
Jangan lupa di-like...
Selamat membaca :*
*************
Kenapa malah banyak suku Jawa di Jambi? Hal itu banyak sekali menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang sedikit paham tentang cerita transmigrasi besar-besaran di jaman orde baru.
Tak hanya di Jambi, suku Jawa menyebar hampir merata di seluruh Indonesia. Tak perlu repot-repot harus pindah ke Jawa untuk bisa berbahasa Jawa fasih. Bertetangga puluhan tahun dengan suku apa saja pun kita pasti sedikit banyak mengerti dengan bahasa tetangga yang berlainan suku.
Itu adalah salah satu keistimewaan hidup di negara maritim yang memiliki 718 bahasa daerah. Bahasa daerah adalah salah satu kekayaan negara yang harus kita banggakan.
Coba bayangkan, jika kita bertemu dengan seorang warga negara Amerika dalam perjalanan, bagi kita yang mengerti bahasa Inggris kita akan mudah memahami apa yang sedang mereka ceritakan.
Sedangkan orang Amerika, tak akan mengerti jika kita berbicara soal mereka dalam bahasa Jawa, meski mereka menguasai bahasa Indonesia dengan fasih. Tapi tentu saja membicarakan orang lain itu tidak baik dalam bahasa apapun, terlebih dilakukan di depan orangnya.
Sejak tiba di rumahnya sesaat yang lalu, Winarsih terheran-heran dengan penampilan rumahnya yang benar-benar berbeda. Ia tak lagi melihat pintu rumahnya yang hanya terdiri dari selembar papan dan ditambal di sana-sini untuk menutupi lubangnya.
Rumah Bu Sumi sekarang tak lagi berdinding tepas dan beratap seng berlubang-lubang. Rumah itu sekarang memiliki design minimalis modern. Dengan cat yang didominasi warna putih, rumah itu terletak manis dan unik di sebelah ladang kangkung dan ladang cabai milik tetangga.
Tanah peninggalan Pak Padmo tidak lebar, hanya sekitar 9 meter tapi memanjang ke belakang. Rumah itu tak berpagar karena Bu Sumi selalu mengatakan tak ingin rumahnya terkesan tertutup dengan diberi pagar besi.
Penduduk Desa Beringin semuanya masih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Bagi yang memiliki cukup uang untuk menggunakan listrik, rumahnya pasti sudah dilengkapi pompa air sederhana untuk mengalirkan air dari sumur. Sedangkan bagi mereka yang berusaha menghemat penggunaan listrik, menimba atau memompa air secara manual adalah jalan satu-satunya.
"Kamu kalau ngomong sama ibu jangan pakai bahasa Jawa aku nggak ngerti, entar aku nggak bisa ikut nimbrung," bisik Dean saat mereka telah duduk di meja makan.
"Iya itu kan tadi hanya sekedar ungkapan aja kalau ibu kangen, nggak ketemu cucunya sejak lahir itu aja," jawab Winarsih.
"Tapi tadi yang ngomong sama temen kamu, aku ada denger dikit lo kata-kata yang aku ngerti," ujar Dean.
"Ah itu sih perasaan Mas aja, nggak ada apa-apa. Ayo makan, nanti nasinya malah keburu bener-bener dingin. Abis itu istirahat dulu di kamar," ujar Winarsih menyendokkan lauk ke piring suaminya.
"Kamar kita yang mana Win? Kedap suara nggak?" tanya Dean pelan melirik Bu Sumi yang masih memindahkan sayur dari atas panci ke sebuah mangkuk di tangannya.
"Pasti kedap suara. Kamarnya paling atas. Enggak akan denger meski Bapak Dirja desahannya keras," ujar Winarsih tertawa.
"Husss, kamu ini kalo udah pulang ke kampungmu jadi lebih bernyali ya," sungut Dean tersenyum.
"Habisnya yang dipikirin itu duluan," jawab Winarsih.
"Biar aku betah. Kalo semua urusan aman, aku pasti betah." Dean terkekeh mengambil sepasang sendok garpu yang telah diletakkan Winarsih di dekatnya.
"Bu, itu kok sekarang minumnya pakai air dari dispenser? Siapa yang beli isi ulangnya?" tanya Winarsih pada Bu Sumi yang telah duduk di salah satu kursi.
"Itu beli isi ulang yang ada mereknya, biasa nggak. Kasian sama bapak Dirja kalau minum air sumur," ucap Bu Sumi.
"Kok kasian kenapa? Air sumur yang dimasak sampe mateng kan sama aja. Sama-sama air. Itu yang beli isi ulangnya siapa? Mini market kan jauh di ujung sana," tukas Winarsih.
