CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
84. Insiden


__ADS_3

"Sapu tangannya udah dimasukin saku?" tanya Winarsih saat baru masuk ke kamar melihat Dean sedang merapikan kemejanya.


"Udah sayang," jawab Dean tanpa menoleh.


"Dasinya warna apa?" tanya Winarsih melihat-lihat puluhan dasi yang tergulung di sebuah kabinet kayu berwarna putih setinggi pinggang.


"Navy-Skinny Tie. Dasi yang lebih ramping dan kecil warna biru Dongker. Navy itu artinya biru dongker. Skinny artinya kurus dan tie artinya dasi," jawab Dean panjang lebar.


"Baik Pak Guru," jawab Winarsih menarik satu dasi dari tempatnya.


Dean merenggangkan kakinya untuk menyamakan tinggi saat Winarsih datang dengan sebuah dasi di tangannya.


"Kamu masak apa? aku laper butuh tenaga," tanya Dean.


"Nasi goreng kemangi. Hari ini Pak Dean sarapan bareng keluarga ya--saya nanti aja. Pak Hartono kan baru pulang dari luar kota. Mungkin kepingin ngobrol dengan anaknya," pinta Winarsih pada suaminya.


"Eh iya, ada Papa ya. Kamu nggak apa-apa nanti makan sendiri?" tanya Dean lagi.


"Enggak sendiri kok, sarapan dengan Mbah dan Mba Tina. Tadi saya masak banyak. Uang belanja dari Pak Dean kan juga banyak," jelas Winarsih tersenyum.


"Jelas dong. Pengacara di Danawira's itu harus makmur-makmur," terang Dean jumawa.


"Udah selesai. Sini saya cek dulu bajunya," ujar Winarsih yang kemudian meraih sebuah jas yang tersampir di sebuah hanger dan menyodorkannya ke tangan Dean.


Selesai berpakaian, Dean kembali melihat penampilannya melalui kaca tinggi di sudut kamar.


"Luar biasa tampannya suamimu ini Bu Win," tukas Dean sembari menaikkan dasinya.


"Yuk turun," ajak Dean. Winarsih mengangguk dan masuk ke dalam tangan Dean yang terentang kepadanya.


"Saya langsung ke belakang ya Pak," ucap Winarsih saat mereka tiba di anak tangga paling bawah.


Seperti bakalan melihat hantu, Winarsih berjalan terburu-buru meninggalkan Dean yang masih berdiri mengawasi langkahnya. Hatinya miris sekali. Sebegitu takut isterinya bertemu dengan Bu Amalia dan melihat dirinya ribut lagi dengan orangtuanya.


"Rumah udah lebih adem ya De," ujar Pak Hartono saat Dean duduk di sebelah kanan pria tua itu.


"Lumayanlah Pa, dibanding yang kemarin." Dean menyendokkan nasi goreng ke piringnya.


"Papa denger kamu kemarin ke kantornya Si Atmaja. Apa kabar dia?" tanya Pak Hartono.


"Masih begitu aja. Sebenarnya ada yang mau Dean bicarakan sama Papa," tukas Dean.


"Papa udah tau. Papa ngerti De, nggak apa-apa. Fika udah ngomong ke Papa semuanya. Kamu ke kantornya Si Atmaja juga Papa nggak mungkin nggak tau." Pak Hartono mengangguk.


Bu Amalia duduk dalam diam mendengarkan percakapan Ayah-Anak itu dengan tekun.


"Enak ini nasi gorengnya, kayak resep baru ya? Mbah nggak pernah masak begini," ujar Pak Hartono lagi.


"Winar yang masak Pa, enak ya?" tanya Dean tersenyum-senyum memandang Pak Hartono.


Tiba-tiba Bu Amalia meletakkan sendok-garpunya dan menggeser piringnya ke samping.


"Kenapa Ma?" tanya Pak Hartono.


"Hilang selera makan Mama. Kenapa Mbah naruh makanan yang nggak dimasaknya di sini. Mama nggak mau makan masakan pembantu itu. Udah Mama anggap nggak ada aja dia," ketus Bu Amalia bangkit dari kursinya.


"Masih pagi Ma," ucap Pak Hartono.


"Nggak udah-udahnya Mama nyebut istri Dean kayak gitu. Winarsih nggak ada salah ama Mama," gumam Dean.


