CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
42. Tamu Tengah Malam


__ADS_3

Winarsih masih terdiam saat Bu Sumi menyeret tangannya masuk ke dalam rumah. Dia tak tahu entah sejak kapan ibunya mendengar percakapan bersama Utomo di luar tadi.


"Kamu sudah makan?" tanya Bu Sumi sembari berjalan ke dapur.


"Sudah Bu," jawab Winarsih mengikuti Ibunya.


"Apa cukup? Sekarang nggak laper lagi?" tanya Bu Sumi lagi. Tangan wanita tua itu sibuk mengaduk-aduk sebuah ember plastik pecah yang terisi singkong mentah.


"Mau ibu gorengkan singkong? Cuma ada ini. Ibu belum sempat ke pasar untuk belanja."


Bu Sumi belum menoleh ke arah Winarsih yang telah duduk di sebuah kursi kayu yang tersandar di dinding tepas.


"Mau Bu...." Suara Winarsih tercekat.


Bu Sumi membersihkan singkong kemudian meletakkannya di sebelah kompor gas sederhana yang terhubung dengan sebuah tabung gas elpiji berwarna hijau.


Dalam diam Bu Sumi menggoreng dua buah singkong dan meletakkannya di hadapan Winarsih beberapa saat kemudian.


Winarsih langsung mengambil sepotong singkong dan mulai meniupnya. Air matanya mengembang.


"Laki-laki itu sudah tau?" tanya Bu Sumi.


Winarsih menggeleng.


"Kamu udah ngomong?" tanya Bu Sumi lagi.


Winarsih kembali menggeleng sambil memasukkan singkong ke mulutnya.


"Besok pagi-pagi kita berangkat ke Jakarta," tukas Bu Sumi.


"Winar takut Bu," ujar Winarsih.


"Takut apa? Takut dia nggak mengakuinya? Nggak apa-apa kalau dia nggak mengakui. Ibu yang akan menanggung hidup anaknya. Ibu cuma mau mendengar darinya langsung." Bu Sumi ikut mengambil sebuah singkong dan meniupkannya untuk Winarsih.


"Winar takut Bu, Winar nggak mau. Winar nggak mau ganggu keluarga Pak Dean." Winarsih kembali menangis.


"Ibu cuma mau tau. Laki-laki seperti apa ayah dari anakmu itu. Dia harus tau. Dan Ibu harus ketemu dia. Kali ini kamu harus dengerin ibu."


"Makan yang banyak. Kalau laper nanti kamu nggak bisa tidur. Kalau sudah selesai, tidur di kamar. Jangan di depan tv. Banyak nyamuk." Bu Sumi bangkit dari kursi dan meninggalkan anaknya yang masih mengunyah singkong dengan terisak.


*******


Mbah sedang menyusun sarapan di atas meja makan di hari berikutnya.


"Selamat pagi Mbah," sapa Pak Hartono yang pagi itu datang ke meja makan mendahului Bu Amalia.


Dean telah duduk di seberang Pak Hartono dalam diam sambil mengoleskan mentega ke rotinya.


"Selamat Pagi Pak.... Kemarin malam nggak makan di rumah rupanya," ujar Mbah pada Pak Hartono.


"Iya, acara di kementerian sampai malam."


"Kemarin Winarsih masak gulai ikan kesukaan bapak. Tapi karena bapak tidak pulang, jadi saya bagikan ke pegawai" ujar Mbah.


"Wah, sayang sekali. Tapi nanti saya bisa minta masakin lagi ke dia," jawab Pak Hartono yang sudah duduk dan mulai melihat lauk-pauk di atas meja.


"Winarsih sudah izin pulang ke kampungnya Pak," jawab Mbah.


"Kenapa Mbah? Ada keluarganya yang sakit?" tanya Pak Hartono lagi.


"Ada apa Mbah?" tanya Bu Amalia yang baru tiba di meja makan.

__ADS_1


"Winarsih sudah nggak bekerja lagi Bu.... Ada urusan mendadak jadi harus pulang ke kampungnya," ujar Mbah dengan pandangan ke arah Bu Amalia.


Bu Amalia duduk di sebelah suaminya sambil berpikir-pikir.


