CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
77. Get Out of My House


__ADS_3

"Saya udah ada janji ketemu dengan nyonya rumah ini," ujar Disty pada seorang wanita yang berdiri menghalanginya di dekat pintu ruang keluarga.


"Udah, nggak apa-apa. Kamu tinggalkan aja saya. Nanti saya panggil lagi," perintah Bu Amalia pada seorang wanita yang merupakan Asisten pribadinya.


Bu Amalia memastikan Asistennya benar-benar pergi, kemudian pandangannya terangkat ke arah Disty yang mengetuk-ngetuk lantai dengan heelsnya.


"Ternyata semua nggak satu pun yang terjadi sesuai dengan keinginan saya dan rencana anda," ucap Disty menuju tempat di mana Bu Amalia berada.


"Saya udah ngikutin semua yang kamu minta agar kamu nggak terus ngerecokin keluarga saya," jawab Bu Amalia.


"Harusnya ibu bisa mengatur anak Ibu!." Teriakan Disty menjalar hingga ke ruangan belakang.


"Kamu kira cuma kamu yang ngerasa dirugikan di sini?" tanya Bu Amalia masih dari tempatnya duduk.


"Saya selalu ngedapetin apa yang saya mau!" seru Disty yang kini berada di depan Bu Amalia.


"Ada apa pagi-pagi lu udah cari ribut di rumah orang? laper? mau minta makan?." Dean berdiri di bawah gawang pintu dengan kedua tangan berada di sakunya.


"Mana pembantu lu yang sok bijak itu?" tanya Disty mengalihkan pandangannya pada Dean.


"Gua tanya ama lu, ada perlu apa ke rumah orang pagi-pagi? makin nggak punya malu ya lu sekarang!" sinis Dean pada Disty yang terlihat menampilkan gurat amarah di wajahnya.


"Mau pakai cara terakhir yang lu andelin itu? mau pakai untuk fitnah gua? Dennis Atmaja udah tau keadaan lu nggak?" tanya Dean sembari melangkah mendekati Disty.


"Berengsek!!" pekik Disty. Dengan cepat tangan wanita itu menyambar sebuah piring dan mencampakkannya ke arah Dean.


PRANGG!!!


Piring hancur menghantam dinding di belakang Dean. Bu Amalia terlihat memekik dan menutup mulutnya.


"Udah pernah tau cakupan pasal 167 ayat (1) tentang pelanggaran ketentraman rumah? atau udah pernah denger tentang pasal 49 ayat (1) KUHPidana? Menyelinap dalam rumah tangga orang lain dan menyebabkan gangguan gangguan terhadap ketenteraman rumah tangga?" Dean berdiri menghadapi Disty yang hanya berjarak tiga meter darinya.


"Engga usah sok ngasi kuliah lu di sini!" bentak Disty.


Dean berjalan mendekati Disty dan menunduk di sisi kiri wanita itu.


"Gua udah tau maksud lu apa ke sini, sebelum lu nyari ribut bawa-bawa istri gua. Mending lu ngasi tau Si Tua Bangka Dennis Atmaja soal lu sekarang. Atau gua aja yang ngasi tau dia?" bisik Dean di telinga Disty yang langsung membelalak.

__ADS_1


"Lu emang laki-laki anji**!" maki Disty. "Gua janji bakal seret lu sekeluarga ke penjara." Disty berbalik meninggalkan Dean.


"Tunggu! jangan pergi dulu!" teriak Dean.


Dean menuju kamar tamu yang terletak di sudut lantai satu yang tak jauh dari tangga besar.


Tak sampai lima menit Dean ke luar dari kamar itu sembari menggeret sebuah koper.


"Jangan tinggalin apapun yang menyangkut soal elu di rumah gua. Najis!" sergah Dean mendorong koper itu hingga berdebam di lantai.


"Elu harus bayar semua ini De!" ucap Disty dengan bibir bergetar.


"Whatever! just get out from here!*" balas Dean tajam kemudian pergi meninggalkan Disty.


(*Terserah! silakan pergi dari sini!")


Dean sudah benar-benar muak dengan persoalan yang seperti tak ada ujungnya ini. Dengan mempertaruhkan semua kemungkinan terburuk. Dean hanya meyakini bahwa Pak Hartono, Papanya pasti akan setuju dengannya.


PRANGGG!!!!


Bu Amalia lagi-lagi memekik dan menutup mulutnya.


Dean berbalik menatap punggung Disty yang sedang membuka pintu belakang mobilnya dan mencampakkan koper ke kursi belakang. Sesaat kemudian wanita itu sudah pergi dengan suara ban mobil yang berdecit.


