CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
102. Pillow Talk


__ADS_3

Winarsih baru saja dipindahkan dari ruangan VK menuju ke kamar rawatnya. Kamar rawat itu berkelas Family Suite dengan luasnya kira-kira 8x8 m2.


Di kamar itu terdapat seperangkat sofa, meja makan dan sebuah tempat tidur yang terlihat nyaman bagi pendamping pasien.


Winarsih telah selesai menyusui bayinya untuk pertama kali. Sekarang bayi laki-laki itu sedang tertidur pulas di dalam box-nya yang terletak tak jauh dari ranjang Sang Ibu.


Tadi Perawat mengatakan, bahwa jika seorang ibu melahirkan dan menyusui bayinya secara eksklusif, maka bayi itu akan berada di sebelah ibunya sepanjang hari.


Meski merasa Winarsih pasti merasa lelah jika sering terbangun untuk menyusui bayi, tapi wanita itu tak keberatan.


"Enggak laper Win? itu nasinya udah dianter. Biar aku suapin. Kamu tadi kan udah banyak banget muntah," ujar Dean.


"Iya sih laper," jawab Winarsih.


Dean menarik overbed table mendekati kaki istrinya. Sudah lewat tengah malam, namun Dean tak merasa mengantuk dan lelah sama sekali. Kehadiran bayi laki-laki itu sebagai sebuah kekuatan baru baginya.


"Sekarang gantian aku yang ngerawat Bu winar," ucap Dean.


"Untung Bu Winarnya nggak rewel," sambung Dean lagi.


"Katanya mau suapin saya, tapi lebih banyak Bapak yang makan," rajuk Winarsih.


"Iya ya Win, aku juga baru sadar kalau aku belum makan malam." Dean tertawa kecil.


"Oh iya, tadi naik apa ke sini? Pak Ryan enggak kelihatan soalnya,"


"Naik motor besar,"


"Motor yang pernah boncengin mantan pacar terus kecelakaan itu?" tanya Winarsih kalem seraya menatap isi piring di tangan suaminya yang sudah mau habis.


"Mesti gitu nanyanya? buah cintaku lagi tidur di boxnya itu loh Bu Winar. Habiskan dulu nasi kamu ini, mungkin masih laper jadi kamu baper. Masih beberapa jam jadi ibu, kok kamu kayaknya lebih bawel dari aku ya," omel Dean menyendokkan kembali nasi ke mulut isterinya.


Winarsih hanya diam pura-pura tak mendengar perkataan suaminya barusan.


"Tongkatnya mana? memangnya kaki Bapak nggak sakit lagi?" tanya Winarsih saat melihat Dean terpincang-pincang menjauhkan overbed table dari ranjang.


"Ya masih sakit. Tapi karna rasa cintaku lebih besar daripada rasa sakit di kakiku ini. Aku bisa bawa motor ke sini. kalo tadi nggak naik motor, mungkin nggak keburu ngeliat anakmu lahir Bu," jawab Dean kembali berjalan mendekati sisi ranjang isterinya.


"Kalau ngomong bisa aja," gumam Winarsih.


"Bu Winarsih udah mulai cerewet rupanya. Sini aku cium dulu, sekarang udah aman. Cuma kita bertiga aja." Dean naik ke ranjang dan berbaring di sebelah isterinya.


"Udah tiga hari Win, harusnya ini udah waktunya mengambil hakku." Dean berbaring miring melingkarkan tangannya di atas perut Winarsih.


"Yang namanya Bapak itu harus mengalah dengan anaknya," ujar Winarsih.


"Aku belum siap mengalah," ucap Dean.


Tangannya yang tadi melingkari perut Winarsih kini berpindah meraih wajah isterinya. Dengan menumpukan tangan kanannya, Dean berbaring miring untuk menyapukan bibirnya pada bibir Winarsih.

__ADS_1


Beberapa saat lamanya, sepasang suami isteri itu larut dalam ciuman yang dalam dan cukup panjang. Nafas Dean mulai memburu dan tangannya berpindah ke dada isterinya. Saat mulai memijat dada itu, Winarsih menghentikan gerak bibirnya.


"Kenapa?" tanya Dean memundurkan wajahnya.


"Kayaknya ketat gitu, tuh Pak, ASInya merembes ke luar. Saya belum pake daleman ini. Nanti bajunya basah," ujar Winarsih melihat bagian depan seragam pasiennya telah mulai sedikit basah.


"Jadi diapain ASI yang keluar itu? anakmu tidur Bu," ujar Dean.


"Itu ada breast pad. Di taruh di br*a biar ASI-nya nggak merembes ke luar," tukas Winarsih.


"Ooo---pake breast pad," gumam Dean.


"Kok cuma Ooo, tolong diambilin Pak, biar dipake aja br*anya." Winarsih menunjuk lemari pakaian tempat Novi meletakkan tasnya tadi.


