CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
132. Mas Gagah


__ADS_3

Like dulu ya...


Selamat membaca :*


************


"Gagah..." gumam Winarsih saat Dean memeluknya sebelum tidur malam itu.


"Apa? Aku nggak denger." Dean mengangkat wajahnya dan memandang Winarsih.


"Mas Dean gagah..." gumam Winarsih lagi.


"Aduh berani-beraninya kamu ngomong gitu sekarang," sahut Dean tersenyum lebar.


"Emang bener. Gagah."


"Padahal aku baru ngeluarin seperempat pesonaku aja Win."


Winarsih mencibir.


"Kok gitu?" Dean tertawa mencubit pipi isterinya.


"Kita kapan ke Jambi?" tanya Winarsih sambil menggaruk-garuk dagu suaminya.


"Sebulan lagi gimana? Masih sabar?" tanya Dean mengusap-usap punggung isterinya.


"Sabar kok, kalau nggak sabar aku udah lama pulang ke Jambi," jawab Winarsih. Dean tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan isterinya barusan.


"Dik Winar makin gemesin aja." Dean kembali mencium leher isterinya.


"Kata ibu, tetangga jadi sering ke rumah, apalagi keluarga tengkulak. Ibu jadi dikasi macem-macem kalau ada yang panen," tukas Winarsih.


"Oh ya? Kenapa gitu? Memangnya dulu nggak pernah?" tanya Dean sedikit heran.


Winarsih menggeleng. "Enggak pernah. Sama sekali. Mas belum ngerti pemikiran sebagian besar orang memandang orang-orang tak mampu."


"Sekarang ibu dikenal sebagai besan Menteri. Yang sudah mapan dan dianggap ada di kampung itu. Dulunya, untuk kerja jadi buruh harian aja mesti harus ada kenalan." Winarsih menerawang masih mengusap dagu dan pipi suaminya.


"Terkadang pikiran manusia itu memang aneh. Pergi ke pesta orang kaya berlomba-lomba memakai pakaian paling bagus dan ngasi uang amplop dengan jumlah lumayan dengan alasan malu kalau ngasi sedikit. Mendatangi pesta di keluarga nggak mampu, dateng dengan pakaian dan uang amplop seadanya karena alasan si empunya pesta sudah terbiasa, pasti maklum. Padahal, yang kurang mampu itu jauh lebih perlu dengan isi amplop, dan juga ingin dihargai dengan pakaian tamunya yang bagus-bagus. Mas ngerti apa maksudku?" tanya Winarsih memandang wajah suaminya.


"Ngerti, aku ngerti. Winarsih memang beda. Istriku yang keras kepala, yang nyoba menaklukkan segala sesuatu dengan cinta dan pemikirannya. Aku makin merasa beruntung bisa jadi suami kamu. Pemikiran kamu seksi. Bu Sumi dan Pak Padmo berhasil mendidik kamu jadi wanita tangguh dan punya pikiran luas meski tinggal di desa sekecil itu." Dean mengangkat dagu isterinya dan mencium bibir Winarsih lama. Ia memejamkan matanya menikmati sambutan bibir isterinya yang terbuka. Winarsih semakin pintar berciuman, pikirnya.


Dean melepaskan ciumannya dan menatap Winarsih. "Itu karena manusia memang punya sifat pengen diakui eksistensinya di dunia ini. Pengen dianggap ada, pengen dihargai. Itu aja. Semua pasti gitu," sambung Dean lagi dengan nafas yang sedikit cepat. Ia melihat wajah isterinya pun mulai memerah karena ciuman panjangnya barusan.


Tangan Winarsih turun mengusap dada suaminya. "Semua orang pada dasarnya memang cuma ingin dihargai. Jadi..." Winarsih mengangkat atasan piyama Dean dan mengusap perut suaminya perlahan.


"Jadi apa Win? Kamu jangan ngomong setengah-setengah kalo tangannya lagi di situ," ucap Dean melirik tangan Winarsih yang berada di balik piyamanya.


"Jadi aku boleh sekolah lagi?" tanya Winarsih menyisipkan tangannya ke karet pinggang celana piyama suaminya.


