
“Mbah, Dean mana? Sudah turun belum?” tanya Bu Amalia pada Mbah yang sedang menuangkan air putih ke masing-masing gelas di meja makan.
“Pak Dean sudah pergi pagi-pagi sekali Bu,” jawab Mbah menatap Bu Amalia.
“Ke mana Mbah? Tau tidak? Ponselnya sejak kemarin sepertinya cuma diaktifkan sesekali. Di kirimin pesan nyampe, tapi nggak dibales. Ditelepon nggak aktif” Pak Hartono muncul mendekati meja makan.
“Ke Jambi Pak, nyusulin Winarsih. Adiknya Winarsih sakit. Subuh tadi Pak Ryan yang datang menjemput, terus langsung berangkat” jawab Mbah.
“Mama udah nggak ngerti ngeliat seleranya Dean sekarang. Luar biasa perubahannya. Pake acara nyusulin ke Jambi” Bu Amalia masih terus mengomel di meja makan.
Terdengar sepasang langkah kaki berjalan mendekati meja makan. Pak Hartono yang sudah duduk di kursinya hanya melirik sekilas.
“Ya sudah Mbah boleh ke belakang lagi,” ujar Pak Hartono pada Mbah yang kemudian sedikit menunduk dan meninggalkan ruangan itu.
Disty menarik salah satu kursi yang berada di seberang Bu Amalia.
“Dean pergi Bu?” tanya Disty tanpa menoleh kepada Bu Amalia.
Pagi itu Disty cantik sekali dengan sebuah dress selutut berwarna fuchsia yang membalut tubuhnya.
“Pergi menyusul Pembantu itu ke Jambi,” jawab Bu Amalia dengan wajah masam.
“Nyusulin ke Jambi?” tanya Disty lagi.
“Iya. Dean pergi menyusul isterinya ke Jambi. Itu isterinya, dan Dean sudah dewasa. Terserah Dean mau ke mana. Gimana kalau Mama pergi tapi nggak Papa cari? Mau?” tanya Pak Hartono dengan nada kesal menatap isterinya.
Tak sekalipun pria tua itu memandang langsung ke arah Disty.
Lima menit mengaduk-aduk nasi gorengnya, Pak Hartono meraih ponselnya dan menelepon Irman untuk segera menyiapkan mobil.
“Papa pergi dulu,” ujar Pak Hartono seraya bangkit.
“Sarapannya kok nggak dimakan?” Bu Amalia bertanya pada punggung suaminya yang sudah menjauh.
**********
“Bu… aku udah nyampe” suara Dean yang tiba-tiba memenuhi telinga Winarsih membuat wanita itu langsung menoleh mencari asal suara yang begitu dikenalinya.
Dean sedang menunduk sembari tersenyum di sebelahnya.
Winarsih tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat Dean telah berada di sana. Wanita itu langsung mengalungkan tangannya pada leher Dean.
Tak menyuarakan tangisnya, Winarsih hanya mendekap erat Dean sembari menyembunyikan wajahnya.
“Kangen kamu Bu…” ucap Dean lagi sambil menciumi kepala isterinya.
“Kamu juga kangen banget ya sama aku?” tanya Dean tersenyum saat Winarsih melepaskan pelukannya.
“Saya belum sempat membalas pesan-pesan Bapak,”
“Nggak apa-apa, aku tau mungkin kamu sedang repot. Yang penting aku udah nyampe di sini” Dean duduk di sebelah isterinya.
__ADS_1
Tangannya kemudian langsung memeluk bahu Winarsih.
“Ibu kamu mana?”
“Di dalam Pak, sedang bersama Yanto”
Dean kemudian berjalan mendekati dinding kaca. Matanya menangkap seorang wanita yang telah melahirkan isterinya ke dunia ini duduk menggenggam tangan seorang remaja laki-laki yang tampaknya sedang bersusah payah mencoba berbicara.
Wanita tua itu tampak lebih tua dari sejak dilihatnya terakhir kali.
Dean mengatupkan mulutnya dan menyilangkan kedua tangan di depan dada seolah sedang berpikir. Tak berapa lama kemudian dia menoleh ke belakang mencari Ryan yang sejak tadi belum terlihat.
“Cari Pak Ryan Pak?” tanya Novi tiba-tiba dari sebelahnya.
“Iya, ngeliat nggak?”
“Tadi di luar, mau saya panggilkan?” cetus Novi.
“Enggak usah, kita aja yang ke luar. Saya juga mau nanya sesuatu sama kamu,” pungkas Dean kemudian mendekati isterinya.
“Win, aku ke luar sebentar ya ketemu Ryan. Kamu duduk di sini sebentar. Jangan ke mana-mana. Aku nggak lama,"
“Apa ada masalah di rumah?” tanya Winarsih dengan raut khawatir.
Wanita itu benar-benar mengkhawatirkan Dean yang mungkin terjerat masalah karena menyusulnya ke Jambi.
“Enggak—enggak kok. Kan aku udah bilang, Bu Winar nggak usah mikirin hal yang nggak harusnya Bu Winar pikirin,” tukas Dean dengan nada ceria. Dia tersenyum lebar saat mengatakan hal itu. Padahal hatinya juga mengatakan bahwa tak mungkin isterinya itu tak memikirkan soal dia.
Ryan sedang duduk di sebuah warung kaki lima sembari menyeruput segelas es teh.
“Kok nggak nelfon aja biar saya yang masuk,” Ryan yang sedikit terkejut melihat kedatangan Dean langsung berdiri.
“Udah nggak apa-apa. Duduk aja dulu. Gua mau ngomong,” ujar Dean melipat tangannya di atas meja plastik yang terlihat sangat ringkih.
