CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
85. Akhir Cinta Disty


__ADS_3

Sore itu, setelah Dean meninggalkan Disty di kantor Dennis Atmaja, pria tua itu kembali memungut foto USG yang tadi dicampakkannya.


"Apa maksud kamu nggak bilang ke saya soal ini? kenapa harus anak si Hartono itu yang tau? saya udah kasi semua yang kamu minta Dis! kamu kira saya nggak cemburu liat kamu mengejar anak si Hartono itu siang malam? apa nggak cukup juga? sekarang kamu hamil malah ngelapornya sama laki-laki sialan yang udah mencampakkan kamu?" cecar Pak Atmaja yang kemudian berjalan dari balik mejanya menghampiri Disty yang masih diam mematung.


"Gugurkan itu! saya nggak mau punya anak di mana-mana. Bikin repot aja," sambung Pak Atmaja lagi.


"Oke, saya gugurkan. Apa imbalannya?" tanya Disty menatap pria tua di depannya.


"Apa yang saya kasi masih kurang?"


"Untuk kekacauan yang bisa disebabkan kelahiran bayi ini, itu masih kurang." Disty memutar langkahnya menuju sofa tempat biasa Pak Atmaja menerima tamu kemudian duduk di salah satunya.


"Apa lagi yang kamu mau?" tanya Pak Atmaja mengikuti langkah Disty menuju sofa.


"Bunuh Dean," ucap Disty pelan.


"Saya akan dengan senang hati menggugurkan anak ini kalau Bapak bisa mencelakai anak Si Hartono itu. Saya udah banyak ngebantu Bapak. Termasuk urusan mendekati petinggi-petinggi demi menyaingi Keluarga Hartono. Saya cuma mau Dean mati, agar pembantu itu melahirkan tanpa suami. Seperti satu hal yang memang jadi takdir pembantu itu sejak awal." sambung Disty lagi.


Salah Dean. Semua adalah salah Dean. Meski awalnya dialah yang harus mendekati Dean pada pertemuan pertama mereka, tapi Dean jatuh cinta terlalu cepat padanya. Dean yang merajut jaring itu hingga terjalin begitu rapat di hatinya.


"Laki-laki itu anak Hartono." Pak Atmaja duduk menyilangkan kakinya.


"Anda sendiri yang bilang sedang dalam proses menghancurkan si Hartono! kalo bukan karna Bapak, saya nggak akan kenal dengan Dean. Sekarang hubungi seseorang yang bisa mencelakainya, saya janji akan menghilang kalo udah mastiin Dean mati. Atau setidaknya kritis. Beri dia pelajaran untuk nggak sembarangan make lidahnya," ujar Disty mengeluarkan kotak rokoknya.


"Perintahku cuma untuk menghancurkan Hartono beserta keluarganya, bukan jatuh cinta dengan laki-laki itu." Pak Atmaja mengeluarkan ponselnya dan mencari-cari sesuatu dalam kontaknya.


"Halo? di mana kamu? nanti malam ketemu saya di tempat biasa. Jam ngopi saya ya. Ada yg mau saya omongi," ucap Pak Atmaja pada seseorang di telepon.


"Kalau untuk membunuh pasti sulit. Saya nggak bisa janji. Tapi saya bisa kasi pelajaran sekaligus untuk menyulitkan si Hartono. Sekarang kamu pergi ke Dokter Kandungan ini--" Denni Atmaja menyodorkan sebuah kartu nama kepada Disty.


Dan sepeninggal dari situ, Disty kembali bertemu dengan Dean dan isterinya yang baru saja ke luar dari praktek Dokter Kandungan rumah sakit yang didatanginya.


Melihat tingkah Dean yang seperti sedang tidak ada masalah, darah Disty semakin menggelegak dan ingin cepat-cepat memastikan bahwa Pak Atmaja menepati janjinya segera.


**********


TOK!! TOK!! TOK!!


"Bu Winar," panggil Novi dari luar kamar. Tak perlu lama menunggu, Novi sudah memandang isteri Atasannya berdiri di balik pintu.


"Ada apa Mba Nov? tumben ke kamar saya malam-malam, ada apa?" raut khawatir tak biasa terpancar dari wajah Winarsih.


