CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
SPECIAL PART : 2.0


__ADS_3

Sekiranya ada typo mohon dimaafkan dulu, ya. Update di jalan pakai ponsel tulisannya kecil-kecil banget. Meski multi tasking, konsentrasi juga ke mana-mana. 🤧


Typo sebelumnya sudah diperbaiki, tapi sistem review NT sedang lambat sekali. Terima kasih atas pengertiannya, juga hati seluas samudera-nya Boeboo semua. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin kalau ada typo.


******


“Jadwal hari ini apa, Yan?” tanya Dean saat melintasi meja Ryan.


“Selamat ulang tahun sebelumnya, Pak.” Ryan berdiri, menyambar map dan mengikuti langkah Dean ke ruangannya.


“Thank you,” sahut Dean, membuka pintu ruangan langsung berjalan ke balik meja kerja. “Jadwal?”


“Bersemangat sekali sepertinya,” gumam Ryan, menggulir tablet untuk melihat jadwal atasannya.


"Bersemangat karena sudah empat puluh. Empat puluh tahun adalah titik di mana kehidupan sebenarnya akan dimulai. Penuh tantangan dan di mata para wanita ... pria empat puluh tahun itu sedang di puncak pesonanya.”


Ryan mendengus.


“Kalo enggak percaya, tanyakan pada para wanita soal apa yang gue bilang barusan.” Dean menghempaskan dirinya di kursi, lalu bersandar dan menyilangkan kaki menatap sekretarisnya.


“Oke, Nanti saya tanya ke para wanita di rumah Pak De. Bu Win, Dita, Widi, Nuna—”


Dean mengacungkan jarinya pada Ryan, seraya menarik napas pendek. “Bagus,” ucap Dean.


“Oke, kalo gitu sekarang jadwalnya …. Pagi ada sidang putusan pailit, trus abis makan siang ada kuliah umum di fakultas hukum swasta soal sengketa bisnis—"


“Berapa jam? Enggak lebih dari dua jam, kan? Gue ada janji ama Genk P3K di Beer Garden. Pada nagih traktiran. Padahal semuanya kaya, nagih traktiran kayak enggak pernah dapet gratisan. Heran,” ucap Dean.


“Bukannya semuanya memang gitu? Pak De juga kalo nagih ditraktir kaya enggak pern—”


“Iya, enggak usah lo terusin,” potong Dean. “Ayo, siap-siap buat langsung berangkat ke Pengadilan Niaga. Klien udah enggak sanggup bayar utangnya. Syukur masih sanggup bayar pengacara. Kasian. Untungnya gue udah belain mati-matian,” tutur Dean.


“Mati-matian sampai perusahaannya dinyatakan pailit?” Ryan meletakkan dokumen di hadapan Dean.


“Ya, iya. Kalo dia pailit dia enggak perlu bayar utangnya …,” membuka berkas satu persatu, “untuk sementara,” lanjut Dean. “Kalau mau pembebasan kepailitan, ya, harus mengajukan lagi. Bayar utang-utangnya. Kalo mau terbebas dari masalah tetep harus bayar utang."


Setelah mengecek berkas yang akan dibawa ke pengadilan, Dean kembali keluar kantor bersama Ryan menuju pengadilan niaga. Di sana Dean dan Ryan menghabiskan waktu hampir dua jam.


“Makan siang dulu, Yan. Aku laper,” ujar Dean, melirik jam di pergelangan tangannya.


“Tempat makan enak atau tempat makan nyaman?” tanya Ryan saat mereka sudah tiba di parkiran.

__ADS_1


“Tempat makan yang nyaman. Di usia gue ini, gue lebih mengutamakan kenyamanan. Makin tua kayaknya gue makin enggak kuat menderita. Jadi, jangan sampe gue keringetan. Jangan sampe rambut gue loyo sebelum ngisi kuliah. Perkuliahan itu pasti dipenuhi oleh kawula muda yang mencari sosok pengacara untuk dijadikan role model. Gue yakin mereka pasti langsung memasukkan gue ke dalam list sebegitu ngeliat gue lebih tampan kalo diliat langsung.” Dean menurunkan sun visor dan merapikan rambutnya.


