CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
121. Usaha Dean


__ADS_3

Udah dilike?


Kalo udah, sini dicium Pak Dean satu-satu ^•^


************


"Gua bilang apa? Kalo udah gini kasian Dean. Entar mau keluar ama kita lagi juga jadi susah. Elu sih Yo!" tukas Langit pada Rio yang menunduk menatap isi gelasnya. Ara telah pergi dari tempat itu tak lama setelah Dean pamit.


"Ara bilangnya mau temenan aja, nggak ada maksud macem-macem. Gua juga udah bilang, Dean ada anak-isteri jadi jangan mikirin kayak dulu lagi. Dia bilang nggak ada maksud apa-apa. Ya gua nggak tau juga perasaan dia ama Dean gimana," tutur Rio.


"Masak lu nggak bisa ngerti perasaan Ara gimana? Dia dulu posesif banget ama Dean. Masa lu nggak inget. Dean pergi ama keluarganya aja Ara ngambek berhari-hari. Tapi ya karena emang Dean bego tiap cinta ama perempuan, ya dia asik-asik aja. Gua sih risih," sahut Toni.


"Kayak lu nggak bego aja tiap suka ama perempuan Toooon..." sergah Langit. "Elu disuruh beli pembalut aja manut! Sadar diri napa ckckck." Langit menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Enggak lagi deh gua jawab telfon Ara. Gua juga khawatir kalo dia sering-sering nelfon. Gua nggak mau muka gua sepucet muka Dean tadi. Tapi untung bininya Dean santai aja," jawab Rio.


"Santai di sini. Di rumah Dean digiles. Jangan kita hubungi dulu deh, serem gua." Langit memandang wajah dua orang sahabatnya. "Kayaknya Ara makin ngotot. Mukanya aja kesel gitu pas balik tadi," sambung Langit.


"Mungkin servis Dean dulu enak banget, Ara masih penasaran," gumam Rio.


"Anjrrr... Dean sih servisnya mungkin biasa. Mulutnya dia yang luar biasa, " sahut Langit. Tiga sahabat Dean itu terkekeh-kekeh tak berperasaan.


Mereka bukan tak merasa prihatin akan musibah yang sedang menimpa Dean, hanya saja yang dialami Dean bukanlah hal yang baru pertama kali. Dean yang terkenal akan pesonanya, beberapa kali terlibat masalah dengan wanita semasa berpacaran.


"Sebenernya mirip tuh sifatnya ama Dean, makanya susah kalo jodoh. Kalo dah pengen sesuatu harus dapet. Makanya pas saling cinta dulu, susah lepasnya. Sekarang Dean kayak pake lem setan ama bininya, Ara mending suruh balik ke Kalimantan aja deh Yo, nambang batubara di sana." Toni tertawa terbahak-bahak.


"Jadi gua lagi yang bayar tagihan Dean?" sambung Toni lagi.


"Iyalah, lu yang bayar semuanya. Lu kaya dan single. Duit lu buat apa lagi coba?" Langit tertawa seraya memijat bahu sahabatnya.


"Single...single...entar lagi buat album gua, nggak single lagi!" sergah Toni seraya bangkit dari duduknya dan mengeluarkan dompet.


************


Dean masih mengusap-usap kepala Winarsih dengan sebelah tangannya. Mobil yang dikemudikan Dean telah sampai di depan pagar dan terlihat Rojak berlari menghampiri pagar itu.


Winarsih membersihkan wajahnya yang tadi basah karena airmata. Saat tiba di depan teras rumah, ia langsung turun tanpa menunggu pintu yang biasa dibukakan oleh Dean atau Satpam rumah.


Dirja sudah tertidur lelap di pelukannya. Dia berjalan masuk ke rumah lebih dulu langsung menuju kamar untuk meletakkan Dirja di dalam boxnya.


"Bu, pakaiannya Dirja perlu diganti?" tanya Babysitter Dirja yang menghampirinya di bawah tangga.

__ADS_1


"Engga usah sekarang Mba, Dirja baru tidur, saya juga lelah. Jadi saya mau tidur dulu. Nanti kalau Dirja bangun baru diganti bajunya," jawab Winarsih.


"Baik Bu," Babysitter Dirja pamit dan kembali ke belakang. Dalam sekilas pandangannya, Winarsih melihat Dean yang berjalan masuk dan sedang menatapnya.


