CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
151. EXTRA PART : Winarsih S.Mb


__ADS_3

Saat ini adalah bulan November. Bulan di mana Winarsih, Dirja dan Widi berulang tahun. Winarsih ke 28 tahun, Dirja berulang tahun ke 6 tahun, dan Widi ke 4 tahun. Meski Widi lahir di tanggal yang berbeda dengan ibu dan kakaknya, tapi setiap tahun perayaan ulang tahun mereka selalu dilangsungkan bersamaan.


Bukan pesta besar, hanya memotong cake dan makan bersama seluruh keluarga dan pegawai di kediaman rumah pak Hartono.


Sedangkan yang terjadi hampir 3 tahun yang lalu?


"Daru gendong sama bapak aja ya? Biar ibu potong cake-nya dulu." Dean mengangkat seorang batita laki-laki yang berusia 1 tahun 7 bulan ke dalam gendongannya.


Winarsih berdiri menghadap sebuah cake tiga tingkat dengan hiasan heboh di tiap tingkatannya. Cake itu selalu dipesan dengan bentuk yang sama oleh Dean.


Setiap tingkatannya memiliki hiasan berbeda. Cake lapisan terbawah untuk Winarsih istrinya. Cake di tingkatan kedua untuk Dirja putera sulungnya. Sedangkan lapisan teratas adalah cake untuk Widi putri ketiganya.


Bu Sumi duduk sambil memeluk Dita yang berpegangan di lututnya mengawasi ibu, mas dan adiknya yang sedang memegang sebuah sendok berbentuk sekop.


Yanto bertepuk tangan melihat kemeriahan keponakannya mencabuti hiasan cake yang hanya bertahan sesaat saja. Dita yang melihat masnya mulai mencomoti buah ceri kini ikut mendekat dan meniru tingkah kakak sulungnya itu.


"Sebentar, sabar. Ibu suapin bapak dulu. Kuenya jangan dipegang, abis bapak baru ke Dirja dan seterusnya." Winarsih mengangkat tangan Widi yang sudah belepotan krim.


"Sini, tangan Widi dilap dulu." Bu Amalia yang duduk di sebuah kursi mengambil beberapa lembar tisu dan memanggil cucunya.


"Bapak geser sini," panggil Winarsih pada Dean yang sedang menenangkan Daru yang menggeliat ingin ikut memporak-porandakan kue ulang tahun.


"Ini anaknya merengek Bu," tukas Dean.


"Sini turunin aja," pinta Winarsih.


"Daru mau apa? Sini pangku eyang," panggil Pak Hartono pada cucu bungsunya. Mendengar hal yang dikatakan eyangnya, Daru mengerucutkan mulut dan merentangkan tangan berjalan ke arah Pak Hartono.


Anak keempat Dean dan Winarsih lagi-lagi tak mirip dengan ibunya. Produk terakhir mereka itu ternyata mengambil nyaris seratus persen wajah eyangnya yang berdarah Jawa. Mata Daru tidak sipit seperti ketiga saudaranya.


Dean yang telah kehabisan stok nama bayi hanya bisa memberikan nama depan pada anaknya itu. Darsa, artinya keinginan. Sedangkan nama belakangnya, Pak Hartono dengan senang hati menambahkan nama Handaru yang berarti kebahagiaan.


Ya benar. Setelah semua produk dari Dean diborong kemiripan dengan bu Amalia, istrinya. Pak Hartono sangat bahagia mendapatkan seorang cucu laki-laki yang mirip dengannya.


Jika Dirja sejak kecil banyak menghabiskan waktu bersama utinya, Daru lebih banyak menghabiskan waktu bersama akungnya.


Pak Hartono telah memasuki masa pensiunnya di usia 73 tahun. Ia telah melimpahkan sebagian besar pekerjaannya dengan mengangkat Fika yang masih betah menjomblo menjadi direktur Hartono Coil di Kalimantan.


