CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
62. Tunggu Aku di Kotamu


__ADS_3

Setelah menendang cover Disty hingga tiba di lantai dasar, Dean masuk ke kamarnya dan segera mengemasi beberapa pakaian kemudian berbaring di ranjangnya.


Dia sudah mencoba menghubungi nomor ponsel isterinya sejak tadi. Tapi nomor itu sedang dalam keadaan tidak aktif. Dean menebak pastilah ponsel isterinya itu belum sempat diisi baterai sejak tiba di rumah sakit.


Dean sudah menggulir daftar nama kontak di ponselnya berniat menghubungi Novi, tapi ketika melirik jam dinding saat itu sudah menunjukkan hampir pukul satu pagi, Dean kembali meletakkan ponselnya. Dia berpikir jika isterinya itu mungkin sudah tidur.


Saat ini dia merindukan Winarsih. Dia ingin melihat istrinya itu, ingin memandang sorot mata yang selalu memandangnya teduh.


Teringat sesuatu yang pernah dilakukannya, Dean kembali membuka ponsel dan menggulir layar mencari satu kotak bertuliskan 'gallery'.


Dengan satu sentuhan jarinya, Dean sekarang sedang menonton sebuah video singkat yang menampilkan dirinya yang sedang mencium Winarsih dengan sangat intim.


Dean menghela nafas panjang dan berat. Dia rindu istrinya yang polos itu.


Sudah nyaris pagi, tapi matanya tak juga mengantuk meski badannya lelah.


Jika Disty memasuki rumahnya dengan cara licik, memanfaatkan ibunya yang naif dan terlalu sayang akan nama baiknya di dunia, maka Dean berniat akan mengajarkan satu hal penting pada mantan kekasihnya itu.


Sudah saatnya Disty melupakan soal masa lalu mereka.


Dean sudah tak peduli lagi dengan ancaman-ancaman wanita itu. Mulai sekarang dia akan berbuat sesuai apa yang diinginkannya. Meski dia harus bertaruh dengan kebahagiaan keluarga kecilnya.


Karena Dean percaya satu ungkapan, hidup yang tak pernah pertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.


Dean ingin melihat, siapa yang lebih kuat bertahan. Disty atau isterinya.


**********


Malam itu, Winarsih tidur bersandar bersama Ibunya di sebuah bangku panjang di luar lorong ruang ICU.


Saat ini Yanto memakai layanan kesehatan masyarakat kurang mampu yang diberikan pemerintah secara gratis..


Setelah puas menangis tadi, Bu Sumi tertidur dengan bersandarkan bahu Winarsih. Kedua wanita itu saling menyandarkan kepala. Tak jauh dari tempat mereka Novi tidur dengan menyandarkan kepalanya pada dinding.


Winarsih telah memaksa wanita itu untuk pergi beristirahat ke hotel karena sekarang sudah merasa aman bersama Ibunya. Lagipula Winarsih sungkan jika harus terus-terusan merepotkan wanita itu.


Tapi lagi-lagi Novi menolak dan bersikeras untuk tetap berada di rumah sakit itu. Sebelum wanita itu jatuh tertidur, dia mengatakan bahwa besok pagi-pagi sekali akan mengajak Winarsih untuk menemui dokter.


Pikiran Winarsih yang sedang kalut melihat keadaan Yanto yang terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen dimulutnya, sedikit mengalihkan pikirannya dari resepsi Dean malam itu.


Hampir pukul satu pagi, matanya terkantuk-kantuk tapi perutnya sangat lapar.


Winarsih mencoba memejamkan matanya agar cepat melalui langit gelap saat itu.


**********


"Bu, Bu Winar" Novi menyentuh tangan Winarsih yang teronggok di atas pangkuannya.


Winarsih langsung membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Bu Sumi sedang tak kelihatan. Wanita tua itu mungkin sedang berada di toilet untuk membersihkan diri atau berganti pakaian.


"Ya Mba Novi," sahut Winarsih masih mengerjapkan mata dengan mata lelah. Ternyata lorong rumah sakit itu telah ramai dengan orang yang lalu-lalang.


"Yanto membuka matanya Bu," lapor Novi pada Winarsih.

__ADS_1


"Ha? Yanto membuka matanya?" setengah terlonjak Winarsih berdiri.


"Iya Bu, sekarang sedang diperiksa oleh dokter. Bu Sumi sedang berada di kamar mandi yang letaknya agak jauh di ujung sana. Waktu Yanto sadar tadi, saya langsung memanggil dokter. Bu Winar tunggu di sini aja dulu,"


Tak berapa kemudian, dari kejauhan terlihat Bu Sumi yang datang mendekat ke arah mereka dengan menenteng sebuah bungkusan plastik kresek.


"Ibu dari mana? Mbak Novi bilang, Yanto baru saja membuka matanya," Winarsih berlari kecil menyongsong ibunya.


"Jangan lari-lari Win," pekik Ibunya.


"Yanto membuka matanya Bu! Yanto bangun! Mungkin Yanto kangen Winar ya Bu," Winarsih kembali terisak.


"Mungkin Win, mungkin saja. Ibu kan nggak pernah tau. Yanto enggak bisa ngomong apa yang dirasakannya. Sesekali dia memang menanyakan tentang kamu,"


Bu Sumi kembali berdiri di depan dinding kaca dan melihat ke arah dokter yang sedang memeriksa Yanto.


