CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
146. Kejutan Sebelum Pesta


__ADS_3

Like dulu yee...


Selamat membaca XD


Peringatan :


Mengandung adegan dewasa.


Bacalah di waktu yang tepat.


************


"Aku mandi ya Win," ujar Dean saat melepaskan pakaiannya di kamar.


Winarsih tak menjawab perkataan suaminya, ia hanya mengangkat pandangannya sedikit dari buku untuk melihat Dean yang berjalan telanjang menuju keranjang pakaian kotor.


Dean baru saja usai bercerita padanya soal pekerjaan yang telah diselesaikannya di Jambi bersama Ryan. Ternyata suaminya itu sedang membujuk pemilik lahan yang berada dekat dengan rumah Bu Sumi.


Setelah menceritakan hal yang dilakukannya selama di Desa Beringin akhirnya Dean menuju pintu kamar mandi.


Winarsih masih mengikuti proses belajar Paket C-nya dari rumah dengan sangat rajin. Pelajaran yang paling disukainya adalah bahasa Inggris.


Hal itu tak lain disebabkan karena Dean yang sering melantunkan lagu saat sedang berada di kamar mandi dan memutar banyak lagu bagus serta menyanyikannya saat mereka sedang pergi berkendara berdua.


"Rajin bener Bu Winar," sapa Dean mendekati Winarsih saat telah memakai piyamanya dan sebuah handuk kecil masih berada di rambutnya yang basah.


"Namanya juga anak sekolah," sahut Winarsih masih memandang bukunya.


"Kalo gitu sekarang kamu ibarat anak SMA umur 16 tahun yah? Aku tidur ama anak di bawah umur dong," Dean yang berdiri di sebelah Winarsih menyenggol tubuh wanita itu dengan pinggangnya.


"Maunya bapak Dirja gitu ya?" tanya Winarsih mendongak menatap suaminya.


"Bercanda Win, kamu bikin aku deg-degan aja. Aku khawatir mandi bersih-bersihku yang lama tadi jadi nggak berguna." Dean meletakkan handuknya dan merangkak naik ke ranjang.


Dean berbaring miring menumpukan kepalanya dengan sebelah tangan menghadap Winarsih yang menyandari tumpukan bantal dan membaca buku.


"Pssst... Sombong amat Dik! Tadi katanya kangen. Sini," panggil Dean menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya.


Winarsih meletakkan bukunya dan beringsut mendekati Dean. Ia langsung memeluk suaminya erat dan lama. Menghirup aroma body scent Dean yang disemprotkan suaminya barusan. Bagi Winarsih Dean adalah tempat di mana ia mendapat pelukan paling hangat dan menenangkan.


Dean membalas pelukan Winarsih dengan membenamkan kepalanya di leher wanita itu. Bagi Dean isterinya adalah tempat istirahat paling nyaman setelah ia berlelah-lelah di luar sana.


"Aku kangen Mas," ucap Winarsih dengan suara teredam.


"Aku juga kangen," sahut Dean masih memeluk isterinya.


"Tidur sendiri nggak enak."


"Biasa tidur ada yang dipegang, ya nggak enak kalo tidur dengan tangan kosong," sahut Dean.


"Ckk!!" Winarsih berdecak dan mengangkat wajahnya untuk memandang Dean.


"Ngambek manja kamu ini." Dean mencubit gemas pipi isterinya yang cemberut.

__ADS_1


"Aku udah beli lokasi untuk penggilingan padi yang kamu minta kemarin. Tapi letaknya nggak di sebelah rumah kamu. Agak jauh, tapi masih bisa jalan kaki dari rumah. Ibu kamu dan Pak De nggak akan repot kalo mau menggiling padinya." Dean berbicara sambil membuka kancing piyama Winarsih satu persatu.


"Jadi tanah yang di sebelah rumah itu bener nggak dijual sama pemiliknya?" tanya Winarsih.


"Mungkin rayuanku nggak ampuh. Karena yang punya lahan itu bapak-bapak. Kalo ibu-ibu, setengah jam pasti beres."


"Ckk!" Winarsih kembali berdecak karena Dean bercanda di saat ia sedang serius.


"ASI-nya nggak netes?" Dean bertanya seraya meraih bra Winarsih dan menurunkannya.


"Alesan..." gumam Winarsih.


"Nanti kalo aku tiba-tiba kalem pulang dari luar kota 5 hari, kamu pasti curiga. Kamu juga pasti kangen diapa-apain."


Winarsih memandang wajah Dean kemudian mengusap lembut pipi suaminya itu.


"Pak Dean..." gumamnya. "Dulu aku sering menyibak tirai jendela kamar pojok halaman belakang cuma untuk memastikan apa Pak Dean sudah pulang atau belum," ucap Winarsih pelan.


Dean memandang isterinya. Winarsih menarik nafas kemudian melanjutkan ucapannya dengan tatapan lekatnya pada mata pria tampan di depannya.


"Diam-diam aku nggak sengaja menanam harapan."


"Dan harapan itu akhirnya jadi kenyataan," sambung Dean kemudian menarik wajah isterinya dan mencium bibir penuh merah jambu Winarsih.


Ciuman penuh rindu itu berlangsung lama dan sangat dalam. Desahan Winarsih terdengar lebih dulu saat kelihaian suaminya berhasil membuat nafasnya seketika terburu-buru.


Dean sangat ahli soal ini, pikirnya. Kecupan-kecupan ringan sampai gigitan sedikit keras suaminya membuat jantung Winarsih dengan cepat berdegup tak beraturan.


