
Tiga minggu sejak kecelakaan itu berlalu, namun tanda-tanda penusuk misterius yang telah melukai suaminya belum juga tertangkap.
Kabar terakhir yang didengarnya dari percakapan Ryan kepada suaminya bahwa penusuk itu adalah salah satu mantan karyawan dari Dennis Atmaja.
Dennis Atmaja adalah seseorang yang berpengaruh terhadap hidup mantan pacar suaminya, Disty.
Dennis Atmaja selama ini juga dikenal sebagai saingan bisnis mertuanya, Pak Hartono. Meski tidak pernah ribut secara terang-terangan dengan lawan bisnisnya itu, tetapi antar perusahaan mereka telah lama terjadi perang dingin.
Untuk masalah pelaku penusukan, Winarsih sungkan jika harus menanyakan langsung kepada suaminya. Apalagi Dean memang selalu berusaha untuk tidak menampakan permasalahan atau berusaha berbagi beban pikiran kepadanya.
Hal itu bisa jadi karena Dean memang tak mau membuatnya yang sedang hamil besar jadi ikut pusing memikirkan permasalahan itu.
Setiap bertemu dengan Ryan atau berbicara dengan Pak Hartono, wajah Dean selalu memancarkan raut yang sangat serius. Sangat bertolak belakang saat pria itu berbicara dengannya.
Terkadang, muncul juga keinginan bahwa Dean bisa mengajaknya bertukar pikiran atau berbagi beban, meski kecil kemungkinan dia bisa membantu.
Seminggu terakhir ini, Winarsih mengamati perkembangan kesehatan Dean yang semakin lama semakin membaik. Luka di perut suaminya telah menutup sempurna meski masih terlihat kemerahan.
Winarsih memberitahu Bu Sumi bahwa suaminya hanya mengalami kecelakaan lalu lintas ringan, tidak termasuk luka karena penusukan. Sekarang ia semakin lega karena merasa dirinya tidak berbohong terlalu banyak pada sang ibu.
Jelas terdengar Ibunya sangat lega saat dia mengatakan bahwa Dean sudah kembali ke kantor seperti biasa.
Setelah lepas dari kursi rodanya, Dean menggunakan sebuah tongkat kruk siku di tangan kanannya sebagai alat bantu berjalan. Dan walaupun di tangan kanan suaminya tersangkut sebuah tongkat seperti seorang manula, tapi Dean masih sangat tampan di matanya.
Dengan kemeja yang tergulung hingga ke siku kanannya dan dasi yang terikat sempurna, Dean sekarang disupiri oleh Ryan tiap berangkat ke kantor.
Mengetahui kegemaran suaminya itu berdandan rapi meski sedang sakit, Winarsih sangat memperhatikan apa yang dipakai suaminya. Dia ingin melihat Dean tampil selalu memesona seperti saat sebelum menikah dengannya.
Dan sampai sekarang, memang masih seperti itu. Dari kejauhan, saat Dean sedang berbicara orang lain, Winarsih masih sering terpukau melihat suaminya. Dean masih mampu membuatnya berdebar meski dari kejauhan.
Sering dia memikirkan dan mencoba mengingat-ingat, sejak kapan dia mulai menyukai penampilan mantan majikannya itu.
Usia kandungannya kini hampir menginjak bulan ke sembilan. Hal itu semakin membuat tubuhnya susah digerakkan. Meski kakinya tidak membengkak, tetapi nafasnya sudah sangat pendek-pendek. Dia tak sanggup jika harus berjalan jauh karena beban bayinya yang semakin terasa turun ke bawah.
Berat badan Winarsih yang awalnya hanya 48 kg kini, melonjak hingga menjadi 70 kilo. Naik 22 kilo dari berat badannya semula. Hal ini cukup meresahkan hatinya.
Saat sedang mandi dan berpakaian, dia sering mematut-matut bentuk tubuhnya di depan kaca. Bentuk lengannya yang dulu kecil dan langsing, kini terlihat berisi.
__ADS_1
Pagi ini, saat dia baru selesai mandi dan sedang memandangi pantulannya di kaca, Dean yang baru bangun dari tidurnya berjalan mendekati.
"Ngeliatin apa? perutnya?" tanya Dean padanya.
'Lengan ini, kenapa jadi sebesar ini?" gumam Winarsih memandangi lengannya.
"Itu artinya, anak kamu sehat-sehat aja Bu Winar. Aku suka kok, kamu makin gemesin." Dean menempeli tubuhnya dari belakang dan menjalari pahanya. Tangan suaminya itu sengaja menyenggol bagian kewanitaannya di balik handuk.
"Mandi sana. Kerja. Saya mau turun masak sarapan. Pak Hartono kan hari ini ada di rumah, Bapak juga cepat turun biar nemenin sarapan. Bu Amalia lagi nggak enak badan dari kemarin," tukas Winarsih yang beranjak menggeser pintu lemari.
"Oh ada Papa ya?." Dean masih berdiri di depan kaca dengan tongkatnya memandang Winarsih yang sedang melepas handuk dan memakai pakaian dalamnya.