Ternyata meski setiap hari bersama dengan Irman, tidak dapat menimbulkan benih-benih cinta di hati perempuan idealis seperti Fika.


Irman telah menikah dengan salah seorang karyawan Grup Cahaya Mas di kantor pusat dan memiliki seorang anak berusia tiga tahun. Kini jabatan Irman di sebelah pak Hartono menjabat semuanya. Sebagai asisten sekaligus ajudan bekas menteri itu.


"Win, kueku..." rengek Dean mencolek lengan Winarsih yang telah mengulurkan sendok ke arah mulutnya namun tatapan wanita itu masih menatap Daru yang sedang kolokan bersama pak Hartono.


"Oh iya," sahut Winarsih kemudian menyendokkan sesendok kue ke mulut Dean.


Dean menangkup wajah Winarsih dan mencium tiap sudut wajahnya dengan bunyi keras.


Orang tua mereka serta beberapa pegawai yang sedang berada di sana sudah terbiasa dengan sikap Dean terhadap istrinya. Mereka semua telah mengerti alasan kenapa anak Dean dan Winarsih berjumlah empat orang.


Novi yang hari Minggu itu juga datang bersama Ryan dan seorang batita berusia dua tahun sedang duduk menikmati hidangan sekaligus mengawasi anak mereka yang sedang berjalan ke sana kemari.


"Sini aku gantian suapin," ujar Dean mengambil piring kue dari tangan Winarsih.


Winarsih membuka mulutnya untuk menerima suapan Dean. "Udah tua kamu Bu," ujar Dean.


"Bapak lebih tua. Aku 28 tahun. Di kantor pusat, banyak perempuan 28 tahun belum menikah. Mereka sibuk mengembangkan karirnya," tukas Winarsih.


"Trus kamu?" tanya Dean.


"Aku sibuk mengembangbiakkan benih-benih Pak Dean," sahut Winarsih santai seraya meraih piring kue dari tangan Dean yang menatapnya sinis.


"Udah makin pinter Winarsih sekarang," ucap Dean.


"Kan calon sarjana." Winarsih memeluk pinggang Dean dan mencium dada pria itu sebelum meletakkan pipinya di sana.


Dean melingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuh Winarsih dan melemparkan pandangan ke arah teras samping tempat di mana semua orang makan dan berkumpul.


Empat orang anak saling berlari berkejaran. Termasuk anak Ryan. Sekretarisnya itu sedang ikut berlarian ke sana kemari mengawasi anaknya.


Sedangkan Daru berada dalam gandengan tangan pak Hartono yang mengajak cucunya ke taman di seberang kolam untuk melihat beberapa ekor burung beo yang diletakkan dalam sangkar-sangkar besar terbuat dari besi.


"Pusing aku, rame banget anak-anak. Mana kalo udah main sering berantem." Dean mengeluh dari atas puncak kepala istrinya.


"Anakmu semua itu," ujar Winarsih.


"Iya memang," sahut Dean.


***********


"Jadi judul skripsi kamu apa?" tanya Dean pada Winarsih saat malam itu duduk di tepi kolam renang.


"Judulnya faktor-faktor yang mempengaruhi fighting brand terhadap strategi perang antarproduk. Tentang second brand," jawab Winarsih.


"Prinsipnya aku ngerti, tapi aku pengen denger dari kamu. Anggap aja ini kayak pertanyaan sebelum meja hijau kamu nanti," ujar Dean terkekeh.

__ADS_1


"Jadi prinsipnya gini, aku ngambil contoh sebuah perusahaan air mineral terkemuka merek A. Pasarnya sudah menjangkau dari menengah hingga ke atas. Saking terkenalnya merek ini sampai masyarakat pun menyebut merek lain dengan merek A. Tapi di titik tertentu masyarakat menengah ke bawah tidak membeli merek A. Masyarakat menengah ke bawah cenderung memilih merek yang harganya jauh lebih murah."


