
Utomo bangun saat hari masih gelap yang bahkan subuh pun belum menyapa. Hari ini dia berniat akan menumpang bus pertama yang akan berangkat ke kampung halamannya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Jaka yang baru terbangun dan menemukan Utomo tengah bersiap-siap dengan sebuah ransel.
"Mau mudik," jawab Utomo singkat dengan wajah cemberut memakai kaos kakinya.
"Kok tiba-tiba? Ada apa? Urusan keluarga?Memangnya udah izin ke kantor?" tanya Jaka terheran-heran.
"Mau nyari Winarsih. Kemarin aku ke rumah Pak Hartono katanya dia sudah nggak kerja di sana lagi. Mungkin dia udah nyampe di desa. Aku bener-bener penasaran kabarnya sekarang. Apa mungkin dia memang lebih baik di desa saja ya Jak? Biar aku saja yang di kota mencari nafkah untuk keluarga kami nantinya," ucap Utomo menerawang dengan sebelah kaos kakinya di tangan.
"Kasian kamu masih muda Ut, jangan gila sekarang" jawab Jaka asal sambil menguap dan menggaruk-garuk bokongnya yang tertutup sarung kotak-kotak.
"Kemarin aku ketemu dengan anaknya Pak Hartono lagi. Tumben dia nggak marah-marah aku nyari Winarsih ke sana. Dia cuma diam aja mendengar omonganku dengan satpam usil itu."
"Mau marah-marah gimana, wong Winarsihnya udah nggak ada." Jaka ngeloyor pergi ke belakang untuk mandi.
"Tapi harus kuakui. Anak Pak Hartono itu tampan sekali ya Jak," ucap Utomo pada sahabatnya yang kemudian muncul lagi dengan sebuah handuk di bahu.
"Ganteng, 'kan? Ya iya. Kalau ada jadwal ngikut ke kantor sama bapaknya, itu pegawai perempuan udah pada ke salon dari dua hari sebelumnya. Waktu bapaknya turun ke politik, itu Pak Dean ikut pakai kaos partai aja gantengnya udah ke mana-mana. Beda kalau kita yang pakai, " ujar Jaka berlebihan.
Grup Cahaya Mas, perusahaan tempat Jaka dan Utomo bekerja adalah salah satu anak perusahaan milik Pak Hartono yang berada di Jakarta. Melalui Jakalah, Utomo mendapat informasi tempat bekerja untuk Winarsih saat itu.
"Aku juga curiga Winarsih mutusin aku ada kaitannya dengan anak Pak Hartono itu. Aku ngeliat sesuatu yang beda tiap pria itu mandang Winarsih. Apa Winarsih kecantol gantengnya Pak Dean itu?" tanya Utomo pada Jaka yang berdiri di ambang pintu dengan sebuah cotton buds di telinganya.
"Kenapa ya Jak, semua orang selalu mandang fisik? Mandang luarnya aja, nggak mandang hatinya?" Utomo kembali berkata menerawang sambil menatap langit-langit rumah mereka.
"Ut...ut.. Kamu kalau mandang orang ya pasti luarnya toh Ut, masak mandang paru-parunya. Memangnya matamu itu rontgen? Ya sudah berangkat sana! Hati-hati, aku mau mandi dulu." Jaka pergi sambil mengibas-ibaskan handuknya seolah mengusir Utomo.
Setelah mengikat tali sepatunya, Utomo menyandang ransel dan langsung berjalan menuju simpang jalan rumah mereka untuk mencari ojek yang akan membawanya ke terminal bus.
*******
"Ibu...." panggil Winarsih pada Bu Sumi dari depan pintu rumah yang terbuka.
Berangkat dengan bus malam hari, membuat Winarsih bisa tiba di desanya pagi-pagi betul saat Bu Sumi belum berangkat ke sawah.
"Kakak.... Kakak.... Ibuuuu... ini Kakak pulang." Yanto yang sedang mengupas telur rebus, langsung melonjak-lonjak kegirangan melihat kedatangan Winarsih.
"Yanto, Kakak kangen Yanto." Winarsih menarik adiknya ke dalam pelukan. Yanto yang masih memegang telur rebus di tangannya langsung terdiam melihat kakaknya menangis.
