
Ara berangkat ke Kalimantan untuk mengunjungi perusahaan almarhum suaminya yang saat ini sedang berada dalam masalah perebutan oleh ahli waris.
Ara menikahi seorang pria tua yang berusia lebih dari setengah abad. Dua kali lipat lebih dari usianya ketika menikah. Anak-anak suaminya berusaha merebut apa yang telah diberikan ayah mereka padanya.
Isteri pertama suaminya telah meninggal dunia. Jadi Ara bukanlah yang kedua atau Ara tidak merebut seorang suami dari wanita lain.
Tawaran menikah itu datang kepadanya 4 tahun yang lalu. Di saat ia berusia 25 tahun dan sedang getol-getolnya mencari pekerjaan setelah susah payah menamatkan pendidikannya swasta ternama.
Ia dipaksa mengakhiri hubungannya dengan Dean dengan janji dari Bu Amalia yang akan membiayai kuliahnya. Bu Amalia menepati janjinya, maka iapun benar-benar menepati janjinya pada wanita itu.
Ara seperti lenyap ditelan bumi. Ia benar-benar menghilang dari kehidupan Dean.
Dean mungkin yang pada saat itu patah hati berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan studinya. Ara tahu, bahwa Dean akan menjadi seorang pengacara seperti cita-cita yang selalu digaungkan pria itu selama hampir tiga tahun menjalin hubungan dengannya.
Sejak berpisah dari Dean, Ara tak pernah menjalin hubungan dengan pria lain. Dia hanya fokus pada pendidikan dan cita-citanya.
Rasa sakit hatinya kepada Bu Amalia berubah menjadi sebuah obsesi untuk menjadikan dirinya lebih mampu, lebih kaya atau setidaknya menjadi seorang wanita yang mampu berbuat apapun dengan uang yang dimilikinya. Dia ingin suatu hari nanti bisa bertemu lagi dengan Dean dan melihat penyesalan di mata pria itu karena tak pernah memperjuangkannya.
Ara tak mau lagi menyia-nyiakan waktunya untuk menjalin hubungan dengan pria muda kaya. Terlebih pada pewaris harta kekayaan orang tua yang begitu menjaga kemurnian garis keturunan mereka.
Sosok Dean tak pernah menguap dari pikiran Ara. Karena Dean selalu menjadi yang pertama baginya.
Dean adalah ciuman pertamanya, pelukan pertamanya, belaian pertamanya. Bahkan dulu mereka sempat bercumbu cukup panas. Hormon masa remaja mereka pernah membuat Ara nyaris menanggalkan seluruh pakaiannya untuk pria itu.
Dan besar kemungkinan, itu adalah kali pertama Dean mencumbui wanita. Dan Ara tak akan pernah melupakan perlakuan pria itu.
Ara selalu merasa percaya diri bahwa dia adalah cinta pertama yang mungkin hingga saat ini belum mampu dilupakan oleh pria itu.
Siang itu, Ara yang berjalan memasuki lobby hotel menuju resepsionis memperhatikan seorang pria yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan sebuah koran yang berada di pangkuannya.
Ara mengenali sosok postur tubuh yang selalu tegak dengan dagu yang nyaris selalu terangkat tiap memandang orang lain.
Pria yang beberapa hari ini selalu mengabaikan pesan-pesannya. Pertemuannya dengan Rio beberapa waktu yang lalu membuat dirinya semakin penasaran dengan penampilan mantan pacarnya itu sekarang.
Beberapa kali melihat Dean tampil di televisi malah membuat rasa penasarannya akan pria itu kian membuncah. Dean sepertinya sedang berada dalam masalah. Apa rumah tangganya yang seumur jagung itu baik-baik saja?
Setelah memperoleh kunci kamar dan menyakinkan dirinya bahwa ia hanya akan menyapa teman lamanya, Ara akhirnya memberanikan diri memanggil Dean.
Dean terkejut melihatnya. Pandangan pria itu masih tajam seperti biasa. Ara merasakan dadanya berdebar tak karuan. Meski melangkah tenang menuju Dean yang hanya mendongak tanpa beranjak dari tempatnya, Ara mencoba mengatur ritme jantungnya.