Dari luar dinding kaca memang terlihat Yanto sudah menoleh ke kiri dan ke kanan seolah sedang mencari ibunya.


"Tunggu sebentar lagi ya Bu, sebentar lagi mungkin dokter sudah selesai memeriksa. Yanto bisa dijenguk ke dalam," ujar Novi yang kini berdiri di sebelah mereka.


Sesaat kemudian, terlihat dokter melipat stetoskopnya dan memasukkannya ke saku jas. Tampaknya Yanto telah selesai diperiksa.


Tak sabar menunggu, Winarsih menarik ibunya hingga ke depan pintu ruang ICU.


"Bagaimana Dok? Apa anak saya akan sehat kembali?" Bu Sumi langsung melontarkan pertanyaan.


"Begini Bu, sekarang kan Yanto sudah sadar, dan bisa saya pastikan kondisinya stabil. Tapi berhubung penyakit jantung Yanto ini adalah penyakit bawaan, sebenarnya dia sudah harus dioperasi sewaktu masih kecil. Untuk meminimalkan resiko penyakit yang memang pasti turut di bawa oleh kelainan kromosom-nya,"


"Tindakan yang sekarang ini pada dasarnya bersifat sementara. Suatu hari nanti, cepat atau lambat Yanto tetap membutuhkan operasi. Obat-obatan yang dikonsumsi pun hanya bersifat sementara," terang Dokter yang masih berdiri di depan pintu sesekali menoleh ke belakang untuk melihat Yanto.


"Gratis Bu, masih gratis. Tapi nama saudara ibu akan masuk ke dalam daftar antrian. Operasi jantung itu yang ngantri banyak sekali. Dalam satu hari bisa dilakukan sebanyak 2 sampai 3 kali operasi jantung di sini," jawab Dokter pria itu.


"Masa tunggunya kira-kira sampai berapa lama ya Dok dalam antrian itu?" tanya Winarsih lagi.


"Masa tunggu pasien operasi jantung kira-kira bisa 6 bulan sampai 1 tahun,"


"Wah lama ternyata," gumam Winarsih. Dia tak yakin adiknya mampu menunggu selama itu.


"Kalau tagihannya bayar sendiri, berapa biaya operasi ini Dok?" tanya Winarsih lagi.


"Biaya operasi VSD (Ventricular Septal Defect) sekitar 100 sampai 250 juta"


Winarsih tampak lesu dan mengakhiri pertanyaannya. Dokter tadi pergi setelah mengatakan bahwa sebelum jam makan siang nanti, Yanto akan secepatnya dipindahkan ke ruang rawat karena ruang ICU itu akan dipergunakan oleh pasien baru.


**********


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang tapi Yanto belum juga dipindahkan. Novi telah membelikannya sekotak makan siang yang langsung habis disantapnya hingga tak bersisa.


Tubuhnya sangat lelah, tapi rasanya tak sanggup jika harus meninggalkan Yanto dengan nasib yang belum jelas.


Winarsih duduk menyandarkan kepalanya ke dinding dengan posisi tubuh menyerong, menghadap bilik kaca tempat di mana Yanto berada. Saat ini ibunya sedang berada di dalam, mencoba mengajak bicara remaja laki-laki itu.


"Bu Winar, ini ponselnya sudah saya isi baterai dan saya nyalakan," ucap Novi yang berdiri di sebelah Winarsih.

__ADS_1


"Terima kasih ya Mbak Novi, saya sampai lupa punya benda ini," Winarsih mengulurkan tangan menerima ponselnya.


Dengan wajah lesu Winarsih mengusap layar ponselnya dan membuka aplikasi pesan.


84 pesan belum dibaca. Semuanya dari Dean.


Win, kamu di mana?


Sudah sampai?


Gimana keadaan Yanto?


Kamu sudah makan?


Win...


Malam ini tidur di mana?


Ibu kamu sehat?


Bu Winar jangan banyak nangis ya,


Win, sudah tidur ya?


Bayi kita gimana? Hari ini nggak ngerepotin Ibunya kan?


Bu Winar, aku kangen kamu.


Winarsih membaca perlahan satu-persatu pesan itu seolah khawatir deretan kalimat itu akan cepat habis dan terlalu sedikit.


Tak terasa air matanya menetes membaca deretan pesan dari Dean.


Bu Winar sudah sarapan?


Ponselnya mati ya?


Win, tunggu aku ya


Jangan ke mana-mana. Kita urus Yanto sama-sama


Winarsih kembali menghapus air matanya.


"Bu... aku udah nyampe" bisik Dean di telinga isterinya.


Dia baru tiba sesaat yang lalu dan telah berada di sebelah isterinya yang sedang tekun membaca rentetan pesan darinya.


Winarsih langsung berbalik dan memeluk leher suaminya.


"Kangen kamu Bu..." gumam Dean seraya menciumi kepala isterinya.


Novi yang sedang duduk tak jauh dari tempat itu, tampak tersenyum melihat Atasannya yang ternyata bisa berlaku sangat manis terhadap wanita sederhana yang ditemaninya semalaman tadi.


To Be Continued.....

__ADS_1


Sorry for late update guys...


Maklum, penulis paruh waktu :D


__ADS_2