“Role model—role model … baiklah,” gumam Ryan seraya melajukan mobil.


Sebuah kampus swasta menjadi tujuan mereka seusai makan siang. Seperti biasa, meski tidak tiba di lokasi acara apa pun lebih cepat, Dean tak pernah terlambat. Mereka tiba di ruang perkuliahan lima menit sebelum perkuliahan di mulai. Tak lama Dean sudah berdiri di belakang podium dengan sikap paling menawan dari seorang dosen tamu yang memenuhi undangan.


“Banyaknya sengketa bisnis ini adalah dampak makin ramai investasi asing masuk ke Indonesia dan juga sebaliknya banyak perusahaan Indonesia yang go international. Sengketa bisnis yang melibatkan pelaku bisnis internasional tidak jarang berujung pada arbitrase internasional. Terbukti, jumlah kasus sengketa bisnis yang melibatkan perusahaan Indonesia di tingkat arbitrase internasional pun makin meningkat tajam," jelas Dean.


Mata kuliah berakhir setelah satu setengah jam dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.


“Karena dari sini saya ada jadwal yang tak kalah penting, saya batasi hanya sepuluh pertanyaan aja. Yang mau foto bareng, saya cuma waktu sepuluh menit.” Dean memandang ke ratusan mahasiswa di depannya.


Walau Ryan sempat mencibir saat Dean mengatakan soal sesi foto sepuluh menit, seperti biasa atasannya itu jarang meleset dalam meyakini pesonanya sendiri. Sesi berfoto memakan waktu lebih lama ketimbang sesi tanya-jawab.


Ryan berdiri sepuluh meter dari Dean. Menyilangkan tangan di depan dada bagai seorang manajer yang menunggui artisnya yang sedang jumpa fans. Dean sudah melirik jam di pergelangan tangan berkali-kali, tapi para mahasiswi masih datang silih berganti. Menyadari situasi itu, Ryan mendekati kerumunan yang menenggelamkan atasannya.


“Maaf—maaf … permisi. Pak Dean sudah waktunya berangkat untuk jadwal berikutnya. Maaf, ya ….” Ryan menyeruak kerumunan dan melihat Dean yang menatapnya dengan penuh rasa syukur.


“Tuh, kan, bisa lo liat kalo pesona gue semakin berkilau di usia empat puluh.” Dean melangkah terburu-buru menuju ke parkiran. “Handphone gue low-batt, Yan. Di mobil lo ada charger?”


“Enggak ada,” jawab Ryan.


“Tadi saya udah bilang kenapa enggak pakai mobil Pak De aja? Mobil saya memang enggak ada charger.”


“Nah, ini jadi kerjaan lo sekarang. Handphone gue dah mati. Gue masih harus ketemu Genk P3K, jadi lo anter gue dulu ke Beer Garden. Lo balik ke kantor ambil berkas di laci gue. Map cokelat dalam laci terkunci.” Dean menyerahkan sebuah kunci pada Ryan. “Sekalian minta supir kantor anter mobil gue ke Beer Garden. Untuk berkas, harus lo yang bawa.”


“Biar saya tetap ke Beer Garden, kan?” tanya Ryan dari balik kemudi.


“Tepat sekali, Ryan.”


Tepat pukul lima sore, Dean sudah duduk bersebelahan dengan Langit dan berseberangan dengan Toni dan Rio.


“Ryan mana? Enggak ikutan?” tanya Langit.


“Nyusul. Tapi ini jam macet. Nyampenya pasti agak lama,” jelas Dean.


“Happy birthday, ya. Pak Dean. Semoga makin glowing dan makin kaya,” ujar Toni.