Dean semakin tampan. Sorot mata tajam dari mata sedikit sipit itu masih memesona. Sebagai seorang pria, Dean memang memiliki kelasnya tersendiri. Dia selalu tampak mahal dan elegan.
Setelah berbicara berbasa-basi sejenak, Ara bisa mengambil kesimpulan bahwa Dean benar-benar menikah karena cinta. Bukan seperti yang ia duga sebelumnya.
Beberapa saat lamanya mereka berbicara tak membuat Dean mau memandangnya berlama-lama. Sejak tadi dia berharap Dean akan melakukan kontak mata dengannya. Dia ingin menyampaikan lewat pandangannya bahwa ia merindukan pria itu.
Tapi Dean tak menatapnya. Pandangan pria itu berkeliaran tak nyaman. Bahkan Dean beberapa kali tak menyahuti perkataannya. Pria itu hanya tertawa dan berbasa-basi umum. Ya, Dean adalah pengacara.
Pria itu tak ingin mengeluarkan pernyataan yang menyulitkannya di masa depan. Dean tetap detil sejak dulu.
Lagak Dean bercerita tentang isterinya sedikit menimbulkan rasa cemburu di hati Ara. Memangnya dia mau apa? dia hanya ingin berteman.
Tapi Ara tak bisa memungkiri bahwa pria yang terlihat begitu mencintai isterinya selalu terlihat lebih menarik ketimbang pria mata keranjang di luar sana.
Dean memang berkelas.
Percakapan mereka terhenti saat Dean dipanggil oleh Papanya. Dean langsung pergi meninggalkannya tanpa pamit.
**********
Ara sepertinya masih berusaha untuk mengingatkannya akan cerita masa lalu mereka. Tapi Dean merasa bahwa urusan mereka memang telah lama selesai.
Dean malas jika harus terus diingatkan akan kesalahannya di masa lalu. Ia telah melangkah di masa depan. Tapi sepertinya Ara tetap mengurung kenangan mereka di dalam kepalanya.
Ara memang semakin cantik. Tapi kecantikan Ara telah banyak dimiliki hampir semua wanita ibukota yang berduit.
Berada di hotel yang sama dengan Ara, Dean tak tahu apa wanita itu masih berada di Kalimantan atau tidak. Jadwalnya yang padat membuatnya jarang berlama-lama di lobby hotel atau ketika sarapan pagi.
Dean hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya sendiri dan kembali ke Jakarta. Dia sangat merindukan Dirja, dan terutama ibunya.
__ADS_1
Setelah hukuman dari Pak Hartono soal menyelesaikan berkas-berkas yang titipkan padanya, Dean melalui sidang selama dua hari ke depan dengan lancar.
Tapi lagi-lagi pihak Hartono Coil tersudut dengan munculnya surat-surat pernyataan dari warga yang telah tinggal lama di sana; yang menyatakan bahwa mereka memang telah berpuluh tahun di menempati tanah itu sebelum Perusahaan Tambang Hartono Coil mengambilnya.
Kepala Dean kembali sakit. Tampaknya dia kembali harus menyiapkan pledoi (Nota Pembelaan) di depan hakim. Dia mulai merasa tak percaya diri dan salah langkah. Begitu susahkah menangani kasus pidana?
Dean menjadi semakin penasaran.
Kalau Hartono Coil dinyatakan kembali kalah di Pengadilan Tinggi, maka jelas selanjutnya ia akan melakukan kasasi ke Mahkamah Agung di Jakarta.
Hari yang terasa sangat panjang dan melelahkan. Dean merebahkan tubuhnya di ranjang besar. Waktu menunjukkan hampir pukul 9 malam. Dan itu adalah hari keempatnya berada di Kalimantan.
"Lagi ngapain?" tanya Dean melalui sambungan panggilan Video pada isterinya.
"Ini lagi nyusuin Dirja, dari tadi belum mau tidur. Mungkin karena kelamaan tidur siang," tutur Winarsih mengarahkan kamera ponsel ke wajah anaknya.