Nafasnya terengah-engah dan ia berhasil melepaskan ciuman panjang serasa semalaman itu.


Setelah beberapa kali memperoleh apa yang diinginkannya, Winarsih melihat Dean mengeluarkan sesuatu. "Apa itu?" tanya Winarsih saat Dean meraba sesuatu dari kaca nakas.


"Pengaman, kita harus coba. Aku nggak mau kamu langsung hamil lagi. Aku belum lama bisa meremas perut rata kamu kemarin," ujar Dean.


Dengan cepat Winarsih kembali mengerang seraya meremas tangan suaminya dengan keras. Seiring dengan gerakan cepat Dean, Winarsih akhirnya memekik dan kembali terengah-engah. Ia kemudian menghempaskan kepalanya di atas bantal.


Namun nyatanya Dean yang belum terbiasa mengenakan pengaman itu membutuhkan waktu lama sampai isterinya menatap bingung.


"Aku lepas aja deh, kasian kamu kalo aku lama banget," ujar Dean kemudian. "Entar di luar aja," sambung Dean tanpa menoleh isterinya.


Tak lama kemudian Winarsih telah mengejang dan bersitatap dengan suaminya yang telah berhenti mengayun di atas tubuhnya.


"Win!!"


"Ha?"


"Aku lupa!"


"Apa?"


"Aku kelepasan..." Dean menatap wajah lelah isterinya yang melemparkan tatapan pasrah.


Dean pasrah atas kecerobohannya, tapi ia juga berharap bahwa isterinya tak segera hamil kembali.

__ADS_1


******


3 Bulan kemudian


"Win, pestanya memang masih dua bulan lagi. Tapi karena papa kalian ada acara serah terima jabatan minggu depan, mama kan perlu pakaian baru juga. Kamu bisa sekalian diukur ya, besok tukang ukurnya bakal ke sini." Bu Amalia kembali mengingatkan soal resepsi pernikahan yang menurut Winarsih masih lama itu.


Semangatnya sekarang mulai mengendur, ia menanggapi omongan ibu mertuanya dengan setengah hati. Hal itu tergambar jelas di raut wajahnya yang tak bisa dengan mudah menyembunyikan kegelisahan.


Bu Amalia menangkap raut wajah gelisah itu. Pada saat makan malam, Winarsih terlambat untuk turun. Dean yang biasanya tiba di meja makan dengan piring yang sudah terisi nasi, kini duduk menghadapi piring kosongnya.


"Ibunya Dirja mana?" tanya Bu Amalia pada Dean.


"Tadi katanya mau langsung turun kalo Dita udah tidur," sahut Dean.


"Panggil De, siapa tau isteri kamu nggak enak badan. Belakangan isteri kamu agak gelisah kata mama. Kamu masa nggak merhatiin," ujar Pak Hartono.


"Iya Dean juga ngerasa. Sebentar Dean susulin aja." Baru saja Dean menggeser kursinya, Winarsih muncul berjalan mendekati meja.


Dean menarik sebuah kursi untuk isterinya kemudian menyorongkan sebuah piring kosong dan mengisinya dengan nasi.


"Kamu sakit?" tanya Dean. Winarsih menggeleng.


"Ma, kayaknya saya perlu ganti model pakaian untuk resepsi," ujar Winarsih tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Bu Amalia. Dia sedikit heran Winarsih murung hanya karena masalah model pakaian yang tidak cocok. Winarsih tak banyak permintaan selama ini, pikirnya.


"Kenapa Sayang? Mama nanya," ujar Dean mengusap punggung isterinya.


"Itu Mas... Semua karena Mas juga ini,"


"Hah? Karena aku?" tanya Dean heran.


"Aku hamil lagi, udah tiga bulan." Winarsih menekuk wajahnya menghadapi piring.


Bu Amalia terbengong-bengong menatap wajah Winarsih dan anaknya bergantian. Pak Hartono tertawa terbahak-bahak mengepalkan sebuah tisu dan melemparkannya ke arah Dean.


Dean masih syok mengusap-usap punggung isterinya.


"Salah aku lagi. Udah tiga bulan," gumam Dean. "Kalo ketauan pemerintah, aku bisa disteril..."


To Be Continued.....


Berikut adalah judul karyaku di Noveltoon :


1. Stranger From Nowhere


2. Stranger From Nowhere 2 : The Conclusion


Keduanya adalah genre Thriller Romantis. Yang belum baca bisa klik profilku ya. Ceritanya dijamin beda. Kalian akan menemukan cerita paket lengkap di sana. Meski di Noveltoon ceritaku ini tergolong kurang ramai peminat, percayalah padaku bahwa mereka pernah berada lama menduduki ranking di Watt*pad.


Cinta Winarsih adalah genre novel romantis pertamaku. Aku sangat senang cerita ini mendapat apresiasi lumayan ramai dibanding novel pertama yang kubawa ke aplikasi ini.


Dan yang terbaru, aku sedang menulis novel pendek berjudul PENGAKUAN DIJAH. Aku tak menjanjikan adegan di sana akan semanis dalam cerita CINTA WINARSIH. Karena memang sebagai penulis, aku ingin bicara melalui tulisanku.

__ADS_1


Meski begitu, aku menjanjikan kisah Dijah akan sangat layak untuk dibaca dan dijadikan alasan bagi kita semua untuk lebih bersyukur.


Novel itu kuperuntukkan bagi semua perempuan yang masih memperjuangkan kebahagiaan dengan caranya sendiri.


__ADS_2