
Ryan masih menggandeng tangan Novi setibanya di dekat pondok sawah. dengan melihat penampilan sekretarisnya itu mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Udah Yan, udah. Jalannya di sini udah nggak licin lagi," sindir Dean pada sekretarisnya.
"Di sini banyak bekicot ya Pak," ujar Ryan yang tiba-tiba tertarik dengan bekicot sawah.
"Lu udah baca email yang gua kirim?" tanya Dean sembari berjalan menjauhi pondok.
"Udah semua Pak, kontraktor bangunannya udah ketemu. Sebentar lagi mungkin nyampe di rumah Bu Winarsih," tutur Ryan.
Dean melirik Winarsih yang tampak sedang mengobrol dengan Novi di pondok tengah sawah.
"Kalo pembangunannya dimulai besok, sebulan udah bisa kelar kali ya," ujar Dean.
"Kayaknya nggak bisa deh Pak kalo sebulan," jawab Ryan.
"Masa sih nggak bisa? Kan rumahnya nggak sampe dipakein eskalator Yan. Ntar dikontraknya harus benar-benar diperhatiin ya. Jangan lebih dari sebulan. Ntar rancangannya kirim ke gua dulu. Tapi bayarnya minta ke bini gua ya," Dean meringis.
"Begini banget ternyata kehidupan seorang pemilik Danawira Law Firm," sindir Ryan terbahak.
"Semakin terjal jalan yang lu daki, pemandangan di atas juga makin indah Yan," ucap Dean menaikkan alisnya.
"Iya deh, susah menang kalo lawan debatnya Pak Dean"
"Rumahnya Pak Harto tengkulak udah lu mampirin tadi?"
"Udah Pak, beres. Saya sebut nama Pak Hartono biar prosesnya cepat," ujar Ryan nyengir.
"Nama gua belum laku disebut ya Yan," Dean meringis.
**********
"Oh ternyata benar suami Winarsih yang beli sawahnya. Winarsih jadi mantunya Pak Menteri. Saya benar-benar nggak nyangka. Ini surat-suratnya bisa dicek lebih dulu Pak," ujar Pak Harto sembari meletakkan sebuah map berwarna biru.
Dean mengambil map itu dan membuka lembar demi lembar surat kepemilikan sawah itu yang masih tertera nama Pak Padmo sebagai pemiliknya.
"Masih atas nama Almarhum Pak Padmo ya Pak?" tanya Dean.
"Iya Pak Dean, sejak saya beli memang belum dirubah. Cuma pakai surat perjanjian jual-beli sederhana saja," ujar Pak Harto.
Dean membaca sekali lagi surat kepemilikan sepetak sawah yang masih berupa Surat Keterangan dari Camat itu.
"Ya udah Yan, langsung diselesaikan aja pembayarannya," Dean mengangguk ke arah Ryan.
"Pembayarannya bisa dalam bentuk cek ya Pak?" tanya Ryan pada Pak Harto sembari mengeluarkan sebuah buku cek bertuliskan bank swasta.
"Wah, kalau bisa transfer saja Pak. Bank sangat jauh dari sini. Gimana? bisa?" tanya Pak Harto.
"Emang berapa sih Yan?" tanya Dean pada Ryan setengah berbisik.
__ADS_1
"Segini--" Ryan menarik sebuah kuitansi dari balik map dan menunjukkannya pada Dean.
"Oohh...segini. Kirain--kalo segini gua transfer aja pake mobile banking. Hari ini Bu Winar aku traktir sawah," ujar Dean sembari melirik pada isterinya yang menahan senyum.
"Winarsih ya--Ibu pangling sekali lho," seorang wanita yang ke luar dengan sebuah nampan berisi teh menyapa Winarsih yang langsung berdiri dan hendak mengambil nampan itu dari tangan isteri Pak Harto.
"Nggak usah Win--Winar duduk saja. Winar kan tamu. Sudah berapa bulan hamilmu Win?" tanya isteri Pak Harto yang tangannya mengangsurkan gelas ke ke masing-masing orang yang duduk.
"Masuk bulan ke enam Bu," jawab Winarsih.
"Tiga bulan lagi lahiran. Sehat-sehat ya Win, jangan capek-capek. Anaknya pasti cakep sekali. Bapaknya aja guanteng tenan," ujar isteri Pak Harto yang membuat Dean langsung membenarkan letak kerah bajunya.
Winarsih menahan senyum melihat tingkah suaminya.
Tak berapa lama mereka berempat telah berjalan ke luar dari rumah Pak Harto. Sebuah map biru tampak berada dalam dekapan tangan Winarsih.
