CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
139. Rewang


__ADS_3

Minta di-like dulu ya... :*


Untuk hari ini level imajinasinya bisa sedikit diturunkan.


Selamat Membaca XD


************


"Terus ini mau diapain?" tanya Winarsih berlagak tak mengerti seraya menatap Dean yang berdiri di depannya.


"Sini... Aku cuma kangen dicium aja." Dean menarik kepala isterinya mendekat. "Aku aja, malam ini kamu istirahat aja."


Winarsih sudah banyak kemajuan. Memiliki suami seperti Dean yang sangat lugas dalam urusan percintaan turut membentuknya menjadi wanita yang komunikatif.


Bagi Dean, urusan percintaan sama pentingnya dengan urusan rumah tangga yang lainnya. Komunikasi. Penting bagi Dean untuk selalu bertanya, enak atau tidak. Mau atau tidak? Sayang atau tidak?


Walaupun awalnya Winarsih merasa hal itu sedikit aneh, tapi lama kelamaan ia menjadi terbiasa. Terlebih, Winarsih merasa dia memang harus memenuhi kebutuhan suaminya itu. Dean manja dan sangat sensitif jika ditolak dalam hal apapun. Tapi di lain sisi, Dean juga suami yang membuat dirinya merasa penting.


Wanita mana yang tak suka merasa dicintai setiap saat oleh suaminya?


Dean tengah memejamkan matanya menikmati ciuman mendalam Winarsih pada bagian kelelakiannya. Pandangan mereka saling mengunci satu sama lain. Sesekali ibu jarinya mengusap bibir bawah Winarsih yang penuh dan memiliki rasa sempurna ketika menyentuh bagian tubuhnya yang manapun.


Dean memuja isterinya dari sejak pertama kali merasakan bagaimana bagian keperkasaannya itu mengenali seorang wanita dengan cara sesungguhnya.


Sore menjelang malam itu, Winarsih harus menuntaskan rasa rindu ingin dicium suaminya. Meski permintaan Dean setelah itu adalah acara wajib mandi bersama, Winarsih menurutinya walau pergerakan di dalam kamar mandi kecil itu sangatlah terbatas.


"Enak ya Win tinggal di desa," ujar Dean saat mereka sudah berbaring di ranjang menjelang tidur.


"Emang enak, napa? Mas mau netap di sini?" tanya Winarsih memandang suaminya.


"Hmmm-- Enaknya untuk sesekali liburan aja." Dean tertawa. "Sinyal tabletku kedip-kedip Win. Cuma segaris. Banyak pesan yang ke-pending belum bisa aku kirim. Nanti kalo kelamaan di sini, acara belanja dan ke salon kamu bisa terhambat," tambah Dean.


"Acara nongkrong dengan gank Mas itu juga bisa terhambat," tukas Winarsih.


"Aku suka aneh. Tiap ada mainan bayi, pasti kamu hamil."


"Mainan bayi maksudnya?"


"Itu waktu aku ngikutin kamu ke Kota Tua, aku nggak sengaja beli mainan bayi karena nungguin kamu yang lagi milih-milih...pakaian dalem. Taunya kamu hamil Dirja. Nah itu kemarin, Langit ngasi bingkisan isinya bouncer. Pasti untuk Dirja, tapi malah ada adeknya."


"Hmm... Kalau gitu tahun depan harus berhati-hati semisal ada yang tiba-tiba ngasi mainan bayi," ujar Winarsih.


"Besok acara panen itu gimana Win? Yang panen ibu kamu kan? Tapi kok tetangga pada ikut?" tanya Winarsih.


"Biasa memang gitu, yang bantu juga tetangga yang mau. Bayarannya hasil panen juga. Tapi kita yang punya sawah masak untuk makan yang bantu-bantu. Besok aku ikut bantu masak. Mas tolong awasin Dirja sama Mbak-nya. Boleh kan?" tanya Winarsih.


"Ya boleh, kan anakku." Dean merapikan rambut Winarsih dan menyampirkannya ke belakang bahu.


"Mas bilang tadi Pengacara sama Advokat itu beda? Kok bisa? Selama ini Mas bilangnya Pengacara?" Winarsih yang penasaran akan hal yang dikatakan Dean tadi kini bertanya lebih dalam.


