
Tanggal 02 Mei. Dean berulang tahun yang ke empat puluh. Winarsih dibantu Tina dan seorang asisten rumah tangga baru bernama Mina, memasak banyak menu kesukaan semua orang. Termasuk menu masing-masing anak yang berbeda. Perayaan ulang tahun itu diadakan sederhana di kediamannya. Hanya makan malam bersama keluarga besar. Sepasang orang tua, seorang istri dan lima orang anak.
Mbah yang kini sudah sepuh, hanya duduk di dapur ikut meracik bumbu dan membantu memberi petunjuk pada Mina.
“Ayam goreng bumbu Widi, udah?” tanya Mbah pada Tina.
“Udah dibawa ke depan. Sisanya ditaruh di meja atau disimpan buat malam?” Tina menunjukkan mangkuk berisi empat potong ayam goreng.
“Taruh di meja makan karyawan aja. Buat Widi malam nanti bisa goreng lagi. Yang panas pasti lebih enak,” jawab Mbah.
Winarsih mengangguk menyetujui perkataan Mbah. Satu tangan kirinya memegang spatula dan mulutnya sedang meniup kuah gulai yang akan ia cicipi.
“Sudah pas?” tanya Mbah memandang Winarsih.
Winarsih kembali mengaduk kuah gulainya. “Sudah, Mbah. Nanti diambil setengah buat meja makan karyawan, ya. Malam nanti enggak semuanya mau makan gulai. Papa dan Mama enggak boleh. Terutama Mama,” ujar Winarsih.
“Pak Dean juga harusnya,” sahut Mbah.
Winarsih meringis, lalu menoleh pada Mbah. “Oya, bapaknya anak-anak juga sudah harus jaga makanan. Sudah empat puluh. Anaknya banyak malah harus ekstra jaga kesehatan, ya, Mbah.”
“Bener kamu … yang bergantung dengan Dean banyak. Apalagi sejak Pak Hartono pensiun. Semua-semua pasti Pak Dean yang ngerjain. Pasti sibuk banget.” Mbah bangkit dari kursi dan menuju bak cuci.
“Sibuk banget, tapi nongkrong masih sempet, kok, Mbah …. Itu udah jadi jadwal tetap. Tapi enggak apa-apa. Bapaknya anak-anak juga mungkin perlu refreshing bareng temen-temennya.”
“Telur dadarnya Nuna dimasak sekarang, Bu?” tanya Mina, berdiri di depan empat butir telur yang akan didadarnya.
“Ditaruh di mangkuk dulu. Nanti kalau bapaknya udah pulang, baru dimasak. Kalau sekarang keburu dingin," kata Winarsih, menekan tombol kompor listrik karena gulai sudah mendidih. “Mbah, saya ke depan dulu. Mau siap-siap. Sebentar lagi Pak Dean pasti pulang.”
Mbah mengangguk, lalu menatap Tina. Biasanya kode seperti itu saja sudah cukup membuat Tina mengerti untuk membereskan dapur.
Dirja kini sudah berusia sepuluh tahun. Dita berusia sembilan tahun, Widi delapan tahun, Handaru lima setengah tahun, dan Nuna yang berusia tiga setengah tahun. Sangat ramai.
Di kaki tangga. “Bu, aku pakai baju yang ini aja, ya. Yang dipilih Mbak kurang suka. Aku jadi kurang cantik.” Widi menghampiri Winarsih untuk memperlihatkan gaun pilihannya sendiri.
Winarsih baru saja akan menjawab, tapi Handaru melintas dan menjumput dress yang dikenakan Widi. “Kalau cantik pasti cantik pake apa aja,” celetuk Handaru yang langsung pergi ke ruang makan.
“Bu ….” Widi menatap kesal punggung Handaru yang menjauh.
“Mbak Widi sudah cantik. Mau pakai apa aja pasti tetap cantik. Itu maksud Daru barusan. Ibu naik dulu, ya. Mau dandan. Ibu juga mau cantik kalau Bapak pulang.” Winarsih mengusap kepala Widi dan buru-buru naik ke lantai dua.