Dean berjalan mendekati lemari dan begitu lama mengaduk-aduk isi tas.


"Ketemu?" tanya Winarsih.


"Iya, ini ada." Dean kembali berjalan terpincang-pincang kembali ke sisi ranjang isterinya.


"Kok ASI-nya merembes tiba-tiba? jangan-jangan kamu juga mulai ngerasa enak ya Win?" Dean terkekeh.


Dean membuka pakaian isterinya dan memberikan sebuah br*a dan benda yang dicari Winarsih untuk menahan rembesan ASI-nya tadi.


"Ini makenya ditempelin ke mana? ke br*anya?" tanya Dean memutar-mutar breast pad yang berbentuk bundar.


"Ya iya, ditempelin ke br*Anya, masak ditempelin ke puti*ngnya langsung," omel Winarsih.


"Ajaib ya Win?"


"Hmmm--" Winarsih hanya bergumam melepaskan perekat pada Breast Pad.


"Win,"


"Hmmm--"


"Aku penasaran,"


"Apanya?"


"Ini," ucap Dean kemudian menunduk menyesap puncak dada isterinya sesaat.


"Pak, istrimu baru melahirkan beberapa jam yang lalu," ujar Winarsih.


"Iya--iya, makanya cepet dipake itu br*anya. Kalo dibuka terus aku gelisah. Salah kamu juga itu." Dean menghela nafas panjang.


"Jadi kalo mau nyusuin anaknya gimana? masak saya harus pergi dulu," ujar Winarsih.


Tak lama kemudian, saat mereka baru saja berdebat, terdengar suara raungan kecil bayi dari dalam box.

__ADS_1


"Tuh kan, anakku bangun Win. Dia denger Ibunya ngomelin Bapaknya dari tadi." Dean beranjak menuju box bayi kemudian mengangkat bayi laki-lakinya.


Beberapa saat lamanya Dean berdiri memeluk bayi itu kemudian kembali berjalan mendekati Winarsih.


Winarsih kembali memeluk bayinya dalam dekapan dan kembali mengarahkan put*ing susu kirinya ke mulut makhluk kecil yang sedang gelisah itu.


Dean kembali duduk di sebelah Winarsih dan melingkupi anak dan isterinya dengan pelukannya. Matanya tak lepas memandang bagaimana bibir kecil mungil itu menyesap puncak dada Ibunya.


"Sebenarnya fungsi utama payuda** yang paling utama itu ini ya Win," ucap Dean pelan.


"Memangnya selama ini Bapak pikir fungsinya apa?" tanya Winarsih menoleh menatap wajah Dean yang berada di sebelah kirinya.


Merasa ditoleh oleh Winarsih, Dean nyengir dan mengecup bibir isterinya sekilas.


Winarsih tertawa. Winarsih tak menyangka, setelah memiliki seorang bayi, ternyata Dean juga masih menggemaskan. Pandangannya kembali turun untuk melanjutkan menyusui bayinya.


Sepuluh menit berlalu, Dean telah kembali berjalan ke box bayi dan kembali meletakkan bayinya itu.


"Tidur yang nyenyak ya Nak, kamu udah nyusu banyak. Biasa Bapak kayak gitu," ucap Dean santai seraya menutup kelambu tipis yang melingkupi box bayi kecil milik rumah sakit itu.


"Udah hampir jam dua Win, kamu tidur yuk." Dean kembali berbaring di sebelah isterinya.


"Saya belum ngantuk,"


"Sama. Itu artinya kita lagi bahagia. Hormonnya sama dengan hormon jatuh cinta. Tapi kamu harus tidur, kamu udah capek banget hari ini,"


"Pak Dean juga capek, baru dari Kalimantan."


"Aku kan perkasa. Sini aku peluk," ujar Dean berbaring miring dan memeluk sekeliling tubuh isterinya.


"Win, kamu tuh liat aku pertama kali, suka apanya?" tanya Dean.


"Pertama kali?" tanya Winarsih. Dean mengangguk.


"Ya wajahnya," jawab Winarsih tanpa menoleh.


"Enggak spesifik," rajuk Dean membenamkan wajahnya di leher Winarsih.


"Apanya ya? matanya? kulitnya? jari tangannya? atau angkuhnya? saya juga nggak inget." Winarsih berbicara seraya membelai rambut Dean yang sedang menggigit kecil lehernya.


"Angkuhnya..." gumam Dean nyaris tak terdengar.


"Kalau Pak Dean?" Winarsih balik bertanya.


"Eh? apa?"


"Liat saya pertama kali, suka apanya?" tanya Winarsih menjauhkan sedikit kepalanya untuk menatap Dean.


Dean mengangkat kepalanya kemudian menatap wajah isterinya yang polos itu dengan sebuah senyuman nakal penuh arti.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2