CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
70. Kabar


__ADS_3

Dua jam kemudian SUV yang mengantarkan Dean tiba memasuki sebuah hotel terbaik di sekitar rumah sakit tempat Yanto di rawat.


Dean tak sabar untuk segera merebahkan dirinya di ranjang empuk dan mandi air hangat.


"Win, kita nggak ke rumah sakit jengukin Yanto?" tanya Dean untuk memastikan jadwal mereka.


"Sebenarnya saya masih capek, tapi kayaknya tas Ibu harus saya anter sekalian. Sekalian nanya kabar kepastian operasinya kapan," ucap Winarsih yang sejak tadi berjalan dipapah Dean seperti manula.


"Ya udah kalo gitu kamu bisa istirahat dulu"


Sesaat kemudian Ryan menghampiri mereka dengan sebuah kartu kunci kamar.


"Gua naik dulu, ntar kalo kontraktornya dateng, elu yang nemuin ya. Gua capek banget, mau rebahan sebentar," pinta Dean pada Ryan yang mengangguk dan menyampirkan ranselnya ke pundak.


"Bu Win, ini tasnya saya bawain ke kamar aja atau gimana?" tanya Novi pada Winarsih.


"Biar saya aja yang bawa Mba," Winarsih mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah tas dari Novi.


Novi mengangguk dan tersenyum kepada Winarsih kemudian pamit menuju kamarnya.


"Kalo ntar malem aja sekalian ke Dokter kandungannya gimana? Aku khawatir Win," ujar Dean seraya meletakkan sebuah kartu pada sensor pintu kamar.


Saat lampu biru menyala di dekat handle, Dean mendorong pintu yang cukup berat itu untuk isterinya.


"Saya sih ngerasa nggak apa-apa Pak. Anak Pak Dean sehat. Ini aja sekarang sedang bergerak-gerak. Mungkin karna tau Bapaknya khawatir," jawab Winarsih kalem sembari mengelus-elus perutnya.


"Tapi kalau Pak Dean khawatir, nanti malam waktu menjenguk Yanto kita bisa sekalian ke Dokter Kandungan," sambung Winarsih untuk menghilangkan raut cemas suaminya.


"Iya, gitu aja ya. Biar aku denger sendiri apa kata Dokter. Biar aku dapet kepastian juga," ucap Dean pelan.


Dean menumpuk dua buah bantal di kepala ranjang kemudian merebahkan dirinya.


"Win, sini. Baring deket aku. Capek kan hampir dua jam di dalem mobil duduk terus. Pinggang kamu nggak sakit?" Dean merentangkan kedua tangannya ke arah Winarsih.


Winarsih mendekati suaminya kemudian duduk di tepi ranjang.


"Di sini loh Bu Winar. Di dada suamimu ini baringnya. Kamu nggak kepengen apa megang-megang aku?" tanya Dean mengusap-usap dadanya.


"Mau beres-beres tas dulu loh Pak,"


"Aku cuma ngajak kamu berbaring loh Win, aku belum bilang ngantuk"


"Ya kalau ngantuk juga nggak apa-apa," ucap Winarsih membaringkan kepalanya di lengan Dean.


"Yakin nih?" tanya Dean kemudian memeluk istrinya seperti sebuah guling dengan sebelah kakinya yang naik untuk melingkari tubuh Winarsih.


"Ya kalo ngantuk, maksudnya ya tidur" jawab Winarsih kalem.


"Soalnya aku gemes banget sama kamu," Dean menciumi kepala istrinya.


"Win, kamu maunya kita punya anak berapa?" Dean mengusap-usap punggung istrinya.


"Gimana kalau yang satu ini keluar dulu Pak, baru nanti Pak Dean nanya lagi ke saya," Winarsih mendongak menatap wajah suaminya.