"Beda Sayang, secara teknis beda. Aku males kalo harus jelasin ke orang." Dean terkekeh. "Orang taunya sama, ya udah. Jadi pengacara itu cuma bisa nanganin kasus di satu wilayah aja, kalo dia mau keluar ya harus ada surat lagi dari pengadilan wilayah tempatnya praktek. Kalo Advokat itu bisa ke seluruh Indonesia, makanya aku bisa megang kasus papa di Kalimantan. Gitu..." jelas Dean dengan mata yang sudah terlihat sangat mengantuk.


"Mas udah ngantuk duluan, tumben." Winarsih merapatkan tubuhnya pada Dean.


"Karena aku yang keluar, kamu kan nggak." Dean kembali tertawa seraya menjawil hidung isterinya.


"Ya udah kamu tidur, sini aku usap-usap punggungnya. Besok kamu bilang mau masak banyak. Jangan sampe kesiangan, malu kita sama ibu." Dean memeluk isterinya dan mulai mengusap punggung wanita itu.


Pagi itu rumah Bu Sumi terlihat lebih ramai dari biasanya. Para tetangga yang mengetahui kedatangan Winarsih dan keluarga kecilnya dari Jakarta mulai berdatangan membawa macam-macam buah tangan.


Winarsih yang harusnya membantu Bu Sumi di dapur, berulang-kali harus bangkit dari dingkliknya untuk menyambut dan menyapu tamu sekejab.


Benar yang dikatakan ibunya tempo hari, tetangga-tetangga sekarang terlihat lebih ramah. Meski sebelumnya mereka memang ramah, tapi sekarang menjadi lebih ramah lagi.


Beberapa orang ibu-ibu yang datang terlihat ingin menggendong Dirja. Bayi laki-laki itu pada awalnya santai saja melihat banyak wajah asing yang menghampirinya. Tapi rupanya lama kelamaan, bayi itu pun merasa bosan. Cuaca yang sedikit gerah membuat Dirja mulai merengek dengan wajahnya yang memerah.


"Bu, Dirja dari tadi nangis terus ini, apa mungkin mau minum lagi," ujar Babysitter Dirja pada Winarsih.

__ADS_1


"Barusan minum, sebentar saya cuci tangan dulu," tukas Winarsih kembali bangkit dari bangku kecilnya. Tangannya sedang mengiris cabai hijau jadi dia harus mencuci bersih-bersih sebelum memegang bayi laki-lakinya itu.


"Kenapa?" tanya Dean yang baru datang dari luar.


"Merengek terus Mas, aku lagi masak." Winarsih menunjukkan kedua tangannya yang masih berhias biji cabai.


"Biar aku yang gendong," ujar Dean mengambil anaknya dari tangan Babysitter.


"Agak ngantuk kayaknya. Kalau digendong gitu aja kasian nggak bisa baring," sahut Winarsih kemudian.


"Jadi? Gendong pakai apa?" tanya Dean sedikit bingung.


"Gendong pakai jarik. Biar tidur sekalian. Nanti kalau tidur biar diletak di boxnya." Winarsih memandang wajah suaminya yang juga memerah karena kepanasan.


"Pake jarik? Pake kainnya itu?" ulang Dean.


"Iya, bisa?" tanya Winarsih penuh harap.


"Aku nggak bisa pake kain itu." Dean membayangkan dia menggendong bayi memakai kain.


"Aku yang iketin, itu kasian masih merengek. Bantu aku Mas, katanya Mas mau banyak anak. Tapi kalau aku sendirian, ya capek juga." Winarsih menatap mata suaminya.


"Ya udah, iketin gimana. Biar aku gendong. Jangan ada dokumentasi ya Win, cukup kamu aja yang liat aku gendong bayi pake kain." Dean memposisikan tubuh Dirja berbaring dengan kedua tangannya.


Cepat-cepat Winarsih mencuci tangannya dan meraih kain panjang yang berada di tangan Babysitter serta mengalungkannya di pundak Dean.


Seraya menahan senyum agar wajahnya terlihat serius, Winarsih mengikatkan Dirja dengan kain panjang ke tubuh Bapaknya.


"Gimana? Udah enak posisinya?" tanya Winarsih.


"Udah, jadi aku begini sampai kapan?" tanya Dean yang berpakaian rapi khas kota tapi kini sedang menggendong bayi dengan sebuah kain panjang batik.


