CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
145. Ciuman Yuk


__ADS_3

Jalan-jalan ke Tanjung Batu,


Jangan lupa beli durian.


Silakan dilike lebih dulu,


Baru membaca kemudian.


************


Minggu sore sebulan sejak ia melahirkan anak keduanya, Winarsih sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Winarsih sedang mengamati wajah cantik puterinya lebih seksama sambil menyusui bayi itu.


"Memang nggak kayaknya. Jadi apanya ya," gumam Winarsih sendirian.


"Apanya yang apa?" tanya Dean yang baru tiba di ruangan itu.


"Bener nggak mirip aku Mas," ujar Winarsih masih memandang puterinya. "Kata orang di kampungku, kalau bayi lebih mirip bapaknya itu artinya cinta suaminya lebih besar. Mas lebih cinta aku ya?" tanya Winarsih memandang Dean yang kini duduk di sebelahnya.


"Memangnya cinta kamu ke aku sebesar apa?" tanya Dean.


"Nggak tau, kalau Mas?" Winarsih balik bertanya.


"Ya nggak tau juga. Besar banget pokoknya. Sebesar..." Dean menggantung ucapannya.


"Sebesar apa?" tanya Winarsih dengan lugunya. Ia tak melihat tatapan jahil di mata Dean.


"Ahh... Lega aku. Ternyata istriku masih seperti yang dulu polosnya," ujar Dean.


"Memangnya apa sih?"


"Nggak apa-apa. Udah ah. Aku ke sini karena kangen," ujar Dean. "Aku tungguin di kamar taunya duduk di sini."


"Kangen? Setiap hari ketemu," sahut Winarsih.


"Tapi udah seminggu aku nggak diapa-apain," tukas Dean.


"Memangnya mau diapain?" tanya Winarsih menatap wajah suaminya yang terlihat segar seusai mandi sore itu.


"Di kamar udah ada dua box bayi, tiap malem ngobrol sama anak-anak sampai mereka tidur. Kamu belanja barang-barang anak kamu hampir tiap hari, aku merasa dikucilkan di kamar kita."


"Udah bapak-bapak kok kayak gitu sama anak sendiri," sahut Winarsih.


"Tapi kamu kan punya aku juga Win, kamu itu dibagi tiga sekarang. Jadi kamu harus extra juga untuk aku," sungut Dean yang merasa Winarsih belakangan terlalu fokus ke bayi-bayinya.


"Mas itu cuma uring-uringan karena nggak ada diapa-apain, nggak ada hubungannya ama anak-anak. Udah sebulan lebih, sabar. Nanti malem aku apa-apain kalau anak-anak udah pada tidur."


"Bener ya... Aku minta jaminan dulu sekarang."


"Jaminan apa? Ini ada-ada aja..." Winarsih mengulurkan tangannya ke perut Dean untuk mencubit suaminya itu. Dean menangkap tangan isterinya dan meletakkan telapak tangan Winarsih di pipinya.


"Aku kangen ciuman kita yang panas Bu Win... Ciuman yuk." Dean menggeser duduknya untuk lebih mendekat.


"Masih sore, nanti ada yang liat. Ini ruang keluarga. Nanti di kamar aku cium sampe Bapak Dirja lemes," ujar Winarsih tertawa.

__ADS_1


"Ciuman Win..." pinta Dean memelas.


Winarsih menarik kaos oblong suaminya untuk lebih mendekat dan Dean langsung meletakkan tangan kanannya di belakang leher Winarsih untuk mencium bibir isterinya.


Dean memunggungi ruang makan dan mulai menyesap bibir isterinya dengan mata terpejam. Ciuman mereka lama, saling menyambut satu sama lain seolah ciuman itu memang sudah lama tidak mereka lakukan.


Dita yang mulai tertidur dalam pelukan ibunya, terlihat tenang di bawah kungkungan bapaknya yang sore itu merindukan ciuman panas dan hangat dari ibunya.


Dean mendesah pelan dan memutar kepalanya. Winarsih yang tadi menolak kini ikut memejamkan mata menikmati ciuman suaminya.


Mereka asyik melepas kerinduan hingga tak sadar suara denting lembut lift terbuka di sisi kanan. Pak Hartono dan Bu Amalia keluar dari lift itu berjalan beriringan menuju ruang keluarga.


Beberapa meter sebelum tiba di ruang keluarga, langkah kedua orang tua itu terhenti. Dari seberang meja makan mereka melihat Dean sedang asyik mencium isterinya.


"Dasar anak itu," gumam Bu Amalia. Pak Hartono meringis menatap isterinya.


"Kamu liat tuh Ma, dulu kamu bilang Winarsih yang mengejar Dean? Sekarang kamu bisa liat mana yang mengejar lebih dulu. Anakmu itu kan mirip sama kamu ngototnya." Pak Hartono kemudian tertawa pelan dan menarik lengan isterinya agar berjalan menuju pintu belakang untuk menghindari pasangan suami isteri itu.


Masa jabatan Pak Hartono tersisa 3 bulan lagi dan pria tua itu sekarang benar-benar terlihat lebih bahagia karena banyak menghabiskan waktu di rumah.


Bu Sumi dan Yanto telah kembali ke Jambi dua Minggu lalu. Bu Amalia sudah berpesan untuk memberi kabar soal di mana lokasi pesta pernikahan Winarsih dan Dean di Desa Beringin.


Sekarang Bu Amalia sedang tenggelam dengan ketekunannya mengatur pesta di Desa Beringin. Meski sedang berada di Jakarta, wanita itu sudah bertemu dengan sebuah Wedding Organizer yang ditunjuknya menangani resepsi besar itu.