Sesaat kemudian Dean langsung tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Iya--iya, bener kamu. Soalnya kan kamu tau sendiri keperkasaan aku tuh gimana. Jadi kalo nggak direncanakan dari sekarang, bisa-bisa tiap tahun kamu hamil Win," ujar Dean tersenyum-senyum sambil terus mengusap-usap punggung istrinya.


**********


"Kandungan istrinya sehat ya Pak, semuanya normal. Ini jari-jari tangan dan kakinya lengkap, jantungnya juga berfungsi dengan baik. Baik semua. Ibunya juga sehat. Perutnya kencang karena mungkin memang lagi capek aja," seorang Dokter wanita yang sudah berumur meletakkan alat USG dan mengambil tisue untuk mengelap perut Winarsih.


Dean membantu Isterinya bangkit dan menuruni ranjang periksa pasien. Sesaat kemudian mereka telah duduk berhadapan dengan Dokter yang sedang menuliskan sesuatu di atas kertas.


"Ini sudah masuk trimester ketiga ya Pak. Ibunya jangan terlalu capek, jangan banyak pikiran. Santai aja. Kehamilan anak pertama harus dinikmati. Bapaknya juga bantu agar ibunya santai," ujar Dokter tadi sembari tersenyum kepada Dean.


"Maksudnya Dok, saya harus membuat istri saya santai-- tidak boleh capek yang begitu ya Dok?" tanya Dean ragu-ragu.


"Begitu yang bagaimana maksudnya Pak? dalam berhubungan?" tanya dokter wanita itu tanpa sungkan.


"Iya Dok," Dean meringis.


"Nggak apa-apa kok pak. Ibu dan bayinya kan sehat. Jadi pasti tidak terganggu dengan kedatangan Bapaknya," Dokter itu tersenyum kepada Dean.


Dean tak bisa menyembunyikan tarikan nafas leganya sambil melirik ke arah Sang Istri.


"Ajaib ya win, kemarin kayaknya masih kecil. Sekarang udah kelihatan jelas jari-jarinya. Aku nggak sabar pengen ketemu ama Dean dalam bentuk sachet ini," Dean masih terus memandang foto hasil USG tadi dengan wajah bahagia.


Langkah kaki mereka langsung menuju ke lantai dua tempat di mana ruang rawat Yanto berada.


Saat mereka tiba, Bu Sumi duduk di sebuah kursi sebelah Yanto, sedang mengupas sebuah apel yang katanya adalah kiriman dari Ryan.


Yanto yang melihat kedatangan kakaknya langsung tersenyum dan melambai.


"Kak Win, Yanto sudah sehat," ujar remaja laki-laki itu pada Kakaknya.


"Siapa ini?" tanya Yanto melihat ke arah Dean yang berada di sebelah Kakaknya.


"Mas-mu Dik. Kamu panggilnya Mas Dean,"


"Mas Dean baik ya sama Yanto. Yanto Terima kasih," ujar Yanto tersenyum ke arah Dean.


"It's okay Bro," jawab Dean mengacak-acak rambut Yanto yang tadi sudah dirapikan oleh Winarsih.


Winarsih kemudian mengeluarkan sebuah map dari tasdan langsung menyodorkannya kepada Bu Sumi.


"Apa ini win?" tanya Bu Sumi sembari membuka lembaran map.


"Sawah Ayah," ucap Winarsih singkat.


"Ya ampun Nak Dean, Ibu sudah terlalu banyak menerima dari Nak Dean. Ibu nggak bisa bales apa-apa selain doa. Mugi Gusti Ingkang Maha Kuwasa tansah peparing kamulyan ing bebrayan, kasaran ugi pepadhang*"


(*Semoga Tuhan selalu memberi kesehatan, kebahagiaan dan kelancaran hidup)


"Amin Bu," jawab Dean tersenyum.


Bu Sumi masih menunduk dan mengusap-usap kertas di mana ada nama suaminya tertulis.


**********


"Aku lega banget denger penjelasan Dokter tadi. Kamu dan anakku sehat-sehat aja. Dasar si Rio! masa sih dia nyalahin aku," ujar Dean sembari memakai piyamanya.

