
Minta Likenya dulu boleh yaa.. biar enggak lupa.
Selamat Membaca :*
**********
"Jadi kalau malem mingguan ke mana aja Bu?" tanya Utomo pada Dewi yang merupakan HRD Manager di Grup Cahaya Mas.
"Engga ada, biasa nonton film aja di rumah. Atau makan keluar bareng temen-temen. Kalo kamu ke mana?" Dewi balik bertanya. Tangannya mengaduk jus kedondong yang esnya mulai mencair.
"Sama Bu, paling main gitar aja di mess sama Jaka." Mata Utomo tak lepas memandang Dewi yang berwajah biasa saja tapi memiliki penampilan yang rapi.
"Jangan panggil Bu, dong. Kan udah kenal deket," pinta Dewi.
"Deket atau pacaran?" tanya Utomo lagi.
Dia tampaknya harus segera memastikan hubungan mereka. Karena dia sudah beberapa kali mentraktir wanita itu keluar rumah makan di restoran berjalan-jalan tapi sepertinya tidak ada kejelasan soal hubungan mereka.
"Memangnya kamu bener nggak punya pacar? Aku manggilnya apa ya? Manggil nama aja atau gimana?" tanya Dewi yang usianya jauh diatas Utomo.
"Aku single kok. Aku sukanya dipanggil Mas. Mas Utomo. Gitu---"
"Ya udah, aku panggilnya Mas Ut aja ya." Dewi memandang Utomo dengan manik mata berbinar.
"Mas Ut nggak pesen makan?"
"Iya boleh, kita minta menunya dulu." Utomo lalu melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang berdiri di dekat meja kasir.
Beberapa bulan terakhir mendekati Dewi yang seorang HRD Manager, uang Utomo sudah habis banyak. Sesuai saran Jaka padanya, kini Utomo sedikit melonggarkan soal pengeluaran.
Meski mencoba berpikir positif, Utomo tetap saja merasa nyesek tiap kali pulang ke rumah dan menghitung sisa uang di dompetnya.
Biaya kencan di Jakarta memang luar biasa. Dulu di desanya, Utomo paling jauh mengajak Winarsih ke pasar malam. Membelikan wanita itu gula-gula kapas dan jagung brondong. Modalnya tak banyak, tapi ia sudah bisa menggandeng tangan wanita itu.
Mendekati HRD Manager, tak mungkin Utomo mengajaknya hanya sekedar jalan ke Monas dan membeli gorengan. Tapi tak apalah, dia masih muda. Dan mengubah hidup itu memang membutuhkan modal yang besar.
Setelah mengantarkan Dewi pulang dengan sebuah taksi biru dan mengantongi status sebagai kekasih seorang HRD Manager, Utomo tersenyum puas. Dia akan menceritakan pada Jaka bahwa semua tips yang diberikan sahabatnya itu berhasil dengan mulusnya.
"Jadi udah ngapain aja?" tanya Jaka saat mereka duduk menonton acara kompetisi dangdut di televisi.
"Makan, nonton. Tadi tak anter pulang naik taksi. Kan itu termasuk kesopanan Jak," ujar Utomo.
"Bukan kesopanan Ut. Mau nganter naik ojek juga aneh. Masak nganterin tapi naik ojek pisah-pisah. Atau mau bertiga desak-desakan di satu motor?"
"Iya sih memang."
"Ya sudah. Dijalani baik-baik. Meski usiamu terpaut jauh, tapi soal jodoh nggak ada yang tau. Tapi jangan lama-lama Ut kalo kamu niatnya serius. Jangan sampai kayak Winarsih. Ibarat nyicil mobil udah mau lunas tiba-tiba ditarik leasing. Sakit Ut," tukas Jaka.
"Winarsih udah lahiran mungkin ya Jak?" tanya Utomo.
__ADS_1
"Nggak tau Ut, aku bukan Bidannya."
**********
Dean telah menerima informasi bahwa putusan Pengadilan Tinggi dari Kalimantan menyatakan mereka kembali kalah.
