CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
91. Air Mata Dean


__ADS_3

Dean memencet tombol panggil perawat yang berada di sebelahnya dan tak lama kemudian,


"Ya Pak? tadi ada menekan tombol panggil perawat?" tanya seorang wanita berseragam biru muda.


"Iya. Tadi saya yang panggil," jawab Dean.


"Ada membutuhkan sesuatu?" tanya Perawat tersebut.


Dean melirik ke arah Pak Hartono yang sedang duduk menyilangkan kaki di sofa sembari melihat ponselnya.


"Mmmm, saya udah bisa minta tongkat untuk berjalan?" tanya Dean dengan suara pelan khawatir didengar oleh Pak Hartono.


"Belum Pak. Kondisi Bapak belum memungkinkan. Jahitan di perut Bapak belum dibuka. Nanti khawatirnya ada tekanan pada lipatan tangan yang bisa menyebabkan jahitannya tidak menutup sempurna." Perawat tadi berdiri tersenyum di sisi ranjang Dean.


"Atau bisa saya cek dulu sebentar jahitannya," ujar si Perawat.


"Oh nggak usah deh Sus, tadi udah diperiksa sama Dokter Firza pagi-pagi," potong Dean cepat.


"Atau nanti minta tolong antarkan kursi roda satu lagi ke sini ya Sus," pinta Dean lagi pada perawat.


"Baik Pak. Kalau itu saja, saya permisi dulu." Perawat tadi kemudian pergi meninggalkan Dean yang memasang raut kecewa.


"Bandel. Keras kepala," ujar Pak Hartono dari sofa. Dean hanya menghela nafas mendengar kata-kata Papanya.


20 menit berlalu dalam diam dan saling melemparkan pandangan kesal dengan Pak Hartono, akhirnya,


"Telfon Irman Pa, tanya lagi ngapain. Bilang Irman nggak perlu ikut ke dalem," ujar Dean untuk ke sekian kalinya pada Pak Hartono yang sedang duduk di sofa.


"Kan sudah dibilang sama Irman tadi, Winarsih lagi diperiksa. Irman nggak masuk ke dalam Dean, kamu khawatir banget. Dari tadi itu-itu aja yang ditanya." Pak Hartono menatap anaknya gusar.


Dean yang tahu bagaimana seorang ibu hamil sedang diperiksa di dalam ruangan, sangat khawatir. Dia membayangkan Irman bakal masuk ke dalam ruangan dan dikira suami Winarsih.


"Sebenarnya kamu khawatir sakit Winarsih atau khawatir Irman yang pergi dengan dia?" tanya Pak Hartono dengan pandangan menyelidik.


"Ya dua-duanya," ujar Dean sembari menggerak-gerakkan kaki kanannya tanpa melihat Pak Hartono.


"Rewelnya nggak ilang-ilang" gumam Pak Hartono.


20 menit kembali berlalu, Dean meraih ponselnya yang berada di atas meja.


"Halo Nov? kamu di mana? masih di rumah? urusan kamu sudah selesai? ini tolong istri saya sedang dibawa ke klinik kandungan rumah sakit, tadi perutnya terasa kencang lagi. Kalo bisa segera ke sini ya Nov. Di sini nggak ada orang." Dean mengakhiri pembicaraannya dan kembali memutar-mutar ponsel di tangan kanannya.


Pak Hartono yang menatap ponsel, melirik Dean sekilas.


"Halo Yan? kerjaan yang tadi udah selesai belum? kalo belum, bawa aja deh ke sini. Sekalian di sini aja ngerjainnya. Enggak ada orang, istri gua barusan dibawa ke klinik kandungan. Irman yang bawa. Papa lagi di sini. Buruan Yan!" Dean kembali mengakhiri pembicaraannya.


Tangannya dari tadi tak henti-hentinya memutar-mutar ponsel. Seolah sesaat lagi dia akan menelepon orang lain untuk segera datang ke sana.


"Mbah nggak sekalian ditelepon? Mbak Tina? atau Rojak?" sindir Pak Hartono pada anaknya.


"Apa sih Pa--" Dean memberengut.


