
Dokter Firza yang malam itu baru saja menyelesaikan sebuah operasi dan bersiap-siap untuk pulang, kembali menerima telepon dari perawat UGD yang mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada pasien kecelakaan lalu lintas dengan sebuah luka tusuk yang sedang menuju rumah sakit mereka.
Dokter Firza yang telah melepaskan seragam operasinya kembali berlari ke luar ruangan dan menuju lift.
Saat tiba di UGD, dia menemukan Pasien laki-laki dewasa dengan luka tusuk di perut kirinya masuk dalam kondisi setengah sadar.
Meski pasien kehilangan banyak darah karena luka tusuk yang cukup dalam, kondisi pasien dalam keadaan sadar.
Dokter Firza sedang menggunting seluruh pakaian pasien untuk melihat kondisi luka tusuknya saat mendengar pasien laki-laki itu mengerang menyebutkan sesuatu.
Sembari memanggil pasien agar tetap sadar, Dokter Firza menangkap percakapan keluarga pasien di luar tirai yang cukup mengganggu telinganya.
Pasien laki-laki yang sedang diperiksanya dengan mesin USG terlihat bereaksi dan kembali mengerang saat suara seorang Ibu-Ibu terdengar meneriaki sesuatu.
"Win," lirihan yang kembali terdengar dari pasiennya.
Selesai meletakkan kamera USG ke tempatnya, tangan Dokter Firza menyibak tirai penutup sedikit untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar.
Pandangannya tertumbuk pada seorang pria tua yang sering dilihatnya tampil di televisi. Pasien yang sedang ditanganinya ini, anak seorang Menteri rupanya. Dokter Firza melirik pasiennya yang kembali mengerang.
Kemudian pandangannya beralih kepada seorang wanita yang sedang menghardik dan menunjuk-nunjuk seorang wanita yang tengah hamil besar.
Saat mencuri dengar percakapan yang harusnya tak didengarnya itu, Dokter Firza langsung memahami situasi yang sedang terjadi.
Sebagai seorang Dokter, dia ingin pasiennya dalam kondisi sadar saat memasuki ruang operasinya sesaat lagi.
Jelas bahwa pasiennya kini tengah menanti kehadiran seseorang yang ingin ditemuinya segera. Sedikit haru Dokter Firza melihat seraut wajah wanita yang sedang memucat, sejak tadi berdiri memegang perutnya dan menatap tirai tempat suaminya berbaring.
Lagipula, suara Ibu yang sejak tadi hanya marah-marah, sedikit mengganggu suasana UGD di tengah malam itu.
"Bu Winarsih!" panggil Dokter Firza pada wanita itu.
"Mari masuk, Bapaknya dari tadi manggilin terus ini" serunya lagi pada wanita hamil itu.
Dokter Firza hanya membayangkan jika isterinya yang sedang berada dalam posisi wanita itu. Jadi dengan sok tahunya, dia merasa harus mempertemukan sepasang suami-istri itu sebelum Sang Suami didorong ke dalam ruang operasi.
Meski dengan wajah was-was seraya mengedarkan pandangannya kepada sepasang mata seorang ibu yang menatapnya dengan raut kesal, isteri pasiennya itu melangkah memasuki tirai yang disibakkannya.
**********
Winarsih melangkah memasuki tirai yang disibakkan Dokter untuknya.
Matanya tertuju pada Dean yang seperti saja baru jatuh pada genangan darah. Setelan jas dengan kemeja biru muda yang pagi tadi dikenakannya begitu rapi kini tampak amburadul.
Winarsih mengingat irisan bawamg dan sayur yang telah disiapkannya untuk memasak mie kuah permintaan Dean malam itu.
__ADS_1
Tubuh suaminya sudah terbuka sepenuhnya dan bagian perut kiri bawahnya sudah ditempeli kasa steril sebagai penutup sementara.
"Sebentar lagi masuk ruang operasi ya Bu. Bapaknya bisa diajak ngomong biar tetap sadar," ujar dr. Firza yang berdiri tak jauh dari mereka sedang mengotak-atik mesin infus.
"Saya pergi siap-siap di ruang steril ya, nanti Bapaknya langsung di bawa ke OK ama perawat. Ibunya kasi semangat ya," tutur dr. Firza seraya tersenyum kemudian ke luar meninggalkan mereka.
Dean terlihat memejamkan matanya saat Winarsih datang mendekat.
"Pak," panggil Winarsih menggenggam tangan kanan Dean yang berada di atas dada.
Tangan kiri pria itu terlihat berselimutkan darah kering karena menahan lukanya di perut kiri cukup lama.
Dean yang mendengar suara Winarsih di telinganya membuka mata perlahan.
"Hei, Love! aku kangen," lirih Dean menatap wajah isterinya yang sedang menahan tangis.
Bibir Winarsih bergetar dan langsung terisak.
"Saya takut, saya kira--" Winarsih tercekat tak bisa meneruskan kata-katanya.