"Mama sehat Win?" tanya Dean.
"Sehat, saya ikut anterin terapinya ke rumah sakit," ujar Winarsih.
"Dirja ditinggal?"
"Iya, saya mompa ASI untuk stok minumannya selama ditinggal. Lagian nggak lama kok ke rumah sakitnya," ujar Winarsih yang masih mengarahkan kamera ponsel pada anaknya yang mulai tertidur.
"Win, itu kok Dirja enak banget tidurnya? mulutnya udah nggak gerak lagi, berarti udah tidur ya?" tanya Dean.
"Iya, udah. Kenapa?" Winarsih balik bertanya.
"Jangan ditutup dulu, aku mau liat. Kangen Win. Kameranya jangan ke Dirja mulu dong, kangen ama ibunya juga," ujar Dean seraya bangkit menumpuk bantal di ranjang untuk bersandar. Dia ingin berlama-lama memandang isterinya dalam posisi berbaring yang nyaman.
"Udah empat hari Win aku nggak liat kamu tidur. Aku kangen megang-megang kamu. Kapan selesai itunya?" tanya Dean yang merasa hasratnya sedikit meronta karena melihat puncak dada Winarsih saat menyusui Dirja.
"Memangnya kapan pulang?" Winarsih juga merasa merindukan suaminya. Mata lelah Dean yang memandangnya lewat sambungan video itu membuatnya ingin tidur di pelukan pria itu.
"Paling lama tiga hari lagi. Kalo nyambung sidang lagi, aku mau pulang dulu. Enggak enak jauhan lama-lama. Kalo Dirja udah gedean dikit, kamu ikut aja ya ke mana aku pergi." Dean membuka ikatan dasi dan menariknya lepas dari leher. Tangannya kemudian membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Sebentar," sahut Winarsih seraya meletakkan ponselnya di ranjang dan mengangkat Dirja untuk diletakkan ke boxnya yang berada di sisi kanan ranjang mereka.
"Besok atau lusa kamu ke SPA ya. Biar kamu dipijat. Ambil paket yang paling lengkap. Entar selesai 40 harinya, aku mau lama. Aku kangen banget ama Bu Winar."
"Masih lama lo Pak"
"Persiapan"
"Itu kenapa belum ganti baju? udah malem," tanya Winarsih yang menyandarkan ponselnya pada sebuah guling di sisi kirinya. Dia sedang berbaring miring menatap Dean.
"Capek Win, aku pengen dibukain. Harusnya kalo aku di rumah, aku mau minta bantuan kamu lagi." Dean memberengut manja.
"Buka dong, aku mau liat," pinta Dean pada isterinya.
"Buka gimana? ASI-nya banyak. Nanti netes ke luar." Winarsih memegang dadanya merasakan dorongan ASI yang akan ke luar.
"Kamu jangan megang-megang gitu. Aku terganggu. Buka dong Bu Winar, aku udah baring miring ini untuk ngeliat kamu." Kini wajah Dean ikut memandang isterinya dengan posisi ponsel miring.
"Jauhin dikit hapenya. Buka baju Win, nggak apa-apa netes. Entar kalo aku pulang, aku mau nyicipin minumannya Dirja." Dean terus mengeluh dengan rewelnya.
Winarsih mulai membuka satu persatu kancing piyamanya. Mata Dean menatap tak berkedip. Puncak dada isterinya terlihat semakin bundar karena ulah Dirja. Kini Dean semakin iri dengan anaknya itu.
"Kamu ke SPA bareng Novi ya. Pastikan therapist-nya perempuan."
"Iya Pak. Masak yang mijat laki-laki," sahut Winarsih.
"Iya, bagus. Soalnya kok aku jadi cemas setelah liat dada kamu." Dean menarik lepas tali pinggangnya. Dalam sekejap mata, ia sudah berbaring kembali hanya dengan memakai boxer.
"Ini mau sampai kapan dibuka?" tanya Winarsih melirik pakaian bagian atasnya yang terbuka.