"Muter ke sini Win. Jangan pelit-pelit banget lo," ujar Dean yang meminta agar isterinya berputar menghadap dirinya yang belum beranjak.
Beberapa saat lamanya Dean yang memakai piyama berdiri mematung memandangi isterinya yang sedang berpakaian. Matanya terlihat berbinar-binar dan Dean mengatupkan mulutnya tersenyum simpul.
Hingga akhirnya senyum itu lenyap seketika saat Winarsih ke luar kamar dan menutup pintu di belakangnya.
Pukul 06.30 pagi saat Winarsih sedang menyendok nasinya di meja makan pegawai, dia mendengar Pak Lutfi berbicara pelan kepada Mba Tina yang sedang berdiri di luar dapur.
"Bapak belum berangkat, masih di meja makan dengan Pak Dean. Ya sudah Pak Lutfi ke depan aja. Nanti kalau ada wartawan yang lolos masuk bisa bahaya," balas Tina.
Mendengar ucapan Mba Tina, Winarsih bisa mengambil kesimpulan bahwa sedang terjadi sesuatu soal Ayah Mertuanya itu. Dia bergegas menyelesaikan makannya dan meninggalkan bekas makannya begitu saja di meja pergi menuju ruang makan mencari Dean.
Dilihatnya suaminya itu sedang berdiri mengenakan tongkatnya dan berjalan terpincang-pincang menuju teras rumah bersama Ayahnya.
Entah apa yang diucapkan Pak Hartono pada suaminya, tapi kemudian Pak Hartono menaiki mobilnya dengan diikuti sirene patwal dan ke luar dari pagar dengan sedikit kegaduhan menyingkirkan wartawan yang menghadang.
"Pak," panggil Winarsih mendekati suaminya.
"Win, aku langsung berangkat ya. Ada urusan yang harus segera aku selesaikan. Ada masalah baru Win," ucap Dean memandangnya.
"Iya, saya tau. Meski saya nggak tau masalah sebenarnya gimana. Hati-hati di jalan, Bapak belum sembuh bener. Saya khawatir pelaku yang belum ketangkep itu bisa datang nyakitin Pak Dean lagi."
Winarsih berbicara seraya merapikan letak dasi suaminya. Dia jelas-jelas tak mungkin bertanya pada Dean sekarang soal masalah yang menimpa Pak Hartono. Dahi Dean sejak tadi mengernyit seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Iya, aku bakal hati-hati. Yang nusuk aku masih dalam pelarian ke Riau. Papa udah dalam masalah Win, jadi kayaknya sementara ini aku akan aman. Aku pergi ya, kamu jangan capek-capek. Anak kita sebentar lagi lahir. Meski keadaan sedang kacau-balau kayak gini, aku mau keluargaku baik-baik aja. Doain ya Win." Tangan kiri Dean menarik Winarsih ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Dean memberikan pelukan hangat dengan sebelah tangannya pagi itu. Sesaat kemudian, suaminya sudah berjalan tertatih-tatih menuruni tangga menuju sebuah sedan hitam yang dikendarai Ryan. Range Rovernya masih berada di bengkel setelah berhasil ke luar dari Kantor Polisi.
Winarsih beberapa saat lamanya berdiri memandang mobil Dean yang pergi meninggalkan halaman rumah.
"Bu," panggil Novi yang baru menghampiri Winarsih.
"Ya Nov?"
"Itu di lantai atas Mba Tina lagi ribut ngetuk kamar Bu Amalia nggak ada jawaban dari dalem," tukas Novi.
"Ayo diliat Nov!" Winarsih setengah berlari menuju tangga besar.
"Jangan lari-lari Bu!" seru Novi yang mengikutinya di belakang.
"Nov! panggil Satpam! cepat panggil Satpam!" seru Winarsih sembari menaiki anak tangga cepat-cepat.
Novi kembali berbalik menuju pintu depan dan menyerukan nama Rojak.
Setibanya di depan pintu kamar Bu Amalia, Mba Tina yang memegang nampan masih berdiri mengetuk pintu dengan wajah cemas.
"Udah dijawab?" tanya Winarsih.
"Belum Win,"
"Sebentar tunggu Pak Rojak! eh itu Rojak udah dateng! Cepat ini didobrak aja-- atau ada kunci cadangan?" tanya Winarsih panik sembari terus mengetuk kamar Ibu Mertuanya yang tetap tak memberi jawaban.
Rojak berlari menuruni tangga dan kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah linggis. Bersama-sama mereka melihat Rojak mencongkel pintu kamar majikannya.
Setelah beberapa saat yang lama, akhirnya pintu kamar itu terbuka. Winarsih dan Novi langsung menghambur ke dalam. Dalam sekejab pandangannya tertumbuk pada tubuh Bu Amalia yang menelungkup di depan kamar mandinya.
"Pak Rojak!! tolong!! panggil yang lain! bantu angkat. Ke Rumah Sakit!"
Winarsih dan Novi membalikkan tubuh Bu Amalia yang suhunya hampir sama dengan lantai tempat di mana dia berada. Dahi wanita itu mengeluarkan darah dan wajahnya sudah seputih kapas.
To Be Continued.....
Maaf Slow Up yaa... Authornya kopdar XD
__ADS_1