CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
126. Berburu


__ADS_3

Minta Likenya dulu ya sayang-sayangnya Pak Dean :*


Selamat Membaca :*


************


"Kamu pernah denger suara ulet nggak?" tanya Utomo pada Dewi.


"Engga, emang ulet ada suaranya?" tanya Dewi heran.


"Ada. Suaranya gini 'pucuk...pucuk...pucuk'" Melihat Dewi tak tertawa sama sekali Utomo kembali diam seribu bahasa.


Itu percakapan tiga malam sebelumnya. Saat Utomo mengajak Dewi makan ayam penyet di kaki lima dekat kantor.


Suasana mereka yang canggung seperti kehabisan bahan obrolan membuat Utomo melemparkan candaan garing pada kekasihnya. Kini Utomo duduk melamun di meja kerjanya menatap pintu ruangan Dewi yang masih tertutup.


Hari masih pagi dan di luar hujan turun cukup deras. Kantor masih sepi dan Utomo sudah melamun dengan sebelah tangannya di dagu. Dia menyesal karena sepertinya tak memiliki bahan obrolan yang bermutu saat bersama Dewi yang berpendidikan tinggi itu.


"Pagi-pagi udah ngelamun. Mikirin apa kamu?" sapa Jaka yang baru tiba di meja kerjanya.


"Winarsih sekarang cantik banget ya Jak," gumam Utomo tiba-tiba.


"Ya cantik. Harga bajunya sepasang mungkin seharga semua baju kita kalo dikumpulin jadi satu."


"Jadi orang yang badannya tinggi juga bagus Jak, kalo jalan sama cewe meluknya enak. Aku jalan sama Dewi tingginya sama. Kalo mau meluk-meluk dari belakang aku juga pasti kelelep kepalanya," ujar Utomo.


"Banyakin berenang Ut. Biar bisa tambah tinggi. Kalo bisa tiap hari. Biar kayak Pak Dean itu. Kakinya panjang. Pakai baju apa aja keliatan modelnya. nggak mendelep."


"Berenang tiap hari... Ubur-ubur itu berenang tiap hari nggak tambah tinggi Jak. Lembek iya," sergah Utomo.


"Dikasi saran yang bener malah kayak gitu ngomongnya. Disukuri aja napa sih UT, kerjamu ngeluh aja. Jomblo ngeluh, ada pacar ngeluh. Malem Minggu sebentar lagi. Ada rencana ke mana ngajak Bu Dewi?" tanya Jaka sembari mengambil cangkir tehnya dari dalam laci.


"Kayaknya malem minggu ini nggak keluar. Di rumah aja. Aku lagi nelangsa," jawab Utomo masih dengan satu tangan di dagunya.


"Tai kucing aja di luar Ut, masak kamu anak lajang malem minggu di rumah aja."


"Mulutmu itu Jak," kesal Utomo melirik sahabatnya yang pergi ke dispenser untuk mengambil air panas.


"Haduuuh... Enaknya dingin-dingin gini ada yang buat tegang ya Ut." Jaka sedang menyeduh tehnya seraya melemparkan pandangan ke luar jendela.

__ADS_1


"Peluk aja menara SUTET. Dijamin tegangmu sampe ubun-ubun," jawab Utomo kalem masih dengan pandangan ke luar jendela.


Sebenarnya Utomo mengasihani sahabatnya yang masih harus menjalani hubungan pernikahan jarak jauh itu. Jaka harus bekerja keras dan rajin lembur di kantor demi memberi makan banyak mulut yang mendiami rumahnya di Jambi.


*************


"Yan, ikut gua." Dean yang baru datang ke kantor langsung memanggil Ryan.


"Ya Pak." Ryan membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan amplop coklat yang ia rasa bakal ditanyakan oleh atasannya.


Dean meletakkan tablet dan ponselnya di atas meja kemudian berbalik menghadap sekretarisnya.


"Laporan agennya?" tanya Dean. Ryan kemudian mengulurkan amplop coklat yang telah dipersiapkannya.


Dean membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan beberapa lembar foto. Wajahnya terlihat sangat serius memperhatikan foto-foto di tangannya.


"Ini di SPA ya? Ada keterangan SPA mana?" Dean seperti berbicara pada diri sendiri kemudian membalikkan foto untuk melihat tulisan di belakangnya.


"SPA khusus laki-laki, oke... Wah... akhirnya gua punya senjata ini." Dean kembali memasukkan foto-foto itu ke dalam amplop.


"Pengumpulan foto itu memakan waktu cukup lama lo Pak. Agen kita nggak pulang-pulang karena terus ngebuntutin bapak yang satu itu," tukas Ryan.


"Mau ke SPA itu? Sendirian? Entar jadi masalah lagi," ujar Ryan menatap atasannya.


"Urusan sidang. Emang gua mau ngapain? Pijat-pijat di SPA itu?" tanya Dean.


"Yah sapa tau, karena udah lama dicuekin." Ryan terkekeh melihat wajah atasannya yang langsung berubah.


"Iya ni, udah seminggu sumber daya alam gua nggak dipergunakan dengan baik. Untung sidang kasasinya diundur seminggu. Gua nggak ada semangat." Dean berjalan ke arah kursinya dan menatap ke luar jendela.


