CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
64. Rumah Mertua


__ADS_3

"Bu," Winarsih menyentuh lembut bahu Ibunya.


"Pak Dean bilang sebentar lagi Yanto akan dipindahkan ke rumah sakit swasta. Operasinya juga sudah dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan. Jadi Ibu sudah bisa tenang. Kalau mau pulang sebentar, kita bisa bergantian jaga Yanto," tutur Winarsih pada Ibunya.


"Apa kita nggak ngerepotin suamimu Win? operasi jantung kan mahal sekali. Ibu kok jadi nggak enak. Di sini gratis," ujar Bu Sumi pelan.


Winarsih melirik Yanto yang sedang tertidur.


"Enggak apa-apa Bu. Kata Pak Dean nggak apa-apa,"


"Ibu nggak usah pulang. Kamu aja yang istirahat. Nanti kamu kecapekan. Kamu tidur semalaman bersandar juga pasti sakit pinggang. Kasian anakmu. Lagipula Pak Dean baru kali ini datang ke rumah kita. Layani dia dengan baik di rumah,"


Winarsih mengangguk seraya mengusap-usap pundak Ibunya.


Hari itu juga, Yanto segera dipindahkan ke rumah sakit swasta yang tak jauh dari sana. Tak sampai dua jam, remaja laki-laki itu sudah berada di atas ranjang rumah sakit dan didorong menuju kamar perawatan.


Winarsih berjalan mengikuti ranjang Yanto dengan tangan yang berada dalam genggaman suaminya. Sedangkan Ryan, sudah tampak semakin akrab berbagi beban koper Dean dan tas pakaian Winarsih bersama Novi.


"Operasinya dijadwalkan tiga hari lagi. Yanto harus diperiksa dengan menyeluruh lebih dulu," Ryan berbicara kepada Dean di depan sebuah ruang rawat VIP.


"Oke,"


"Sementara itu, kita ke mana Pak?" tanya Ryan.


"Kita? Elu kali, gua enggak. Gua pulang ke rumah mertua. Lu cari aja hotel-hotel deket sini. Jangan jauh-jauh, entar kalo ada perlu malah repot,"


"Ni yakin nggak bakal bikin ribut rumah Menteng?" sindir Ryan menyebutkan soal keluarga Dean.


"Ributnya kan nanti, nggak sekarang. Gua males mikir yang belum terjadi," Dean terkekeh.


"Jadi sekarang mau langsung balik atau gimana?" tanya Ryan lagi.


"Sabar dong. Lu kayak nggak digaji aja ya. Kok sekarang jadi lu yang lebih judes. Anterin gua ke rumah mertua gua, terus lu langsung cabut aja. Inget loh, itu bawa Novi nginepnya di hotel baek-baek. Jangan lu macem-macemin," Dean mewanti-wanti Ryan yang sekarang mencibir.


Hari sudah mulai beranjak sore, Dean ingin mengajak isterinya untuk segera pulang dan beristirahat. Dia sangat khawatir akan kesehatan istrinya itu mengingat sudah semalaman Winarsih hanya tidur beberapa pejam mata dengan posisi yang sangat tidak nyaman.


"Sekarang ibu sudah bisa tenang ya--enggak perlu khawatir lagi. Yanto pasti akan segera sembuh setelah dioperasi"


Dean yang baru masuk ke ruang rawat VIP itu, menghampiri ibu mertuanya yang sejak tadi selalu mendampingi Yanto.

__ADS_1


"Nak Dean, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Ujar Bu Sumi seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Yanto bisa di kamar yang biasa-biasa saja. Sudah mendapatkan kepastian operasi saja, ibu sudah sangat bersyukur. Jujur, ibu nggak enak" sambung Bu Sumi lagi.


Sudah menjadi hakikatnya, orang miskin yang setiap hari telah terbiasa menerima perlakuan yang seadanya, ketika mendapat sesuatu yang lebih baik dengan mudah, hatinya gampang merasa was-was.


Mereka mudah sungkan. Khawatir dicap serakah karena menerima sesuatu yang mereka rasa bukan haknya.


Dean sangat memahami apa yang dimaksudkan oleh pandangan cemas Bu Sumi itu. Sedangkan Winarsih hanya diam berdiri di sebelah Dean sambil menatap air muka Ibunya.


"Bu, Winar itu memang anak Ibu. Tapi sekarang dia adalah Isteri saya. Wanita yang sedang mengandung anak saya. Apa yang saya berikan kepada Winar merupakan hak yang memang diperolehnya sebagai seorang isteri. Jadi ibu nggak usah khawatir. Winar nggak pernah ngerepotin saya Bu. Saya yang selalu merepotkan anak Ibu," Dean berbicara kepada Bu Sumi dengan senyum yang mengembang.


Dean berusaha keras untuk meyakinkan Bu Sumi dengan tatapan tulusnya.