“Jadi gimana Nov? kamu tau kan perkembangan soal Yanto?” tanya Dean.
“Intinya harus segera dioperasi Pak. Yanto di sini memakai asuransi kesehatan dari pemerintah. Bisa operasi gratis, tapi masuk daftar tunggu. Karena kondisi Yanto sekarang stabil, jadi operasinya tidak dikategorikan sebagai operasi darurat lagi”
“Kita pindahin aja ya Yan. Coba lu cari rumah sakit swasta terdekat di sini. Yang paling bagus layanannya,”
“sebentar,” Ryan kemudian mengusap layar tabletnya dan mulai mengetik di atas benda itu.
“Bu Winarsih tadi malam tidur cukup nggak Nov?” tanya Dean pada Novi sembari menunggu Ryan yang sedang mengecek daftar rumah sakit.
“Sewaktu saya mau tidur, Bu Winar sudah tertidur bersandar di bangku Pak. Dia sama sekali nggak pergi ninggalin Ibunya. Sebelumnya saya coba ajak untuk beristirahat di hotel dekat sini, tapi Bu Winar menolak,” terang Novi pada Dean yang mengangguk-angguk.
“Meski nggak banyak bicara, kemauan isteriku itu keras. Dia selalu berusaha keliatan baik-baik aja, meski dia juga perlu tempat mengadu. Dan Winarsih, belum cukup mempercayaiku untuk bergantung sepenuhnya. Isteriku itu mengasihaniku” Dean tertawa sumbang dengan wajah muram.
“Oya Nov, kamu di kantor bagian administrasi kan?” tanya Dean.
“Iya Pak,”
__ADS_1
“Yang kemarin nganter mertua saya, kamu juga ya?” tanya Dean lagi.
“Benar Pak” jawab wanita lajang 32 tahun itu.
“Kalo kamu jadi asistennya Bu winarsih aja mau nggak?” tawar Dean yang kemudian membuat pandangan Ryan beralih memandang wajah Novi.
“Maksudnya, saya ikut Bu Winar terus? Jadi asisten pribadi mengurusi semua keperluannya?” tanya Novi memastikan.
“Iya benar. Nanti kamu tinggal di rumah saya. Sepulang dari Jambi, isteri saya pasti perlu seseorang untuk menemaninya selama saya ke kantor. Sekarang saya nggak mau ninggalin Bu Winar sendirian di rumah. Terlebih sekarang ini” jelas Dean pada Novi yang menyimaknya berbicara.
“Mau Pak, saya mau” jawab Novi antusias.
“Udah ketemu nih rumah sakitnya. Dokter jantungnya juga ready untuk operasi secepatnya. Kamarnya ada—terus ambulansnya juga ada untuk bisa jemput sekarang. Jadi bisa lebih cepat, nggak usah pakai ambulans dari sini. Biayanya semua sekitar--- saya hitung dulu” Ryan kembali menunduk.
“Enggak masalah soal biaya. Yang penting cepat beres dan bisa dapet fasilitas terbaik. Kamu tinggal ambil berapa aja yang dibutuhkan dengan cek atau pemindahbukuan langsung ke rumah sakitnya. Nanti saya tanda tangani semua,” Dean mengibaskan tangannya ke arah Ryan sebagai isyarat bahwa dia tak mempermasalahkan soal uang.
“Bapak mau nandatangani cek apa?” tanya Ryan.
“Cek lah, cek gua, duit gua untuk bayar operasinya Yanto,” sergah Dean.
“Bapak udah ngga ada duit lagi. Kan kemarin katanya pindahkan semuanya untuk Bu Winarsih. Jadi saya cuma sisakan sedikit di rekening Bapak,”
“Jadi tanda tangan gua nggak perlu lagi?” tanya Dean setengah tak percaya.
“Enggak Pak. Sekarang soal uang, saya perlunya tanda tangan isteri Bapak,” Ryan nyengir.
“Beneran miskin dong gua,” gumam Dean.
"Harus kerja keras lagi dengan klien-klien baru," tukas Ryan tergelak.
Siang menuju sore itu, Ryan telah membereskan urusan perpindahan Yanto ke sebuah rumah sakit swasta.
Dean harus mengerjakan hal itu secepat yang dia bisa agar Winarsih mau beranjak dari rumah sakit dan beristirahat.
Saat kembali mendapati isterinya berdiri melayangkan pandangan ke dalam ruang kaca, Dean kembali memeluk bahu isterinya.
"Kamu udah bisa tenang Win, sebentar lagi Yanto akan dijemput untuk pindah ke rumah sakit swasta terbaik di sini. Dia akan segera dioperasi secepatnya,"
Winarsih yang mendengar perkataan Suaminya, dia langsung mendongak untuk menatap sisi kiri wajah Dean yang kini juga menumbukkan pandangannya pada Yanto yang sedang terbaring.
"Di rumah sakit lain bayar Pak, di sini gratis. Saya nggak mau ngerepotin Pak Dean. Ini soal Yanto adik saya. Saya nggak mau Pak Dean sampai membay--"
"Siapa bilang saya yang bayar? Yanto dioperasi pakai uang Kakaknya kok. Kakaknya Yanto sekarang banyak duitnya. Pokoknya mulai sekarang, kamu yang menanggung hidup kami semua Bu," ujar Dean merengkuh isterinya dengan kedua tangan dan mengusap punggung wanita itu berkali-kali.
Winarsih belum mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya.
To Be Continued.....
Maaf ya telat updatenya hari ini. Setelah huru-hara di novelku yang di sebelah, keadaan sekarang sudah aman terkendali. Wkwkwk
Pembaca juskelapa emang yang terbaeeekk :*
__ADS_1