CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
133. Arti Dirimu


__ADS_3

Jangan lupa dilike dulu ya :D


Selamat membaca :*


*************


Satu bulan kemudian.


Dirja telah berusia lima bulan sedikit dan akhir-akhir ini semakin sering tidur siang bersama Utinya. Memang hal itu membuat Winarsih yang sedang belajar kembali menjadi terbantu karena bayi itu dengan mudah tertidur jika sedang dikeloni seseorang.


Tapi sisi lainnya adalah, terkadang Winarsih malah merasa kesepian. Seperti halnya Dean, kini Bu Amalia begitu overprotektif terhadap cucunya itu. Kondisi kesehatan ibu mertuanya yang semakin membaik membuat aktifitasnya sekarang lebih banyak ikut membantu mengurus Dirja.


Karena hal itu babysitter Dirja pun sekarang lebih sedikit pekerjaannya tapi dengan beban mental dua kali lipat. Bagaimana tidak? Bu Amalia bisa menghabiskan setengah jam menginterogasi babysitter itu untuk satu bentol gigitan nyamuk di paha Dirja.


Bu Amalia masih dalam tahap menjalani terapi belajar jalan di rumah sakit. Wanita tua itu kini bisa berjalan beberapa langkah dengan berpegangan pada seseorang atau menggunakan tongkat tumpuan dengan empat kaki.


"Mbak!" panggil Bu Amalia pada babysitter Dirja yang sedang duduk tak jauh darinya yang sedang memangku bayi itu.


"Ini popoknya kayaknya udah berisi. Coba diambil lagi yang baru. Diganti aja deh ini. Kasian nanti bisa ruam pahanya," pinta Bu Amalia pada babysitter.


Winarsih yang sedang berada di ruang makan mendengar perkataan ibu mertuanya dan langsung mendatangi ruang keluarga.


"Dirja kenapa...?" tanya Winarsih lembut.


"Popoknya Win," ujar Bu Amalia masih memangku bayi itu duduk di sofa dan menonton televisi.


Winarsih meraba bagian popok anaknya. Ya benar, popoknya sudah terasa berisi. Tapi sedikit sekali. Sebenarnya masih bisa diganti nanti saja, tapi Winarsih mendekati babysitter Dirja dan memijat lembut bahu wanita muda itu sembari tersenyum.


"Tolong ya Mba," ucap Winarsih. Babysitter itu pun membalas senyum lembut Winarsih dan beranjak dari sana untuk mengambil perlengkapan Dirja untuk kesekian kalinya.


"Iya nih, harusnya kalau sudah keliatan berisi langsung diganti aja. Jangan ditunggu nanti-nanti. Kasian cucu uti ya? Anak siapa ini? Anak siapa ini?" tanya Bu Amalia bercanda sembari menunduk menatap wajah bayi yang sedang mengeces itu.


"Anak Dean lah, jadi anak siapa lagi? Masa bapaknya baru kerja seharian aja, yang di rumah udah lupa siapa bapak Dirja." Sore itu Dean tiba lebih cepat di rumah.


Mendengar perkataan Dean, Bu Amalia mengambil sebuah bantal sofa dan langsung melayangkannya ke anaknya itu. Dean tertawa saat menangkap bantal dari sambutan hangat ibunya itu.


"Utinya posesif juga ya ternyata," sindir Dean pada ibunya.


"Diem kamu," sungut Bu Amalia pelan berharap Winarsih tak mendengar perkataannya.


Tak sampai setengah jam kemudian, Dirja yang telah diganti pakaiannya kembali disusui Winarsih dan tertidur dalam pelukan ibunya itu.


Dean yang baru pulang dari kantor belum juga beranjak untuk mandi dan berganti pakaian. Ia malah asik menatap Dirja yang tertidur dengan mulut setengah terbuka dan puncak dada Winarsih masih berada di mulut mungilnya.


"Aku bisa merasakan kedamaian dan kenyamanan yang sedang dirasakan anakku," ujar Dean.


"Apa?" tanya Bu Amalia yang tak begitu jelas mendengar perkataan anaknya.


Winarsih menggigit bibir bawahnya sambil mendelik sebal pada Dean.


"Enggak, nggak apa-apa." Dean terkekeh geli.


"Dirja naik ke atas ya Uti, mau diletak diboxnya," ucap Winarsih pada Bu Amalia seraya bangkit dari sofa.


"Iya--iya, taruh di boxnya aja. Kasian nggak bisa tengkurep kalo dipangku. Dirja tidur suka tengkurep kalau mama letak di tempat tidur." Bu Amalia mengusap-usap kepala cucunya itu saat Winarsih melintas di depannya.


"Dean juga permisi ya Uti, mau gantiin shift Dirja di atas," ujar Dean masih terkekeh. Bu Amalia yang mendengar perkataan anaknya menggeser tongkat bantu berjalannya.


Dean buru-buru merangkul isterinya pergi dari ruang keluarga masih seraya terbahak-bahak.