"Ya kamu ini kayak anak kecil aja. Irman sama Ryan kan sama aja. Sama-sama laki-laki. Apa bedanya Irman atau Ryan yang membawa Winarsih ke klinik kandungan?" omel Pak Hartono.


"Ya jelas beda Pa, Dean kan udah kenal Ryan gimana," sungut Dean yang kembali menggerakkan kakinya untuk turun ke lantai.


"Emangnya Irman gimana?" tanya Pak Hartono.


"Ya nggak gimana-gimana juga sih," jawab Dean.


"Kita itu De, memang kalo udah nggak suka lihat seseorang, ngeliat cara orang itu bernafas aja rasa-rasa kita itu salah caranya. Padahal cuma narik dan menghela aja,"


"Bukan nggak suka Irman," ujar Dean.


"Jadi apa? cemburu? kamu cemburu sama Irman?" tanya Pak Hartono setengah tertawa.


"Enggak mungkin, mustahil." Dean mengetuk-ngetukkan ponselnya ke tepi ranjang.


"Dulu aja kamu, kalo marahin Winarsih itu kayak Bapak tiri marahin anaknya. Sekarang udah kayak bayinya Winarsih kamu. Rewel minta ampun. Kasihan bayimu nanti bapaknya begini," gerutu Pak Hartono melihat Dean yang menunduk berpura-pura sibuk melihat tepi jahitan selimutnya.


Tak berapa lama, pintu ruang rawat terbuka. Novi yang terlihat terengah-engah sambil menenteng sebuah tas muncul di pintu.


"Eh Nov! akhirnya nyampe juga kamu! sana pergi susulin istri saya ke klinik kandungan di lantai atas. Bilang sama Irman segera kembali jemput Papa ke sini. Papa udah nggak sabar mau balik ke kantor," perintah Dean pada Novi yang dijawab dengan anggukan. Sedetik kemudian, wanita itu sudah kembali menutup pintu dan pergi meninggalkan ruangan.


"Kalo ngomong pinternya nomor satu," gumam Pak Hartono lagi.


"Makanya jadi Pengacara. Maju tak gentar, membela yang bayar," ujar Dean kalem.


Sesaat kemudian, Irman telah muncul di pintu.


"Ya Pak? kita kembali sekarang?"

__ADS_1


"Eh gimana istriku Ir?" tanya Dean menegakkan duduknya.


"Saya kurang tau Pak. Karna tadi, waktu Dokter meminta saya masuk untuk mendengar penjelasan, Bu Winarsih menolak, katanya nggak apa-apa. Saya malah diminta pergi oleh Bu Winarsih dari tadi." Irman sedikit meringis.


"Ya pantes istrinya ngomong begitu, suaminya aja begini. kamu tinggal telepon Novi aja sekarang. Papa mau kembali ke kantor, nanti kalau ada apa-apa kabari."


Dean hanya diam mendengar perkataan Pak Hartono. Kemudian pria tua itu pergi meninggalkan ruangan bersama Irman.


"Halo Nov? sudah? gimana?" tanya Dean pada Novi melalui telepon.


"Belom Pak, sebentar ya. Saya juga baru ngobrol dengan Dokternya. Sebentar lagi, saya telfon Pak Dean untuk ngasi kabar,"


"Ya udah, segera ya Nov" Dean kembali menutup ponselnya.


Beberapa saat yang benar-benar terasa sangat lama bagi Dean, akhirnya pria itu kembali menurunkan kaki kirinya untuk menjejak lantai.


Perlahan-lahan dia mencoba berjalan dengan bertumpu pada kaki kirinya meski terasa sangat sulit. Setelah berjalan 2 meter bolak-balik akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke ranjangnya.


Matanya memerah menahan rasa ngilu pada bahunya yang masih sedikit membengkak. Jahitan di perutnya terasa sedikit perih. Dean kembali berencana meminta penghilang rasa sakit pada Dokter.


DRRRRRRTTT DRRRRRRRT DRRRRRRTTT


Ponsel di atas meja di sebelah ranjang bergetar. Dean buru-buru menggeser duduknya untuk meraih ponsel itu.