"Pak De yang beli. Ya udah, kamu kok bawel? Kalau kamu nggak mau minum itu, ya sudah. Ibu beli untuk bapaknya Dirja kok," jawab Bu Sumi.
__ADS_1
"Denger tuh, untuk bapaknya Dirja. Bukan untuk ibunya Dirja. Ya udah kamu juga makan, biar anakku nyusu. Dari tadi dia belum ada minum. Kamu makan yang banyak, biar anakmu satu lagi di dalem perut juga sehat." Dean mendekatkan piring kosong ke depan isterinya.
"Anak satu lagi dalem perut? Maksudnya kamu sedang hamil lagi Win? Dirja bakal punya adek?" tanya Bu Sumi sedikit terkejut mendengar perkataan Dean.
"Iya Bu," jawab Winarsih pelan sembari meringis.
"Wah, jadi itu menyusui Dirja nggak kram? sudah berapa bulan?" tanya Bu Sumi.
"Baru sebulan lebih aja. Nggak kram kok perutnya, Dirja masih bisa nyusu kayak biasa," jawab Winarsih.
"Enggak ada mabuk atau mual muntah?" tanya Bu Sumi lagi.
"Enggak ada, belum kayaknya. Kemarin hamil Dirja juga nggak mabuk parah, cuma sensitif sama bau aja."
"Kalau nggak mabuk, anak kamu bisa banyak. Nggak kapok soalnya. Itu kayak Mia, anaknya Pak De. Sedang hamil anak keempat. Hamilnya enak nggak pakai ngidam. Malah dia bisa ke sawah seperti biasa," ujar Bu Sumi mulai menyendokkan nasi ke piring Yanto dan mengisi piring Babysitter Dirja yang masih memangku bayi laki-laki itu.
"Kalau Winarsih nggak keberatan, saya memang maunya anak lebih dari dua. Biar rumah ramai," tambah Dean.
"Enggak kok, nggak apa-apa. Bapaknya Dirja mau berapa? Nanti kalau yang ini lahir, kita segera produksi lagi." Winarsih tertawa menjawab perkataan suaminya.
Di bawah meja, tangan kiri Dean membelai paha Winarsih dan berdiam lama di dekat daerah sensitifnya. Winarsih harus menggeser tangan nakal suaminya itu berulang-kali agar konsentrasi obrolannya bersam Bu Sumi tak terganggu.
"Desa ini banyak suku Jawa ya Bu? Padahal Jambi kan setau saya dominan Melayu dan banyak suku Minang. Saya punya teman orang Jambi, kalo ngomong tuh lebih kental seperti suku Minang." Dean yang hampir selesai makan, memulai obrolan hangat pada ibu mertua yang jarang ditemuinya.
"Desa ini desa transmigrasi. Kakeknya Winarsih, dari sebelah ibu dan bapak, keduanya adalah orang transmigran. Ibu lahir di Solo, masih kecil ya tinggal di Solo. Tapi pemberontakan PKI jaman itu, membuat kekacauan yang luar biasa. Keluarga-keluarga banyak terpisah dan pergi ikut transmigrasi besar-besaran. Dulu keluarga ibu tinggal di jalan Honggowongso atau selatan pasar kembang. Itu persis di seberang markas PKI. Meski masih kecil ibu ingat bagaimana hidup di masa itu." Bu Sumi menatap wajah Dean yang terheran-heran.
"Jadi semua yang tinggal di desa ini, masih banyak yang punya hubungan keluarga?" tanya Dean.
Belum sampai satu jam duduk di ruang makan setengah terbuka dan ditambah kipas angin yang masih sibuk berputar, dahi Dean telah dipenuhi titik keringat.
"Selesai makan ke kamar dulu Win, istirahat. Biar Babysitter-nya Dirja juga istirahat di kamar bawah. Itu Bapak Dirja udah keringetan," ujar Bu Sumi terkekeh.
Wajah Dean yang putih mulus tak bernoda dalam sekejab telah memerah seperti baru saja keluar dari sauna. Saat mendengar perkataan ibu mertuanya, Dean hanya nyengir. Dia memang sudah tak sabar untuk merebahkan dirinya.
"Mbak makan aja sekarang, Dirja saya mandiin. Banyu gegenya di mana Bu?" tanya Winarsih.
"Itu di kamar mandi luar." Bu Sumi menunjuk dapur mereka yang kini memiliki teras kecil.
"Hah??! Masih ada kamar mandi di luar? Bukannya kemarin udah di dalem semua? Dasar Ryan, padahal udah diwanti-wanti jangan ada kamar mandi di luar." Dean sedikit terbelalak mendengar berita soal kamar mandi yang masih berada di luar.