Buru-buru ia menaiki tangga meninggalkan suaminya. Hatinya masih kesal dan sedang tak ingin diajak bicara. Melihat hal itu, Dean yang merasa belum cukup memberi pembelaan terhadap dirinya mempercepat langkah menuju anak tangga.


"De! Sini! Mama mau ngomong." Suara Bu Amalia yang tiba-tiba terdengar dari ruang keluarga membuat Dean tersentak. Dia lupa masih harus menghadapi satu wanita lagi di rumah itu.


"Ya Ma--" Dean memutar langkahnya dan pergi menuju ruang keluarga.


"Udah? Kalau diliat dari ekspresi ibunya Dirja barusan tadi, kayaknya dia udah ketemu sama wanita itu. Iya?" tanya Bu Amalia tajam.


"Mama kenapa nggak ngomong aja sih ama Dean? Mesti ngajak ibunya Dirja ke sana gitu? Dean kan anak Mama, harusnya Mama bisa ngerti posisi Dean. Mama juga pasti tau isi hati Dean itu gimana," tukas Dean kemudian duduk di depan kursi roda ibunya.


"Karena kamu anak mama makanya mama nggak ikut masuk ke cafe itu. Kalau kamu menantu mama, sudah habis kamu dari tadi." Bu Amalia memandang putra bungsunya dengan tatapan tajam. Dean menunduk memijat-mijat bagian tengah dahinya.


"Mama tau dari papa ya Dean ketemu Ara di Kalimantan? Ibunya Dirja tau dari mana?" tanya Dean.


"Papamu ngomong ke Mama, tapi Mama nggak ada tuh ngomong-ngomong sama istrimu."


Berarti Winarsih juga baru tahu soal dia bertemu Ara di hotel, langsung dari mulut Ara sendiri. Hebat juga Winarsih pikirnya, padahal isterinya itu baru mengetahui soal ia bertemu Ara di cafe tadi, tapi Winarsih masih bisa mengendalikan diri dan membelanya.


"Kamu sekali-sekali apa enggak bisa tegas gitu sama perempuan De? Kamu tau gimana susahnya kamu masukin Winarsih ke keluarga ini. Ngadepin mama di rumah ini juga nggak gampang De, istrimu itu udah banyak sabar sama mama. Kamu juga tau. Dia banyak sabar dengan kamu. Mama nggak tahan De liat video kamu dengan perempuan yang kemarin itu. Mama nggak tahan. Itu gimana kalo ibunya Dirja liat? Bisa ditinggal kamu. Pasti geli dia sama kamu. Sekarang perempuan gelantungan di tangan kamu, kamu diem aja. Malu mama sama ibunya Dirja. Milihin istri buat kamu mama terlalu selektif, taunya anak mama di luar tingkahnya begitu."


"Ya salah kamu! Istri lagi nyusuin anak perlu dukungan tapi suaminya kelayapan aja kayak abege. Bikin stres istri aja. Udah sana pergi, mandi. Mama juga masih sebel ama kamu. Nanti mama bilang ke istrimu biar diemin kamu dulu. Biar tau rasa."


"Mama kok gitu sih, Dean sebentar lagi sidang kasasi. Udah semangat karena ibunya Dirja mau dateng, Mba Anggi juga dateng. Kalo didiemin terus Dean mana tahan. Mending Dean di rumah aja nggak usah ngantor sampe ibunya Dirja baik lagi."


"Jangan kayak anak TK kamu," tukas Bu Amalia


"Biarin." Dean bangkit pergi meninggalkan ibunya dan cepat-cepat menaiki tangga.


Saat Dean tiba di kamar, Winarsih baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaian lengkap.


"Win, masih marah sama aku?" tanya Dean. "Biasa kamu dari kamar mandi pake handuk aja terus pakai bajunya di sini, ini keluar dari kamar mandi udah pake baju lengkap. Lagi jijik banget ya sama aku?" Dean memeluk isterinya yang sedang duduk di depan meja rias.


Winarsih hanya diam membuka handuk dari kepala dan mengeringkan rambutnya.


"Win,"


"Mandi sana, udah malem. Seharian di luar. Bajunya juga tadi bekas deket-deket perempuan lain. Saya nggak suka,"

__ADS_1


"Aku mandi sekarang Win, ini bajunya aku buang. Atau aku minta tolong Rojak bakar sekalian. Tanganku juga bakal aku sikat dan sterilkan, Bu Win nggak usah takut. Aku mandi sekarang," tegas Dean segera melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamar mandi.


