
"Win gimana? kamu udah ada ngerasa tanda-tanda bakal ngelahirin?" tanya Dean seraya mengusap perut isterinya.
"Tanda-tanda kayaknya masih biasa aja. Memangnya kenapa?" tanya Winarsih
"Aku lusa berangkat ke Kalimantan Win. Sidang kasus pidana perebutan lahan Hartono coil itu. Papa juga pergi bareng aku dan Ryan. Memang selama Papa belum bisa dibuktikan bersalah, Papa masih menjalankan tugasnya seperti biasa sebagai Menteri. Sidang pertama ini Papa bersikeras hadir, dia harus menunjukkan itikad baik dan menghormati pengadilan katanya. Jadi aku memang harus ikut pergi ke sana. Dengan beberapa Pengacara kasus pidana lain yang udah di sewa perusahaan," jelas Dean pada isterinya yang sedang terlihat berpikir-pikir.
"Ya udah Pak Dean selesaikan saja urusan di Kalimantan itu. Saya pasti baik-baik aja kok," jawab Winarsih.
"Ryan berangkat bareng aku ya Win, jadi kalo kamu ada perlu apa-apa, ngomong ke Novi. Kayaknya aku nggak bakal lama. Aku usahakan bakal pulang secepatnya. Aku janji anakmu lahir nanti, aku yang pegang duluan. Kamu jangan khawatir. Aku sedih suasana anak kita lahir masih kacau kayak gini." Dean memeluk tubuh istrinya. Saat itu kepala Winarsih sedang berbantalkan lengan kanannya.
"iya enggak apa-apa apa semoga urusan dengan pengadilan itu itu bisa selesai secepatnya.
"Iya Win, karena kalo kalah di Pengadilan Negeri, aku pasti akan lanjut di Pengadilan Tinggi Kalimantan. Aku bener-bener nggak bisa membiarkan Papa kehilangan Hartono coil begitu aja. Bagi Papa itu seperti harga diri." Dean membenamkan kepalanya di sebelah bahu Winarsih.
Winarsih hanya mengangguk dan menepuk-nepuk pelan pundak suaminya. Dia mengerti beban berat apa yang sedang dipikul Dean sekarang ini.
"Kamu juga jangan capek-capek ya. Perutmu udah segede itu loh. Aku aja yang ngeliatnya serem. Kamu kalo jalan jangan buru-buru. Anakku lo yang di dalem itu," omel Dean pada Winarsih yang memang sering berjalan terlalu cepat menurutnya.
"Iya Pak, saya juga udah mulai sesak. Tiap malem udah susah tidur," sahut Winarsih menjauhkan tubuh dan mengelus perutnya saat berbicara. Saat ini dia sedang mengeluh pada suaminya.
"Tapi kan aku selalu bantuin biar kamu bisa lahiran lancar Win. Aku bantu dari dalem." Dean mengatupkan kedua bibirnya. Winarsih terlihat mencibir. Dan Dean langsung mencium pipi isterinya bertubi-tubi.
"Cium aku juga Win, di sini" Dean menyodorkan pipinya. Winarsih mengecup pipi yang disodorkan padanya itu.
"Satu lagi di sini." Dean menyodorkan pipinya yang lain. Winarsih kembali mengecupnya.
"Di keningku juga Win, kamu nggak pernah lo nyium aku duluan. Padahal aku suka kalo Bu Winar itu agresif." Dean memejamkan mata menunjuk dahinya.
Winarsih tertawa kecil kemudian mencium dahi dan bibir suaminya. Dean langsung menarik tubuh isterinya untuk membenamkan ciuman bibir itu menjadi lebih dalam.
Itu adalah percakapan Winarsih dan Dean dua hari yang lalu. Pagi ini Dean sudah memeluk tubuh isterinya di teras rumah dan mencium puncak kepala wanita itu berkali-kali. Siku kanan Dean masih dilingkari tongkatnya.
Tinggi Winarsih selisih hampir 25 sentimeter dari suaminya. Dean selalu dengan mudah mengecup puncak kepalanya, saat pria itu merengkuhnya ke dalam pelukan.
Ada rasa haru yang sulit digambarkan Winarsih ketika Dean berpamitan pagi itu.
Dengan sorot matanya seolah Dean berkata, doakan perjalanannya, sidang itu tidak akan mudah. Tolong jaga ibunya, karena saat ini dia sedang berjuang untuk kebahagiaan keluarga mereka.
Pak Hartono yang belakangan ini lebih banyak diam tampak sedikit lebih tua sejak kasus yang menimpanya. Beban pikiran pria itu jelas tergambar pada raut wajahnya.
Pandangan mata Winarsih mengiringi langkah kaki suaminya yang masing terpincang-pincang memasuki Van hitam yang akan mengantarkannya ke Bandara.
Setengah jam dalam perjalanan menuju Bandara, Dean membuka ponselnya. Ada notifikasi dari aplikasi berita terpercaya yang diikutinya.
