
Dean masih menggenggam tangan Winarsih dan menatap gemas kepada wanita yang baru saja menjadi istrinya itu.
Dahi Winarsih yang selama ini selalu tertutup oleh poninya kini terlihat jelas karena seluruh rambut wanita itu tersisir rapi ke atas.
Hal itu membuat wajah oval wanita itu semakin terlihat sempurna bagi Dean.
"Aku nanya, ntar malem kita tidur di mana? Soalnya mama masih marah ke aku," ujar Dean meringis.
"Tidur ya?" tanya Winarsih.
"Iya. Tidur" ulang Dean.
"Tapi ini masih pagi Pak," jawab Winarsih polos.
"Iya, tapi rencananya kan boleh dari sekarang" jawab Dean lagi. Rasanya dia ingin tertawa karena kenorakan yang baru saja diucapkannya pada Winarsih.
"Pak," panggil Ryan tiba-tiba.
Entah sejak kapan sekretarisnya itu muncul di belakangnya.
Dean menoleh dengan wajah sedikit kesal.
"Apa sih Yan?" tanya Dean sebal.
"Urusan tidurnya nanti aja dibahas Pak, itu ibunya Winarsih jadinya gimana? Saya udah tanya tapi katanya emang nggak mau bermalam lagi di sini. Mau langsung pulang ke Jambi. Padahal udah saya bilang nginepnya di hotel. Bukan di sini," terang Ryan sambil mengarahkan pandangannya kepada Bu Sumi yang masih duduk rapi di kursinya.
"Oke, sebentar." Dean menggenggam tangan Winarsih dan mengajak wanita itu berdiri untuk menghampiri Ibunya.
"Win, ibu kamu saya minta untuk menginap lagi tapi nggak mau. Katanya mau langsung pulang. Gimana? Biasa naik apa ke Jambi?" tanya Dean pelan.
"Naik bus Pak, kalau berangkatnya pagi, biasanya tengah malam sudah sampai di Jambi" terang Winarsih.
"Bu," panggil Winarsih ketika mereka tiba di hadapan wanita itu.
"Bu, saya Dean. Sekarang saya suami Winarsih dan menantu ibu. Sekretaris saya bilang ibu mau langsung pulang. Bener begitu?" tanya Dean super hati-hati.
Dia benar-benar menjaga nada suara dan memilih kata-katanya.
"Iya Nak Dean, ibu harus segera pulang. Kasihan Yanto kalau terlalu lama dititipkan di rumah pakdenya. Juga pasti merepotkan, ibu nggak enak" jelas Bu Sumi.
"Kalo gitu, pulangnya naik pesawat aja ya Bu? Gimana? Biar ibu nggak terlalu lelah di perjalanan." Dean melontarkan sarannya.
Bu Sumi bertukar pandang lama dengan Winarsih seperti takut hendak menyampaikan sesuatu.
"Pak, ibu saya takut naik pesawat. Enggak pernah. Takut goyang-goyang di dalamnya. Ibu sudah terbiasa naik bus." Winarsih bicara setengah mendongak ke wajah Dean yang berada di sampingnya.
Dean hanya setengah saja berfokus dengan perkataan Winarsih. Setengah fokusnya kini berada di tangan kiri Winarsih yang memegang lengan atasnya dan berdiam di sana. Sedangkan tangan kanan wanita itu masih berada di dalam genggamannya.
Dean mengatupkan mulutnya seolah ingin menikmati sentuhan pertama yang dilakukan Winarsih saat mereka telah sah menjadi suami istri.
"Pak," ulang Winarsih lagi.
__ADS_1
Seperti tersadar Dean langsung berkata, "Nggak goyang-goyang Bu kalo pesawatnya besar. Nanti ada pegawai kantor saya yang bakal temani Ibu sampai ke Jambi. Ibu nggak usah takut. Percaya sama Dean kan?"
Kalimat terakhir yang baru diucapkan Dean berhasil membuat sebuah senyuman terukir di wajah Bu Sumi.
"Sebentar ya Win, saya bicara dengan Ryan dulu." Dean melepaskan genggaman tangannya pada Winarsih dan memberi kode agar Ryan mengikutinya.
"Ya Pak?" tanya Ryan saat mereka berada cukup jauh dari Winarsih dan Ibunya.
"Cari satu orang pegawai wanita untuk nganterin ibunya Winarsih sampe ke depan pintu rumahnya. Beli tiket pesawat kelas bisnis. Pesawat yang gede ya biar nggak goyang-goyang," perintah Dean setengah berbisik.
"Pesawat kan emang gede Pak," sergah Ryan.
"Iya, maksud gua maskapai yang jenis pesawatnya gede. Kalo Emirates atau Saudia ada rute Jakarta-Jambi elu beli itu. Ngerti lu? Mertua gua tuh. Kesan pertama harus impresif," ucap Dean masih berbisik kemudian menepuk bahu Ryan.
Ryan yang merasa terheran-heran mengangguk beberapa kali. Dia tak menyangka Dean yang jaimnya luar biasa itu ternyata bisa norak juga.
"Ya udah, urus segera" ucap Dean sembari pergi kembali menuju Winarsih yang kini duduk di sebelah ibunya.
"Dean, ibu mau pamit pulang. Ibu menitipkan Winarsih pada Dean. Didik dia sebaik-baiknya seperti seorang istri yang Dean inginkan. Kalau Winarsih berbuat salah, tegur dan ingatkan dia. Mungkin itu adalah kesalahan kami yang kurang baik mendidiknya. Kalau Winarsih bodoh, ajari dia. Karena kami orangtuanya nggak sanggup memberi pendidikan tinggi untuk dia. Ibu berharap Dean memaklumi segala kekurangannya sebagai seorang wanita yang berasal dari desa kecil." Bu Sumi berkata sambil menatap Dean lurus.