Dean sudah memastikan bahwa mereka akan mengajukan permohonan kasasi kepada panitera. bahwa mereka akan melakukan kasasi. Dan syarat untuk mengajukan kasasi adalah rentang waktu 14 hari setelah putusan pengadilan dikeluarkan.
"Yan, pengacara yang kemarin udah dikontak? Jangan lupa diingetin lagi soal tenggat waktunya 14 Hari. Biar permohonannya cepet beres trus segera dibuatin akta ama paniteranya." Dean menutup laptopnya dan mengklik pantat mouse untuk mematikannya.
"Perlu dibilang enggak ke paniteranya kalau ini kasus Pak Hartono?" tanya Ryan.
"Gak perlu! Lu cukup bilang ini kasusnya Danawira's Law Firm. Dengan ketenaran nama gua, itu akta pasti cepet selesainya tanpa harus bawa-bawa nama Papa." Dean kembali duduk menyandarkan tubuhnya di kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat sombong sekali.
"Iya deh,"
"Makanya lu lebih giat sekarang. Biar jadi pengacara tersohor. Kalo udah ngetop duitnya banyak. Lu mau kawin kan? Cieeeee Ryan sekarang pacaran. Udah berapa lama lu jadian ama Novi? Nggak macem-macem kan lu ama dia?" Dean yang rasa ingin tahunya membuncah memberondong sekretarisnya dengan pertanyaan.
"Apa sih Pak--kayak nggak pernah pacaran aja. Udah lebih dari sekedar master. Sampe-sampe mantan kayak nggak bisa lupa gitu. Hebat banget Pak Dean. Cewe kalo udah nempel sekali jadi susah lepas."
"Dulu itu hal yang membanggakan Yan. Sekarang itu hal yang membawa kesulitan. Dulu gampang cium pipi kanan-kiri ketemu cewe. Sekarang? Coba aja. Bisa-bisa gua didiemin 40 hari berikutnya. Serem ah." Dean membuka sebuah pesan dari Toni yang mengajaknya bertemu di Beer Garden.
"Ngomong-ngomong, dari dulu saya penasaran. Kemarin-kemarin mau nanya tapi belum sempet," ujar Ryan.
"Apa?"
"Soal Disty. Kenapa Pak Dean khawatir banget soal video-video itu? Emang udah pernah begituan ama dia?"
"Sekarang kok nggak takut lagi? Bisa jadi Disty masih nyimpen videonya."
"Sekarang Disty udah nggak ada back-up dari Si Atmaja lagi. Nyalinya juga pasti nggak ada. Kalo dia berani nyebarin lagi, dia taulah berhadapan ama siapa. Kok lu keponya baru sekarang? Udah sempet liat video gua juga lu? Gimana? Luar biasa kan?"
"Najis," gumam Ryan nyaris tanpa suara.
DRRRRRRTTT
DRRRRRRTTT
"Gua angkat telfon dulu, lu kerjain yang tadi. Kalo cepet beresnya. Lu gua kasi bonus jam malam berduaan ama Novi. Tapi nggak boleh ke taman belakang deket parkiran. Bahaya." Dean tertawa jahil seraya mengibaskan tangannya meminta Ryan pergi.
Sebelum menutup pintu di belakangnya, terdengar suara Ryan bergumam "pemerasan".
"Ya? Ada siapa aja emangnya di sana?" tanya Dean.
"Udah deh ke sini aja. Kayak ibu-ibu banget mesti rame dulu baru dateng." Suara Toni di seberang terdengar tak sabar.
"Kalo udah lengkap baru enak. Jadi nggak perlu ngulang cerita lagi kalo ada yang baru dateng. Ya udah, gua ke sana." Dean mengakhiri pembicaraan dan segera beranjak dari duduknya.
Sore itu pekerjaannya telah selesai dan sebelum kembali ke rumah dia berencana akan menikmati quality time sejenak bersama Genk Duda Akut.