"Hmmm--? Sekolah ya? Paket C?" tanya Dean mengusap bibir bawah isterinya.


"Iya..."


"Boleh banget. Nanti minta Novi urus secepatnya."


"Kalau kuliahnya gimana?" tanya Winarsih lagi. Tangannya masih mengusap punggung dan perut suaminya perlahan.


"Kuliahnya? Masuk duduk di kelas? Hmmm--" Dean kembali mencium leher isterinya.


"Iya, kuliahnya." Winarsih memutar tangannya kembali ke perut Dean dan masuk ke bagian depan celana piyama pria itu. Tangan kanannya menelusuri tepian pakaian dalam dan berhenti sesaat di sana.


"Kuliahnya ya...." Dean masih diam mengecupi rahang isterinya.


Tangan Winarsih kemudian masuk semakin dalam dan segera menemukan sesuatu yang telah bangkit sejak tadi.


"Kuliahnya gimana?" tanya Winarsih lagi saat menggenggam bagian tubuh kebanggaan suaminya itu. Nafas Dean terasa semakin hangat di lehernya dan desahan halus mulai keluar dari mulut pria itu.


"Boleh--boleh... Kuliahnya boleh." Tangan Dean meremas dada Winarsih dan berhenti untuk melepas kancing daster isterinya. Saat kancing daster bagian depan itu telah terbuka sepenuhnya, Dean menarik bagian depan bra hingga terbuka di satu sisi.


Dean menghentikan hujanan ciumannya di leher Winarsih dan menarik pinggang wanita itu hingga posisinya menjadi lebih ke atas. Sedetik kemudian Dean telah menyapukan lidahnya di puncak dada isterinya.

__ADS_1


Tangan Winarsih sedang terbebas dari bawah sana, dan ia kini mendekap kepala suaminya yang sedang menyesap di dadanya. Ia merasakan jemari suaminya telah bergerilya di bawah sana menekan dan memijat bagian kewanitaannya.


Winarsih menarik nafas, "jadi kuliahnya boleh ya?"


"Hmmm--" Dean masih sibuk.


"Mas..." panggil Winarsih seraya mencium kepala suaminya dan meremas pelan rambut Dean karena merasakan jari tangan pria itu menggelitiknya di bawah sana.


Cinta, ia memang cinta pada laki-laki ini pikirnya. "Jadi boleh kan? Kuliah yang sebenarnya?" ulang Winarsih lagi ingin memastikan.


Senyap beberapa saat. Winarsih memejamkan mata karena gelombang kenikmatan yang disebabkan sentuhan jari Dean di bagian inti kewanitaannya.


Seperti menyadari tubuh Winarsih yang mengejang dan menghimpit jarinya, Dean berhenti menyesap puncak dada wanita itu dan mendongak menatap isterinya. Dean tersenyum kemudian ia melepaskan cengkeramannya.


"Kuliah, tapi dari rumah aja. Nanti kan ada Novi atau asisten lain bisa nemenin kamu. Enggak boleh ke kampus. Aduh, anak-anak kampus itu nanti jadi bikin pikiranku nggak tenang." Dean menarik ke atas daster yang dipakai isterinya hingga melewati kepala.


"Ya udah, gitu juga nggak apa-apa." Winarsih meluruskan letak baringnya dan menatap Dean yang sedang melepaskan pakaiannya.


Dean sudah bertelanjang dada. Ia kini sedang berlutut di atas tubuh isterinya, bertumpu dengan kedua tangan dan menunduk memandang wajah wanita itu.


"Kamu kan pinter, aku juga seneng isteriku sekolah lagi. Anak-anakku bakal dididik dengan wanita keibuan dan berpendidikan. Siapa yang nggak mau? Sebagai isteri sebenernya kamu udah memenuhi harapan aku semuanya. Cinta Winarsih sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk aku. Tapi kalo dengan kuliah lagi bikin kamu bahagia, itu juga bakal melengkapi kebahagiaan aku Win."


Winarsih memandang lekat mata suaminya di bawah remang cahaya kuning kamar mereka yang hangat.