"Bu Win, aku buru-buru pergi ke rumah sakit untuk kamu dan anakmu itu. Aku udah nggak apa-apa. Jangan tangisi aku, aku belum mati," erang Dean pada isterinya yang telah merunduk membenamkan wajah ke sisi kanan kepalanya.
Tubuh Winarsih berguncang melepas tangisnya.
"Bu Winar--" erang Dean lagi seraya memejam. Tangannya mencoba menyentuh kepala isterinya.
Kepala Winarsih terangkat memandang tirai yang telah dibuka sepenuhnya. Beberapa pasang mata tengah menantikan ranjang Dean didorong menuju ruang operasi.
Semua mata sedang tertuju pada Dean saat itu, termasuk Bu Amalia yang tak lepas memandang anaknya tapi tak mau mendekati ranjang itu karena Winarsih yang berada di sisi Dean sejak tadi.
Tanpa mempedulikan semua orang yang berada di sekitar sana, Winarsih kembali menunduk untuk berbisik ke telinga suaminya.
"Pak Dean harus segera sembuh kita belum belanja pakaian bayi," ucap Winarsih meraih tangan kanan Dean dan mengecup punggung tangan itu.
Dean tersenyum seraya meringis menatap isterinya, "Nanti kita beli yang banyak untuk anakmu Bu."
Winarsih menegakkan tubuh dan merapikan rambut Dean yang menutupi dahinya. Meski dalam keadaan paling kacau sekalipun, Dean harus tetap tampan. Begitulah yang pasti diinginkan suaminya.
Dua orang perawat mendorong ranjang Dean dan menyeret mesin infus melewati beberapa orang yang sedang menunggunya sejak tadi.
Winarsih berdiri memberi jarak pada Bu Amalia yang pasti tak mau berdekatan dengannya saat melihat Dean.
Saat melihat wanita yang melahirkannya menangis di dekat ranjangnya, Dean terlihat mengangguk dan mengatakan "Nggak apa-apa". Winarsih tersenyum beberapa langkah di belakang ranjang itu.
Winarsih bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana perasaan Bu Amalia yang melihat Dean terbaring kesakitan.
__ADS_1
"Operasinya mungkin sedikit lama, jadi keluarga bisa menunggu di tempat yang nyaman," ujar salah seorang perawat yang memegang kepala ranjang Dean.
"Sudah malam, kondisi Dean stabil kok. Mama bisa pulang dengan Noto," perintah Pak Hartono pada isterinya.
"Enggak! Mama mau nunggu sampai Dean selesai dioperasi Pa," ujar Bu Amalia.
"Nanti kamu sakit Ma," tukas pak Hartono lagi.
Bu Amalia dan Pak Hartono menjajari ranjang Dean yang sedang didorong menuju lift.
Winarsih menjaga jarak beberapa langkah dari mereka dengan Novi yang berada di sisinya.
"Ini sudah lewat tengah malam. Sudah dini hari. Atau Winarsih saja yang pulang, biar diantar oleh Irman. Nggak baik untuk kesehatannya," ujar Pak Hartono seraya menoleh ke belakang mencari Irman yang berdiri jauh dari mereka.
"Pa--" erang Dean yang ranjangnya telah tiba di mulut lift.
"Ya?" sahut Pak Hartono yang mendengar anaknya berbicara.
"Nggak boleh. Winarsih nggak boleh dianter Irman. Winarsih nggak boleh pergi. Harus di sini sampai Dean selesai operasi," gumam Dean pelan namun suaranya terdengar hingga ke tempat Winarsih berdiri.
Pak Hartono memandang anak dan menantunya bergantian. Pria tua itu menghela nafas panjang, kemudian melirik isterinya.
"Sama juga kok. Ibu dan anak sama keras kepalanya," ujar Pak Hartono bersamaan dengan masuknya ranjang Dean ke dalam lift.
To Be Continued.....
PS.
Maaf untuk beberapa pembaca yang merasa kurang nyaman dengan cara penuturan cerita saya yang dianggap mengulang cerita.
Saya ingin menjelaskan, bahwa tujuan saya itu untuk menyampaikan kejadian yang dialami tiap tokoh dalam satu waktu dengan terpisah tanpa menyertakan POV A Dan POV B.
Saya ingin pembaca mengerti apa yang dirasakan tiap tokoh dari sudut pandangnya masing-masing pada satu scene tertentu yang saya anggap penting.
Misalnya, yang dialami Si A saat Si B sedang mengalami ini, sampai Si A Dan Si B bertemu dalam scene yang sama.
Kalau yang sudah biasa baca karya saya sejak dulu, pasti mengerti kalau saya selalu pakai alur bertahap yang nggak terburu-buru mengeksekusi satu kejadian.
Pusing ya? jangan.
Saya rasa setiap penulis punya ciri khasnya masing-masing. Jangan sampai pusing karena membaca sebuah cerita. Karena tujuan cerita itu untuk dinikmati XD
Kalo rame, saya up satu lagi segera :*
Tak lupa makasi banyak-banyak yang udah suka Dean-Winarsih :*
__ADS_1
Btw, Grup Chatku udah dibuatin Admin NT. Klik Profilku yaa.. :*