Dean tersenyum, "terus?"


"Nah, untuk menyikapi persaingan ini, merek A memutuskan untuk membuat satu brand baru yang harganya bakal dijual lebih murah. Sebut saja mereknya V. Apa keuntungannya? Keuntungannya perusahaan pemilik kedua brand, bisa menjangkau semua konsumen dari berbagai lapisan. Bayangkan betapa besar pengaruh suatu merek. Mungkin saja biaya produksi merek A dan V sama."


"Wow, kamu siapa? Mana Winarsihku yang dulu?" seloroh Dean.


"Kumat..." gumam Winarsih.


"Hmmm--iya, aku dengerin lo. Itu sama kayak maskapai G yang menciptakan maskapai C untuk melayani konsumen menengah mereka. Bagus, skripsi kamu bagus. Pasti dosen penilai bakal langsung ngetuk palu tiga kali. Kamu lulus dengan nilai bagus. Kalo nggak, biar aku yang ngetuk." Dean bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Winarsih.


"Jalan-jalan ke museum yuk," ajak Dean.


"Ha? Museum apa?"


"Itu kamar kita dulu." Dean menunjuk kamar pembantu di pojok sayap kiri. Winarsih tertawa kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Dean.


Sepasang suami istri itu kemudian berjalan menyusuri tepi kolam renang menuju rumpun tanaman bambu yang dipangkas setinggi pinggang membentuk jalan sepetak menuju ke halaman sayap kiri rumah.


Tak lama mereka telah tiba di depan pintu kamar yang tidak terkunci. Kuncinya masih menggantung di dalam karena dua kali seminggu kamar itu selalu dibersihkan.


Sejak Winarsih tak berada di kamar itu lagi, Dean tidak mengizinkan pembantu baru menempati kamar itu. Dean mengatakan kalau ia ingin sesekali mengenang masa-masa pertama dekat dan awal hidup bersama isterinya di sana.


"Ini lampu tidur udah bisa dimasukkan ke museum beneran. Masih nyala nggak ya...." Dean mendekati lampu tidur di atas meja rias kemudian meraih colokan.


"Masih nyala," ujar Winarsih. Kemudian ia berjalan mematikan saklar lampu di dinding sampai ruangan itu hanya diterangi cahaya kuning dari lampu tidur.


"Dulu ada yang ditanyain tapi nggak ngaku di sini. Duduk, cuma nangis." Dean tersenyum sendu menatap istrinya yang sekarang sedang duduk di tempat yang sama.


"Nggak ngaku karena denger laki-laki itu mau nikah sama orang lain. Aku nggak mau nikah sama laki-laki yang cintanya untuk perempuan lain."


"Pantes dicium juga diem aja," tukas Dean yang sekarang duduk di bangku meja rias menghadap Winarsih.


"Aku diem aja, tapi juga dilanjutin kok. Malah tangannya sempet ngeraba dadaku." Winarsih mencibir.


Dean tertawa mendengar perkataan istrinya. "Itu salah kamu nggak pake daleman. Aku ngeliat ada sesuatu yang aneh dari luar, jadi aku harus segera membuktikan. Fakta itu sangat penting dalam profesiku Win."


"Halah Bapak sampe sekarang ngeles aja," sergah Winarsih.


"Tapi kamu dicium mau aja," jawab Dean.


"Jadi aku harus gimana? Kalo kutabok nanti aku dipolisikan. Anak majikanku ada stresnya waktu itu."


"Makin pinter Bu Winar ngejawab aku."


"Makin cantik kamu kalo ngomong gitu. Nostalgia yuk Win. Malem pertama kita jadi suami istri," ujar Dean.


"Sore pertama. Bukan malem. Ada yang nggak sabar dulu, aku lupa siapa orangnya."


"Aku Win....aku." Dean berdiri menghadap istrinya.


"Ciuman dulu sini," tukas Dean menunduk dan merebahkan tubuh istrinya.


