
Tak tahu entah apa yang dikatakan Ryan kepada para wartawan di depan Kantor Polisi. Dean dan Winarsih masih berada di mobil dalam keadaan diam membisu. Perasaan tidak enak yang berbeda menjalari hati keduanya.
Dean masih menggenggam tangan istrinya. Menahan berbagai penjelasan agar masalah yang sedang menimpa rumah tangganya tak sampai ke telinga para pegawai. Terlebih saat itu keadaannya masih syok. Benar-benar tak menyangka kalau Winarsih yang akan datang menjemput.
Tanpa perlu Akta Nikah dan segala macam, sesaat lagi semua orang akan tahu kalau saat ini ia telah menikah dan akan dikaruniai anak. Dean menggaruk alisnya karena pemikiran itu.
"Udah ngambeknya?" Suara Dean begitu lembut.
"Saya enggak ngambek," tegas Winarsih pelan.
"Udah sarapan?" tanya Dean lagi. Kali ini ia berharap jawaban Winarsih akan lebih hangat dan tidak pendek-pendek. Harapan itu disertai dengan pikiran bahwa berita yang akan keluar besok bisa saja soal ia yang dikira memberi seorang madu pada istrinya ketika istrinya itu hamil. Publik bisa jadi akan menafsirkan bahwa Disty adalah istri keduanya. Dean meringis di dalam hati. Pesta pernikahan mewah yang telah menghabiskan banyak biaya itu menjadi tawar dalam satu malam.
"Sudah," sahut Winarsih singkat.
Dean merasa harus menguasai dirinya saat itu. Ada suasana hati seorang wanita hamil yang harus ia jaga. Ia tak mau memikirkan tentang banyak kemungkinan. Ia juga tak mau memikirkan apa yang akan dikatakan oleh ibunya nanti.
"Aku kaget kamu dateng tiba-tiba." Dean mengusap punggung tangan Winarsih dengan ibu jarinya.
"Ya, pasti kaget. Kan, saya nelfon dari kemarin nggak dijawab," jawab Winarsih datar.
"Eh, iya .... Itu karena mulai masuk klub aku harus membuat rekaman pengakuan Dis...ty. Jadi ponselnya aku silent. Aku...aku juga enggak ada ngapa-ngapain, Win." Dean langsung mengatupkan bibirnya. Tak pernah ia merasa segugup itu ketika menjelaskan sesuatu. Berdiri di tengah sebuah persidangan dengan merangkum fakta-fakta sudah menjadi makanan sehari-harinya. Tapi berbicara dengan istri yang harus ia jaga hatinya benar-benar pengalaman berbeda baginya.
Winarsih hanya diam dengan tatapan tertuju pada tangan Dean yang begitu indah sedang menggenggam tangannya. Suara pintu mobil yang dibuka dari luar membuat tatapan itu buyar. Ryan sudah berhasil melepaskan diri dari wartawan.
"Langsung pulang, Yan. Aku gerah pengen mandi," pinta Dean sembari melirik reaksi Winarsih. Sengaja menekankan kata mandi agar istrinya itu kembali ceriwis mengingatkan soal mandi yang tidak boleh dilewatkan apabila pulang bepergian.
Namun, lagi-lagi Winarsih hanya diam. Seakan wanita itu masih larut dalam pikirannya sendiri.
"Aku capek, Win." Dean merasa harus mengeluarkan sisi manjanya dengan merebahkan kepala di pundak Winarsih. Berharap kalau wanita itu akan secepatnya luluh.
"Sama, Pak. Saya juga capek. Semaleman saya nggak bisa tidur," ucap Winarsih datar.
Dean langsung menegakkan tubuhnya kembali seperti semula. "Tapi aku memang pergi ke klub itu ada tujuannya, Win. Aku enggak mau ngasih tau kamu biar kamu enggak perlu cemas." Dean mengembuskan napas sedikit kasar. Ia kini menggaruk punggung tangan Winarsih.
__ADS_1
Winarsih masih diam.
"Win ... kamu, kok, diem aja? Ngomong, dong, Sayang...." Perkataan Dean terhenti. Tersadar kalau Ryan sedang mengawasinya dari spion tengah. Sekretarisnya itu urung tersenyum karena melihat ia merapatkan gigi. "Jangan ngambek, Sayang. Kasian anakku kalo ibunya ngambek. Nanti dia bisa kangen bapaknya." Dean berseloroh agar istrinya tersenyum.
"Saya nggak ngambek, Pak," jawab Winarsih cepat.
Dean hanya meringis mendengar jawaban istirinya yang terdengar sangat klasik. "Atau kamu mau kita pergi makan? Mau makan di mana?" tanya Dean.
"Enggak tau, Pak," jawab Winarsih singkat.
Dean menghela napas panjang. Dean sudah cukup mengerti. Wanita sejak dulu tahu semua hal yang ada di dunia ini kecuali di mana dia mau makan.
"Anakku ...," gumam Dean, mengelus perut Winarsih yang hanya duduk tegak memandang jalanan di depan mereka.
Tak ada harapan untuk bisa mengajak Winarsih bicara dalam perjalanan pulang saat itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah membawa Winarsih pulang ke rumah secepatnya. Dengan wajah cemberut begitu, Dean hanya bisa berdoa bahwa perbincangan mereka di ranjang malam nanti bisa menyelamatkan hari-hari mereka ke depannya.
