
Sekarang budayakan like dulu ya..wkwkwk
Soalnya banyak yang keasikan baca sampe lupa klik like aja. Authornya cuma minta like, syukur-syukur kalo ada yang nambahin kursi pijat :P
Btw, Selamat membaca.... :*
************
"Yo, please... Gua nggak bakal ngomong apa-apa kok ama Dean. Ya biasa aja gitu, kayak temen biasa. Gua cuma mau ngomongin kasus perusahaan gua," terang Ara pada Rio.
"Ra, lu punya pengacara sendiri kan? Kan nggak mesti Dean. Lu masih ada rasa ke dia? Dean udah kawin Ra, ada anak-bininya. Sama kayak gua. Lu tuh emang temen gua. Tapi Dean tuh sahabat gua udah lama banget. Entar kalo ada gimana-gimana, Dean pasti murkanya ke gua. Lu kan dikit banyak udah tau sifatnya Dean gimana. Gua nggak berani ah." Rio menggaruk-garuk kepalanya.
Ara diam mematung di depan teras gedung tempat di mana Beer Garden SCBD Sudirman berada.
"Sumpah Yo! Gua juga nggak mau ngeliat Dean sampe ribut atau apalah dengan keluarganya. Gua cuma kangen. Itu aja. Gua akui ke lu, gua kangen ama Dean. Sejak pisah dulu, gua nggak pernah ketemu dia lagi. Apalagi sejak gua tinggal di Kalimantan. Gua sibuk ngurus perusahaan dan jadi orang kepercayaan suami gua. Sekaliiii aja Yo, gua cuma pengen ngobrol tatap muka ama Dean. Gua pengen ketemu aja. Lagian kan nggak berdua, ada lu semuanya. Ada Toni, Langit, ada elu. Ya Yo? Mau kan ngundang gua sekali lagi ke acara lu berempat. Gua janji nggak ngobrol macem-macem."
Sekali lagi, Ara harus memohon pada Rio agar mengizinkannya untuk melihat Dean dari dekat. Dan itu adalah percakapan beberapa hari sebelum isteri Dean datang meletakkan bayinya di pangkuan pria itu.
Sebelumnya Ara membayangkan bahwa wanita yang akan menikah dengan Dean adalah wanita berparas biasa tapi dengan harta melimpah ruah.
Ara penasaran, dengan wanita seperti apa Dean akan menghabiskan sisa umurnya. Apakah Dean mencintai isterinya atau hanya menikah demi kemauan orangtuanya. Ara hanya ingin memastikan hal itu untuk menghibur dirinya sendiri.
Jika isteri Dean tak lebih cantik darinya, ia akan dengan mudah mengatakan pada dirinya sendiri, "tenang, masih lebih cantik lu."
Tapi wanita yang menghampiri mereka hari itu sungguh di luar dugaan Ara.
Isteri Dean ternyata, lebih cantik darinya. Ia kesal melihat wanita itu datang dan duduk di hadapannya. Terlebih wajah Dean terlihat tegang saat isterinya berada di antara mereka.
Pandangan Ara turun menyoroti semua hal yang dikenakan isteri mantan pacarnya. Dan memang benar, isteri Dean memang tampak dari keluarga kaya. Anak pengusaha mana perempuan itu pikirnya. Di mana Dean bertemu wanita itu.
Ara muak, dan kesal melihat Dean yang terus-menerus menatap isterinya seperti belum pernah melihat wanita sebelumnya. Ara benci melihat pandangan 'selera' Dean pada isterinya.
Dean tak pernah memandangnya begitu sekalipun.
Semua wanita sama, penasaran ingin tahu siapa saingannya. Tapi hati mereka tak pernah cukup kuat untuk menerima kenyataan.
Itulah yang terjadi pada Ara. Ia kesal karena perempuan yang sedang duduk di depannya itu terlihat santai dan tak marah-marah. Dia merasa kalau isteri Dean menyepelekannya sebagai seorang saingan.
Tatapan isteri Dean seolah mengatakan, "suamiku nggak akan bisa kamu goda lagi."
Ara penasaran. Dia hanya penasaran. Dulu Bu Amalia menjauhkannya dari Dean seolah wanita itu menganggap bahwa jika ia menghabiskan hidup bersama anaknya, anaknya itu akan bernasib sial.