"Ya Nov? gimana?" tanya Dean langsung saat melihat nama Novi muncul di layar ponselnya.


"Bu Winarsih perutnya kencang Pak. Kata Dokter mungkin karena kecapean. Bisa jadi karena beberapa hari ini terus ngerawat Bapak di ruangan. Jadi saran Dokter Azizah, Bu winar hari ini dirawat saja. Diinfus satu botol untuk tenaga biar besok pagi lebih segar. Gimana Pak?"


"Kecapean ya Nov? di infus untuk tenaga? karna aku ya Nov?" Dean berbicara setengah menerawang seolah semua perkataan itu ditujukan untuk dirinya sendiri.


"Gimana Pak?"


"Anak saya nggak apa-apa kan?"


"Bayinya nggak apa-apa Pak, cuma Ibunya aja perlu istirahat,"


"Ya udah, kamu temani istri saya malam ini ya. Urus semua soal kamarnya. Dijaga ya Nov. Nanti kalo ada kursi roda dan Ryan sudah datang, saya telfon kamu lagi. Saya mau ke sana ngeliat dia,"


Dean mengakhiri pembicaraannya dengan wajah lesu. Bagaimana tidak? berada di tempat cukup dekat tapi tak bisa saling melihat adalah merupakan siksaan yang cukup berat.


Dean merasa bersalah karena merasa terlalu rewel dan banyak permintaan kepada isterinya. Winarsih yang merasa suaminya membutuhkan dirinya, berusaha semaksimal mungkin agar suaminya itu selalu merasa diperhatikan.


Dean memejamkan mata membayangkan apa yang dilakukannya hari ini. Sekarang isterinya malah terbaring karena kelelahan. Dean menoleh ke arah ranjang pendamping pasien yang teronggok kosong.


Dean menatap kakinya dengan pandangan putus asa. Dia sekarang merasa benar-benar tak berguna.


Ryan yang ditunggunya, ternyata sampai malam tak menampakkan batang hidung. Dengan segala perasaan bersalah dan kesal yang menumpuk di dalam hatinya, Dean jatuh tertidur lebih awal malam itu.


Keesokan harinya.


"Win--" panggil Dean saat membuka matanya.


"Ryan Pak," jawab Ryan yang sedang berdiri di sisi kanan ranjang.


"Kapan lu nyampe? dasar lu ya! dari kemarin gua tungguin, sampai gua ketiduran lu nggak nyampe-nyampe," cerca Dean pada sekretarisnya.


"Kerjaan kemarin udah nanggung Pak. Mau balik ke sini udah kemaleman. Sekali-sekali sendirian kan nggak apa-apa," jawab Ryan kalem.


"Udah jam berapa nih? mana kursi roda gua?" tanya Dean seraya meraba-raba ponselnya yang berada di bawah bantal.


"Jam 09.00 pagi, ternyata enggak ada Bu Winarsih, Bapak bisa kok tidur nyenyak,"


"Kursi roda gua, buruan."


"Enggak boleh Pak, tadi pesan istri Bapak, harus makan dulu dan ganti pakaian." Ryan meletakkan satu set seragam pasien di dekat kaki atasannya.


"Elu yang gantiin baju gua gitu? ogah!" seru Dean.


"Atau makan dulu, gimana?" tawar Ryan.


"Belum laper,"


"Jadi saya harus gimana? saya panggil perawat aja ya? saya pilih yang paling cantik, mau?"


"Kayaknya lu bener-bener udah bosen jadi sekretaris,"


Kemudian,


"Ya udah Pak Ryan, biar saya aja yang urusin Pak Dean. Enggak apa-apa ditinggal aja dulu." Suara Winarsih terdengar ketika pintu membuka dan wanita itu muncul dengan sebuah kursi roda bersama Novi.


"Win--" Dean menoleh menatap isterinya. Wajahnya memerah dan rasa-rasanya sesaat lagi air matanya akan tumpah.

__ADS_1


Ryan segera bergegas pergi ke luar ruangan tanpa diminta dua kali seraya menarik tangan Novi untuk berlalu dari sana.