__ADS_1


"Masa katanya perut kamu kencang itu karena kamu orgas**---" perkataan dan terhenti.


"Karena saya gimana maksudnya pak?" tanya Winarsih yang belum mengerti.


"Itu Win, orgas**. Kalau kamu mencapai kepuasan sewaktu aku ngunjungin kamu, itu kan namanya orgas**"


"Enggak kok, saya nggak apa-apa. Nggak usah dibahas lagi. Saya malu," ucap Winarsih.


"Iya-iya. Maaf Bu Winar sayang. Sini dong, kamu nggak mau apa pegang-pegang aku,"


Dean menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya, tak sabar menunggu Winarsih yang sedang memakai daster.


"Pegang-pegang gimana? saya malu Pak," ujar istrinya polos.


"Win, kamu mau aku ajari sesuatu nggak?" tanya Dean tiba-tiba dengan wajah nakal.


"Itu loh, Aku mau kamu pegang itu-- terus-- aku pengen dicium. Di--" Dean kesulitan menjelaskan hal yang diinginkannya kepada Winarsih.


Saat Dean sedang berpikir untuk memilih kata-kata lain, Winarsih menarik turun bagian bawah piyamanya.


Tangannya langsung menyusup masuk ke dalam boxer suaminya.


"Ohh---yaaa" Dean sedikit memejamkan matanya.


"Kamu memang cepat belajar ya Win," Dean sedang menikmati kehangatan tangan isterinya di bawah sana saat getar ponsel di atas meja membuyarkan suasana.


"Eh sebentar-sebentar, aku angkat telepon dulu. Ini dari Papa," ujar Dean bangkit terburu-buru.


"Ya Pa?" Sapa Dean ketika menjawab panggilan.


"Ha? serius Pa? sebentar Dean liat dulu," ujar Dean lagi menjawab suara pak Hartono yang terdengar di seberang.


Sedetik kemudian, Dean mengakhiri panggilannya dan langsung mengusap layar ponsel. Beberapa saat menggulir layar ponselnya dan mengetikkan sesuatu, wajah Dean berubah.


Rahangnya terlihat mengeras dan wajahnya dipenuhi kemarahan. Hasratnya bercinta seketika lenyap.


Dean buru-buru bangkit mengenakan sandal kamar.


"Win, aku minta maaf karena nggak bisa nemenin kamu nungguin operasinya Yanto lusa. Ada yang harus segera kuselesaikan di Jakarta. Aku bakal minta Novi terus nemenin kamu. Besok pagi-pagi banget aku berangkat bareng Ryan. Kamu nggak apa-apa kan?" Dean menggenggam tangan istrinya.


Eggak. Saya nggak apa-apa. Ya udah, Pak Dean selesaikan saja urusan di Jakarta. Setelah operasi Yanto dinyatakan berhasil, saya akan susul Pak Dean ke Jakarta," ucap Winarsih mengelus tangan suaminya.


Dean mengangguk kemudian meraih tubuh istrinya masuk ke dalam pelukan. Wajahnya sekarang terlihat sangat cemas.


Malam itu setelah isterinya tidur, Dean mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Novi.


'Nov, tolong awasi Bu Winarsih jangan sampai membuka portal berita apa pun di ponselnya. Usahakan juga jangan melihat berita di televisi. Kata Dokter Kandungan, Bu Winarsih nggak boleh banyak pikiran. Tolong jaga istri saya ya Nov'


To Be Continued.....


Jejaks gaeeess :*


Sambil nunggu-nunggu Winarsih update, mampir ke ceritaku yang lain yaa..


Boleh juga mampir ke cerita sahabat-sahabatku Langit Jingga By Chida, Mr. & Mrs. Trina By Gallon, Pahit By Acilmey, atau Secercah Harapan By Melly Sianturi :*

__ADS_1


__ADS_2