__ADS_1


"Mas..." panggil Winarsih.


"Ya Sayang," jawab Dean saat sedang membuka celana bahannya. "Mau?" tanya Dean berkacak pinggang hanya dengan mengenakan pakaian dalam ketat yang menonjolkan semua bagian penting tubuhnya.


Winarsih melengos mendengar tawaran suaminya.


"Mukanya langsung gitu ya..." Dean tergelak kemudian memeluk dan menciumi pipi isterinya dari belakang sampai kaki wanita itu sedikit terangkat.


"Aku mau bilang, Utinya Dirja terlalu protektif. Aku kadang kasian sama babysitter-nya." Winarsih mencurahkan isi hatinya selama ini pada Dean.


"Baru satu Win. Bayi di rumah ini baru Dirja sendiri. Makanya kita harus bikin lagi yang banyak. Biar Mama makin banyak kesibukannya. Dirja nggak jadi bahan persengketaan tiap hari." Dean masih memeluk isterinya dari belakang.


"Memang kalau Dirja langsung ada adeknya gimana?" tanya Winarsih berbalik menatap suaminya.


"Gimana ya... Kasian. Belum puas manja-manja ama ibunya. Tapi kata Rio kalo wanita menyusui kesuburannya berkurang karena ada hormonnya yang aktif. Jadi aku rasa nggak masalah. Dirja masih bisa terus kamu susui."


"Mas Rio bilang gitu?"


"Iya, istrinya gitu katanya. Enggak ada tuh pake-pake pengaman. Jarak umur anaknya nggak deket kok. Aku nggak mau pake pengaman Win. Aku nggak pernah. Pasti nggak enak."


"Ya udah, yang nyuruh pake pengaman siapa?"


"Iya, tapi aku juga belum siap kamu hamil lagi. Aku sedang menikmati megang pinggang dan perut kamu yang rata." Dean menempeli Winarsih masih dengan pakaian dalamnya.


"Tapi aku juga nggak dikasi pake-pake obat penghambat kehamilan," ujar Winarsih sedikit melamun.


"Iya, nggak usah. Nanti kamu berubah. Ntar aja. Kamu masih muda, belum waktunya minum-minum begitu. Emang kenapa?" tanya Dean melihat perubahan di wajah isterinya.


"Ya nggak apa-apa,"


"Hmmm... Win," panggil Dean.


"Kamu inget nggak besok hari apa?" tanya Dean.


"Hari Rabu. Memangnya kenapa? Ada apa dengan hari Rabu besok?" Winarsih balik bertanya.


"Kamu nggak inget berarti."


"Apa yang mau diinget?" tanya Winarsih dengan wajah polosnya.


"Enggak ada. Berarti kamu nggak inget. Ya udah nggak apa-apa." Dean sedikit cemberut melepaskan pelukannya dari Winarsih.


Dean masuk ke kamar mandi dan Winarsih tersenyum melihat suaminya yang langsung uring-uringan saat ia mengatakan tak mengingat soal besok.


Winarsih sedang berbaring menyusui Dirja saat Dean telah selesai berpakaian dan mengajaknya turun untuk makan malam.


"Mas, aku entar lagi aja turun makan malam. Aku mau minta tolong ambilin botol jamu di meja dapur depan. Baru aku masak tadi pagi. Boleh kan?" tanya Winarsih.


"Boleh, sebentar aku ambil." Dean bergegas keluar kamar dan menuruni tangga menuju dapur. Saat melintasi ruang makan, ia melihat semua menu makan malam telah dihidangkan.


Dean terus melintasi ruang makan menuju dapur. Malam itu dia mengenakan celana pendek berbahan chinos selutut dan kaos oblong polos putih dengan sandal karetnya.


Menu makan malam telah selesai dihidangkan, namun saat itu ia tak melihat satu pun pegawai dapur di sana. Dean terus berjalan hingga tiba di dapur kotor yang bersebelahan dengan ruang makan pegawai.


"Udah selesai nyiapin makan malam?" tanya Pak Lutfi pada Mba Tina.


"Sudah tuh, tinggal pada makan aja. Cuma belum ada yang turun," jawab Mba Tina.


"Kerja sekarang lebih berat dong ya? Winarsih udah jadi nyonya," tukas Pak Lutfi. Dean yang mendengar nama isterinya disebut, menghentikan langkahnya yang tadi niat kembali ke dapur depan untuk langsung mengambil botol jamu.

__ADS_1


"Ya udah biasa. Nggak masalah sih," sahut Mba Tina.


"Sekarang kamu manggil dia apa? Ibu dong? Bu Winarsih?" tanya Pak Lutfi.


"Masih manggil nama aja. Kan biasa manggilnya gitu. Winarsih juga nggak keberatan kok. Dia nggak lupa dulunya dia siapa. Sama-sama pembantu."


"Tapi aku agak aneh aja. Pinter memang anak itu. Entah gimana caranya Pak Dean bisa begituan sama dia. Diem-diem tapi ternyata otaknya jalan."


