
Sejak pagi Winarsih terlihat lebih repot dari biasanya. Dirja agak sedikit rewel karena diimunisasi kemarin. Suhu badannya yang sedikit lebih hangat dari biasanya membuat bayi itu benar-benar tak mau dilepaskan.
Berkali-kali Winarsih harus menyusui dan menggendongnya dengan sebuah kain panjang. Babysitter Dirja sampai terlihat tak nyaman karena merasa tak bisa melakukan hal banyak bagi bayi montok itu.
"Panggil Ibunya Dirja," ucap Bu Amalia pelan pada Perawatnya.
Mendengar perkataan Bu Amalia, Perawat itu langsung ke luar mendatangi suara tangis bayi di lantai satu.
Terlihat Winarsih sedang bergoyang ke sana-kemari berusaha menenangkan bayinya yang berada dalam kain jarik batik coklat.
Sebagai seorang ibu baru dan masih berusia sangat muda, pengalaman Winarsih memang masih sangat minim soal merawat bayi.
Waktu di desa dulu, ia memang pernah sesekali dititipi cucu salah seorang tengkulak dan memperoleh upah harian. Itu yang membuat awinarsih tak canggung jika harus menggendong atau memandikan bayinya.
Belakangan Winarsih rajin membaca soal ilmu tumbuh kembang anak yang dicarinya sendiri dengan browsing melalui ponsel.
Selama ini dia tak pernah menemui kesulitan ketika harus merawat Dirja sendirian. Tapi hari ini saat di mana bapak bayi itu akan pulang dari luar kota, Dirja terlihat sangat rewel sekali. Padahal badannya sekedar hangat saja.
Sudah hampir siang, Dirja bahkan tak mau disusui lagi. Mungkin bisa saja dia sudah sangat kenyang karena sejak tadi Winarsih terus memberinya minum agar tertidur. Mata Dirja terlihat mengantuk, tapi seolah bayi itu sayang untuk memejamkan matanya.
Winarsih masuk ke kamar ibu mertuanya masih dengan Dirja yang berada dalam gendongan.
"Ya Ma? Mama panggil saya ya?" tanya Winarsih.
"Kenapa Dirja? dari tadi mama dengar dia menangis terus," tanya Bu Amalia.
"Kemarin Dirja diimunisasi, sekarang badannya hangat jadi rewel terus. Semua-semuanya salah." Winarsih mengusap-usap pelan Dirja yang menggeliat di dalam gendongannya.
"Coba sini dulu, buka kainnya. Biar uti pangku sebentar." Bu Amalia merentangkan tangannya ke arah Dirja.
Sedikit was-was karena khawatir dengan kekuatan Bu Amalia, Winarsih membuka kain gendongan yang mengikat Dirja ke dadanya.
Perlahan ia meletakkan bayi itu di atas pangkuan ibu mertuanya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Siapa yang ngajarin kamu pakai kain gendong begitu?" tanya Bu Amalia karena melihat Winarsih yang begitu cekatan membuka simpulan kain panjang di belakang bahunya.
"Waktu di desa, Saya pernah jaga bayi tetangga," jawab Winarsih.
Bu Amalia hanya diam dan kini memahami kenapa menantunya itu terlihat begitu mahir menggunakan selembar kain jarik tiap menggendong bayinya.
"Dean pulang hari ini?" tanya Bu Amalia lagi.
"Iya Ma, mungkin sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah."
"Panggil Babysitter-nya Dirja ke sini, biar Dirja Mama pegang sambil diawasi dia. Kamu siapin makan siang untuk Dean aja. Dia baru pulang pasti capek," pinta Bu Amalia.
Setelah berpikir-pikir sesaat, Winarsih menghampiri sebuah pesawat telepon dan memanggil Babysitter Dirja yang tadi berada di lantai satu. Dan setelah menunggu sesaat, wanita muda itu muncul di ambang pintu kamar.
"Kamu di sini dulu, Uti Dirja mau pegang dia. Tolong diliatin. Kalo Utinya capek, kamu gendong Dirja dulu. Saya mau ke bawah nyiapin makan siang Pak Dean." Winarsih memberikan sedikit wejangan dengan suara pelan yang kemudian disambut dengan anggukan.
"Ma, saya turun dulu ya." Winarsih pamit pada Bu Amalia yang kemudian mengangguk.
Sesaat sebelum menutup pintu ia melihat Bu Amalia duduk bersandar menepuk-nepuk pelan paha Dirja sembari mendendang lagu nina bobo berbahasa Jawa.
Tak lelo…lelo…lelo ledung…
Cep menenga, aja pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
__ADS_1
Yen nangis ndak ilang ayune
Tak gadhang bisa urip mulya
Dadiyo wanita utama
Ngluhurke asmane wong tuwo
Dadiyo pendekaring bangsa….
Wis cep menenga…anakku…
Kae.. mbulane ndadari
Kaya ndas buta nggegilani
Lagi nggolekki cah nangis..
Tak lelo lelo ledhung
Cep menengo ojo pijer nangis
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis romo ibu bingung...*
(Lello Ledung)
*Mari kutimang-timang engkau anakku,
cup cup, … janganlah menangis terus
anakku yang cantik rupanya
Ku doakan bisa hidup mulia
Jadilah orang yang utama
meninggikan nama orangtua
jadilah pendekarnya bangsa
Dah, diamlah …… anakku
Itu ….. rembulannya bulat penuh
Seperti kepala rakyasa yang menakutkan
Tengah mencari anak yang menangis
Mari kutimang engkau anakku
Diam diamlah jangan menangis terlalu
Kugendong dengan selendang batik kawung
Kalau menangis ayah ibu bingung
Saat mendengar Bu Amalia yang mendendang untuk Dirja, hati Winarsih terenyuh. Seketika dia teringat akan Bu Sumi yang sering menyanyikan lagu itu tiap Yanto terbangun karena mimpi buruk.
