CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
135. Bye Ara


__ADS_3

Ayo jangan lupa, di-like dulu.


Biar jumlah like dan terbacanya berimbang.


Dan kalo bisa tiap baca novel apapun itu, kalo suka dikomentarin aja. Karena komentar pembaca juga mempengaruhi perfoma novel.


Kalo udah selamat membaca ya... :*


************


"HAH??!!" seru Dean.


"Kenapa???" tanya ketiga sahabatnya yang masih menunggu dengan wajah tegang di sofa.


"Enggak, jadi berdebar gini gua." Dean memasukkan kembali isi amplop tadi dan menggenggam amplop itu di tangan kanannya.


"Trus? Gimana tadi Ra?" tanya Dean kembali memandang Ara.


"Aku cuma mampir ngasi ini aja De," sahut Ara mengangkat kue ulangtahun berwarna merah itu. Kemudian Ara meletakkan kue itu di atas meja kerja Dean.


"Nggak perlu Ra, nggak perlu." Dean menoleh pada tiga sahabatnya yang sedang menonton adegan drama di tengah ruangan kantor.


"Itu isi amplopnya apaan sih De?" tanya Toni pemasaran.


"Sssttt..." Langit mendelik pada Toni yang duduk di seberangnya terhalang sebuah coffee table.


"Iya berisik banget deh, kita nonton dulu. Jarang-jarang kita bisa jadi saksi. Gua penasaran Dean bakal ngomong apa," bisik Rio pandangannya tak lepas dari Dean yang sedang menatap Ara lekat-Lekat.


"Cuma nganter kue doang, cuma ngucapin selamat ulang tahun aja. Mumpung aku di Jakarta," ulang Ara lagi.


"Enggak Ra, gua nggak mau. Bawa aja kuenya. Nanti bakal ada lagi lu nanya ke gua 'Enak kuenya De?' 'Gimana rasanya?' 'Udah kamu makan atau belum?'. Itu bakal jadi bahan baru." Dean kembali berdecak kemudian menaikkan gumpalan rambutnya yang turun ke dahinya dengan elegan.


"Dean mau nolak cewe tapi gesturenya kayak tebar pesona kan..." bisik Toni.


"Udah bawaannya gitu. Kalo ngomong ama cewe, otomatis aja dia gitu. Nggak sengaja. Kayak elu yang langsung basah-basahin bibir," jawab Rio pada Toni yang juga dalam bisikan. Toni melengos saat mendengar perkataan Rio.


"Sayang aku ke kamu itu nggak pernah luntur De dari dulu," ucap Ara.


"Wooow..." ucap tiga orang pria yang duduk di sofa nyaris serentak.


"Gua bukan Dean remaja lagi Ara. Gua udah Bapak-bapak. Anak gua umurnya 5 bulan lebih. Sebentar lagi dia makan bubur. Lagi lucu-lucunya. Gua nggak mau lu ke sini lagi. Kalo lu tetap dateng ke cafe itu, gua bakal bilang ke mereka--" Dean menoleh pada tiga sahabatnya yang langsung berjengit. "Gua nggak akan ke sana sampai kapanpun. Terserah mereka mau gimana," sambung Dean.


"Huuuu..." sambung Toni, Langit dan Rio nyaris bersamaan.


"Takut istri?" tanya Ara.


"Iya. Gua takut dia nangis karena kelakuan gua. Gua takut Ra. Anak gua nyusu langsung dari ibunya. Gua nggak mau istri gua jadi stres sampe mengganggu ASI-nya. Perjuangan gua untuk dia itu nggak sedikit Ra. Banyak. Untuk bisa sama dia, banyak yang harus gua lakuin. Gua nggak mau kehilangan dia cuma karena tingkah kekanakan kita. Lagian kemarin-kemarin lu nggak ada nyari-nyari gua. Ya udah Ra, ngapain skrg jadi begini?"


"Nahhh..." Suara ketiga orang pria yang sedang jadi penonton kembali terdengar.


"Gitu banget sih De, aku nggak nuntut kamu harus. Aku nggak mau macem-macem. Cuma terima kue ini aja. Udah." Ara terlihat hampir menangis.


"Lu emang nggak bisa nuntut apa-apa Tiara. Kita cuma teman lama. Kebetulan aja kita pernah deket. Agar lu tau aja, gua melepas perjaka tuh sama istri gua Ra. Bukan dengan pergaulan bebas gua di luar sana. Lu pasti ngira gua udah banyak tidur ama mantan-mantan pacar gua sebelumnya. Meski gua bukan laki-laki yg suci-suci banget, gua pengen punya istri baik-baik. Gua nggak mau isteri gua diliatin laki-laki lain, apalagi disentuh laki-laki lain meski cuma sekedar cium pipi kayak yang lu bilang tempo hari. Gua nggak bisa bayangin istri gua dicium pipinya ama laki-laki lain. Amit-amit," terang Dean sedikit menggelengkan kepalanya karena saat itu ia benar-benar membayangkan Winarsih yang dicium pria lain.