"Salahnya ya kenapa jadi istri kamu! Sampe mau hamil gitu. Itu salahnya. Kayak dia nggak ada pilihan lain aja," sergah Bu Amalia.


"Maksud Mama apa?" tanya Dean dengan suara tinggi.


"De--" Pak Hartono memandang Dean seolah berkata 'sudah'.


Dean meletakkan sendoknya dan berdiri dari duduknya.


"Pergi aja kamu sana! ngapain makan satu meja dengan Mama? Jangan letakkan apapun yang dimasak perempuan itu di atas meja ini!" seru Bu Amalia pada punggung Dean yang menjauh meninggalkan ruang makan.


Baru dua sendok menyuapkan makanan ke mulutnya, tapi keributan telah dimulai. Membuat selera makannya hilang seketika. Dean menjauhi meja makan karena tak mau Bu Amalia berteriak lebih keras. Dia tak mau isterinya mendengar hal-hal kasar yang diucapkan ibunya.


Dean sudah berjalan menuju lobby rumahnya saat mendengar suara sandal yang terburu-buru mendekatinya dari belakang.


Dean berbalik menoleh ke belakang, "eh-eh-jangan lari-lari."


Winarsih yang mengenakan terusan berwarna biru muda bermodel kemeja melewati lututnya, jalan tergesa-gesa dengan perut besarnya.


"Kenapa Win?" tanya Dean berjalan mendekati isterinya yang memegang sebuah tas kecil.

__ADS_1


"Ini, saya bawain sarapannya. Pak Dean belum sempat makan." Winarsih menyodorkan tas kecil berwarna merah yang berisi bekal.


"Eh? kamu kok tau? kamu denger tadi--ya udah, aku berangkat dulu ya," ujar Dean menunduk dan mengecup ringan bibir isterinya.


Dean masuk ke mobil seraya menenteng tas bekal kecil berwarna merah. Sepanjang perjalanan Dean tak henti menatap bekal yang ditaruh di jok sebelahnya. Itu adalah bekal pertama yang dibuat seorang wanita selain Mbah, untuknya.


Hingga tiba di kantor, Dean menenteng bekalnya dengan ekspresi begitu mencolok melewati jajaran meja yang berisi pegawai.


Wajah senang dan bahagianya tak bisa disembunyikan seperti seorang bocah yang baru mendapat paket ulang tahun dari restoran ayam goreng.


"Bagi dong," goda Ryan pada Atasannya yang sedang membuka kotak bekalnya setibanya di ruangan.


"Enak aja! makanya kawin!" tukas Dean mencari-cari sendok di dalam kotak.


"Kawin dulu?" sindir Ryan.


"Lu nikah dulu. Sekagum apapun elu ama gua, jangan tiru yang satu itu," balas Dean menyendok nasinya.


"Apa jadwal gua hari ini?" tanya Dean.


"Siang sampai sore ada sidang di pengadilan. Dua jadwal sidang di hari yang sama. Sidang yang kedua itu sidang putusan." Ryan membaca tulisan sembari menggulir layar tabletnya.


"Oke. Yang lain?"


"Rumah Bu Winarsih udah hampir selesai. Sedikit lama dari seharusnya, tapi semua udah dicover dengan baik. Mau liat foto terakhir yang dikirim ke saya?" tanya Ryan.


"Enggak usah, buat surprise aja. Rumahnya dimaintain terus ya Yan, ntar kalo anak gua udah lahir, kita pasti ke sana." Dean mengambil gelas air putih dan meneguk isinya.


"Aahhh.... enak ya makan masakan penuh cinta ini," ujar Dean. Ryan yang mendengar perkataan Atasannya hanya mencibir.


**********


Pukul 19.00 Dean baru ke luar dari pengadilan setelah berdiskusi dengan seorang Hakim.


"Yan, lu dah balik?" tanya Dean pada Ryan melalui ponselnya.


"Udah ke luar kantor, kenapa?" Ryan balik bertanya dari seberang telepon.


"Gua perlu berkas penting untuk besok pagi. Tapi ya udah nggak apa-apa kalo lu udah jalan. Gua aja yang balik ke kantor." Dean mengakhiri pembicaraan kemudian menuju mobilnya yang terparkir di halaman pengadilan.


Dean kembali duduk di ruangannya sendirian membongkar isi beberapa map mencari berkas yang dibutuhkannya. Besok pagi, dia berencana langsung menuju pengadilan demi melakukan sidang terakhir satu perkara.