"Pak, makasih traktirannya ya" ujar Winarsih melirik Dean.
"Bu Winar santai aja. Ntar kalo aku nggak punya duit, aku dibekali jajan harian ya kalo mau berangkat ke kantor," Dean merangkul pundak isterinya.
"Aduh--" tiba-tiba Winarsih menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Dean was-was.
"Perutnya kencang," gumam Winarsih meringis.
Ryan dan Novi yang belum pernah hamil menggeleng.
"Mobil--mobil, mana mobil?"
"Oya, sebentar" Ryan mengambil ponsel dari kantongnya.
Setelah berbicara dengan seseorang, Ryan berkata ;
"Sedang menuju ke sini,"
"Nggak apa-apa kok Pak," ujar Winarsih memegang lengan Dean.
"Nggak apa-apa gimana? Kamu udah pucat gitu. Masih bisa berdiri sebentar lagi? Aku mau gendong kamu juga takut Win. Takut kita jatuh tiga-tiganya"
"Itu mobilnya Pak," Ryan menunjuk sebuah SUV yang mendekat ke arah mereka.
Novi mengambil semua bawaan Winarsih dan bergegas naik ke mobil lebih dulu.
"Saya nggak apa-apa kok Pak, mungkin karena banyak jalan aja dari tadi" ucap Winarsih lagi.
"Yan, ini ke rumah isteriku dulu ambil barang-barang. Trus kita ke hotel langsung. Kontraktornya minta cek lokasi sendiri aja ya, terus ketemu kamu di hotel aja"
Tak sampai 10 menit mereka semua telah kembali tiba di depan rumah hijau Winarsih.
__ADS_1
Novi diminta Dean turun untuk bantu membereskan barang-barang yang akan dibawa.
"Win, minta Novi sekalian mengemas pakaian Ibumu. Sebulan ke depan rumah orangtuamu akan direnovasi. Kalau Yanto sudah ke luar dari rumah sakit, mereka sementara tinggal di hotel dulu ya," ujar Dean pada Winarsih yang masih berada di dalam mobil.
"Saya turun aja Pak, bantu Novi beres-beresnya. Kasihan nanti dia bingung nggak tau letak barang-barang," Winarsih bangkit dari duduknya.
"Tapi nanti kamu capek naik-turun. Jalan ke dalem lagi," Dean menahan tangan isterinya.
"Nggak apa-apa Pak, saya nggak apa-apa," Winarsih membuka pintu mobil.
"Aduh isteriku--" gerutu Dean kemudian langsung turun dan memutari mobil untuk memegangi isterinya.
Setelah kerepotan dan rasa depresi Dean memandori Novi dan mengawasi gerakan isterinya yang bergerak ke sana kemari, akhirnya mereka kembali berada di dalam mobil untuk menuju ke hotel.
Winarsih tertidur bersandar di pundak suaminya yang sejak tadi sibuk berkirim pesan pada Rio, sahabatnya di Genk Duda Akut yang terkenal sangat berpengalaman soal kehamilan.
Dean : Katanya kencang dan tegang gitu perutnya. Isteri lu pernah gitu juga?
Rio : Ya Pernahlah. Biasa kalo gitu sih.
Dean : Ga sakit?
Rio : Kata bini gua ga. Biasa aja. Lu bawa ke Dokter dong kalo khawatir.
Dean : Udah buat janji besok. Malem ini capek katanya, mau istirahat.
Rio : Makanya isteri lu dikasi istirahat. Jangan digasak terus. Org*sme kan bikin perut kencang juga.
Dean : Ah masa sih? Org*smenya siapa yang bikin perut kencang?
Rio : Ya bini lu lah. Maklum banget gua ama Pak Dean yang pengantin baru. Sedang rajin-rajinnya.
Dean : Ta*i lu. Berarti isteri gua terpuaskan.
Rio : Udah ah. Puasa sebentar deh lu, cari kerjaan lain sementara. Jangan bini lu aja yang dikerjain.
Dean : F**k
Percakapan berakhir dan Dean mencampakkan ponselnya. Winarsih sedikit merubah posisi tubuhnya untuk memeluk lengan Dean.
Seketika Dean menunduk dan memandang wajah isterinya. Dean berencana akan membawa Winarsih ke Dokter secepatnya untuk mengetahui penyebab perut isterinya kaku tadi.
Bagaimana pula Rio menyarankan untuk berpuasa menggasak isterinya. Sedangkan hanya ditempeli dada Winarsih di dalam mobil yang berguncang-guncang saja sudah membuat kepalanya pusing.
To Be Continued..
Hemat-hemat ya bacanya, weekend gaees
Wkwkwk :p
__ADS_1