Dalam remang cahaya lampu kuning menjelang tengah malam, Dean mengayun di atas tubuh istrinya diiringi suara ranjang yang berderak.


Saat Winarsih telah mencapai puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya, ia sadar sesaat lagi suaminya juga akan mencapai puncak.


"Pak, nggak pake itu." Winarsih sedikit menahan dada Dean saat pergerakan suaminya semakin cepat.


"Di luar aja," sahut Dean terengah-engah. Ia terus mendesah menikmati kenangan masa lalunya. Tubuh Winarsih yang telah langsing kembali dengan mudah diputar dan diarahkan sesuai dengan kemauannya.


Sesekali Dean menunduk untuk menyesap dada dan meremas pinggang istrinya.


"Inget Pak," gumam Winarsih mengingatkan.


"Iya, dikit lagi ini."


Saat Dean semakin cepat, ia mulai menunduk dan membenamkan ciuman sedikit keras di puncak dada Winarsih. Kemudian ia melepaskan penyatuan mereka.


"Udah?" tanya Winarsih pada Dean yang sedang terengah-engah di atasnya. "Di luar, 'kan?" tanya Winarsih lagi.


"Iya, kan aku keluarin." Dean menunduk menatap sesuatu di bawah sana. "Win..." gumam Dean memegang kedua lutut Winarsih.


"Apa?"


"Kok cuma dikit ya Win, apa aku...." Dean masih terdiam menatap ke bawah.


"Win..."


"Apa..."


"Kayaknya sebagian di dalem," ucap Dean memastikan setelah melihat sesuatu yang tersisa di bagian tubuh Winarsih.


"Jadi gimana?"

__ADS_1


"Nggak tau--aduh..." gumam Dean.


"Bapak nggak sabar sih. Mesti di sini, padahal nggak ada pengaman. Kalo hamil lagi gimana," sungut Winarsih.


"Kalo hamil, kamu tinggal nyalahin aku lagi. Gampang..." jawab Dean. "Lagian bisa aja kamu nggak masa subur."


Kemudian mereka cepat-cepat membereskan pakaian dan bergandengan keluar kamar.


"Eh tunggu, aku tadi mau ngeliat isi lemari pakaian kamu. Dari kemarin mau ngeliat lupa terus. Mau liat sejak pindahan terakhir ada yang ketinggalan atau nggak." Dean kembali melangkah ke dalam kamar dan mendekati pintu lemari.


Di dalam lemari itu hanya ada setumpuk seprai dan sarung bantal di rak paling atas. Merasa rak paling atas aman, Dean mengedarkan pandangannya ke rak di bawahnya. Matanya tertumbuk pada satu bungkusan plastik berwarna hitam.


Karena penasaran, Dean membuka bungkusan itu untuk melihat isinya.


Sedetik kemudian, "Aduh!" ucap Dean.


"Apa itu?" tanya Winarsih mendekati mengambil bungkusan dari tangan suaminya. "Kok..." Winarsih terdiam memandang Dean.


"Perasaanku sekarang kok nggak enak ya Win," tukas Dean.


"Aku udah dari tadi," jawab Winarsih seraya mengeluarkan tiga mainan bayi dari kantong plastik.


Itu adalah mainan bayi yang tak sengaja dibeli Dean di pasar malam kota tua kurang lebih 7 tahun yang lalu. Plastik kresek hitamnya bahkan langsung terkoyak karena rapuh usia.


************


"Halo... Halo... Daru liat om. Widi, Dita. Liat ke Om dulu ya...." Seorang fotografer tengah merapikan empat orang bocah yang sedang bercanda di dalam barisan acara foto keluarga.


Winarsih yang tengah memakai toga berkali-kali harus merapikan letak berdiri Daru agar mau melihat ke arah kamera.


"Pangku ibu aja," tukas Daru yang saat itu telah berusia dua tahun lebih.