Ponsel di atas mejanya bergetar. Saat melihat fotonya yang sedang mencium Winarsih di layar ponsel itu, Dean tersenyum.


"Ya? kenapa? Bu Winar udah kangen?" tanya Dean.


"Udah jam 10 malam, nggak ada ngasi kabar. Sudah makan?" tanya suara isterinya di seberang.


"Belum Bu. Aku lagi nggak pengen nasi, ntar masakin mi instan kuah kenangan kita itu ya," ujar Dean terkekeh.


"Iya, dimasakin apa maunya. Udah malem, kerjanya disambung besok lagi," jawab Winarsih.


"Aku harus cari uang yang banyak loh Bu Winar. Tabunganku udah habis." Dean membereskan map yang berada di atas mejanya dengan satu tangan.


"Saya minta Pak Dean cepat pulang, bukan minta uang," suara Winarsih terdengar merajuk.


"Istriku udah mulai manja sekarang. Aku udah jalan ke luar kantor. Ini ke basement parkiran mobil. Kamu tunggu aku ya, pake daster yang paling tipis." Dean tertawa karena kata-katanya sendiri.


Dean mengantongi ponselnya dan masuk lift dan turun hingga ke lantai basement. Sedikit tergesa Dean menuju mobilnya yang terletak di sisi kanan.


Seorang pria yang sedang menuju ke arahnya sedang bersenandung ringan. Tak jelas lagunya apa, tapi Dean berpikir bahwa pria itu pasti sedang mengalami hari yang menyenangkan.


BRUKKK!!


Tiba-tiba pria itu menabrak Dean dari sisi kiri. Senandung pria itu terhenti dan setelah menabrak Dean, dia pergi terburu-buru.


Dean menghentikan langkahnya, perutnya terasa perih dan sesuatu yang hangat merembes menembus jas dan kemejanya.


Tangan kirinya meraba bagian perutnya dan tangannya langsung menekan perutnya yang tengah mengeluarkan darah segar.


Pria itu baru saja menikamnya dengan senjata tajam. Dean menoleh mencari ke mana pria itu pergi. Tapi telinganya mendengar suara langkah kaki lain dari arah yang berlawanan.


Langkah kaki itu datang dari bagian belakang mobil yang sedang ditujunya.


"Siapa?!" tanya Dean masih mencengkeram erat luka di perut kirinya.


(Dari Penulis : Playing Fake - The Tech Thieves)


Seorang laki-laki yang tingginya hampir sejajar dengan Dean mengenakan sebuah jaket kulit hitam dengan topi berwarna sama yang melindungi separuh wajahnya.

__ADS_1


Laki-laki berbeda dengan yang menusuknya tadi.


Tiba-tiba laki-laki itu berlari ke arah Dean sembari mengeluarkan semacam pisau belati dari belakang saku celananya.


Dean menghindar ke kanan dengan mengibaskan tas berkasnya ke arah pria itu dan berlari menuju mobil. Tangan kirinya tetap menekan luka tusuknya.


Saat mencapai pintu mobil, pria itu kembali mengarahkan tendangan ke pintu untuk mencegah Dean masuk.


Masih dengan satu tangan, Dean menghempas hujaman senjata pria asing itu dengan kembali memukulkan tas itu ke depan.


Saat pria itu terjajar selangkah ke belakang karena pukulannya, Dean menjepit kaca spionnya dengan sikunya dan memberi sebuah tendangan ke dada pria itu.


Pria itu terhempas jatuh ke lantai tepat di depan ban mobilnya. Dean buru-buru meraih pintu mobilnya dan masuk ke dalam.


Sekali petikan, mesin mobil itu menyala, masih dengan satu tangan kanannya Dean memasukkan persneling dan menekan pedal gas sedalam-dalamnya berniat melindas pria yang masih terbaring mengerang memegang dadanya.


Nasib baik bagi pria itu, sesaat sebelum ban mobil Dean mencapai kakinya, pria itu sempat berguling ke samping.


Keringat sudah membasahi dahinya, Dean terus melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit P Kebayoran.


"Yan--Yan-- hubungi UGD Rumah Sakit P sekarang. Gua ditikam orang di basement kantor. Pelakunya dua orang. Perut kiri. Gua udah nuju ke sana." Dean berbicara dengan Ryan yang tersambung dengan speaker mobil.