Sudah hampir tengah malam, Winarsih sudah berganti pakaian tidur dan sedang menunggu suaminya pulang.


"Bu Win, ganti pakaian dulu Bu. Kita pergi ke rumah sakit yuk, saya tadi barusan ditelepon Pak Ryan. Boleh saya masuk?" tanya Novi meminta izin.


Winarsih mengangguk dengan tatapan bingung tapi memundurkan langkahnya untuk memberi jalan pada Novi.

__ADS_1


Novi masuk ke kamar mengambil sebuah tas bepergian dan membuka lemari, memasukkan beberapa potong pakaian dan perlengkapan Winarsih dan menyambar beberapa botol dari atas meja rias.


"Ayo Bu Winar ganti pakaian sekarang," Novi menyampirkan satu dress yang baru diambilnya dari lemari ke atas ranjang.


"Ada apa Nov? saya udah lemes kamu begini tiba-tiba. Bukan Pak Dean kan Nov? tadi saya baru telfonan." Winarsih belum bergerak hanya memandang Novi.


Wajah Winarsih jelas berharap bahwa asistennya itu tak memberikan kabar macam-macam.


"Iya Bu, Pak Dean. Pak Dean masuk rumah sakit, kecelakaan mobil. Pak Ryan ngomongnya tadi cuma itu. Sekarang cepat ganti pakaian Bu," pinta Novi mengulurkan dress.


"Pak Dean ya--" gumam Winarsih dengan tatapan sedikit bingung tapi kemudian cepat-cepat melepaskan dasternya di depan Novi dan meraih dress dari tangan wanita itu.


Saat mereka tiba di teras rumah, mobil Vellfire yang biasa digunakan Pak Hartono baru saja meninggalkan halaman.


"Ayo Bu," ajak Novi menggandeng lengan Winarsih menuruni tangga menuju sebuah Sedan hitam milik Dean yang kini sering digunakan Novi untuk keperluan Winarsih.


"Bu Amalia dan Pak Hartono sudah menuju rumah sakit. Tadi Pak Ryan juga yang mengabari," ujar Novi saat mereka sudah berada di jalan.


Winarsih hanya diam menatap jalanan di depannya. Wajahnya kaku dan berkali-kali Winarsih menggigit bibirnya gugup. Dia tak berani bertanya bagaimana kondisi Dean sekarang. Dia hanya ingin cepat tiba di rumah sakit melihat suaminya.


**********


"dr. Firza udah pulang belom?" tanya seorang perawat melalui pesawat telepon.


"Oke, sampein ke dr. Firza ada pasien darurat kecelakaan mobil di UGD. Ada luka tusuk! sekarang ya! pasien sedang menuju ke sini," ujar perawat UGD tadi meletakkan pesawat telepon.


Ryan tampak berlari di sisi ranjang itu dengan sebuah ponsel di tangannya yang sejak tadi selalu standby.


"Ranjang mana?" teriak seorang Dokter pria pada perawat di meja ruangan UGD.


Dokter pria itu kemudian setengah berlari menghampiri tirai yang tertutup.


"Cek jalur napas! saturasinya rendah. Pak-- bisa dengar saya?" panggil Dokter pria itu pada Dean yang mengerjapkan matanya.


"Tetap di sini jangan tidur ya Pak, ambil mesin USG. Luka tusuk lumayan dalem. Gunting!" seru dr. Firza yang malam itu baru saja menyelesaikan satu operasi saat Dean masuk ke UGD.


"Win--" lirih Dean dengan mata setengah terpejam.


Dr. Firza melirik wajah Dean, saat pasiennya itu mengerang menyebut sesuatu. Hidung Dean yang sejak tadi mengeluarkan darah, kini telah berhenti.


Seorang perawat menyodorkan sebuah gunting kepada dr. Firza yang langsung menggunting kemeja biru Dean yang kini sudah total berwarna merah kehitaman.


"Data pasien sus!" seru dr.Firza di sela-sela kesibukan tangannya membuka kemeja Dean untuk melihat luka tusuk.