"Kamar mandi di atas ada kok, di dalem rumah juga ada. Ini ibu yang mau kemarin. Nggak apa-apa kamar mandi di luar tetap ada. Ibu suka, bisa nyuci-nyuci hasil panen di belakang. Nggak perlu ke kamar mandi," jawab Bu Sumi menenangkan menantunya yang terlihat sedikit panik.
"Ooohh..." Dean terlihat lega menghela napasnya. "Kamu jangan mandi di situ lagi ya, meski pake kain-kain gitu. Nggak boleh," seru Dean yang kini berdiri di pintu dapur mengamati isterinya yang sedang berjongkok di depan ember berisi air hangat.
"Pake dingklik Win!" seru Bu Sumi mendekati Winarsih menyorongkan sebuah bangku kecil ke kaki anaknya itu.
Dean berdiri di pintu dapur menghadap halaman belakang tempat di mana Winarsih dan Bu Sumi sedang memandikan Dirja menggunakan banyu gege.
"Guna air itu apa Bu?" tanya Dean masih penasaran dengan hal yang dilakukan ibu mertuanya.
"Banyu gege itu, menurut mbahnya Winar, bisa membuat tubuh bayi kebal, sehat, perkasa dan jarang sakit. Mbahnya Winar dulu sering nyanyi kalo mandiin Winar pake banyu gege. Adus banyu gege, ilang syaraf sawane, gari gekis gedhene--lanjutannya ibu lupa." Bu Sumi tertawa menyadari dirinya baru saja bernyanyi di depan Dean.
__ADS_1
Setelah mandi Dirja langsung dibungkus Bu Sumi dengan sebuah handuk. Bayi laki-laki montok itu menggeliat lucu di dalam handuknya. Pipinya yang putih gembul dan rambut hitamnya yang kian lebat membuat siapapun pasti gemas saat menimangnya.
"Sini saya aja yang bawa ke atas Bu," ujar Dean merentangkan tangan menyambut bayinya.
"Tasnya mana Bu?" tanya Winarsih.
"Sudah diangkat tadi sama Yanto ke kamar kalian," jawab Bu Sumi.
"Yantonya sekarang mana?"
"Paling ke rumah Pak De. Besok kan panen Win, jadi pagi-pagi harus masak. Ibu sudah bilang ke kamu kemarin. Mungkin kamu lupa," ujar Bu Sumi.
"Mau masak untuk nderep (Buruh panen disawah orang) Bu?" tanya Winarsih.
"Iya, besok mereka semua mbawon aja. Panen hasil sawahnya Bapak Dirja," tukas Bu Sumi tersenyum.
(Mbawon : Sistem bagi hasil panen pada buruh karena biasanya mereka yang ikut membantu panen padi tak mau diupah uang)
"Sawah ibu, kok sawah Dean." Dean tertawa mendengar perkataan ibu mertuanya.
"Ya udah, besok Winar bantu masak. Ini mau naik dulu nyusuin Dirja." Winarsih kemudian mengikuti langkah kaki Dean menuju tangga yang terletak di ruang makan.
Dirja yang tampaknya begitu lelah dan merasa segar setelah dimandikan, hanya butuh waktu tak sampai 20 menit menyusu untuk bisa tidur.
Bayi laki-laki itu telah tidur dengan mulut setengah ternganga karena kekenyangan dan rasa nyaman. Melihat bayinya telah tidur nyenyak, Dean yang tengah mengenakan handuk bersiap untuk mandi meraih bayi itu untuk diletakkan ke dalam box bayi berbentuk sederhana.
"Ryan memang luar biasa kalo dipesankan sesuatu. Box bayi aman dan kamarnya punya kamar mandi di dalem. Kamu jadi nggak ada acara pake handuk di luar kamar." Dean menepuk-nepuk pelan paha bayinya yang sedang menggeliat.
"Yuk Win,"
"Yuk kemana?"
"Ciuman,"
"Sana mandi. Dari tadi pake handuk nggak mandi-mandi," sergah Winarsih.
"Biar sekalian mandinya, aku mau dicium dulu," ujar Dean tertawa.
"Sini aku cium." Winarsih menarik lengan Dean agar menunduk dan menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya.
Winarsih mencium bibir suaminya dengan lembut dan Dean mendesah pelan karena menikmati ciuman isterinya.
"Udah," ucap Winarsih saat melepaskan wajah suaminya.
"Ciuman yang itu udah, tinggal yang ini." Dean melepaskan handuknya hingga jatuh ke lantai.
To Be Continued.....
Jangan ditunggu kelanjutannya, ibadah dulu XD
Pukul 22.00 lebih dikit aku screenshot pemenang GIVEAWAY-nya ya... :*
__ADS_1