Merasa perkataannya tak meyakinkan, Dean menghentikan langkahnya dan kembali menunduk memeluk isterinya.


"Kamu jangan tidur dulu ya Sayang--- Kasi aku waktu untuk menyampaikan nota pembelaan. Jadilah hakim yang adil Win," ujar Dean mencium isterinya kemudian buru-buru lari ke kamar mandi.


Hampir satu jam Dean di kamar mandi dan Dirja sudah terbangun digantikan baju dan disusui kembali oleh Winarsih. Bayi itu kembali tidur nyenyak di boxnya.


Hari itu adalah hari yang sangat panjang dan melelahkan bagi Winarsih. Pagi-pagi sekali dia telah melayani suaminya. Setelah itu, dia harus berangkat ke kantor menghadiri rapat yang sangat membosankan sambil membawa bayinya dan mengikuti tata tertib yang sudah dibacakan oleh ibu mertuanya.


Sore hari dia pergi ke sebuah kafe dan mendapati seorang wanita tengah asyik memegang manja ujung jari tangan suaminya. Meski hanya ujung jari, Winarsih belum bisa memakluminya saat ini.


Tubuhnya lelah, tapi matanya belum mengantuk, ia hanya berbaring memejamkan mata di tepi ranjang menghadap ke arah box Dirja.


Dean yang baru saja ke luar kamar mandi menoleh ke arah ranjang. Winarsih telah tidur berbantalkan sebelah lengannya menghadap box bayi mereka.


Dia merasa bersalah sekali membuat Winarsih menangis hari itu. Tak apa jika ia harus menerima omelan dan pukulan. Tapi kalau untuk didiamkan berlama-lama, rasanya ia takkan sanggup.


Dean telah memakai piyama satinnya yang berwarna merah hati, tubuhnya beraroma segar sampo dan body scent yang baru disemprotkannya hampir ke seluruh tubuh. Rambutnya yang masih basah, sedikit jatuh menutupi dahinya. Malam itu dia merasa sudah tampil prima untuk membujuk isterinya.


"Win... Udah tidur Sayang?" panggil Dean seraya membelai kepala isterinya.


"Win, jangan diemin aku dong. Aku nggak suka," ucap Dean. Dia merapatkan tubuhnya dan menumpukan satu tangan di kepala untuk melongok wajah Winarsih yang tidur memunggunginya.


"Bu Winar, ibunya Dirja, istrinya Pak Dean pengacara tersohor, maafin aku. Aku nggak ada niat bohong sama kamu. Aku cuma nggak mau kamu berpikiran macem-macem kalo tau aku ketemu dia di Kalimantan. Aku janji nggak gitu lagi. Bu Win... Ayo ngadep sini dulu. Kita ngomong dulu," bujuk Dean memeluk pinggang isterinya.


"Saya lagi nggak mau ngomong malem ini," jawab Winarsih.


"Kamu mau apa aku ladeni semua Win. Kalo mau itu, aku juga sanggup." Dean menyibakkan rambut Winarsih dan mencium leher isterinya.


"Enggak," jawab Winarsih. "Mau tidur." Winarsih masih memejamkan mata memunggungi suaminya.


"Iya, mau tidur juga nggak apa-apa. Tapi aku nggak mau dipunggungi gini, ayo balik ke sini. Aku nggak mau Bu Win..." Dean meraih tubuh Winarsih agar berbalik menghadapnya.


Winarsih berbalik menghadapi dada suaminya. Matanya mengerjap, kini ia bisa melihat kancing piyama Dean persis di depan matanya. Tangan Dean melingkari tubuhnya dan berdiam untuk mengusap-usap punggungnya. Sesekali dirasakannya Dean mengecup kepalanya.


"Maafin aku Bu Win... Kamu boleh marah, tapi jangan tidur punggungi aku gitu. Aku nggak suka. Tempat kamu tidur memang di sini. Ini suami kamu." Dean meletakkan kepala Winarsih di dadanya. Tangannya melingkupi tubuh isterinya yang merajuk sepanjang malam itu.


Tubuh Dean lelah, tapi matanya tak mengantuk. Sepanjang malam ia terjaga melihat wajah isterinya tidur dan menjaga bayinya.


Dia harus meluluhkan hati isterinya sebelum sidang kasasi terakhir. Dia perlu Winarsih duduk di ruang sidang itu agar ia bisa memamerkan segala kemampuannya untuk membela Hartono Coil.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2