"Jangan, nanti perut ibu sakit. Di dalem ada dedenya." Dean menurunkan putra keempatnya itu. "Sini bapak yang pangku," pinta Dean seraya mengangkat Daru ke pangkuannya.


Pak Hartono dan bu Amalia sedang melambai-lambai ke arah cucunya untuk mengajak bercanda.


Setelah sesi foto keluarga dan wisuda yang berada di ruang keluarga itu selesai, Dean menghempaskan tubuh di sofa tak jauh dari ibunya.


"Padahal cuma beberapa kali jepret aja, tapi capeknya berasa foto seharian." Dean mengambil sebotol air mineral dan meneguknya.


"Tahun depan tambah lagi, biar pas setengah lusin..." ujar Bu Amalia.


"Ih Mama," sungut Dean.


Winarsih dan Dean merayakan hari jadi pernikahan mereka ke tujuh tahun bertepatan dengan hari wisuda Winarsih.


Dan sama seperti kecerobohan-kecerobohan mereka sebelumnya, Winarsih kini tengah mengandung anak kelima mereka dengan usia kandungan 7 bulan.


Menurut pemeriksaan di dokter kandungan, jenis kelamin anak kelima mereka perempuan. Dean yang sudah kehabisan stok nama, hanya memberi nama tengah bagi calon anaknya itu. Bu Amalia yang baru kali itu kebagian memberi nama bayi tampak lebih bersemangat menanti kehadiran calon cucu bungsunya.


Dua bulan kemudian.


Winarsih duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit sambil mendekap bayi perempuan berwajah manis berbibir mungil dan terlihat penuh.


Sejak bayi itu menyuarakan tangisnya ke dunia, Winarsih tak lepas memandang wajah anaknya.


"Namanya siapa Ma?" tanya Winarsih.


"Aruna. Yang dari mama Aruna. Terus De? Nama tengahnya?" tanya Bu Amalia memandang Dean yang sedang berpikir-pikir.


"Danastri. Dariku Danastri Win," ujar Dean.


"Hartono di belakangnya udah pasti dari papa," sahut pak Hartono dari sebelah kanan isterinya.


"Aruna Danastri Hartono. Akhirnya..." gumam Winarsih.


"Apa Win?" tanya Dean. Bu Amalia kemudian mendekati Winarsih dan ikut memandang bayi mungil yang lahir dengan berat 3.8 kilogram dengan panjang 53 cm itu.


"Akhirnya ada satu bayi yang mirip aku Pak..." ujar Winarsih terisak. "Aruna mirip aku," ujar Winarsih meneteskan air matanya.


"Selamat ya Win... Aku merasa terbebas dari rasa bersalah." ucap Dean mencium kepala istrinya. "Halo... Winar sachet. Ini bapak...." Dean mencium dahi mungil putri bungsunya.


...EXTRA PART : Winarsih S.Mb...


...SELESAI...


...Dengan ini Penulis menyatakan bahwa novel CINTA WINARSIH telah selesai sesuai outline dan ide pokok awal cerita tanpa ada penambahan atau pengurangan....


...Semua tokoh di dalam novel ini bisa dipastikan beragama. Karena mereka menganut paham sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi dikarenakan novel ini tidak mengangkat satu agama tertentu, penulis berterimakasih jika pembaca tidak mengaitkan kelakuan/tingkah karakter dengan satu agama tertentu itu pula....


...Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir ke novel ini dan terima kasih jika bisa menemukan sedikit nilai positif serta pengetahuan yang tersirat....


...Dengan ini juskelapa menjamin bahwa tiap adegan, dialog, ide, dan plot adalah murni hasil pemikiran sendiri. Jika ada kesamaan dengan karya tulis lain dan ingin memberi informasi bisa hubungi juskelapa lewat private chat atau akun instagram @juskelapa_...


...Mauliate Godang...

__ADS_1


...Medan, Sabtu 24 April 2021...


...© copyright juskelapa...


__ADS_2