"Wooow..." Toni, Langit dan Rio kembali terlihat takjub mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Dean.


"Cuma sedikit tempat di hati kamu De, untuk cerita lama kita," isak Ara.

__ADS_1


"Nggak bisa Ara. Hatiku udah penuh terisi untuk anak isteriku. Untuk mereka bertiga cuma dikit banget di pojok," tukas Dean menoleh ketiga sahabatnya.


Toni, Langit dan Rio yang mendengar hal itu melemparkan tatapan sinis pada Dean.


"Lagian, liat ini." Dean kembali membuka amplop dari Winarsih yang sejak tadi berada di tangannya.


"Ini kado dari isteri gua tadi pagi. Isinya ini, test pack Ra. Isteri gua hamil anak kedua. Anak gua yang pertama baru 5 bulan, skrg istri gua hamil lagi. Lu bisa ambil kesimpulan kan? Segimana perasaan gua ama dia. Bisa bayangin gimana aktifnya hubungan kami setiap harinya? Gua nggak sempet pacaran ama dia, saat nikah, gua baru kenal dia bertahap. Sekarang ini puncak kebahagiaan gua. Gua harap lu ngerti. Enggak usah nangis, gua nggak bisa peluk-peluk wanita lain lagi meski sekedar untuk nenangin." Dean kembali memandang sebuah test pack bergaris dua itu dengan senyum lebar dan tatapan teduhnya.


"Lagian lu tuh nggak sayang atau cinta ke gua Ra. Lu cuma terobsesi pengen miliki gua karena dulu mama nggak pernah suka kita sama-sama. Lu cuma pengen nunjukin kalo lu tuh bisa. Itu aja. Sadari deh." Dean menghela nafas panjang memandang ketiga sahabatnya.


Rio dan Toni segera bangkit dari duduknya.


"Oke Ara, ini kuenya kita bertiga yang terima. Bakal kita abisin, nggak bakal dibuang. Lu tenang aja." Toni cepat-cepat mengambil kue ulang tahun pemberian Ara dari atas meja karena khawatir Dean yang kadang emosinya tak bisa ditebak bakal mencampakkan kue itu.


"Kita bakal makan, ya kan Yo? Lang?" tanya Toni pada Rio dan Langit.


"Iya--iya kok, bakal kita makan Ra, pasti. Udah jangan nangis lagi," ujar Langit dari arah sofa.


"Ayo--ayo sekarang gua anter lu ke bawah." Rio memegang kedua bahu Ara dari belakang dan mengajak wanita itu menuju pintu.


"Aku belum nyalamin Dean, untuk terakhir kali aja," ucap Ara.


Mendengar perkataan Ara, Rio terhenyak sejenak. Kemudian pandangannya kembali menoleh ke arah Dean yang menatapnya tajam dengan alis hitamnya yang terangkat sebelah.


"Kayaknya nggak usah salam-salaman. Entar salaman ama gua aja. Gua yang wakilin," tukas Rio buru-buru menyeret Ara keluar dari kantor itu.


Langit dan Toni terlihat sibuk mencabuti buah ceri yang berada di atas kue ulangtahun pemberian Ara dan memasukkannya ke mulut mereka.


"Kita abisin yang ini aja, kue Dean biar dibawa pulang ama dia," ujar Toni dengan mulut penuh.


"Ho'oh bener. Enak kok, entar gua bilang ama Ara ini enak. Nggak mubazir," sahut Langit yang mencolek krim kue dan memasukkannya ke mulut.


"Ini minumnya," ujar Dean menunjuk beberapa botol air mineral yang selalu ada di atas meja ke arah sahabatnya.


Selang beberapa menit kemudian, Rio kembali masuk dengan nafas ngos-ngosan.


"Belom pada mulai cerita kan? Gua nggak mau ketinggalan," ujar Rio langsung duduk di seberang Dean.


"Ini tadi gua minta ama si Ryan." Rio meletakkan dua piring keramik kecil dan empat buah garpu. "Biar tangan lu berdua yang menjijikkan itu nggak terus-terusan nyolekin kue." Rio menepis tangan Toni dan Langit dari atas kue ulangtahun dari Ara yang telah menjadi milik mereka.


"Eh De... Lu beneran pacaran selama ini nggak pernah begitu-begituan?" tanya Toni memajukan letak duduknya.