"Sayang sekali ya, padahal masakannya enak. Saya suka. Tapi ya sudah Mbah, nanti saya cari orang baru lagi. Kamarnya sudah kosong kan?" tanya Bu Amalia sambil menyodorkan segelas jus jeruk kepada suaminya.


"Jangan nyari orang baru dulu Ma," ucap Dean tiba-tiba.


"Loh kenapa?" tanya Bu Amalia yang cukup terkejut dengan perkataan Dean yang sejak tadi hanya diam.


"Ya nggak usah aja," jawab Dean lagi dengan keningnya yang masih mengernyit.


"Dean berangkat dulu Ma, Pa" ucap Dean kemudian bangkit mencium pipi Bu Amalia dan pergi menyisakan roti yang baru digigitnya sedikit.


Pak Hartono dan Bu Amalia melihat Dean hingga punggung pria itu menghilang di dinding pembatas.


Suami-istri itu saling berpandangan.


"Kok tumben dia peduli dengan soal pegawai di rumah ini," gumam Pak Hartono kembali mengalihkan pandangannya kembali ke piring.


"Iya, minta nggak usah cari orang baru dulu. Kayak dia mau bantu di dapur aja," sambung Bu Amalia.


*******


"Pak, siang ini kita ada meeting dengan klien ya. Mereka minta ketemu di luar. Gimana? Bapak bisa?" Ryan sekretaris Dean masuk ke ruangan atasannya dengan sebuah bungkusan di tangannya.


"Nggak usah di luar deh Yan, di sini aja meeting-nya. Gua lagi males ke luar. Lu reschedule aja. Bisa kan?"


"Bisa. Nanti saya kabari lagi. Trus ini ada titipan bingkisan dari Mbak Disty. Kayaknya isinya makan siang. Ada pesannya Pak ditempeli di luarnya." Ryan mengangkat bungkusan itu ke atas hendak meletakkan ke meja atasannya.


"Eits, jangan! Buat kamu aja. Kalo kamu nggak mau, kasi ke orang lain aja. Terserah siapa." Dean mengibas-ibaskan tangannya seolah mengusir Ryan.


"Oke, elu yang baca. Apa?" Dean masih menunduk menulis-nuliskan sesuatu di layar tabletnya.


"Tulisannya 'Jangan Lupa Dimakan Ya Sayang. From Disty Your Love.' itu aja Pak," lapor Ryan.


"Oke, buang" perintah Dean menatap Ryan dengan mengangkat alisnya.


"Siap Pak." Ryan berbalik hendak pergi.


"Eh Yan... tunggu--tunggu" panggil Dean lagi.


"Ya Pak?"


"Ada yang mau gua tanya. Misalnya nih, ini bukan cerita tentang gua. Tapi temen gua--" ucap Dean ragu-ragu.


"Oke, temen Pak Dean-- kenapa?" Ryan tersenyum menanggapi atasannya yang sepertinya akan curhat tapi mengatasnamakan orang lain.


"Temen gua itu udah bilang, udah ngungkapin kalo dia itu sayang ke seorang wanita. Tapi wanita itu tetap pergi ninggalin dia. Kira-kira alasannya apa?" tanya Dean yang sekarang memasang wajah polos.


"Ya wanita itu berarti nggak ada rasa sama sekali," tegas Ryan.


"Tapi gua yakin kalo wanita itu juga ada rasa ke gu--" potong Dean cepat kemudian langsung terhenti.


"Sekarang ini cerita temennya bapak atau bapak sendiri?" tanya Ryan semakin geli.


"Udah kamu pergi aja deh. Buang itu." wajah Dean kembali datar dan mengalihkan pandangannya ke arah tablet.


Saat Ryan menutup pintu ruangannya, Dean menghela nafas berat dan panjang. Dia memutar kursinya menghadap kaca jendela lebar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit.


"Kamu di mana sih Win? Aku pengen ketemu--" Dean terhenti. Pikirannya kembali mengulang kenangan yang ia lewatkan bersama Winarsih. "Aku berharap Tuhan mau ngirim kamu ke dekat aku lagi," gumam Dean sembari menatap luar jendela dengan tatapan sendu.

__ADS_1


*******


Winarsih dan Bu Sumi di sambut hujan deras saat menginjakkan kaki mereka di Terminal Kampung Rambutan.