"Ada apa Yan--" perkataan Bu Sumi terhenti saat melihat kedatangan putrinya.
Wanita tua itu sudah mengenakan kaos lengan panjang dan celana semata kaki, jenis pakaian yang selalu dikenakannya saat bekerja di sawah.
__ADS_1
Bu Sumi mendekati Winarsih yang masih memakai tas tote bag dan memeluk Yanto. Tas pakaiannya teronggok tak jauh dari kaki.
"Kenapa pulang tiba-tiba?" tanya Bu Sumi curiga memandang anaknya.
Winarsih melepaskan Yanto dan langsung menangis menubruk ibunya. Saat berhadapan dengan wanita yang melahirkannya itu, kaki Winarsih langsung lemas seketika.
"Maafin Winar Bu, maafin Winar. Winar nggak dengerin omongan Ibu. Winar anak bandel. Ibu boleh pukul Winar. Ibu boleh marah...." Tangisan Winarsih luruh tak terbendung.
"Kamu kenapa? Coba lihat ibu! Pandang ibu Winarsih!" jerit Bu Sumi yang langsung mengerti ada yang tidak beres dengan anaknya.
"Winar hamil Bu, Winar hamil. Winar minta maaf," raung Winarsih.
Yanto yang tak mengerti apa yang sedang terjadi, beringsut mendekati kakaknya dan mengusap-usap kepala Winarsih yang berada di pangkuan ibunya.
"Anak bodoh! Dasar anak bodoh! Apa yang sudah ibu pesankan pada kamu? Siapa yang melakukannya Winaaaarrr? Siapaaa?" jerit Bu Sumi sambil memukuli tubuh anaknya.
"Ampun Buuuu, ampun. Maafin Winar. Winar salaaah." Winarsih semakin membenamkan kepalanya di pangkuan Bu Sumi.
"Bangkit kamu! Liat ibu! Jawab! Siapa yang melakukannya? Utomo? Dia harus bertanggungjawab! Kenapa kamu pulang sendirian ke sini? Harusnya dia yang bersujud di kaki ibu untuk memohon maaf!" pekik Bu Sumi tersengal-sengal.
"Bukan Bu! Jangan! Bukan mas Ut. Jangan bawa-bawa mas Ut. Dia nggak salah apa-apa." Winarsih bangkit menatap ibunya dengan kedua tangan ditangkupkan memohon ampun.
"Bukan Mas Ut Bu, ini semua salah Winarsih. Ibu jangan salahkan orang lain," ratap Winarsih.
Winarsih menahan tangan ibunya sekuat tenaga.
"Winar yang salah Bu, maafkan Winaaaar," ratap Winarsih dengan tangisnya yang belum berhenti.
"Kamu kira menghidupi anak seorang diri itu gampang? Siapa ayah bayimu? Ngomong ke ibu! Siapa Winarsih?" Bu Sumi memekik.
Winarsih hanya menangis memegang kedua tangan ibunya.
"Kamu nggak kasihan anakmu nanti lahir nggak ada ayahnya? Kamu kira semua akan mudah? Yanto saja yang punya dua orang tua lengkap selalu dihina orang dari kecil hanya karena dia spesial. Kamu nggak kasihan dengan anakmu nanti Win? Kamu dengar ibu?" Bu Sumi menangkupkan kedua tangannya pada wajah Winarsih yang terus menunduk tak hentinya menangis.
"WINARSIH!! Kamu dengar ibu???" Bu Sumi seperti orang kesetanan karena Winarsih yang ditanyainya tak kunjung memberi jawaban.
"Ibu cuma orang bodoh Win. Nggak pernah ke kota sama sekali. Nggak pernah liat lampu jalan raya yang ramai itu. Ibu kira, dengan melepaskanmu ke sana, Ibu bisa mendengar cerita-cerita menarik kalau kamu kembali. Ibu nggak pernah memintamu mencari nafkah untuk kami di sini." Bu Sumi berkata lemah dengan menyandarkan kepalanya pada dinding papan.