"Nov, kamu bisa pulang ke rumah. Dari kemarin-kemarin, kan, belum ada pulang. Istirahat dulu agar besok kamu ke sini bisa lebih fresh. Saya ada sedikit pekerjaan buat kamu." Dean menyampaikan hal itu pada Novi ketika ia dan Winarsih berada di teras. Novi mengangguk tanda mengerti.
"Yan ...." Dean menghela napas lagi. Kali ini ia agak bergeser menjauhi Winarsih untuk bisa berbisik pada sekretarisnya. "Elu digaji mahal-mahal untuk nyelesein masalah tadi. Bukan malah bawa ...." Dean bicara dengan mulut nyaris tak terbuka. Tangannya meraih tas pakaian Winarsih dari tangan Ryan.
"Kayak nggak bisa ngomong yang lain aja," omel Dean.
"Tapi, kan, jadi lebih cepet kelarnya ...."
"Besok, deh, elu ya ...." Dean masih mengomel. "Lu minta satu orang ambil mobil di Kantor Polisi tadi," pinta Dean, mencampakkan sebuah kunci mobil dengan nada suara yang sudah terdengar normal.
"Oke," balas Ryan langsung.
"Itu Novi dianter sampe rumah, ya. Jangan ke mana-mana lagi!" seru Dean ketika sekretarisnya sudah membuka pintu mobil.
"Iya ... iya ..." jawab Ryan seraya melambai. Ia hanya ingin pergi dari tempat itu secepatnya.
Ryan tak menyangka Dean bakal berubah sedrastis itu. Sekarang ia bahkan hampir tak mengenali atasannya itu. Dean yang begitu angkuh juga cerewet kini berubah menjadi seperti seekor kaki seribu yang tersenggol tiap berada di dekat istrinya.
__ADS_1
Dan hal yang hampir membuat Ryan tergelak beberapa saat yang lalu adalah Dean yang dulu hobi mengikuti pacarnya keluar masuk klub malam baru saja mewanti-wanti untuk segera mengantarkan Novi sampai ke rumah. Perilaku Dean sungguh berubah.
Bayi Dean belum lahir ke dunia. Namun sikap pria itu sekarang sudah melebih-lebihi sikap Pak Hartono. Ryan meringis.
******
"Kita sekarang pindah ke kamarku aja, ya, Win." Dean menggamit lengan istrinya menuju ke tangga utama.
"Apa Bu Amalia nggak apa-apa? Nanti Pak Dean bertengkar lagi. Saya nggak mau," jawab Winarsih ragu.
"Win, ini aku yang ajak. Aku enggak mau kamu tidur di belakang lagi. Dengerin aku, ya." Dean berjalan menaiki anak tangga satu persatu dan langkah kaki Winarsih mengikutinya dengan sedikit ragu.
Dean merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah kunci. Setelah membuka pintu kamar ia memindahkan kunci itu ke bagian dalam.
"Kunci kamar itu enggak akan aku bawa lagi. Kamu yang pegang. Kalo pergi kamu yang bawa." Dean meletakkan tas pakaian di dekat salah satu pintu lemari.
"Besok minta bantuan Novi pindahin semua barang-barang kamu ke sini. Untuk pakaian aku ... kamu minta Mbak Tina yang beresin. Pokoknya kamu harus disini jangan kemana-mana." Dean merasa perlu kembali menegaskan hal itu.
Winarsih mengangguk lalu duduk ke tepi ranjang. Berdiri di tengah kamar yang begitu luas membuatnya sedikit canggung.
"Win, kalo aku salah kamu ngomong, dong. Jangan diemin aku kayak gini. Aku enggak tahan," ujar Dean kemudian berjongkok dan meletakkan wajahnya di pangkuan Winarsih yang duduk di tepi ranjang.
Saat Dean memeluk pinggang Winarsih dengan kepalanya yang berada di pangkuan, tiba-tiba tubuh wanita itu berguncang. Winarsih menangis.
"Lho...lho. Win ... maafin aku. Maafin aku yang enggak cerita soal ini ke kamu langsung. Emang enggak seharusnya Ryan atau Novi yang ngasih tau kamu. Maafin aku sayang .... Aku cuma enggak mau kamu kepikiran. Maafin aku. Maafin aku, Bu." Dean yang tadinya berjongkok kini bangkit ikut duduk di sebelah Winarsih. Berulang kali menghapus air mata istrinya yang meleleh.
"Saya kira Pak Dean bakal dipenjara. Kasus narkoba itu, kan, hukumannya berat. Saya sudah bayangin yang enggak-enggak. Takut Pak Dean nggak pulang lagi." Terbata-bata Winarsih menggambarkan isi hati dan pikirannya bercampur dengan suara tangisan.
"Ya ampun, Bu Winar .... Rupanya kamu memang udah cinta ke aku. Jangan mikir yang enggak-enggak. Percaya aku, Win. Sayang ... jangan nangis lagi. Aku sayang kamu. Jangan diemin aku lagi. Aku nggak tahan." Dean menangkup wajah Winarsih dan menciumi pipinya.
Winarsih masih terisak.
"Mana mungkin enggak pulang kalo istrinya begini. Lagian masih banyak yang harus kamu pelajari," kata Dean, mengulum senyum karena teringat kegiatan terakhir mereka kemarin.
__ADS_1
Saat tangis Winarsih mereda dan berubah menjadi segukan saja, Dean menunduk untuk melihat wajah wanita itu. "Udah tenang, kan? Kalau gitu kita udah temenan? Aku boleh cium, kan? Aku kangen banget ama Bu Winar." Dean merebahkan istrinya dan memberi ciuman dalam bercampur rasa asin sisa air mata.
To Be Continued