"Katanya jangan panggil Dean kalo nggak bisa meluluhkan hati perempuan." Ryan tertawa menirukan perkataan bosnya.


Dean menarik kursi dan ikut duduk menatap ke luar jendela yang memperlihatkan hujan deras.


"Udah dimaafin. Tapi masih banyak diem. Ampun banget gua. Kalo pacaran dulu dibeliin sesuatu pasti udah baik sendiri. Ngerayu bini ternyata lebih susah." Dean masih memandang ke luar jendela.


"Bayangin istri ngambek nggak nyusuin anak gua aja, gua takut Yan. Kayak gini ternyata. Gua suka kalo dia minta bantuan hal-hal kecil. Bikin gua ngerasa dibutuhin. Sekarang apa-apa dikerjain sendiri. Kemarin gua liat dia nyoba belajar mindahin foto Dirja dari hp ke laptopnya. Gua perhatiin terus, ya kali-kali aja minta bantuan gua. Eh ternyata akhirnya bisa sendiri. Gua kangen dia manja-manja ke gua kayak biasa. Makin dia diem, gua makin gemes. Haduuhhh... Gua kangen ama wanita yang tiap hari tidur di sebelah gua."


"Nggak nyangka Pak Dean Pengacara tersohor yang tampan itu dianggurin istrinya." Ryan tertawa geli karena melihat wajah Dean yang merana menatap hujan di luar.

__ADS_1


Dean menoleh sekretarisnya sekilas, "lebih deket ke sini lu--biar gua enak nampolnya." Ryan bangkit dari kursinya dan segera pergi meninggalkan Dean yang kemudian menghela nafas panjang dan kembali menatap jendela.


Hanya berbeda gedung saja, tapi Dean dan Utomo sama-sama sedang merenungkan wanita yang sama saat menatap ke luar jendela di saat hujan.


"Jam empat sore katanya, buruan deh!" Dean berlari dari teras gedung kantornya menuju sedan hitam yang diparkir tak jauh dari sana.


"Kita ikutan pijat?" tanya Ryan pada atasannya.


"Ya harus masuk. Jadi gimana? Itu tempat pijat. Yang penting ketemu dulu sama tuh orang. Nggak sabar gua. Kalo nggak ketemu dia, sidang kasasi itu juga masih diobok-obok ama dalangnya. Enggak akan jadi sidang sportif. Gua nggak mau." Dean duduk menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang.


"Minum air putih yang banyak Pak, entar sakit." Ryan melihat atasannya yang memijat-mijat tengkuknya sendiri.


"Capek. Untung sidangnya masih 4 hari lagi, untung Mba Anggi baru dateng lusa. Banyak untungnya gua. Di rumah aja yang lagi apes." Dean menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.


Ryan melirik Dean yang hampir seminggu ini pergi ke sana kemari mengurus sidang kasasi Hartono Coil yang dikabulkan oleh pengadilan untuk dimundurkan seminggu karena Dean merasa belum cukup mengumpulkan bahan pembelaannya.


Ditambah lagi menghadiri sidang pailit salah satu perusahaan yang merekrut tenaganya sebagai kuasa hukum, jadwal Dean hari itu sangat padat.


"Yakin bisa menang?" tanya Ryan.


"Kalo sidang ini berimbang, gua yakin dong menang. Kan papa nggak ngambil hak orang lain. Gua udah ngumpulin petisi dan kesaksian karyawan Hartono Coil yang udah kerja di sana puluhan tahun. Makanya gua harus memadamkan sumbernya dulu," ujar Dean masih dengan mata terpejam.


"Kenapa nggak dari dulu diginiin? Biar cepat selesai."


"Kasusnya udah keburu bergulir masuk ke ranah hukum Ryan. Lagian lu kayak nggak tau papa aja. Dia nggak mau gua pake-pake cara begini. Maunya lurus-lurus aja. Tapi ya nggak bisa. Kita lurus, lawannya bengkok. Kadang kita harus ikut hanyut untuk tau besar arus sungainya Yan," tukas Dean dengan dahinya yang terus menerus mengernyit akhir-akhir ini.


Akhirnya mereka tiba di tempat sebuah spa eksklusif khusus pria dewasa. Saat mereka masuk, perempuan penjaga pintu yang mengenakan rok ketat super pendek, langsung mengajak mereka duduk di sofa mewah.


"Ini paketnya silakan diliat-liat dulu Mas," ujar wanita tadi menyerahkan sebuah daftar.


"Paket lengkap ini yang gimana Mba?" tanya Ryan polos.


"Itu termasuk semuanya. Sampe Masnya puas tapi nggak sampe begituan. Dibantu aja sama therapist-nya. Pokoknya Mas-Mas ini dijamin keluar puas dan lemas." jelas wanita itu pada Ryan dengan senyum nakal.


"Aku bakal ambil paket lengkap. Semuanya..." ujar Dean memajukan letak duduknya untuk menatap mata pegawai wanita yang tengah terpana padanya.


"Ya Mas..." gumam wanita seksi itu.


To Be Continued.....

__ADS_1


Langsung dilanjutkan ke sebelah karena kalo diterusin malah kepanjangan XD


__ADS_2