Ara ingin bertemu Bu Amalia, dan sejak dulu Ara mengetahui ke mana wanita itu biasa bepergian. Pertokoan dan salon-salon mahal di Jakarta. Selama kembali ke Jakarta ia selalu mencoba satu persatu salon dan klinik untuk mendapat sebuah kesempatan bertemu dengan ibu Dean.
Ara ingin menunjukkan seperti apa ia sekarang.
Tapi siang menjelang sore itu, Ara malah berpapasan dengan Dean. Apa mungkin Dean juga sedang berada di salon yang sama?
Ternyata dugaannya salah, Dean sudah seperti seekor anjing peliharaan yang mengejar tuannya ke sana kemari. Dan baru saja laki-laki itu menyentak tangannya demi mengejar isterinya. Dean jadi kasar padanya. Dean tak pernah begitu. Ara tak terima. Dia tak ingin mengambil Dean dari isterinya. Dia hanya ingin Dean tak pernah berubah padanya.
__ADS_1
Hari ini, Dean sudah ber-elu gua dengannya. Hati Ara sakit. Perlahan dia mengusap cengkeraman dan sentakan kasar Dean di punggung tangannya.
Dean jahat. Padahal dia tak bermaksud apa-apa. Dia hanya ingin Dean tak pernah berubah sikap padanya. Ara hanya ingin ia punya tempat tersendiri di hati pria itu. Ia tak mau dilupakan begitu saja.
Kakinya berdiri mematung. Memandang Dean yang sedang memukuli dua orang pria karena melakukan catcalling (pelecehan verbal di ruang publik) pada isterinya. Dean semakin memesona di matanya.
Wanita itu pasti sangat istimewa bagi Dean. Ara merasa iri.
**************
Bersabar itu bagi sebagian orang mudah untuk dilakukan, tapi untuk mengikhlaskan mungkin hanya sedikit orang yang bisa melakukannya dengan cepat.
Seperti halnya seorang wanita normal manapun yang melihat suaminya mudah menerima perlakuan baik setiap wanita, kemudiannya pasti dimaafkan. Meski hal itu tak akan pernah dilupakan. Itulah alasan mengapa wanita selalu menjadi ahli sejarah terbaik di dunia.
Jangankan melihat Dean terluka, melihat suaminya itu mengernyitkan dahi saja, Winarsih sebenarnya tak suka. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan dirinya.
Tapi, walau sudah memaafkan Dean di dalam hatinya, untuk langsung bersikap biasa saja masih agak sulit.
Bicaranya masih terbatas, dan rasa ingin tahunya soal apa yang dilakukan suaminya di luar sana sekarang menjadi susah dibendung.
Sebelum-sebelumnya, ia masih bisa menekan rasa ingin tahu itu dengan hanya sesekali menelepon Dean untuk menanyakan lagi di mana atau mengingatkan soal jangan terlambat makan.
Setelah memaafkan Dean, menelepon bahkan jadi terasa sedikit berat. Egonya selalu berkata tunggu saja, nanti dia juga pasti akan menghubungi lebih dulu.
Ini memang bukan perang dingin bersama suaminya lagi, hal ini lebih kepada usaha Winarsih menaklukkan egonya sendiri untuk bisa kembali bersikap hangat kepada suaminya.
Karena badai hidup yang menerpanya lebih keras sejak ia beranjak remaja, Winarsih bahkan kadang lupa ia baru berusia 22 tahun. Harusnya di usia segitu dia bisa duduk dan bercanda bersama teman-temannya.
Dean dengan santai mengajaknya masuk ke sebuah mall, Ryan berjalan beberapa langkah di belakang mereka mirip seorang ajudan.
"Kamu mau makan apa? Pasti laper, dari siang tadi di salon terus. Kita udah ngelewatin jam makan siang lama." Dean menoleh pada Winarsih menaikkan alisnya dan tersenyum.
Sudut bibir suaminya terluka. Harusnya Dean menjadi jelek. Tapi anehnya Dean makin terlihat tampan.
"Makan apa aja," jawab Winarsih singkat.
"Kalo aku mau makan kamu boleh?" tanya Dean terkekeh geli. Winarsih kembali bungkam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Yan, ayo makan di sini aja." Dean menoleh ke belakang memanggil Ryan dan menunjuk sebuah restoran yang mereka lewati. Ryan langsung memanggil pelayan dan menunjuk dua buah meja yang akan mereka duduki.
