya. Winarsih tertawa melihat ekspresi cemberut Dean yang dibuat-buat.


"Kata Pak Ryan kan uang saya banyak. Jadi Bapak nggak usah khawatir," tukas Winarsih tersenyum.


"Iya, syukurnya isteriku kaya---" Dean menyelipkan jemari di antara paha isterinya. "Aku mau cium dada kamu Win, geser sini."


Dean menarik tubuh isterinya untuk kembali telentang. Dalam sekejab saja bibirnya sudah terbenam di puncak dada isterinya.


"Malem ini kamu tidurnya pake selimut aja, aku mau liatin kamu tidur. Ntar lagi aku harus berbagi soalnya." Tangan Dean kembali meremas dan memijat dada isterinya.


Winarsih hanya menunduk dan membelai rambut hitam pekat Dean yang malam itu telah turun menutup sebagian dahinya.


Suara decakan bibir Dean kembali terdengar memenuhi kamar mereka yang ukurannya sama dengan rumah tipe 54.


"Gemes banget," ucap Dean sesaat sebelum kembali menyapukan li*dahnya di puncak dada itu.


"Eh---kok?" tiba-tiba Dean menghentikan aksinya.


"Kenapa?" tanya Winarsih mendongak.


"Kok kayaknya ada susunya ya Win?" Dean menjulurkan sedikit lidahnya seolah sedang mencicipi.


"Sebentar--" Dean kembali menyeruput puncak dada isterinya.


"Iya Win, ada susunya. Aku harus gimana?" Dean menunduk menatap puncak dada luar biasa yang semakin bersiap menerima kehadiran bayi mereka.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2