Sejenak Dean terkesima dengan hal paling bijaksana yang baru saja diucapkan oleh wanita tua yang berasal dari desa.
"Baik Bu, saya akan ingat apa yang Ibu ucapkan barusan. Nanti Ibu tunggu sebentar ya selama Ryan mengurus keberangkatan Ibu. Saya pamit sebentar nemuin teman-teman," ujar Dean setengah mengangguk kepada Bu Sumi.
Bu Sumi membalasnya dengan anggukan disertai senyum.
Dean langsung menuju ke arah tiga orang pria yang sedang berdiri melambai-lambaikan tangan kepadanya sejak tadi sambil memegang piring di depan meja buffet yang berisi menu sarapan pagi.
Tiga member Genk Duda Akut tampak sangat kelaparan karena mereka dengan tekun berbaris rapi dengan tubuh sangat rapat sambil mendekap piring di dada masing-masing.
"Kelaparan ya?" tanya Dean tergelak.
"Kurang pagi lu nikah! Kenapa nggak di sepertiga malam aja sekalian?" cecar Toni.
"Maunya gitu" balas Dean.
"Cieeee... Pengantin dadakannya dateng. Ganteng amat Mas Dean pake beskap," ejek Langit yang melihat kedatangan Dean.
"Iya dong, orang ganteng pake apa aja dan dari sudut mana aja tetep estetik." Dean kembali tergelak.
"Dari dulu gerakan bawah tanah lu emang luar biasa ya De. Cuma gua aja nih kayaknya yang belom bisa membuktikan keperkasaan," ujar Toni.
"Pokoknya tetep gua yang paling perkasa," balas Rio yang istrinya tengah hamil anak ketiga.
"Dean dong ah! Bukan elu!" ucap Langit.
"Sama-sama perkasa. Sama cepatnya, tapi beda jalur. Rio jalur KUA dulu, Dean jalur dalem duluan." Toni yang melontarkan joke tertawa terbahak-bahak.
"Anji**!" maki Dean sembari ikut tertawa.
"Pokoknya kami member Genk Duda Akut mengucapkan selamat kepada Pak Dean atas pernikahannya. Semoga menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Itu ucapan yang kita gabungin sekalian De, combo kayak demennya elu!"
__ADS_1
Mendengar perkataan Toni, Dean kembali memaki dan kemudian tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya.
Pernikahan amat sangat sederhana dan benar-benar dihadiri oleh orang terdekatnya itu malah terasa amat membahagiakan bagi dirinya.
Dari kejauhan matanya menatap Winarsih yang sedang mengobrol dengan Bu Sumi sambil sesekali melemparkan pandangan ke arahnya.
Ternyata wanita itu penasaran juga dengan hal yang sedang ditertawakannya bersama sahabat-sahabatnya itu. Dean gemas sekali dengan cara Winarsih yang masih terlihat takut-takut saat menatapnya.
*******
Bu Sumi berangkat pulang ke Jambi dengan menumpangi pesawat siang. Sesuai permintaan Dean pada sekretarisnya, bahwa ibu mertuanya diantar oleh seorang pegawai perempuan.
Dan Winarsih yang berpamitan dengan ibunya sesaat sebelum wanita itu bertolak ke airport, terlihat mengembangkan senyum lega.
Ruang keluarga telah dibersihkan menjadi ke bentuknya semula. Winarsih pamit pada Dean untuk kembali ke kamarnya sebentar.
Dean yang masih mengenakan beskap tampak sibuk dengan beberapa lembar kertas yang baru saja selesai ditandatangani dan diserahkannya pada Ryan.
"Ya udah lu cepat pergi beresin itu semua," perintah Dean.
"Sore juga belum Pak. Sabar," ujar Ryan membereskan kertas-kertas yang berada di tangannya.
"Diem lu," jawab Dean. "Eh Yan, entar kalo dia mau, gua kabarin lu ya..." sambung Dean lagi.
"Dia siapa?" tanya Ryan.
"Istri gua Yan...."
"Gitu dong." Ryan tergelak.
"Berisik lu! Ya udah, gua masuk dulu." Dean buru-buru masuk ke dalam.
Ketika tiba di depan pintu kamar Winarsih, Dean mengetuknya tiga kali. Tak berapa lama Winarsih muncul dengan kondisi make up utuh dan rambut yang masih digulung tapi telah berganti pakaian menjadi daster batiknya.
Dean melangkah masuk ke kamar Winarsih sambil menutup pintu perlahan-lahan di belakangnya.
Dean berdehem.
"Udah ganti baju rupanya," ucap Dean kemudian duduk di kursi meja rias yang berseberangan dengan Winarsih.
"Iya Pak, sesak. Kebayanya agak sempit" jawab Winarsih polos.
"Oh iya ya," balas Dean kemudian sesaat terdiam.
"Ntar malem nginep di hotel aja yuk," ajak Dean pada istrinya. Entah kenapa dia merasa wajahnya memerah saat mengatakan hal itu pada wanita yang sekarang telah sah menjadi istrinya.
"Pak, kalau malam ini tidur di sini saja boleh? Saya masih merasa kurang nyaman di luar," jawab Winarsih yang terlihat sungkan saat mengatakan itu.
"Oh tidur di sini? Boleh--boleh. Kenapa nggak boleh," tukas Dean cepat sambil melirik ke arah kaki tempat tidur kayu.
Sesaat Dean berpikir apa ranjang kayu itu cukup kuat untuk menanggung gerakannya nanti malam.
__ADS_1
To Be Continued.....
Jangan lupa likes dan comments yaaa...