Sebelum masuk ke kamarnya, Winarsih menyempatkan diri mampir ke kamar di mana Nuna, Dita, dan Widi biasanya tidur. Widi sudah turun ke ruang makan, sedangkan dua anak perempuan lainya belum terlihat.
Tangannya langsung mendorong handle pintu. “Nuna …,” panggil Winarsih.
__ADS_1
Dita dan Nuna menoleh ya bersamaan. “Nuna udah selesai?” tanya Winarsih, mendekati anak perempuannya.
“Udah …,” jawab Nuna. Gadis kecil itu sedang duduk memperhatikan babysitter menguncir rambut Dita.
“Nuna cuma ngeliatin aku. Dia udah selesai dari tadi,” jelas Dita.
Winarsih berjongkok di depan Nuna. “Ibu ke kamar dulu. Nanti turun ke bawah bareng Mbak Dita, ya ….” Winarsih merapikan rambut Nuna sebelum berdiri.
Seharian kebanyakan berada di dapur, membuat hari itu berjalan tidak terasa. Setelah melirik jam dan menyadari bahwa setengah jam lagi Dean sampai di rumah, cepat-cepat ia mandi dan berdandan. Sebisa mungkin mereka semua langsung makan malam setibanya Dean di rumah. Jangan sampai pria itu masuk ke kamar dan mandi lebih dulu. Bisa-bisa semua orang di meja makan bakal kelaparan.
Ternyata setengah jam itu kurang untuk Winarsih, meski ia sudah sangat terburu-buru. Rencana menyambut Dean di meja makan buyar karena harus melerai perdebatan Daru dan Widi di depan pintu kamarnya.
“Kenapa yang berdua ini naik lagi? Ibu sudah bilang tunggu di meja makan aja, kan? Bapak sebentar lagi—”
“Nuna …! Mana Ibu?” Suara Dean menggema di lantai satu.
“Itu Bapak udah nyampe. Memangnya ada apa lagi?” Winarsih menggandeng Handaru dan Widi di kanan kirinya menuruni tangga. Wajah kedua bocah itu masih menekuk.
“Malam ini giliran aku yang duduk di sebelah Ibu, kan? Daru kemarin udah,” ucap Widi.
“Cuma duduk sebentar aja. Mbak Widi udah ngambek,” sahut Daru dengan wajah sama cemberutnya.
Winarsih menggandeng dua anaknya ke ruang makan dan Dean berdiri menggendong Nuna masih mengenakan jas yang belum ditanggalkannya.
“Yang ini ngapain aja di rumah? Main sama siapa? Sama Mbak Dita, ya? Ayo, cium Bapak. Kamu belum cium Bapak hari ini.” Dean menyodorkan pipinya pada Nuna. Gadis kecil itu melingkarkan tangan di leher Dean dan menekankan hidungnya ke pipi pria itu.
"Seperti biasa," gumam Winarsih.
"Yang berdua ini jago debat. Calon jaksa dan pengacara handal," sambung Dean terkekeh.
“Mau duduk di mana?” tanya Winarsih pada Widi.
“Sini.” Widi menunjuk kursi di sebelah kursi yang biasa ditempati Winarsih.
“Jadi, masalahnya hari ini rebutan kursi lagi? Udah kayak partai rebutan kursi di DPR.” Dean menggeser kursi dan duduk menghadapi anak-anaknya.
Winarsih meluruskan kursi Dirja dan Dita yang berada di seberang Handaru dan Widi.
“Nuna duduk di sini, ya.” Dean menarik kursi khusus yang sudah digunakan Aruna sejak usia setahun. Gadis kecil itu persis duduk di sebelah kirinya, di dekat Dita. “Udah semua, kan? Kok, kayaknya sedikit, Bu?” Dean memeluk pinggang Winarsih yang sedang berdiri mengisi piringnya dengan nasi putih.
“Sedikit apanya? Udah lima. Coba dihitung lagi. Apa masih kurang banyak?” tanya Winarsih, meletakkan piring di depan Dean. “Masih panas, Pak. Tunggu sebentar lagi,” ucap Winarsih.
Dean mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja. “Memang udah lima. Kalo udah gede-gede gini, keliatannya dikit, ya. Enggak berasa,” gumam Dean.
