CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
65. Rumah Hijau


__ADS_3

Kedua tangan Dean masih memegang lengan isterinya dengan pandangannya yang terlepas ke sekeliling ruangan.


Ruang tamu tempat mereka berdiri itu ukurannya sama dengan kamar Winarsih. 3x4 meter. Hanya sebuah lemari kayu berwarna coklat tua setinggi 1.5 meter dengan bagian tengah yang terisi sebuah televisi tabung 21 inchi. Lantai rumah itu tertutup selembar tikar plastik berwarna merah-hijau.


Dinding luar rumah yang terbuat dari tepas bambu yang dipenuhi celah, ternyata pada bagian dalamnya dinding itu ditutup oleh lembaran tripleks tipis yang dicat berwarna hijau. Hal itu membuat Dean bernafas lega. Dia tak bisa membayangkan jika celah-celah itu tak ditutup. Rumah Winarsih pasti akan selalu ramai pada malam hari.


Dominasi warna hijau rumah Winarsih mengingatkan Dean akan mushola sekolahnya dulu. Yang membedakan cuma di dinding rumah itu terpajang sebuah kalender bergambar model tak dikenal.


"Kamarnya cuma dua Pak, itu yang di depan, kamar saya dan Ibu, yang di belakang kamar Yanto. Kita tidur di kamar juga bisa kok," ajak Winarsih menggeret lengan suaminya.


Winarsih membuka kain penutup pintu yang juga berwarna hijau untuk menunjukkan kamarnya pada Dean. Saat melewati gawang pintu, puncak kepala Dean sedikit lagi menyentuh balok kayu.


"Gimana kalau di sini aja?" tanya Winarsih.


Dean melirik kaki ranjang. Kemudian,


"Kita tidur di depan tv aja. Gimana?" Dean balik bertanya.


"Di situ juga nggak apa-apa. Ya udah, saya mandi dulu ya Pak. Saya belum mandi sejak tiba kemarin malam,"


Winarsih kembali keluar berjongkok menuju tas pakaiannya. Setelah mengeluarkan selembar daster bermotif bunga kecil-kecil dan pakaian dalamnya, Winarsih mendongak menatap suaminya.


"Saya cuma bawa baju tidur daster ya Pak. Kalo pakai yang terlalu terbuka di sini, saya bisa bentol-bentol digigit nyamuk," ujar Winarsih sembari tersenyum.


Dean tersenyum simpul merona karena perkataan isterinya sangat menyiratkan isi kepalanya saat itu.


Setelah mengeluarkan perlengkapan mandinya, Winarsih beralih ke koper Dean yang belum dibuka. Dean melepas sepatunya kemudian duduk bersandar mengamati apa yang dikerjakan istrinya.


Winarsih membuka kopernya dan mengeluarkan sepasang piyama satin berwarna biru dongker dan sebuah boxer. Wajah wanita itu biasa saja saat memegang dan membalik-balik pakaian dalam itu.


Sedangkan Dean masih tersenyum-senyum larut dengan pikirannya sendiri.


"Saya mau mandi di luar, Pak Dean tunggu di sini aja ya," ujar Winarsih seraya bangkit.


"Eh-eh mandi di luar gimana maksudnya? emang kamar mandinya di mana?" tanya Dean sedikit terkejut kemudian ikut berdiri.


"Ya di luar. Beberapa meter dari dapur," ucap Winarsih.


"Ini udah malem, mandi di luar pula"

__ADS_1


"Saya gerah, nggak mungkin nggak mandi"


"Ya udah aku temenin. Ayo--" Dean menyentuh punggung isterinya yang berjalan menuju dapur.


Sesampainya di dapur itu, Winarsih meletakkan handuknya di sebuah kursi dan melepaskan kancing bajunya satu persatu.


Setelah menanggalkan pakaiannya, wanita itu mengambil sebuah kain yang tercantol pada paku dinding dapur dan menutupi bagian depan tubuhnya.


Dean ternganga melihat hal yang dilakukan isterinya.


"Emang mandinya di tempat gimana kok mesti pakai itu?" tanya Dean menunjuk sebuah kain yang telah melilit tubuh isterinya.


"Ya udah di liat sendiri aja," Winarsih kemudian menyampirkan handuk ke bahunya dan memakai sepasang sandal untuk menuju ke luar dapur.