"Ya sampe anaknya tidur," sahut Winarsih.


Winarsih menahan senyumnya saat melihat Dean yang sedang mengemong bayinya di gendongan kain panjang batik persis seperti pria-pria di Desa Beringin.


Ia tahu kalau Dean sangat khawatir dirinya ditertawakan atau diolok-olok. Meski memang sedikit merasa geli melihat Dean yang terbiasa tampil sangat modis dan tampilan yang jauh dari kesan bapak-bapak dengan seorang anak, Winarsih tak mempedulikan tatapan kikuk suaminya.


"Eh, Mas Dean bisa gendong bayi pakai jarik juga." Ayu yang baru masuk dengan sebaskom tomat segar menyapa Dean yang masih berdiri di teras belakang.


"Iya, bayinya mau tidur, ibunya masih sibuk." Dean meringis menjawab sapaan Ayu.


"Paket komplit kan?" tanya Winarsih pada Ayu yang pasti mengerti apa maksudnya.


"Iya, carikan aku satu ya Win," ujar Ayu terkekeh-kekeh pelan yang berjongkok di sebelah Winarsih.


Dean menyipitkan mata sipitnya menatap punggung Winarsih yang terlihat berguncang seperti menahan tawa. Dia curiga telah menjadi bahan perbincangan kedua wanita itu.


"Win," panggil Dean kemudian setelah Ayu berpindah ke depan tungku untuk ikut membantu mengaduk gulai ayam sekuali besar.


"Ya?"


"Dirja udah tidur ni, yuk pindahin ke boxnya. Aku mau rebahan sebentar sambil ngecek email. Punggungku juga tegang kayaknya." Dean memijat bahunya dengan wajah memelas.


"Ya udah, ayo." Winarsih kembali mencuci tangannya kemudian menggandeng Dean melewati dapur dan ruang makan untuk naik menuju kamar mereka.


"Suaminya Winarsih mantep lo. Udah ganteng, kerjaannya bagus. Sama anak istri sayangnya itu luar biasa. Liat aja dari tadi betah gendong anaknya. Si Mus saja kalau bantu gendong anaknya suka ngedumel. Biar tak kasi tau sama si Mus. Suruh contoh suaminya Winarsih." Suara Pak De gang baru datang melalui halaman belakang masih terdengar jelas oleh telinga Dean dan Winarsih yang berjalan beriringan menaiki tangga.


Winarsih menoleh Dean untuk mengecek wajah suaminya setelah mendengar pujian membabi buta dari Pak De-nya barusan.


"Capek? Masih tegang punggungnya?" tanya Winarsih menahan senyum.


"Enggak kok. Siapa yang ngomong punggungku tegang? Salah denger kamu itu," sahut Dean yang kini juga tengah menahan senyum.


"Iya, mungkin aku salah denger."


"Abis panen apa Win?"

__ADS_1


"Tandur Mas,"


"Apa itu tandur?"


"Tandur itu singkatan dari tanam mundur. Ya sawah ditanami kembali. Itu salah satu cara nanam padi di lahan basah atau irigasi."


"Hmmm... Kamu banyak tau ya Win," ujar Dean.


"Semua orang banyak tau kalo tentang dunianya masing-masing," jawab Winarsih.


"Nanti pasti rame yang ke sawah?" tanya Dean.


"Rame. Mau ikut? Dirja biar sama Mbak-nya dulu."


"Mau," sahut Dean.


"Suka di sawah emangnya?"


"Aku pengen ketemu reporter desa," ujar Dean terbahak.


To Be Continued..


Sertakan screenshoot ranking dengan username kalian. Buat yang udah nerima chat, nggak perlu lagi.


Untuk pemenang komentar dengan username :



Acilmey


Erni


Malikadut



Souvenir untuk fans Mr. Enzo dan dr. Firza :



Maya Kitajima


Radiografer RSBK


Yeni Anita


Ika Ogenk


Teteh


Xavier Aslan


Sugi Sugiarsih


Susi Susheilawati



Pokoknya yang udah dichat nggak perlu chat lagi ya.. Artinya udah aman. Spesial rank 1-10 udah beres. Nunggu konfirmasi rank 11-20 aja.


Makasi yang udah ikutan Give Away. Mohon maaf belum bisa memuaskan semua pembaca. But, next time I will try.


8.



__ADS_1


__ADS_2