"Itu ide siapa ngasi mainan anak-anak? Bikin deg-degan aja. Gue jadi kayak ada trauma sendiri tiap ada kado mainan anak-anak,” ujar Dean, mengaduk minumannya.


"Itu emang sengaja buat Nuna. Kan ultah Nuna yang lalu kita belom ngasi kado,” jelas Rio.

__ADS_1


“Eh, itu kayak pernah ngeliat, deh. Mas yang baru masuk itu.” Langit melihat ke pintu masuk.


Sontak semua mata tertuju pada pintu masuk. Termasuk Dean. Dan saat ia ikut melihat, matanya langsung membulat. “Gue kenal. Kita semua emang pernah ketemu sebelumnya. Tapi gue jadi lebih kenal lagi karena ketemu di resepsi karyawan Cahaya Mas di Desa Cokro.”


“Mas Bara!” seru Dean. Pria yang dipanggil Dean langsung menoleh dan tersenyum. Langkah pria itu langsung menuju ke meja empat pria yang menatap penasaran.


“Wah, Mas Dean … ketemu lagi. Apa kabar mas-mas semua?” Bara mengulurkan tangan menjabat semua pria yang seketika berdiri menyambutnya.


“Kabar baik—kabar baik. Kok, sendiri? Mas yang satu lagi?” Dean mengingat soal seorang pria yang terakhir kali dilihatnya bersama Bara.


“Oh, hari ini aku naik motor. Jadi kita berdua janjian langsung ke sini,” jelas Bara.


Sedang asyik bertukar kabar, ponsel Langit di meja bergetar panjang. Nama RYAN terlihat di layar ponsel.


“Ryan, De …. Kok, nelfon ke gue? Hape lo mati?” Langit menunjukkan ponselnya pada Dean.


Dean meraih ponsel Langit dan mengusap layarnya. “Ini gue, ada apa?” tanya Dean langsung.


“Novi nelfon saya barusan. Bu Win pingsan, Novi bilang ... pendarahan, Pak. Sekarang dibawa ke rumah sakit. Semua anak-anak ikut,” jelas Ryan di seberang telepon.


“Hah? Winarsih? Pingsan? Aduh ….” Wajah Dean memucat. “Gue ke sana sekarang. Mobil, Yan? Eh, lo anter ke sini. Eh, tapi gue bisa bareng Toni ke rumah sakit. Eh, tapi macet. Jam segini macet banget. Gue harus nyampe secepatnya. Rumah sakit P, kan?”


“Pake ini, Mas.” Bara menyerahkan kunci motor pada Dean. “Bawa ini pasti lebih cepat sampai.” Bara mengangguk.


Langit menyambar ponselnya dari tangan Dean untuk mengambil alih. “Yan, bos lo naik motor ke rumah sakit. Lo bawa mobilnya ke sini buat tukeran ama temen yang dipinjemin motor. Sekarang, ya!”


Dean menyambar kunci motor dari tangan Bara.


“Bisa, kan, Mas? Itu motor gede 250 CC.” Bara memastikan lagi karena ragu melihat tampilan Dean yang kelimis berjas lengkap lebih kental dengan mobil mewah.


"Jangan ragu. Bapak kita ini udah berpengalaman banget. Tanya aja kaki kanannya,” sambut Toni.


Dean tak menggubris perkataan Toni, ia memutari meja dan menepuk pundak Bara. “Gue jalan dulu,” ujar Dean, buru-buru menuju pintu keluar.


“Motor merah dengan stiker, ‘HARTA, TAHTA, DIJAH,” seru Bara, lalu meringis menatap tiga pria yang langsung menoleh saat mendengar ucapannya tadi.


Di luar cafe.


“Aduh, Win … kamu kenapa? Kamu enggak pernah sakit, Win ….” Mata Dean sudah memerah saat menyalakan motor besar berwarna merah milik Bara yang terparkir tak jauh dari pintu masuk.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2