Tempatnya adalah lapangan yang biasa digunakan untuk menggelar acara pasar malam. Winarsih hanya mengangguk-angguk pasrah tiap kali ibu mertuanya itu mengatakan banyak hal yang akan dilakukannya pada resepsi itu.


"Win, aku lusa ke Jambi ya.. Perginya ama Ryan. Ada yang mau aku urus di sana?" ujar Dean suatu malam sebelum tidur.


"Ngapain? Urusan resepsi? Kan udah ditangani Wedding Organizer, Mas perlu ke sana lagi?" tanya Winarsih sedikit heran. 4 hari lagi masa puasa Dean berakhir tapi dengan tumbennya laki-laki itu akan pergi beberapa hari ke Desa Beringin.


Winarsih tertawa. "Aku kira nggak inget," ujar Winarsih.


"Mustahil..." jawab Dean.


"Malem ini nggak mau diapa-apain?" tanya Winarsih memeluk suaminya.


"Kenapa? Kamu kangen sama itu aku?" tanya Dean membalas pelukan isterinya dengan meremas bokong wanita itu.


"Anakku udah tidur, aku mau manjain bapaknya."


"Memang udah seharusnya gitu. Pegang Win," pinta Dean meletakkan tangan Winarsih di bagian kelelakiannya.


"Udah gini aja ternyata," ujar Winarsih saat merasakan bagian kelelakian itu telah bangkit sempurna.


"Dia juga kangen dimanja-manja," sahut Dean. "Tangan kamu anget," ucap Dean mencium bibir isterinya.


Ciuman mereka dengan cepat menjadi cepat dan panas. Winarsih terengah-engah saat berhasil melepaskan gempuran bibir suaminya.


"Aku juga kangen sebenernya." Winarsih kemudian bangkit dan menarik turun piyama suaminya sampai hidungnya hanya berjarak tak sampai 5 sentimeter dari benda yang sekarang juga menjadi candunya itu.


*****


"Dean kapan pulang Win?" tanya Bu Amalia saat makan malam.


"Nggak tau Ma, katanya urusan di Desa Beringin belum selesai, padahal udah 5 hari pergi. Jarang nelfon," sungut Winarsih cemberut.

__ADS_1


"Mungkin memang belum selesai, nanti Mama yang telfon nanya dia ngapain aja di sana. Tapi di sana dia nginep di rumah ibu kamu kan?" tanya Bu Amalia.


"Iya, nginep di rumah. Tapi kan tetap aja nggak tau di sana ketemu siapa aj..." Perkataan Winarsih menggantung.


"Nggak bakal macem-macem. Mama tau bapaknya Dirja gimana." Bu Amalia menghibur Winarsih yang sudah dua hari ini terlihat uring-uringan karena kepergian suaminya.


"Soalnya kemarin katanya pergi sebentar aja, makanya saya nggak ikut. Kalau lama kan saya bisa ikut," sambung Winarsih lagi.


"Mungkin dia nggak mau ngajak karena Dita masih terlalu bayi," sahut Bu Amalia.


Winarsih melanjutkan makan malamnya dalam diam. Hatinya memang mendongkel dengan Dean yang belakangan memang jarang menelepon di siang hari. Sedangkan di malam hari, ia terlalu lelah untuk menanti telepon suaminya itu.


"Dirja juga kangen bapaknya," ujar Winarsih akhirnya.


Kemudian suara langkah kaki terdengar mendekati meja makan.


"Dirja yang kangen atau ibunya?" tanya Dean yang baru saja tiba bersama Ryan.


Winarsih sedikit terperanjat dan memutar tubuhnya untuk melihat teman hidup yang dirindukannya itu.


"Ibunya ya yang kangen?" tanya Dean lagi seraya menunduk dan mencium pipi isterinya berkali-kali.


Winarsih yang merasa risih karena Dean menciuminya di bawah tatapan Bu Amalia, sedikit mengedikkan bahunya.


"Ada Uti Dirja," bisik Winarsih.


"Enggak apa-apa. Uti Dirja pasti ngerti rasanya kangen," jawab Dean kembali membenamkan hidungnya di pipi Winarsih yang masih terlihat tembem.


"Heh! Duduk! Itu Ryan dari tadi berdiri nungguin atasannya yang nggak peka." Bu Amalia mengetuk telunjuknya ke meja. Dean mencibir dan segera melepaskan Winarsih.


"Duduk Yan, makan." Dean menarik sebuah kursi di sebelah isterinya dan pandangannya berkeliling mencari sesuatu.


Ryan yang mendengar instruksi atasannya langsung menarik sebuah kursi dan meraih piring kosong di depannya.


"Anak-anak mana?" tanya Dean.


"Udah tidur, baru aja mbak-mbaknya turun naruh mereka ke box. Dita baru tidur, nyusu banyak terus ketiduran di pangkuanku." Winarsih menyendokkan nasi ke piring suaminya.


"Kalo gitu, entar malem kita aman." Dean berbisik di telinga isterinya.


"Ada Uti Dirja," jawab Winarsih dengan mulut nyaris tak terbuka. Ia khawatir ibu mertuanya mendengar perkataan suaminya.


"Aku mau dua kali," bisik Dean lagi.


"Nasinya udah nggak panas ini," ujar Winarsih pada suami genitnya.


"Nanti mau dari belakang kan? Yang kamu suka itu?" tanya Dean kembali berbisik di telinganya.


"Mas... Makan," ujar Winarsih.


"Aku buru-buru pulang hari ini untuk bikin kamu ngomong ampun lagi," bisik Dean seraya membelai paha Winarsih hingga tangannya menyentuh bagian kewanitaan isterinya.


To Be Continued.....


Jangan lupa favorit karya juskelapa berikutnya, PENGAKUAN DIJAH.

__ADS_1



__ADS_2