"Kamu duduk di sini, harus di sebelah aku." Dean menarik lengan isterinya untuk duduk di kursi berbentuk sofa setengah lingkaran.
Winarsih masih duduk di sisi kiri Dean saat pria itu mulai membuka buku menu dan menyebutkan beberapa pesanan pada pelayan restoran.
Tangan kirinya meraih tangan Winarsih dan meletakkannya ke atas paha sendiri.
"Tangan kamu tempatnya harus selalu di situ," gumam Dean masih menatap buku menu. Winarsih memandang lekat wajah suaminya.
"Kamu ngeliatin aku terus Bu, makin cinta ya?" tanya Dean tanpa menoleh. Winarsih segera mengalihkan pandangannya. Dia masih kesal, tapi juga makin sayang pada suaminya.
__ADS_1
Saat telah menyerahkan kembali buku menu dan mengangguk pada pelayan, Dean menoleh menatap wajah isterinya. Winarsih grogi merasa terus menerus dipandangi.
"Apa sih Pak?" tanya Winarsih.
"Win,"
"Hmmm--" Winarsih belum menoleh pada suaminya.
"Ciuman yuk," ajak Dean.
"Apa sih..." Winarsih membelalak menoleh pada suaminya.
CUPP!!
Dean mengecup bibir isterinya.
"Banyak orang!" Winarsih segera memalingkan wajahnya lagi dan menarik tangannya dari pangkuan Dean.
"Enggak boleh, tangan kamu tetap harus di sini. Kamu nggak kangen apa? Aku gemes liat kamu," ucap Dean masih memandang isterinya.
"Itu bibirnya jadi luka," ucap Winarsih menoleh melihat bibir suaminya.
"Enggak apa-apa. Luka fisik bisa sembuh. Tapi kalo Bu Winar nyuekin aku terus, hatiku bakal luka lebih dari itu," ujar Dean.
"Hati saya juga..."
"Aku tau, aku minta maaf."
"Saya perlu diam untuk menenangkan diri,"
"Aku nggak mau ikut ngediemin kamu saat kamu butuh waktu. Enggak bisa kayak gitu. Kalo kita sama-sama diem, kita menciptakan jarak Win. Kamu pasti ngerasa jauh dari aku, aku juga kamu diemin makin ngerasa jauh. Aku nggak mau. Kita baru hidup setahun lebih sama-sama. Maafin kalo dalam jangka waktu itu aku belum bisa menjadi suami dan teman kamu. Aku nggak janji rumah tangga kita bakal mulus kayak jalan tol baru. Tapi tiap saat aku selalu berusaha untuk jadi suami terbaik untuk kamu. Maafin aku. Aku sayang kamu. Sejak aku ngebuntutin kamu ke pasar malam Kota Tua malam itu, aku udah sayang kamu." Dean membelai kepala Winarsih yang sedang menatapnya.
"Hmm? Kota Tua?" gumam Winarsih.
"Iya, pasar malam Kota Tua. Kamu nggak sendirian belanja malam itu. Aku temenin dari belakang. Aku penasaran dengan wanita yang diam-diam masuk ke dalam hati dan memenuhi pikiranku sejak malam itu. Aku udah sayang kamu, sebelum aku tau kamu mengandung Dirja. Anakku bukan satu-satunya alasan aku mau menikahi kamu. Tapi karena aku juga udah sayang. Bu Winar sekarang ngerti?" tanya Dean mengusap pipi dan membelai bibir bawah isterinya.
Winarsih diam mencermati tiap perkataan suaminya itu. Tangan kanannya masih digenggam di atas pangkal paha suaminya.
Winarsih berpikir-pikir mencari perumpamaan untuk mengungkapkan perasaan hatinya saat itu tapi ia belum menemukannya.
Sekali lagi ia memandang deretan alis hitam rapi dan mata sedikit sipit yang sedang mengatur piring yang baru saja diantarkan oleh pelayan ke meja mereka.
"Tapi saya masih kesel..." ucap Winarsih pada akhirnya.
"Iya aku tau..."
"Masih marah."
"Enggak apa-apa yang penting kamu masih cinta." Dean nyengir kemudian mencubit pelan pipi isterinya.
__ADS_1
To Be Continued.....