Dean adalah segala-galanya buat dia. Sebenarnya suaminya itu tak perlu mencemburuinya sama sekali. Hati dan tubuhnya adalah milik pria itu sepenuhnya. Dean juga sudah memenuhi harapannya tentang sosok seorang suami.


Tapi, seperti kata Dean, kalau dengan berkuliah dari rumah bisa membuat suaminya lebih tenang dan bahagia, maka itu juga bakal melengkapi kebahagiaannya sendiri.


Winarsih mengalungkan kedua tangannya di leher Dean dan menarik pria itu untuk mencium bibirnya.


Dean membuka seluruh pakaian tanpa melepaskan ciuman di bibir isterinya. Dan dengan gerakan tangan yang terburu-buru, Dean menarik lepas penutup bagian bawah tubuh isterinya.


Apa yang membuat ia menjadi begitu posesif pada Winarsih?


Tak jarang Dean memikirkan hal itu. Karena rasa-rasanya ia tak pernah merasakan hal itu pada hubungan asmara yang pernah dijalaninya dengan banyak wanita.


Sejak pertama kali melihat wajah polos Winarsih tiba di rumahnya, Dean hanya kasihan dan miris. Seorang gadis manis yang diantarkan pacarnya untuk bekerja menjadi seorang pembantu rumah tangga. Itu saja.


Dan pada akhirnya, tanpa ia sendiri sadari, ia membenci pacar pembantunya itu tanpa alasan.


"Mas..." panggil Winarsih mendongak menatap suaminya.


"Ya..." Dean lebih menunduk. Mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.


"Makasi..." ucap Winarsih.


"Aku yang makasi Win," ucap Dean kembali menunduk mencium isterinya dan mulai memasuki tubuh wanita itu. Mata mereka masih saling mengunci satu sama lain.


Perlahan Dean bergerak masih tak lepas menatap tiap ekspresi yang muncul di wajah Winarsih. Wanita itu mengerang, mendesah dan menggigit bibir bawahnya menahan sensasi yang tengah dirasakannya memasuki tubuhnya berkali-kali.


"Aku cinta kamu Bu," bisik Dean di telinga isterinya kemudian menunduk untuk memeluk tubuh wanita itu erat-erat dan bergerak lebih cepat.


Winarsih kembali mengerang panjang dan Dean berpindah kembali menyesap puncak dada isterinya. Dia semakin mendekati titik kepuasannya. Hingga akhirnya ia menyesap puncak dada itu sedikit lebih keras dari biasanya.


"Ahhhh... Win..."


Dean terengah-engah dan bangkit memandang Winarsih.


"Udah," ucap Dean nyengir. "Malem ini aku nggak minta nambah."


"Gimana mau minta nambah kalo tiap malem nyicil."


"Kan kamu yang mulai tadi," sahut Dean tersenyum lebar.


"Meski hampir tiap malem, tapi isinya banyak terus ya," sindir Winarsih. Dean tertawa mendengar candaan isterinya sudah mengalami banyak kemajuan.


"Tiap ngeliat makanan Dirja, pelurunya otomatis terisi ulang sendiri." Dean tertawa kemudian mencium pipi isterinya.


************


Seminggu kemudian Anggi kembali ke Belanda. Dean meyakinkan kakaknya kalau sidang itu akan berakhir dengan putusan yang adil. Ia berjanji akan mengirimkan salinan putusan itu kepada Anggi nantinya.

__ADS_1


Novi yang mendapat tugas untuk mengurus keperluan kejar Paket C Winarsih tampaknya sama bersemangatnya dengan isteri atasannya itu. Dalam sekejab saja meja kerja Dean telah dipenuhi buku pelajaran dan berbagai macam formulir yang harus diisi.


Winarsih tampak benar haus akan ilmu. Meski sudah lama tak memegang buku bacaan, ia kembali menekuni dunia pendidikan yang terlambat diperolehnya.


Di sela-sela waktunya mengurus bayi dan membantu melengkapi kebutuhan ibu mertuanya, Winarsih selalu menyempatkan dirinya dengan membaca.


Akhir-akhir ini bahkan Dean memergoki isterinya tengah membaca buku-buku biografi tokoh penting dunia yang dimilikinya.