"Kamu nggak apa-apa? apanya yang sakit? katanya diinfus? udah habis 1 botol? kamu gimana sekarang? udah seger? anak kita nggak apa-apa?" Rentetan pertanyaan panjang keluar dari mulut Dean.


"Enggak apa-apa. Makan dulu ya sekarang, biar bisa langsung ganti pakaian," ujar Winarsih berdiri dari kursi roda dan menarik overbed table yang berisi santapan pagi.


"Maafin aku ya win, karna aku kamu jadi capek. Maafin aku yang udah banyak mintanya ke kamu. Aku belum selera makan." Dean menunduk berusaha mengalihkan pandangannya.


"Kamu jadi sakit karna aku. Aku ngerasa nggak ada gunanya jadi suami kamu," ucap Dean pelan belum menatap isterinya.


Winarsih kembali menjauhkan overbed table dan berdiri meraih kursi roda serta mendekatkannya ke ranjang suaminya.


"Ayo Pak, kita jalan-jalan sebentar ke taman. Cuaca di luar sedang bagus," ajak Winarsih mengusap lengan suaminya. Dean mengangkat pandangannya kepada Winarsih.


"Kamu nggak boleh capek," ujar Dean.


"Enggak kok, tamannya deket. Biar Pak Dean saya dorong." Winarsih kembali meraih tangan kanan suaminya. Perlahan Dean melangkahkan kaki kirinya lebih dulu untuk menjejak lantai dan berpindah ke kursi roda.


Perlahan Winarsih mendorong suaminya ke luar kamar menyusuri lorong menuju sebuah taman kecil yang biasanya digunakan oleh pasien untuk menikmati cahaya matahari pagi ataupun bersantai sore.


Taman yang berada di bagian belakang rumah sakit itu tidak besar, tapi terasa sangat asri karena dipenuhi oleh rimbun dedaunan yang menjalar di gawang-gawang besi yang melingkupi jalur pejalan kaki.


Mereka menyusuri taman itu dalam diam seolah menikmati kebisuan atas pikiran mereka masing-masing.


"I want you to know that I'm never leaving


'Cause I'm Mrs. Snow, 'til death we'll be freezing


Yeah, you are my home, my home for all seasons


So come on, let's go"


"Let's go below zero and hide from the sun


I love you forever where we'll have some fun


Yes, let's hit the North Pole and live happily


Please don't cry no tears now, it's Christmas, baby"


(Snowman - Sia)


"Kuingin kau tau bahwa aku tak kan pernah pergi


Karena aku Mrs. Snow, sampai mati kita akan kedinginan


Ya, kau adalah rumahku, rumahku untuk semua musim


Jadi ayo, ayo pergi "


"Mari kita pergi ke suhu di bawah nol dan bersembunyi dari matahari


Aku mencintaimu selamanya di mana kita akan bersenang-senang?


Ya, mari kita pergi ke Kutub Utara dan hidup bahagia


Kumohon jangan menangis, jangan menangis sekarang, ini Natal, sayang "


Winarsih yang telah mempelajari lagu yang pernah dinyanyikan Dean untuknya, kini sedang bersenandung di sepanjang taman seraya mendorong kursi roda suaminya.


Dean membisu mengatupkan mulutnya.


"You are my home...*" ucap Winarsih di akhir lagunya.


(*Kau adalah rumahku)


Perlahan tangan kanan Dean menghapus setetes air mata yang turun ke pipinya. Dia tak ingin Winarsih melihatnya menangis karena hanya ditinggalkan semalam.


To Be Continued.....


PS.


Lagu Snowman ini berarti pernyataan seseorang yang ingin mencintai selamanya, menganggap seseorang itu sebagai rumah, dan menginginkan hal itu abadi berlangsung selamanya.


Mengingat saat tubuh manusia berada di bawah titik nol (membeku), jasad manusia akan utuh nggak rusak. Berharap saat hidup di kebekuan itu bisa bersama selamanya dan cintanya nggak rusak.


Aku cuma mau memastikan kalian mengerti maksud Dean pernah menyanyikan lagu itu, dan Winarsih sekarang mengerti maksud lagunya. XD


Penting nggak sih aku ngetik ini? XD


19.03.2021

__ADS_1


01.19


__ADS_2