
Saat Winarsih menghempas tangan Disty yang akan menampar Dean, dia tak menyangka seorang pembantu yang sejak tadi hanya duduk diam mendengar seluruh makiannya kepada Dean tiba-tiba berdiri menepis tangannya.
Sejenak Disty terdiam saat Dean dan Winarsih pergi meninggalkannya. Dengan suara tangis tertahan dia meraih ponselnya dan mengirimkan foto-foto yang tadi dijepretnya kepada Bu Amalia, Mama Dean.
Beserta sebuah tambahan video saat Dean yang setengah sadar dengan kancing kemejanya yang terbuka dan sedang menciumi lehernya.
Dia ingin wanita tua itu gonjang-ganjing.
Disty tak mau tahu. Pernikahan itu harus terjadi. Apapun statusnya. Dia harus meminta apa yang menjadi tujuannya. Dean dan perempuan itu tak boleh hidup tenang. Dan perempuan itu, harus tersakiti.
Lama, tak ada balasan dari pesan-pesan yang dikirimkan Disty kepada Bu Amalia.
Dalam perjalanan pulang, Disty meninggalkan outlet sepatu itu dengan tangisan yang tak bisa dicegahnya.
Hatinya terasa sangat hancur. Segala cara sudah dicobanya agar Dean menjadi miliknya. Bahkan dia sudah memohon-mohon kepada Dennis Atmaja yang telah lama membiayai hidupnya untuk membantunya menghancurkan Keluarga Hartono jika Dean menolaknya.
Sekarang dia bertemu dengan Dean dan seorang wanita yang dikenali Disty sebagai pembantu di rumah pria itu.
Kenapa wanita itu bisa hamil anak Dean? Bahkan perut wanita itu sudah membesar.
Apa selama mereka menjalin hubungan Dean telah berselingkuh darinya dan diam-diam selalu meniduri pembantunya itu?
Dasar laki-laki munafik!
Disty memukuli setir mobilnya berulangkali di dalam perjalanan. Dia ingin menyakiti Dean agar pria itu tak bisa melupakannya. Dean tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Dean harus kembali padanya. Dia harus membuat pria itu kembali menatapnya seperti dulu. Dean harus kembali mencarinya. Membayangkan Dean yang mengelus perut pembantu itu semakin membuat dadanya meledak.
"Laki-laki berengsek!!! Berengseeekk!!" teriak Disty kemudian menangis meraung-raung.
"Aku cuma mau bahagia dengan kamu De, aku pengen kamu jadi ayah anak-anakku," ucap Disty di sela-sela tangisnya.
Siapapun pasti akan menyalahkan caranya yang salah dalam mencintai.
Disty yang jatuh cinta pandangan pertama pada Dean tak bisa menolak pesona pria itu. Meski sebenarnya saat itu Dia adalah seorang wanita yang menghambakan tubuhnya kepada Dennis Atmaja demi kehidupan mewah luar biasa yang diinginkannya.
Tapi Disty tak bisa menolak cinta yang datang kepadanya tiba-tiba. Saat itu ia harus memohon kepada Dennis Atmaja untuk membiarkannya memiliki cinta untuk masa depannya.
Dennis Atmaja mengizinkan, tapi tak pernah benar-benar melepasnya. Disty merasa Dean akan sanggup memenuhi semua kebutuhan masa depannya sampai-- sampai laki-laki itu mengira dirinya masih perawan.
Dan kini, Disty kembali lagi kepada Dennis Atmaja untuk memohon kepada pria tua itu untuk menghancurkan Keluarga Hartono.
__ADS_1
Kemungkinan besar, Keluarga Hartono yang menurutnya bodoh itu, tidak mengetahui rencananya.
Menghancurkan Keluarga Hartono dengan masih berharap agar Dean jatuh cinta lagi kepadanya.
Dan malam itu, setelah Disty menghancurkan beberapa barang di apartemennya untuk meredakan amarah, Bu Amalia membalas pesannya.
Istri menteri itu menyampaikan, bahwa Dean tidak mau menikahinya. Wanita tua bodoh itu tak berhasil meyakinkan anaknya akan resiko yang akan mereka terima.
Tapi wanita tua itu tetap menjanjikan bahwa Disty akan tinggal di rumahnya setelah resepsi itu terjadi. Bu Amalia memintanya bersabar dan berusaha untuk mengejar cinta anaknya.
Hanya itu yang dikatakan wanita tua itu. Enak saja. Disty merasa tak cukup. Hal itu terlalu mudah untuk Dean.
Dia harus segera mengirim pesan kepada Dean untuk segera bertemu dengannya empat mata. Hanya mereka berdua.