Halaman belakang dapur itu gelap gulita. Tapi kemudian Winarsih menyambungkan sebuah colokan di dinding luar yang membuat halaman itu seketika terang benderang.


"Enggak menyeramkan kok Pak," ujar Winarsih yang lagi-lagi menjawab pertanyaan yang tak sempat dilontarkannya.


Beberapa meter dari dapur itu berdiri sebuah dua bangunan kecil tanpa atap yang bersebelahan. Winarsih melangkah masuk ke balik tembok yang berada di sisi kiri.


Tinggi tembok itu hanya tinggi bahu Dean. Dan saat ini, Dean dengan mudah melongokkan kepalanya ke dalam.


"Iya Pak, jadi mau mandi di mana lagi?" tanya Winarsih polos.


"Di dekat sini rumah tetangganya berjauhan kok," sambung Winarsih lagi.


"Aku ikut masuk, buka pintunya" Dean mengetuk pintu kayu yang tertutup.


"Masuk aja nggak dikunci kok," seru Winarsih yang mencampakkan sebuah timba ke dalam sumur.


"Jangan bilang pintu kamar mandi ini juga nggak ada kuncinya karna nggak ada yang bisa diambil dari sini," omel Dean sembari mendorong pintu.


"Nggak dikunci karna Pak Dean kan berdiri di luar," Winarsih terkekeh mendengar kepanikan dalam suara suaminya.


"Itu kamu mau ngapain lagi?" Dean mendekati isterinya yang menunduk di atas sebuah sumur yang bagian tengahnya dibatasi dinding untuk membagi sumur dengan WC di sebelahnya.


"Nimba air Pak, di sini nggak ada keran. Jadi airnya harus di timba," ujar Winarsih tanpa menoleh.


"Aduh--aduh. Anakku-isteriku. Udah kamu minggir dulu ke sebelah sana. Biar aku aja yang nimba airnya. Besok pagi-pagi banget aku harus manggil Ryan ke sini. Kamu ngga boleh nimba-nimba air begini lagi," Dean mulai menggerakkan tali timba ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Winarsih menunggu suaminya mengisi ember yang teronggok dekat kakinya dengan sabar. Meski memakan waktu yang cukup lama karena Dean mungkin baru kali pertama dalam hidupnya menimba air, Winarsih tak mau menyela suaminya itu.


Winarsih berdiri di pojok kamar mandi memperhatikan tubuh Dean yang begitu tinggi dan pakaian yang sangat kontras dengan keadaan kamar mandi rumah mereka.


Setelah ember penuh, Dean berbalik menatap isterinya.


"Ya udah mandi, atau kita mandi sama-sama sekarang?" seloroh Dean yang dahinya kini terlihat peluh.


Winarsih berjongkok dan mulai membasahi tubuhnya tak jauh dari sepasang kaki Dean yang brdiri dengan kedua tangan berada di saku celananya.


Mata pria itu tak lepas dari lilitan kain yang membalut tiap lekuk tubuh Winarsih. Tanpa disadari, Dean menelan ludah saat matanya menjalari tiap tonjolan di tubuh isterinya.


"Win, aku mandinya besok pagi aja ya," ujar Dean tiba-tiba.


"Eh? kenapa? Pak Dean nggak gerah apa? seharian di jalan," jawab Winarsih sembari membuka simpulan kainnya dan meraba pengait br*a-nya.


"Gelap win,"


"Kan masih keliatan, cahaya lampu dari halaman belakang sampai kok ke sini," Winarsih masih memegangi kain basah di depan tubuhnya, kemudian mulai melepaskan br*a-nya yang basah.


"Dingin Win," jawab Dean dengan mata yang sedang menatap dua puncak dada isterinya yang menonjol dari balik kain.


"Engga dingin kok Pak, malah seger" ujar Winarsih lagi sembari kembali menyiramkan segayung air.


"Win, kita belom pernah mandi bareng ya"


"Eh? mau mandi bareng sekarang?" tanya Winarsih yang menurut Dean menjadi lebih ceriwis sejak tiba di rumahnya.


"Engga, engga sekarang. Sekarang aku mau kamu cepat mandinya. Aku udah ngantuk, pengen tidur"


Dean hanya ingin istrinya itu cepat-cepat menyelesaikan mandinya.


To Be Continued.......


Partnya aku bagi dua ya,


Next Up segera :*


Jangan lupa jejaksnya guys

__ADS_1


__ADS_2