"Otak isteri saya jalan! Otak kalian yang nggak jalan!" seru Dean yang datang menghampiri kedua pegawai rumahnya itu dari balik dinding pemisah dapur dan ruang makan pegawai.


Mba Tina terlonjak dari duduknya dan Pak Lutfi langsung berdiri memegang sandaran kursinya dengan sikap serba salah.


"Istri saya ada salah apa sih sama kalian? Yang gaji kalian di sini itu saya lo. Dia itu istri saya. Dia punya wewenang mecat kalian berdua. Tapi tiap saya mau mecat kalian, dia bilang kasihan. Jangan. Kalian punya keluarga yang harus dinafkahi. Sekarang susah cari kerja. Gitu kata istri saya yang bernama Winarsih yang baru kalian hina-hina barusan. Kalian makan dan tidur di sini, tapi kalian hina majikan kalian. Ibarat kalian mengencingi sumur tempat kalian mengambil air minum sehari-hari. Kalian nggak malu?" hardik Dean dengan wajah penuh amarah memandang kedua pegawai di rumahnya berganti.


"Saya mau ngasi tau ke isteri saya soal apa yang kalian bilang barusan tapi saya nggak sampai hati. Nggak sampai hati. Kalau berbicara soal kalian dia nggak ada nada kebencian. Tapi kenapa kalian begini ke dia? Apa dia salah karena saya suka sama dia? Saya yang deketin dia duluan. Terus masalahnya sama kalian apa? Gaji kalian saya kurangi karena Winarsih saya jadikan istri? Apa begitu?" tanya Dean mencoba mengatur nafasnya. Ia khawatir suara teriakannya bisa terdengar oleh isterinya.


"Maaf Pak, maaf." Mba Tina menunduk dengan menggenggam tepi bajunya.


"Saya minta maaf Pak, ini terakhir kali. Saya janji," ucap Pak Lutfi.


"Saya bukan mau merendahkan kalian. Tapi kalian sadar nggak kenapa Winarsih itu beda?" Dean masih berdiri dengan kedua tangan di sakunya.


"Winarsih itu tau tiap ucapan yang dikeluarkannya. Enggak asal kayak mulut kalian. Untuk Mba Tina, sesama perempuan harusnya Mba Tina nggak boleh ngomong seperti itu. Dan untuk Pak Lutfi, nggak seharusnya laki-laki itu menghina perempuan. Sekali lagi saya dengar langsung atau dari orang lain, saya nggak akan pecat kalian. Tapi saya tuntut kalian sampai bisa dipenjara. Winarsih itu isteri saya. Ibu anak saya. Dan kalian masih kerja di sini karena kemurahan hati dia. Bukan karena saya." Dean kemudian berbalik menuju meja tempat botol jamu isterinya tersusun.


"Biar saya aja Pak yang nganter jamunya," kata Mba Tina.


"Enggak usah. Istri saya yang minta tolong ke saya. Jadi biar saya yang bawa." Dean kembali mengambil botol jamu dari tangan Mba Tina dan pergi dari dapur itu.


Dean pergi ke ruang makan dan mendapati Winarsih tengah duduk di salah satu kursi dengan memangku Dirja.


"Kok lama?" tanya Winarsih.


"Aduh Win, kayaknya tekanan darahku naik ini. Tengkukku tegang rasanya," ucap Dean.


"Kenapa! Mbak tolong pegang Dirja," pinta Winarsih pada babysitter untuk memegang bayinya. Rautnya terlihat khawatir melihat Dean yang wajahnya masih sedikit memerah.


"Sini." Winarsih bangkit dari duduknya dan menyeret lengan Dean menuju sofa ruang keluarga. Winarsih meletakkan sebuah bantal di pangkuannya dan menarik kepala Dean untuk berbaring di pangkuannya.


Winarsih memijat bahu dan tengkuk suaminya yang memejamkan mata menikmati sentuhan tangan isterinya yang terasa menenangkan.


"Marah-marah sama siapa? Jangan suka marah-marah Mas, nanti kalau marah ke orang, ada apa-apa yang rugi saya dan Dirja. Bukan orang lain," ucap Winarsih masih memijat bahu suaminya.


"Tapi katanya jangan sembarangan gebukin orang. Kalo nggak bisa gebukin orang ya gini jadinya," sahut Dean.


"Jangan..." sambung Winarsih.


"Jadi kamu udah inget besok hari apa?" tanya Dean.


"Belum, nanti saya coba inget-inget lagi besok ada apa."


"Bu Winar ngeselin," ucap Dean.


"Nggak apa-apa yang penting Bapak Dirja cinta," jawab Winarsih tersenyum geli tanpa dilihat suaminya.


To Be Continued.....


Boleh minta vote hari senin untuk Winarsih-Dean ya,


udah nyampe di ujung banget ceritanya :*

__ADS_1


__ADS_2