Dan tak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Dean tidak menghindar. Pria itu meminta Disty datang ke kantornya.
*******
Dean berbaring di sebelah istrinya masih tak memakai apapun. Sekarang Dean memahami apa fungsi lingerie yang hampir tak memiliki fungsi selain untuk cepat-cepat dilepaskan.
"Entar lagi dong Bu, kalo aku masih pengen gimana? Kamu 'kan tau kalau aku tuh sukanya dua kali. Repot tau kalo harus buka-buka semuanya lagi. Aku mau istirahat sebentar tarik nafas. Kecuali kalo kamu mau tuker posisi di atas. Aku udah siap sekarang," Dean kembali memeluk istrinya.
"Ha? Di atas bagaimana Pak?" tanya Winarsih dengan wajah bingung. Pikirannya sudah berkelana tentang hal aneh yang baru saja dikatakan suaminya.
Winarsih memang tak memiliki bayangan tentang hal itu.
"Mau tau? Sini biar aku ajarin," Dean menyingkap selimutnya.
Kemudian dengan sangat hati-hati tangannya menuntun Winarsih untuk mulai naik ke atas tubuhnya. Dean kembali menyatukan dirinya dengan Winarsih. Dan sesuai ekspektasi Dean selama ini, pemandangan dari tempatnya berbaring sangatlah indah. Gerakan berayun itu membuat semuanya ikut bergerak.
Dengan patuh Winarsih mengikuti gerakan suaminya hingga Dean kembali berhenti dan mengerang.
Melihat raut wajah Winarsih yang masih duduk di atasnya, Dean bertanya. "Enak Bu?"
Winarsih hanya diam mengatupkan mulut kemudian beringsut turun dan kembali ikut berbaring di sebelah suaminya.
"Kalo Bu Winar diem aja berarti jawabannya sih yes," sambung Dean lagi.
__ADS_1
Melihat wajah istrinya yang terlihat sangat lelah, Dean menarik selimut dan kembali menutupi tubuh Winarsih.
"Capek ya Bu? Aku mau minta tolong lagi sama kamu," ujar Dean seraya bangkit dengan tubuh telanjangnya menuju ke sebuah lemari besar. Lalu tak lama Dean telah kembali dengan sebuah selimut di tangannya.
Winarsih yang melihat Dean dengan santainya berjalan ke sana kemari, tak mau berlama-lama menatap pria itu. Dia khawatir Dean akan kembali memintanya melakukan gaya baru.
Lewat tengah malam itu Winarsih sudah cukup lelah. Dia hanya ingin tidur, karena anak di dalam kandungannya pun kini tampaknya juga telah tertidur.
"Ini Win, selimut ini masih aku simpan. Ada noda kamu di sini. Aku ngerasa bersalah dan takut sampe ngga berani untuk ngeluarinnya dari lemari," ucap Dean sembari menyodorkan selimut itu ke atas Winarsih.
"Maafin aku ya Win," sambung Dean.
"Ya udah Pak. Udah lewat. Saya udah maafin. Jadi ini dikasi ke saya biar saya yang cuci gitu?" tanya Winarsih menatap suaminya.
"Ha? Engga gitu--maksudnya...." Dean salah tingkah.
Winarsih tertawa. Dean terdiam sesaat kemudian ikut tertawa. Ternyata Winarsih bisa bercanda juga.
Tak berapa lama, Dean telah kembali berbaring memeluk istrinya.
"Win, kamu denger kan apa kata Disty sewaktu kita ketemu dia di toko sepatu itu?" tanya Dean hati-hati.
"Iya--saya denger."
"Bagian yang dia ngucapin---kalo kami udah, aku cuma mau bilang ke kamu, aku nggak pernah ngelakuin hal begini sama siapapun. Sampe malam itu aku mabuk dan kita-- aku maksudnya." Susah payah Dean memilih kata-kata untuk menjelaskan salah satu hal yang dikhawatirkannya sejak tadi pada Winarsih.
"Saya ngerti Pak," jawab Winarsih dengan mata mengantuk.
"Iya, emang gak pernah. Sekalinya pernah langsung keliatan hasilnya."
"Hmmm," gumam Winarsih setengah tertidur.
"Karena gak pernah juga makanya aku jadi pengen sering-sering--Bu Winar--udah tidur ya?" Dean menunduk melihat wajah istrinya yang sudah tertidur pulas.
Dean tersenyum kemudian mengecup pipi istrinya. Ia mengusap perut yang hanya tertutup selebar selimut itu.
To Be Continued.......
__ADS_1