"Bu, ini bukunya. Tadi Pak Ryan yang bawa sekalian ke sini," ucap Novi yang baru masuk ke kamar Winarsih.


"Pak Ryan? Bapaknya Dirja udah pulang?" tanya Winarsih.


"Udah, barusan. Bareng Pak Ryan juga tapi beda mobil."


"Kan bukunya bisa dititip sama Bapak Dirja, kenapa harus dianter ke sini? Saya nggak enak Nov ngerepotin Pak Ryan."


"Gak ngerepotin kok, kan sekalian..." Perkataan Novi terhenti.


Menyadari sesuatu Winarsih langsung tersenyum dan tertawa kecil, "Iya... Saya lupa."


"Saya ke bawah dulu Bu," ujar Novi.


"Iya, saya juga mau ke bawah. Mungkin Bapak Dirja langsung ke meja makan atau main dengan Dirja di bawah." Winarsih mengeluarkan beberapa buku dari kantong plastik kemudian meletakkannya di atas meja.


Saat tiba di ruang makan, Winarsih melihat suaminya tengah menggendong bayi mereka.


"Mandi sekarang, udah malem." Winarsih merentangkan tangan ke arah puteranya.


"Ntar aja, masih kangen sama anakku ini." Dean mengangkat Dirja ke depan wajahnya dan mencium perut bayi laki-laki montok itu. Dirja tertawa geli.


"Dicium siapa Nak?" tanya Winarsih ikut tertawa memandang bayinya.


"Dicium Om Ganteng ya?" tanya Dean pada anaknya.


PLAKK!!


Dean menerima tepukan sedikit keras di lengannya. Meski meringis, namun ia terkikik melihat wajah sewot isterinya.


"Sini, anakku ini." Winarsih mengambil bayi itu dari tangan Bapaknya.


"Ibunya galak ya," ujar Dean masih tertawa.


"Sana mandi!" sergah Winarsih. "Biar langsung makan," pintanya lagi


"Ryan tadi mana? Aku masih ada perlu. Apa udah pulang?" tanya Dean kemudian berjalan menuju tangga untuk melongok mobil sekretarisnya.


"Mobilnya masih ada, orangnya nggak keliatan," gumam Dean kemudian kembali ke meja makan.


"Nggak mungkin ilang, pasti masih di sini." Winarsih ikut celingukan.


"Tadi aku minta dia pegang surat dari pengadilan. Mau aku baca lagi. Sebentar aku cari dia dulu-- habis itu aku langsung mandi Sayang..." tambah Dean saat melihat tatapan isterinya.


Dean berjalan lurus menuju dapur hingga bertemu dengan Mbah. Ketika melihat Mbah yang menggeleng saat ia menanyakan keberadaan Ryan, Dean melanjutkan langkahnya hingga keluar dari pintu dapur kotor dan berbelok ke kiri. Tempat di mana tanaman bambu setinggi pinggang membingkai jalan setapak.


Pandangan Dean menyapu pojok halaman sayap kiri rumah tempat di mana kamar Winarsih yang kini gelap gulita berada. Ia sedikit menyunggingkan senyum saat menatap bangunan kecil itu.


Kemudian ia meneruskan langkahnya ke kiri hingga pandangannya tertuju pada sepasang kekasih yang sedang tertawa-tawa kecil di dekat pohon bonsai.


"Heh! Dicariin ke mana-mana taunya malah di sini. Jangan di sini. Ini tempat bersejarah. Gua nggak mau lu punya sejarah yang sama ama gua. Pacaran di depan aja. Di teras. Di bawah lampu terang," omel Dean pada sekretarisnya.


"Apa sih... Ini udah di luar jam kantor," sungut Ryan.


"Tetep aja nggak boleh," potong Dean cepat.


"Emang kenapa?"


"Tempat ini banyak setannya. Udah buruan ke depan. Ambil surat dari pengadilan tadi. Ayo--ayo cepat."


Dan seperti seorang ayah yang baru saja memergoki anaknya tengah berpacaran, Dean menggiring sepasang kekasih itu untuk kembali ke bagian depan rumah.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2