"Yan." Dean mencolek bahu Ryan yang duduk di kursi depan mobil. Ryan menoleh sesaat ke belakang kemudian melihat Dean yang mengetuk ponselnya memberi kode untuk melihat sesuatu di aplikasi pesannya.
__ADS_1
Pak Hartono sedang duduk diam di sebelah Dean. Dean tak ingin Papanya itu tahu bahwa dia sedang mengamati berita tentang saham Hartono Coil yang semakin anjlok.
Dean dan Ryan sama-sama menunduk melihat berita dan harga pergerakan saham. Dean menarik nafas dalam-dalam, 75% saham itu berada di tangan investor yang terbagi-bagi. Termasuk Dean dan Kakaknya. Dean hanya berharap bahwa investor masih bisa bertahan sebentar lagi dengan apa yang mereka punya di perusahaan itu.
**********
"Jadi prosesnya itu saja kan Nov?" tanya Winarsih pada Novi.
"Iya Bu, itu aja. Sepanjang ini semuanya nggak ada masalah." Novi berjalan menjajari langkah Winarsih masuk ke dalam rumah.
"Mudah-mudahan Nov, saya yakin," sahut Winarsih.
Hari ketiga kepergian Dean dan Pak Hartono, suasana di rumah benar-benar mencekam. Winarsih dan Novi baru saja tiba di rumah siang itu saat seorang perawat yang mengurus Bu Amalia turun tergesa-gesa dari lantai atas menuju dapur.
Wanita muda itu meneriakkan nama Mba Tina berkali-kali. Dengan tergesa-gesa Winarsih menghampiri perawat itu.
"Ada apa Sus? Ibu baik-baik saja?" tanya Winarsih dengan raut khawatir. Dia yang pergi sejak pagi tadi bersama Novi, merasa sedikit bersalah karena meninggalkan Ibu Mertuanya sendirian tanpa pengawasan.
"Ibu menangis terus Bu. Enggak mau mandi dari pagi, belum makan juga." Perawat itu berbicara dengan pandangannya yang sesekali terarah ke lantai dua. Wajah perawat itu menunjukkan antara rasa cemas dan takut.
"Ya udah, enggak apa-apa. Biar saya aja yang ke atas, Suster ikut saya juga. Tolong Nov, bawain tas saya ke kamar ya. Saya jenguk Bu Amalia dulu."
Winarsih menyodorkan tasnya kepada Novi yang mengangguk kemudian bersama-sama mereka menaiki tangga besar.
Setibanya di kamar Bu Amalia, Winarsih melihat wanita itu sedang duduk di kursi rodanya menonton siaran televisi yang sedang menyiarkan berita. Berita itu tentang Pak Hartono dan perusahaannya.
Perawat kemudian datang membuka pintu kamar dan berdiri di dekat pintu seolah menunggu perintah Winarsih.
"Ayo bantu saya bawa ibu ke kamar mandi, saya yang mandiin," pinta Winarsih pada perawat itu.
Perawat kemudian mendorong kursi roda menuju pintu kamar mandi. Winarsih dengan perut besarnya membantu perawat itu memindahkan mertuanya ke sebuah kursi plastik.
"Bantu saya buka pakaian Ibu ya," pinta Winarsih lagi. Pelan-pelan mereka berdua melolosi pakaian wanita tua yang hari itu tampaknya sedang bersedih hati karena menonton berita soal keterpurukan suaminya.
"Ya udah Sus, bisa tunggu di luar. Biar saya yang mandiin Ibu," ujar Winarsih pada perawat.
Wajah Bu Amalia mengeras dan air matanya terhenti karena Winarsih datang ke kamar itu. Wanita tua itu masih sangat gengsi dengan ketidakberdayaannya.
"Bu, saya ngerti apa yang ibu rasain. Dulu waktu ayah saya meninggal, ibu saya seperti kehilangan separuh nyawanya. Kehilangan seorang pria yang telah menemaninya berjuang demi sebuah keluarga, saya rasa memang nggak mudah. Berbulan-bulan ibu saya nggak bicara. Dia hanya duduk di depan pintu rumah melihat ke arah jalan seolah menunggu kalau-kalau ayah kami akan pulang dari sawah seperti biasa."
Winarsih membasahi rambut ibu mertuanya dengan air hangat perlahan-lahan. Hari itu dia ingin mencuci rambut Bu Amalia yang sudah lepek agar kembali terlihat bagus dan mengembang seperti biasa.
Saat mulai membubuhkan sampo dan memijat pelan kepala wanita itu, Winarsih kembali berbicara.
"Saya tau ibu pasti sedih atas keadaan yang menimpa Pak Hartono. Ibu kasihan pada suami ibu. Ibu merasa tak berdaya karna nggak bisa menemaninya di pengadilan. Saya tau kalau selama ini, ibu selalu ikut kemanapun Pak Hartono pergi. Ibu terpukul disaat-saat Pak Hartono membutuhkan dukungan, ibu tak bisa menyertainya." Winarsih mengambil sisir sikat keramas dan mulai menyisir rambut wanita itu.