"Winar bilang, Ibu masih akan menemani Yanto di sini. Jadi sore ini, kami boleh pamit pulang ke rumah Bu? Saya sedikit khawatir dengan kesehatan istri saya. Maafkan saya yang membiarkan Winar kembali ke Jambi seorang diri. Kemarin malam saya memang sedang--"


Perkataan Dean terhenti, dia merasa tangan kirinya diremas oleh Sang Isteri.


Sepertinya Winarsih mengira, bahwa dia akan menceritakan soal resepsi kemarin malam. Memahami apa yang dimaksud dengan istrinya, Dean langsung menyambung kalimatnya,


"Kemarin malam saya memang sedang sibuk, jadi saya meminta Novi yang menemani Winar datang ke sini,"


"Iya, nggak apa-apa Nak. Ibu juga terimakasih Dean sudah merawat Winar sampai secantik itu," Bu Sumi menoleh ke arah Winarsih yang menekuk wajah karena mendengar ucapan Ibunya barusan.


Dean tersenyum-senyum senang mendengar perkataan Mertuanya.


Ryan telah stand by di dalam mobil sejak tadi dengan seorang supir yang sudah menjemput mereka sejak tiba di bandar udara.


Sedangkan Novi sudah sejak tadi diizinkan Dean untuk pergi ke hotel dan beristirahat. Wanita itu sudah sehari semalam belum berganti pakaian.


Ternyata jarak rumah sakit dan kediaman Winarsih tak bisa dibilang dekat. Mobil telah melaju berkelok-kelok melewati barisan toko, rumah dan perkebunan secara bergantian selama satu jam lebih.


Saat tangan Dean terulur hendak mencolek bahu Ryan, mobil kemudian perlahan mengurangi lajunya.


"Kita sudah sampai Pak," tangan Winarsih yang sejak tadi berdiam di atas pangkuannya sendiri, kini berpindah mencengkeram pelan lengan Dean.


Wanita itu tampaknya sangat senang bisa kembali ke rumahnya setelah sekian lama.


Dean yang selalu merasa isterinya sangat minim sentuhan terhadapnya, selalu berdesir tiap kali Winarsih melakukan sentuhan kecil.

__ADS_1


Ryan turun dari mobil kemudian berjalan ke belakang untuk mengeluarkan barang bawaan Atasannya. Dan setelah meletakkan semua barang-barang di depan pintu rumah kayu yang sangat sederhana, Ryan segera pamit untuk kembali ke hotel.


"Nanti kalau saya ada perlu apa-apa, saya akan hubungi kamu. Selama itu, kamu jangan main jauh-jauh," Dean melepas kepergian Ryan dengan serentetan kalimat peringatan agar sekretarisnya itu tetap stand by.


Setibanya di depan pintu, Winarsih hanya menggeser kunci yang mengait begitu saja pada pintu dan dinding rumah. Tanpa gembok atau benda sejenisnya.


Sedikit heran Dean langsung bertanya,


"Loh nggak dikunci Win?"


"Nggak Pak, memang nggak pernah dikunci. Ya begitu saja," jawab Winarsih.


"Jadi selama ini, rumah ditinggalkan dengan pintu yang cuma terkait begitu aja?" tanya Dean lagi untuk meyakinkan dirinya.


"Iya,"


"Nggak ada yang ilang? nggak ada maling gitu?"


"Nggak ada yang ilang Pak, karena memang nggak ada yang bisa diambil di sini," ujar Winarsih santai sembari menggeret koper Dean yang masih terbengong menatap kunci di depan pintu.


"Ayo masuk Pak, ini rumah tempat dimana istrimu dibesarkan. Pak Dean harus betah di sini, karena kan mulai sekarang saya yang menanggung hidup Bapak. Jadi Pak Dean harus ikuti saya," Winarsih tersenyum simpul saat mengatakan hal itu.


Menyadari istrinya yang sudah mau bercanda, Dean menarik istrinya ke dalam pelukan.


"Sini, aku cium dulu. Aku nggak mau bibirku lupa rasanya,"


Dengan posisi yang masih berdiri di depan televisi rusak dan berpakaian lengkap hingga ke sepatu yang belum dilepaskan, Dean sudah mencium isterinya.


Langit baru saja gelap saat mereka tiba di rumah tadi, tapi Dean belum melepaskan isterinya dari pelukan.


Hatinya senang bukan kepalang saat merasakan gerakan bibir Winarsih yang sepertinya sudah lebih mahir menghadapi gigitan-gigitannya.


Hingga saat ciuman itu terlepas, Dean sedikit terengah-engah menatap sekelilingnya.


"Oohh, oke. Nanti kita tidur di mana?"


Winarsih tersenyum geli. Seperti biasa, Dean selalu khawatir soal lokasi tidur mereka.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2