Saat itu waktu menunjukkan hampir tengah malam. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Winarsih berkali-kali membujuk ibunya agar mengurungkan niat untuk datang ke kediaman Pak Hartono.


Tapi Bu Sumi hanya mengetatkan wajah dan tak menggubris perkataan anaknya.


Dengan menumpang sebuah bajaj mereka berhimpitan di dalamnya dengan keadaan nyaris basah kuyup.


Syukurnya Yanto saat itu tidak ikut serta, karena remaja itu mau saat dititipkan ke rumah Pakde. Bu Sumi berjanji tak akan berlama-lama di Jakarta dan akan segera kembali menjemput anak bungsunya itu.


"Bu, ini sudah tengah malam. Keluarga itu mungkin sudah tidur. Besok saja kita datang lagi," bujuk Winarsih.


"Enggak Win, besok pasti sudah berbeda lagi apa yang mau ibu kerjakan. Bisa jadi niat ibu juga mulai berubah karena bujukan kamu. Lagipula kasihan Yanto kalau ibu berlama-lama pergi," sergah Bu Sumi menatap jalanan di depan mereka.


Perkataan Bu Sumi yang tegas tak bisa lagi dijawab oleh Winarsih. Dia hanya diam dalam bajaj yang membawa mereka nyaris tiba di kediaman keluarga itu.


Saat bajai menepikan mereka di atas trotoar jalan yang jaraknya beberapa langkah dari gerbang, hujan belum juga berhenti.


Tanpa payung dan mantel, Bu Sumi menggandeng Winarsih yang terlihat seperti ingin kabur setiap saat dari tempat itu.


"Pak! Pak!" panggil Bu Sumi mengetuk-ngetuk pagar agar terdengar dari Satpam yang tak jauh dari mereka.


Seorang satpam yang dikenali Winarsih sebagai Rojak menoleh kemudian memakai payung dan menghampiri mereka.


"Cari siapa Bu?" tanya Rojak.


Winarsih bersembunyi di balik tubuh ibunya hingga luput dari pengamatan Rojak.


"Saya cari Pak Hartono. Mau ketemu. Ada urusan penting," ujar Bu Sumi sambil sesekali mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup.


"Pak Hartono nggak ada, belum pulang" jawab Rojak.


"Ya sudah Bu, besok saja" ujar Winarsih dari balik tubuh ibunya.


"Enggak, ibu bakal tunggu. Ibu nggak apa-apa berdiri di sini," jawab Bu Sumi.


"Pak, ini Winarsih yang pernah bekerja di sini. Kami boleh menunggu Pak Hartono?" tanya Bu Sumi lagi pada Rojak.


"Hah? Winarsih?" Rojak sedikit berjinjit untuk melihat Winarsih ke luar.


"Ya ampun Win! Kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo masuk dulu. Saya bukakan pagar." Rojak membuka pengait dan mulai mendorong pagar.


"Ayo masuk--eh ini mobilnya Pak Hartono. Sebentar saya buka pagarnya dulu. Winarsih dan Ibu tunggu di pos aja." Setengah berlari Rojak mendorong pagar hingga terbuka lebar.


Pandangan Winarsih dan ibunya kini tertumbuk pada sebuah Vellfire hitam yang melaju masuk ke halaman dan berhenti di teras lobby.


Rojak buru-buru menutup pagar dan pergi berlari menghampiri mobil Pak Hartono.


Dari kejauhan, tampak Irman turun lebih dulu untuk membuka pintu tengah mobil. Pak Hartono dan Fika asistennya kemudian muncul dengan setelan batik yang tampak sangat mahal.


Winarsih dan Bu Sumi berdiri menggigil di pos satpam, menunggu Rojak yang sedang berbicara dengan majikannya.


"Win, dipanggil Bapak!" teriak Rojak yang setengah berlari menghampiri mereka.


"Ya sudah sana! Kamu dipanggil Bapak," ulang Rojak lagi.


Winarsih dan ibunya saling berpandangan. Jantungnya sekarang sedang berdebar tak beraturan. Bibirnya sudah membiru karena dingin dan sejak tadi tangannya tak berhenti bergetar.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2