"Dislokasi bahu, luka tusuk, retak tulang kaki kanan. Siapkan ruang operasi dan stok darah." dr. Firza menarik kamera mesin USG dan meletakkannya di sekitar Lukas tusuk Dean dan melihat layar.


"Untuk kepalanya nanti MRI menyusul. Luka tusuknya harus segera ini," ujar dr. Firza pada kepala perawat yang langsung mengangguk ke luar dari ruangan.

__ADS_1


"Win," lirih Dean lagi.


"Tetap sadar ya Pak, sebentar lagi kita masuk ruang operasi. Ususnya terluka banyak ini," ujar dr. Firza menatap Dean yang meringis.


Beberapa saat sesudah dr. Firza menyibak tirai tempat di mana Dean sedang diberi pertolongan, Bu Amalia dan Pak Hartono memasuki ruang UGD.


"Ryan! mana anak saya?" jerit Bu Amalia pada Ryan yang sedang berdiri di luar tirai dengan wajah tegang.


"Masih diperiksa Bu," jawab Ryan yang malam itu mengenakan sebuah jaket bomber dengan tangan kanan yang sedang mengigit-gigit ujung ponselnya.


"Kok bisa? kok bisa ada luka tusuknya? itu siapa yang buat Dean begitu??!!" pekik Bu Amalia lagi.


"Ma, tenang dulu. Ini rumah sakit. Banyak pasien lain, Dean lagi ditangani. Kalo Mama begini malah mengganggu," ujar Pak Hartono merangkul isterinya yang sudah meraung-raung.


"Dean lahir nggak ada cacat ke dunia ini. Aku melahirkan dia dengan selamat tanpa cacat Pa! Meski dia udah segede ini, buatku Dean masih kecil. Dean nggak pernah nurutin omonganku. Entah apa salahku jadi Ibunya." Bu Amalia duduk di sebuah kursi kembali menangis.


Suara ratapannya yang terdengar ke seluruh penjuru UGD membuat para Tenaga Kesehatan yang bertugas hari itu tak sembunyi-sembunyi lagi menatapnya.


"Udah Ma, tenang dulu," ucap Pak Hartono yang berdiri di sebelah isterinya.


"Dean luka sampai segitu parahnya, Papa pasti tau kenapa. Kalian nggak pernah denger saranku. Anak-Bapak sama aja. Keras kepala. Nggak bisa diomongin," ratap Bu Amalia lagi.


Tak berapa lama kemudian,


"Mana Pak Dean?" tanya Novi pada Ryan yang baru tiba menggandeng Winarsih.


"Kenapa ke sini?" tanya Bu Amalia mengangkat wajahnya saat mendengar suara Novi.


"Saya mengantar Bu Winarsih," jawab Novi singkat.


"Sejak anak saya menikahi kamu, hidupnya sial terus!! hari ini luka parah. Besok-besok anak saya bisa mati karna ketempelan sial kamu itu!" hardik Bu Amalia.


"Ma! ini rumah sakit! Winarsih istri Dean! dia ada di sini untuk suaminya. Nanti kita bahas lagi. Sekarang tolong fokus ke kesehatan Dean aja!" sergah Pak Hartono yang mulai kesal karena sudah menjadi objek perhatian di UGD itu. Bahkan Irman dan Fika yang berdiri tak jauh dari sana hanya saling pandang.


"Jangan kamu coba-coba dekati Dean selama saya masih di sini, jauh-jauh kamu dari saya!" seru Bu Amalia pada Winarsih yang sedang menatap tirai di mana Dean terbaring.


Semua pikirannya tercurah pada Dean yang sedang berada di balik tirai. Sedikitpun omongan Bu Amalia tak ada singgah di telinganya.


"Bu Winarsih!" panggil dr. Firza dari balik tirai.


"Mari masuk, Bapaknya dari tadi manggilin terus ini" ujar dr. Firza seraya tersenyum pada Winarsih yang sedang berdiri dengan tatapan was-was dan cemas.


To Be Continued.....


Makasi karena udah nunggu kelanjutannya ya..


ditunggu juga up nextnya segera :*

__ADS_1


Jangan lupa Likes dan Comments-nya untuk Dokter Bedah kita yang selalu peka XD


__ADS_2