__ADS_1
"Tapi supaya ibu tau, kalau Pak Hartono dan Pak Dean berjuang di pengadilan sana, ibu juga harus berjuang untuk bisa segera sembuh dari sakit ini. Saya lebih suka diomelin ketimbang liat ibu nangis di atas kursi roda itu," tukas Winarsih.
"Pak Dean memang nggak pernah ngomong ke saya Bu, tapi setiap dia pergi dari rumah ini, sorot matanya selalu mengatakan kalau dia menitipkan ibunya pada saya. Saya menyayangi Pak Dean Bu. Jadi, saya harus menyayangi ibu seperti Pak Dean menyayangi ibunya. Saya harus peduli kepada ibu, kayak pak Dean peduli dengan keluarga saya." Winarsih mengangkat lengannya untuk menghapus air matanya yang lolos.
"Saya diberi suami yang baik Bu. Pak Dean sangat baik pada saya. Itu semua karena didikan ibu pada Pak Dean. Mungkin, kalau keadaan kita bisa lebih baik, saya bisa berterima kasih dengan cara yang lebih benar. Terima kasih karena telah merawat dan mendidik Pak Dean sampai menjadi sosok dirinya yang sekarang. Sebagai seorang Ibu, ibu sudah berhasil." Kalimat terakhir Winarsih membuat dirinya tercekat.
Winarsih kembali menunduk untuk menghapus air matanya. Tanpa disadarinya, Bu Amalia telah menangis sejak tadi.
"Sekarang ibu mandi ya, biar lebih segar. Saya akan mulai menandai sekarang. Kalau ibu nggak mau menurut dengan perawat, itu artinya ibu memang mau ketemu saya. Saya akan minta perawat melapor kalau ibu menolak makanan. Saya masih punya banyak cara untuk memaksa ibu makan."
Sore itu, dengan bantuan Winarsih, Bu Amalia terlihat kembali segar. Winarsih mengeringkan rambut wanita itu dengan hair dryer dan berhasil memilih salah satu pelembab dari banyak botol di atas meja rias serta mengaplikasikannya ke kulit wanita itu.
Langkah terakhir, Winarsih menyemprotkan parfum yang dirasanya paling wangi ke tubuh ibu mertuanya.
Saat mulai menyuapkan makanan kepada bu Amalia, Winarsih kembali mengambil remote TV dan menyalakannya. Beberapa saat lamanya Winarsih mencari channel yang tepat untuk ditonton ibu mertuanya itu.
Tangannya berhenti memencet tombol remote TV saat menemukan sebuah film bagus yang di rasanya cocok ditonton oleh Bu Amalia untuk bersantai.
"Ibu enggak boleh nonton berita lagi ya, sekarang nontonnya yang begini aja. Berita-berita itu setiap harinya pasti ada aja. Kadang-kadang berita itu malah terlalu berlebihan menurut saya. Tolong diawasi ya Sus," pinta Winarsih pada suster yang berdiri tak jauh dari mereka.
Perawat yang mendengar hal itu mengangguk dan tersenyum. Pekerjaannya hari itu jauh lebih ringan karena bantuan Winarsih.
"Bu saya permisi ke kamar dulu, sekarang ibu sudah terbebas dari saya. Perut bagian bawah saya rasanya kram. kayaknya hari lahiran saya semakin dekat. Doakan saya ya Bu, supaya bisa mengantarkan cucu ibu ke dunia ini dengan selamat." Winarsih menatap Bu Amalia yang pandangannya seperti melamun ke arah televisi.
Sesaat kemudian, dia sudah menutup pintu kamar mertuanya dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Perutnya benar-benar terasa kram dan sedikit mulas.
Dengan sedikit tertatih-tatih, Winarsih memegangi perutnya dan masuk ke dalam kamar. Dia mencoba menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan untuk meredakan rasa kramnya di perut. Dia tak tahu rasanya bagaimana akan melahirkan.
Anaknya di dalam perut terasa begitu gaduh. Makhluk kecil itu berkali-kali menonjolkan bagian tulangnya di sisi kanan perut ibunya.
Winarsih tersenyum seraya menggaruk-garuk sisi perutnya yang menonjol itu.
Rasa kram itu datang lagi, kali ini rasanya seperti tak tertahankan. Winarsih menunduk melihat perutnya. Sesaat kemudian dia merasakan suatu cairan hangat merembes keluar dari bagian sensitifnya.
"Apa ini air ketuban?" gumam Winarsih sendirian.
Rasa kram yang menyerang perutnya kini berubah menjadi rasa mulas hebat yang menjalar hingga ke pinggangnya. Buru-buru Winarsih meraih tasnya yang diletakkan Novi di atas ranjang untuk mencari ponselnya.
"Nov? di mana? saya kayaknya pecah ketuban ini Nov, bantu saya turun Nov! perut saya mules sekali," erang Winarsih pada Novi.
To Be Continued....
Kalo sayang jangan lupa klik like yaa..
langsung up next.
__ADS_1
Sini cium dulu :*