Saat hendak pergi kembali ke belakang, Bu Amalia berdiri dari kursinya.


"Mama mau bicara sama kamu," ucap Bu Amalia sembari berjalan menuju ruang keluarga.


Dean mengikuti Ibunya tanpa pertanyaan.


"Kamu memang nggak bisa lagi bantu Papa kamu De?" tanya Bu Amalia sesaat setelah menghempaskan dirinya di sebuah sofa.


Wajah wanita itu terlihat pucat. Jelas tergambar ketakutannya yang paling mendalam soal suaminya.


"Mama bertindak sejauh ini semua untuk Papa kamu." Bu Amalia menjumput bajunya dengan ujung jari berkali-kali.


"Dean nggak sanggup lagi Ma. Semua kayak bom waktu yang memang harus meledak suatu saat. Dean dan Papa akan sama-sama mendapat masalah. Hanya masalah waktu aja. Dean harus memilih mana yang harus Dean selesaikan lebih dulu. Maafin Dean," ucap Dean yang duduk menyebelahi ibunya.

__ADS_1


"Tapi Mama memang nggak mau kamu kawin sama Pembantu itu Dean. Harapan Mama begitu tinggi untuk kamu. Mama mengharapkan yang lebih baik lagi. Jangan salahkan Mama," ujar Bu Amalia menangis.


"Maafin Dean yang nggak bisa memenuhi harapan Mama itu. Tapi Winarsih nggak salah apa-apa Ma. Dia mengandung anak Dean karena kesalahan Dean. Dan sampai detik ini, Dean nggak pernah menyesali perbuatan Dean itu. Karna mungkin kalo bukan karna kesalahan Dean itu, Dean nggak bakal menikahi wanita seperti Winarsih." Air mata mengembang di pelupuk matanya.


"Dean mencintai Winarsih Ma. Jangan buat Dean harus memilih antara Mama dan isteri Dean. Dean nggak bisa," ucap Dean tercekat.


"Dan kamu juga nggak bisa maksa Mama untuk menerima isteri kamu-" potong Bu Amalia datar.


"Izinkan Dean nunjukin ke Mama, kalo keputusan Dean menikahi Winarsih adalah keputusan terbaik yang pernah Dean lakukan sepanjang hidup. Dia wanita yang sedang mengandung anak Dean Ma. Mama membencinya cuma karna latarnya yang nggak sama dengan kita. Itu nyakitin Dean." Dean menyeka air matanya berkali-kali.


"Sebentar lagi pasti akan ada berita soal Papa kamu. Kamu yang meletakkan Papamu di posisi ini, maka kamu juga yang harus mengeluarkannya." Bu Amalia bangkit dari duduknya.


"Dan kalau kamu membawa wanita itu ke kamarmu, usahakan jangan sampai kami berpapasan di rumah ini," ucap Bu Amalia kemudian berlalu pergi dari ruang keluarga.


Dean mengusap wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan jejak air mata yang sejak tadi tak bisa ditahannya.


Air mata pertama setelah belasan tahun terakhir dalam hidupnya. Yang ke luar tak terbendung karena ibu yang tak menganggap kehadiran wanita yang telah diperistrinya.


Dengan langkah tegap Dean berjalan kembali ke ruang makan pegawai. Di sana dilihatnya Winarsih masih duduk dengan piring berisi nasi goreng miliknya yang belum dimakan tadi.


"Kok nggak dimakan? ntar anak Bapak laper dong di dalem," ujar Dean mengusap kepala isterinya.


Winarsih mendongak menatap Dean kemudian menggeser kursinya sedikit menjauhi meja.


"Pak Dean nggak apa-apa?." Pertanyaan sederhana yang membuat pertahanan Dean seakan runtuh.


"Kamu denger ribut-ribut tadi ya?" tanya Dean setengah berjongkok di hadapan isterinya.


"Anakku di dalem nggak rewel kan?" tanya Dean lagi sembari memeluk pinggang isterinya dan meletakkan wajah di pangkuan wanita itu.


"Nggak, anak Pak Dean yang di perut ini, anak baik. Nggak pernah ngerepotin ibunya. Sama seperti Bapaknya," jawab Winarsih merapikan rambut Dean kemudian membelai pipi suaminya itu.


Pertahanannya semakin runtuh. Dean memiringkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya ke pinggang Winarsih.


"Win....dadaku sesak" lirih Dean dengan sudut mata yang kembali menjatuhkan bulir.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2