__ADS_1
Ia rindu akan Bu Sumi dan Yanto. Setelah melahirkan Dirja, ia hanya sempat menelepon beberapa kali untuk mengabarkan keadaan keluarga kecilnya beserta perkembangan kesehatan ibu mertuanya.
Winarsih tak pernah mengatakan kepada ibunya tentang masalah yang sedang menjerat keluarga Dean. Baginya, masalah itu berkaitan dengan harga diri Dean di mata ibunya.
Winarsih yang saat ini belum makan siang, menjadi sangat lapar karena teringat akan Bu Sumi. Sejak Yanto keluar dari rumah sakit, dia belum pernah lagi bertemu dengan keluarganya. Ia rindu akan masakan Bu Sumi.
Setelah masalah Dean usai nanti, Winarsih berencana akan mengajak suaminya itu untuk pulang ke Jambi. Dirja harus bertemu dengan mbahnya.
Sebuah sedan hitam terlihat berhenti di teras lobby rumah. Winarsih yang menyadari bahwa itu adalah Pak Noto yang sedang kembali bersama Dean, segera menyongsong suaminya itu hingga ke teras.
"Duh, aku kangen banget ama kamu Bu Winar." Dean memeluk istrinya seerat mungkin dengan tubuh yang sedikit bergoyang sambil mencium kepala istrinya itu berkali-kali.
"Kayaknya ini paling lama deh aku ninggalin kamu, biasa paling cuma 3 hari ya kan?" sambung Dean lagi.
"Iya. Dan paling singkat itu satu malam waktu Pak Dean nginep di kantor polisi." Winarsih mengingatkan suaminya.
"Bu Winar pinter banget pelajaran sejarah-nya. Dirja mana? aku mau cium juga." Dean merangkul pundak isterinya masuk ke dalam rumah.
"Sama utinya di kamar. Sedang ditidurkan pake tembang Jawa," jawab Winarsih.
"Kok bisa?" tanya Dean terkejut.
"Saya juga kaget Utinya Dirja bisa nembang," sahut Winarsih polos.
"Maksudnya kok bisa di kamar Mama? Kalo nembang itu udah dari dulu kalo Mama sempat nemenin aku tidur. Bu Win nggak fokus ya, padahal baru dipeluk sebentar aja." Dean tertawa kecil.
"Oooo.." Winarsih ikut tertawa geli sembari membenamkan wajahnya di dada Dean.
Dean yang mendapati Winarsih yang sedang manja, semakin bahagia membayangkan rencananya malam nanti.
"Tapi Dirja lagi rewel, imunisasi kemarin badannya jadi lebih hangat. Dari pagi saya gendong terus, nyusu terus tapi merengek nggak mau tidur. Padahal matanya udah keliatan ngantuk." Winarsih sedang berkeluh-kesah pada suaminya.
"Kasian Bu Winar capek jaga anakku. Pundaknya pasti pegel." Dean memijat-mijat pundak Winarsih.
"Makan dulu ya, itu nasinya sudah saya dinginkan. Biar cepet bisa dimakan," ujar Winarsih yang sekarang hafal kebiasaan suaminya itu. Dean tak pernah mau meniup makanannya. Nasi yang dimakannya selalu dalam keadaan benar-benar hangat kuku.
"Kamu udah makan?" tanya Dean saat mereka tiba di meja makan. Winarsih menggeleng.
"Ayo duduk makan siang bareng aku. Mumpung Dirja lagi ama Mama." Dean menarik sebuah kursi untuk isterinya.
"Nih, sekarang aku yang ambilin nasi kamu. Kamu duduk yang tenang, makan yang santai. Jangan buru-buru. Dirja kan juga ada Babysitter-nya. Aku nggak mau isteriku jadi keliatan stress gitu. Kalo kamu stress, kinerjaku juga pasti menurun Bu," tutur Dean seraya menambahkan lauk ke piring isterinya.
"Makan, entar aku mau ngasi oleh-oleh buat kamu."
Winarsih menurut dan kemudian melanjutkan makan siangnya dengan santai dan tak terburu-buru seperti selama ini.
"Kita ke kamar Mama yuk, aku mau ambil Dirja. Khawatir Mama capek jaga dia." Winarsih menggandeng tangan Dean menuju ke lantai dua.
Setibanya di kamar Bu Amalia, Dean dan Winarsih dibuat terpana dengan sebuah pemandangan manis yang meluluhkan hati.
Dirja sedang tertidur pulas di dalam pelukan Utinya yang juga sedang terlelap. Babysitter Dirja duduk di kursi dan sedang menonton televisi.
"Ya udah, saya ambil Dirja dulu." Winarsih bergegas masuk ke kamar tapi suara babysitter Dirja menahan langkahnya.
"Bu, tadi pesan Utinya Dirja, dia jangan diambil dulu. Utinya masih mau main bareng. Tadi dinyanyiin terus Dirja langsung tidur." Wanita muda itu tersenyum lebar.
"Oh Mama ngomong gitu?" tanya Dean lagi pada Babysitter. Wanita muda berseragam biru muda itu mengangguk. "Kalo udah Mama yang ngomong gitu, aku nggak bisa apa-apa Win. Ayo kita tidur ke kamar juga." Dean merangkul isterinya dan ke luar menutup pintu kamar.
"Masih siang," ujar Winarsih tersenyum.
__ADS_1
"Kalo siang bisa, kenapa aku harus nunggu malem?" jawab Dean cepat. "Lagian itungan malem beda lagi." Dean mencium kepala isterinya seraya membuka pintu kamar mereka.
To Be Continued.....