"Pake selimutnya," perintah Dean.
"Win, aku udah siap tempur ini." Dean menatap Winarsih yang hampir memejamkan matanya. Dean menatap sepasang dada luar biasa yang begitu dirindukannya.
__ADS_1
"Hmmm--" gumam Winarsih.
"Eh Win, itu ASI-nya mulai netes," ujar Dean.
"Dikit aja"
"Sayang Win" jawab Dean sedikit frustasi.
"Aduuuuh," erang Dean.
"Kenapa?" Winarsih membuka matanya.
"Enggak apa-apa. Ya udah, kamu tidur aja. Aku mandi dulu." Dean mencium layar ponselnya beberapa kali kemudian mengakhiri pembicaraan.
Tampaknya malam itu dia harus menuntaskan hasratnya sendirian.
**********
Hari ke enam di Kalimantan, Dean turun lebih lama dari biasanya karena tak ada jadwal pagi ini.
Malam nanti mereka akan melakukan meeting sekali lagi untuk mematangkan sidang hasil putusan yang akan dibacakan di depan perwakilan Penasehat Hukum mereka saja.
Hampir pukul 11 siang, menu sarapan di restoran hotel sudah tak ada lagi. Dean meminta secangkir teh dan sebuah buku menu untuk memesan makan siangnya.
Pak Hartono, Fika dan Irman telah kembali ke Jakarta dua hari yang lalu. Papanya memiliki jadwal kunjungan kerja ke Provinsi Bangka Belitung.
"Baru sarapan jam segini?" tanya Ara yang tiba-tiba muncul dari belakang Dean.
"Sengaja," sahut Dean santai meski sedikit terkejut dengan kemunculan Ara.
"Aku masih boleh berteman kan?" tanya Ara menghempaskan tubuh tepat di depan Dean.
"Ya bolehlah," jawab Dean sedikit menarik senyum di bibirnya. Dia tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Normalnya seorang pria pasti akan langsung menambahkan kata-kata, 'emang kenapa harus nggak boleh?'
Sesaat kemudian, sebuah foto bayi menggemaskan muncul berpijar di layar ponselnya. Dean segera menjawab panggilan video itu, jika ia tak ingin mendapat akibat yang serius.
Dean melirik Ara sekilas yang kini terlihat pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Ya Bu?" sahut Dean.
"Lagi ngapain?" tanya Winarsih di video. Isterinya itu tampaknya sedang berada di depan meja riasnya.
"Lagi ngobrol ama temen," jawab Dean.
"Saya mau pergi ke rumah SPA ya," ujar Winarsih.
"Ngapain?"
"Tapi Bapak yang minta kemarin. Bapak ngomong ntar lagi 40 hari-nya selesai. Mau lepas kangen yang lama, itu Novi udah pesan tempat. Therapist-nya pasti perempuan. Saya pakai lingerie warna apa besok?" tanya Winarsih yang mulai jahil.
Winarsih kemudian tertawa karena melihat ekspresi wajah Dean yang terlihat merona. Ia tak menyangka ternyata Winarsih sekarang sudah berani menggodanya.
Ingin saja rasanya Dean mencium bibir isterinya saat itu juga. "Awas kamu ya Bu," balas Dean tersenyum.
Sejenak ia melupakan Ara yang duduk di seberangnya dan mustahil tak mendengar percakapan nakal antara ia dan isterinya.
To Be Continued.....
Jatah up tetap 2x sehari. Yang kalian baca di pagi hari itu adalah hasil up dinihari. Jadi sebenarnya tidak ada pengurangan. Kecuali weekend.
Konflik cerita ini tipis-tipis aja. Mohon dukungannya aja ya. Kalau semua dihempaskan sekaligus. Ceritanya bakal tamat. XD
Makasi like, komentar dan votenya. Sayang kalian selalu. "Sini cium dulu :*"
Buat yang suka cerita thriller-roman dan punya akun wat*pad bisa follow akun juskelapa di sana.
Ada cerita baru yang sedang slow update. Gratis.
IG : @juskelapa_
__ADS_1