"Enggak. Makanya gua sekali begituan langsung jadi. Tuh Dirja! Bibit unggul di masa-masa keemasan Bapaknya," ujar Dean.


"Jadi lu ngapain aja? Nggak mungkin lu nggak pernah telanjang-telanjang," ujar Rio santai seraya memotong kuenya.


"Disepo*ngin doang. Puas lu pada? Mesti banget gua jawab pertanyaan lu." Dean menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Sekarang gua paham kenapa semua perempuan itu pada penasaran. Mereka taunya ngasi servis doang tapi nggak diservis ama Pak Dean." Langit tertawa terbahak-bahak.


"Iya juga ya," sahut Toni.


"Nggak usah dibahas. Lu juga bertiga berlumur dosa. Yang penting pelabuhan terakhir gua tuh jelas," jawab Dean tersenyum kembali memandang amplop putih yang sejak tadi masih digenggamnya.


Sepertinya, baru kali ini Dean melihat tulisan tangan isterinya. Tulisan itu adalah tulisan sambung miring dengan bentuk huruf pipih yang rapi dan sangat klasik. Dean sangat menyukai cara tradisional namun romantis dari isterinya yang mengabarkan soal kehamilan kedua itu.


"Bini lu hamil lagi De? Kayaknya gua bakal ada temen," ujar Rio.

__ADS_1


"Iya, Dirja baru 5 bulan. Gua beneran kaget deh. Kayaknya baru aja lahiran tapi udah hamil lagi." Dean memandang amplop putih itu dan tersenyum geli.


"Kok kaget?? Inget-inget dong kelakuan lu tiap malem ngapain aja. Masa lu kaget," sungut Rio. Langit tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.


"Napa lu?" tanya Rio.


"Dean lucu," ucap Langit.


"Lucu apa?" tanya Dean heran.


"Dean tuh kesannya kayak penjahat ya. Tapi soal perempuan, banyak keseringan begonya." Langit masih tertawa.


"Dia pasti nggak mau pake pengaman karena khawatir nggak enak," tukas Toni.


"Nggak ah. Nggak enak pasti," jawab Dean polos.


"Dicoba dulu, sama aja kok, beda tipis aja," balas Toni.


"Gua udah mulai pake, anak gua udah tiga. Bini gua nggak mau ikut program-program KB itu. Takut gemuk, takut kurus, takut jerawatan, banyak deh alesannya. Ketimbang gua tiap tahun punya bayi, mending gua aja deh yang ngalah." Rio menyuapkan potongan kedua kue ke mulutnya.


"Gua nggak apa-apa deh punya anak lima juga nggak apa-apa," jawab Dean.


"Yang kasian bini lu nyet..." sahut Rio.


"Bini Dean nurut banget, salah satu keuntungannya juga itu. Apa gua harus ke Jambi untuk nyari jodoh di sana De? Kalo lu mudik, gua ikutan dong," tukas Toni.


"Mau nginep di mana lu?" tanya Dean.


"Nginep di mana aja. Gua kan single sekarang. Bapak-bapak yang dua ini nggak usah diajak. Mereka ada bininya. Gua aja. Gua pengen nyari gadis desa, gimana De?" tanya Toni.


"Entar gua pikirin lagi. Gua nggak mau lu sering-sering ketemu bini gua. Apalagi nginep di rumah mertua gua. Ih najis," sergah Dean. Rio dan Langit langsung tertawa.


Dean kembali tercenung mendengar perkataan sahabatnya. Benar kata sahabatnya, Winarsih adalah tipe wanita konvensional yang sangat menurut dengan suaminya.


"Makan di luar yuk ntar malem," ajak Toni.


DRRRT


DRRRT


Ponsel Dean yang berada di atas meja kerjanya bergetar. Dean segera bangkit untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.


Nomor ponselnya itu adalah nomor pribadi yang tidak diberikannya pada sembarang orang. Untuk urusan pekerjaan, biasanya setiap klien akan menghubungi Ryan terlebih dahulu.


"Iya nih, makan yuk De! Traktir kita," ajak Langit.


Dean membuka pesan di ponselnya dan kembali tersenyum.


"Aku masak yang spesial untuk makan malam nanti. Nanti jangan pulang lama-lama ya Mas.. Inget, anak Mas Dean udah mau dua..."


"Gua nggak bisa malem ini. Bini gua masak enak untuk birthday dinner gua. Jadi next time aja kita ngumpul di Beer Garden ya. Kayaknya Ara nggak bakal ke sana lagi."




Beer Garden SCBD Sudirman Markas Gank Duda Akut

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2