__ADS_1
“Bapak yang enggak berasa. Aku berasa banget,” sahut Winarsih.
Dean meremaas bokong Winarsih. “Jangan hitung-hitungan—”
“Ehem!” Pak Hartono berdeham karena dari kejauhan melihat Dean mulai menggelayuti Winarsih yang sedang menata menu di piringnya. “Ternyata ada yang udah semakin tua usianya. Tapi tingkahnya belum tentu ikut tua,” ujar Pak Hartono, melangkah perlahan mendekat ke meja makan.
“Tingkahnya, ya, masih gitu ….” Bu Amalia duduk di sebelah Dirja, berseberangan dengan Handaru.
“Udah ngucapin selamat ulang tahun sama Bapak?” Pak Hartono memegang kepala Handaru. Bocah laki-laki itu menggeleng. “Ayo … diucapkan dulu ke bapaknya. Mas Dirja mewakili adik-adiknya,” pinta Pak Hartono, menyatukan tangannya di meja dan memandang Dirja yang langsung memajukan kursinya.
“Ehem, aku mewakili adik-adik. Dita, Widi, Daru dan Nuna, mau ngucapin selamat ulang tahun buat Bapak. Panjang umur sehat selalu …. semuanya seperti kata Bapak kemarin. Makin sayang sama Ibu, sama aku dan adik-adik. Juga sayang Akung dan Uti juga.” Dirja menatap Dean yang tersenyum memandang putra sulungnya.
“Kok, ucapannya ada ‘seperti kata Bapak kemarin?’” Winarsih memandang Dean yang seketika tergelak.
“Aku ngomong ke Dirja, kalau doain panjang umur itu harus sehat-sehat selalu semuanya. Jangan panjang umur aja. Aku enggak mau panjang umur tapi terbaring tak berdaya, Bu …. Aku mau terus sehat mendampingi kamu,” ujar Dean.
"Itu bukan karena ada rencana ngasi Nuna adik lagi, kan?” cetus Bu Amalia.
“Ih, Mama … enggak, dong. Semua udah disegel,” ujar Dean, mencubit pelan pipi Winarsih yang menahan senyumnya. “Sekarang kita makan .... Ayo, anak Bapak paling cantik, kita makan.” Dean mencium pipi Nuna sebelum menarik piringnya mendekat.
“Aku juga cantik,” gumam Widi.
“Mbak Widi tetap yang paling cantik,” sambut Winarsih langsung. Ia tak mau drama anak-bapak kembali terjadi di meja makan. “Ayo, Mbak Widi makan.”
Semua tengah sibuk mengisi piring dengan lauk pauk. Dua orang babysitter ikut membantu Daru dan Widi memulai makan malamnya. Tiba-tiba langkah kaki tergopoh-gopoh yang mendekat membuat mereka semua menoleh.
“Maaf, Pak .... Ada kiriman,” ujar Tina, memegang kotak besar terbungkus kertas warna-warni.
“Kok, buru-buru begitu?” tanya Dean heran, memandang Tina.
“Dari Pak Toni, Pak Langit dan Pak Rio.” Tina mengulurkan kotak pada Dean.
“Kado? Isinya apa? Kok, berisik?” Dean mengguncang kotak ke dekat telinganya. “Apa ... mainan? Perasaanku langsung enggak enak. Udah bertahun-tahun enggak ada yang ngasi-ngasi beginian.” Dean memandang Winarsih.
“Mungkin buat Nuna ...,” ucap Winarsih.
Tak ada satu pun yang memahami kekhawatirannya. Dean menarik napas dan mengusap kepala Winarsih di sisi kanannya. “Bu, kamu enggak lepas IUD, kan?” bisik Dean.
“Enggak, kok. Masa lepas enggak ngomong-ngomong.” Winarsih melirik ke arah mertuanya.
“Oh, ya, udah. Berarti ini memang mainan buat Nuna,” lanjut Dean.
To Be Continued
__ADS_1
PS. Kalau mau vote, bantu vote ke Dul aja, ya …. Nanti ada lanjutannya sedikit lagi.
Minal Aidin Wal Faidzin buat Boeboo tersayang semuanya. Sehat-sehat bersama keluarga di mana pun berada. ❤️❤️