Yanto hanya diam memijat-mijat pundak kakaknya yang masih meringkuk terisak di atas tikar pandan.
"Berapa bulan usia kehamilanmu?" tanya Bu Sumi.
"Empat Bu--- sudah empat bulan Winar nggak dateng bulan" jawab Winarsih di sela-sela isaknya.
__ADS_1
"Anak bodoh. Ibu juga bodoh. Berani melepasmu pergi ke kota itu sendirian. Kamu yang masih 21 tahun. Yang menganggap semua orang itu sama lurusnya dengan pikiranmu. Ke mana laki-laki yang menghamilimu Win? Apa dia sudah tau kalau kamu hamil anaknya? Apa laki-laki itu lari?" tanya Bu Sumi dengan nada datar dan terdengar lelah.
Winarsih diam tak menjawab perkataan ibunya sama sekali. Dia hanya meringkuk dan mulai tertidur karena perjalanan panjang yang melelahkan.
Matahari mulai tinggi dan panasnya menyengat menembus seng tipis yang melingkupi rumah mereka.
Rumah yang beratap rendah dengan seng tipis itu terasa panas menyengat di siang hari dan dingin yang menggigit di waktu malam. Sedangkan saat musim penghujan, mereka harus menyediakan beberapa ember untuk menampung tiap sudut rumah yang bocor.
Bu Sumi hanya diam mematung bersandar pada dinding di luar rumahnya. Kesedihan dan kekecewaan yang dirasakannya kini, jauh melampaui kesedihan yang ia rasakan saat kepergian suaminya.
Bu Sumi merasa gagal menjadi orangtua. Dia sudah terlalu lelah menangis dan memukuli anaknya tak henti-henti.
Jika dia terus melanjutkan menanyai Winarsih hari itu juga, bisa-bisa dia malah membunuh anak perempuannya yang berwatak keras kepala itu.
Winarsih tidur hingga hari menjelang sore. Yanto membangunkan Winarsih untuk meminta kakaknya itu pergi membersihkan diri dan beranjak ke kamarnya.
Karena sejak tiba, Winarsih belum beringsut dari posisinya. Bu Sumi yang kasihan tapi masih marah dengan anaknya itu, tak mengacuhkannya sama sekali.
"Kak, udah malem, makan. Nanti sakit. Yanto sayang Kkakak. Ibu nggak marah lagi." Yanto mengguncang-guncang tubuh Winarsih.
"Jam berapa ini Yan?" tanya Winarsih.
"Udah malem," jawab Yanto yang hanya mengetahui petunjuk hari itu hanyalah pagi, siang dan malam. Remaja itu belum mengerti cara melihat jam.
"Ibu mana?"
"Tidur di kamar" jawab Yanto kembali mengalihkan perhatiannya pada kayu manis yang sedang dibersihkannya.
Perlahan-lahan Winarsih bangkit menuju kamar untuk menjengukkan kepalanya ke dalam. Dilihatnya Bu Sumi tidur meringkuk dengan posisi membelakangi pintu.
Perutnya sangat lapar sampai uluhatinya terasa sangat perih. Sebelum makan dia berniat membersihkan dirinya dulu.
Waktu hampir menunjukan pukul 11 malam saat Winarsih merentangkan sebuah selimut tebal di depan televisi sebagai alasnya tidur. Dia baru saja mengganjal perutnya dengan sepiring nasi dan sebutir telur dengan sambal.
Yanto sudah tidur sejak tadi, dan Winarsih yang biasanya tidur bersama sang ibu, malam ini tak ingin mengganggu ibunya yang sedang kalut karena permasalahan yang dibawanya.
Winarsih telah bersiap-siap untuk tidur. Dia telah mengganti pakaiannya dengan sebuah daster batik berwarna biru.
Saat berbaring, Winarsih mengelus-elus perutnya yang sudah semakin membesar. Air matanya kembali mengalir. Dia berniat tidur untuk sejenak melupakan kesedihannya hari itu.
Tapi, saat Winarsih hendak memejamkan mata, saat itu pulalah telinganya mendengar suara Utomo memanggilnya di luar.
"Win... Winar...."
__ADS_1
To Be Continued.....