__ADS_1
(Beer Garden SCBD Sudirman, pukul 17.00)
"Jadi--gua kenalnya di aplikasi kencan gitu. Masih muda banget. Enak karena masih polos-polos gitu. Gua jadi ngerasa selalu dibutuhkan ama dia." Toni tersenyum puas saat membanggakan pacarnya yang sempat di bawa ke rumah sakit saat menjenguk Winarsih yang baru melahirkan.
"Udah lu apain aja?" tanya Rio memajukan letak duduknya untuk mendengar suara Toni yang semakin rendah saat berbicara.
Dean dan Langit yang penasaran dengan ekspresi wajah Toni, juga ikut memajukan letak duduknya dan mendekatkan telinga mereka.
"Ternyata, meski kayaknya masih polos-polos gitu, dia udah nggak ori lagi Bro. Jadi yah sekalian ajalah gua ajarin sesuatu yang baru," tukas Toni menghela nafas panjang dan kembali menjauhkan badannya. Ketiga orang pria lainnya pun ikut mundur dan menghela nafas.
"Tapi lu taunya gimana dia udah nggak ori lagi? Lu tanya?" tanya Langit sedikit polos.
"Iya, gua tanya. Kamu ori? Apaan sih Langit... lu pikir ni beli tas kulit apa--" Toni memandang Langit yang sekarang mengerti dan tertawa.
"Ya gitu-gitu deh. Udah sampe telanjang-telanjang, gua baru tanya. Terusin nggak?"
"Terus dia jawab apa? Teruskanlah--teruskanlah--kau begitu... Gitu Ton?" tanya Dean tertawa terbahak-bahak karena menirukan lirik lagu Agnes Monica.
"Enggak lucu Dean anji**!" maki Toni. Semua yang mendengar hal itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Masih mau denger nggak?" ketus Toni pada ketiga orang temannya. Ketiga orang pria yang ditanya langsung mengangguk-angguk cepat dan kembali mendekatkan tubuh mereka.
"Terus ya udah, gua minta dise*pong. Dia mau. Berarti kan udah biasa." Toni menatap wajah ketiga temannya.
Ketiga pria itu menyilangkan tangan di depan dada dan menggeleng-geleng.
"Nggak bener banget idup lu Ton! Ckckck" Dean berdecak.
"Gua nggak nyangka lu main nyuruh sedot-sedot aja." Langit menghela nafas panjang.
"Pergaulan lu menyesatkan," tukas Rio.
"Apaan sih. Lu semua kayak nggak pernah disep*ongin aja ama cewe-cewe lu dulu. Jaman SMA aja udah maen kunci-kunci kamar. Lu lagi De! Dulu kerjaan lu ama Ara ngapain aja? Pasti pernah disep*ongin juga!"
"Mulut lu dari tadi sepang-sep*ong cewe-cewe meja sebelah udah pada ngeliatin." Rio menunjuk meja sebelah dengan dagunya.
"Mampus! Yang pernah nyepo*ngin Dean dulu dateng!" Langit tertawa tertahan.
"Hah??!!" Dean menoleh ke belakang tempat dimana pintu masuk cafe berada. Ara berjalan mendekati meja mereka.
"Pasti lu lagi ya?" tanya Dean pada Rio.
"Ara kan temen deket gua juga De. Ya biasa ajalah. Pertemanan dewasa aja. Lagian udah lama banget kejadian lu bedua. Lu juga nggak usah geer banget. Biasa aja. Ara juga nggak pernah ngomong yang macem-macem kok ke gua." Rio melambaikan tangannya ke arah Ara.
"Gua nggak pernah geer. Pokoknya kalo gua nggak nyaman, gua balik duluan." Dean mendesis pada Rio seiring Ara yang tiba di meja mereka.
Dean duduk mematung berpura-pura sibuk menghitung kepingan es batu di dalam gelasnya.
To Be Continued.....
__ADS_1
Salah satu contoh kepingan percakapan Genk Duda Akut yang juga hobi ghibah.
Nantikan spin-offnya setelah lebaran. XD