"Oke. Rumah Sakit sekarang. Saya langsung berangkat. Jangan ngebut Pak!" jawab Ryan tanpa banyak tanya.


"Nggak mungkin nggak ngebut. Kayaknya gua masih diikuti. Mobil SUV Hitam yang tempo hari pernah nyalip gua di jalan," ujar Dean meringis dan menekan lukanya yang dirasa semakin berdenyut karena gesekan sabuk pengaman.


"Saya kabari istri Bapak sekarang?" tanya Ryan meminta persetujuan.


"Nanti aja kalo gua udah di rumah sakit" Dean mengusap peluhnya dengan satu tangan.


"Baik. Pak Dean harus dalam keadaan sadar. Darahnya banyak nggak?" tanya Ryan agar Dean tetap sadar dengan kondisinya.


"Gua diikuti Yan, SUV Hitam. Platnya sama dengan yang kemarin. Ada di catatan gua."


CIIIITTTTT


Suara ban berdecit di jalanan malam yang basah sehabis hujan. Rintik-rintik yang lumayan deras masih menaburi kaca depan mobil.


"Si Brengsek!! mau nabrak gua dari samping. Mau gua mati hari ini? biar nggak ada saksi mata?" gumam Dean menambah laju mobilnya mendahului SUV Hitam yang sejak tadi berusaha menabrakkan dirinya ke mobil Dean.


"Pak! fokus jalanan ke rumah sakit!" seru Ryan yang masih tersambung di telepon.


"Gua mau bikin mobil item ini nabrak pembatas jalan. Gua udah deket rumah sakit," jawab Dean.


Dean sedikit mengurangi kecepatannya dan membawa mobilnya menuju jalur cepat di sisi kanan jalan. Seperti yang diharapkannya, SUV Hitam itu kembali mendekatinya dengan kecepatan tinggi.


Dengan perhitungan yang tepat Dean memindahkan persneling ke nomor yang terendah kemudian menginjak pedal gas sedalam mungkin. SUV Hitam di belakangnya menabrak pembatas jalan yang memisahkan jalanan utama dan jalur tol dalam kota.


"Berhasil Yan!" pekik Dean terengah-engah.


"Gua udah hampir sam--" ucapan Dean tak selesai, pandangannya menoleh ke sisi kanan di mana sebuah cahaya yang menyilaukan matanya datang.


Di simpang jalan beberapa ratus meter dari rumah sakit yang ditujunya, sebuah SUV Hitam lainnya melaju dengan kecepatan tinggi menuju sisi kanan mobilnya.


Cuma sedetik saja dan Dean terhempas ke kiri masih dalam ikatan sabuk pengamannya. Kepalanya terayun ke kiri dan kembali ke kanan menghantam kaca jendela mobilnya.


Airbag yang seketika mengembang membuat tubuhnya langsung tegak menempeli kursinya. Tangannya terasa lemas tak sanggup lagi menekan luka di perutnya yang masih terus mengeluarkan darah.


"Pak! Pak Dean! Pak Dean!" panggil Ryan di seberang telepon.


Dean yang dadanya tertekan sebuntalan airbag tak bisa bergerak bahkan menjawab panggilan Ryan.


"Pak Dean! posisi di mana? saya udah mau nyampe! jangan tidur. Tetap Sadar! Pak Dean! Saya di simp--" perkataan Ryan terhenti.


Dean merasa dirinya seperti sedang berada di angkasa. Terayun dan terhempas di ruang kosong yang tak dikenalinya. Pandangannya menggelap dan rasa luka tusuknya semakin memudar.


"Win--" panggil Dean lirih.


Matanya mulai menutup. Dean berpikir malam itu dia tak sempat memakan mie instan rebus buatan Winarsih yang menjadi favoritnya.


Mobil Ryan tiba di sebuah simpang tempat dimana mobil Dean sudah dikelilingi oleh beberapa orang yang tak berani mendekatinya.


SUV Hitam yang menabrak Dean tak lagi terlihat di tempat kejadian itu.


"Oh Tuhan!! Shi**!!" Ryan turun dari mobil meremas rambut dengan sebuah ponsel di tangan kanannya.


Pandangannya tertuju pada sebuah Range Rover putih yang sisi kanannya melesak ke dalam.


To Be Continued.....

__ADS_1


Kalo ada tiket vote, bagiin ke Dean dan Winarsih yaaa :*


__ADS_2