
"Ya udah kamu berdiri dulu, coba kamu putar ke sini," ujar Dean.
"Pelan-pelan, saya nggak bisa buru-buru. Lukanya masih baru," jawab Winarsih.
"Iya, aku pelan-pelan sayang. Segini cukup?"
"Naikin dikit lagi," jawab Winarsih.
"Segini cukup?"
"Iya, udah."
"Biar Bu Winar kembali seksi," gumam Dean.
"Sekarang memangnya enggak?" tanya Winarsih.
"Seksi Bu, seksi-- ya ampun. Nambah anak, nambah galak kayaknya kamu nanti," ujar Dean seraya merapikan pakaian isterinya.
"Beres," ucap Dean.
Dean dan Winarsih sedang berada di kamar mandi ruang rawat. Sejak tadi terdengar ketukan di pintu tapi karena tidak ada jawaban perlahan pintu ruang rawat itu mengayun terbuka.
Dua pasang langkah berjalan memasuki ruangan dan berhenti di dekat ranjang pasien yang kosong.
"De! kamu di mana?" panggil Toni.
"Ya? elu Ton? sebentar gua lagi di kamar mandi," jawab Dean.
"Oh iya, santai ajalah. Enggak buru-buru kok," sahut Toni lagi.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka. Dean ke luar tampak sedang menggandeng Winarsih yang berjalan perlahan-lahan menuju ranjang pasien.
Pandangan Dean langsung tertuju pada seorang wanita muda yang sedang duduk di sebelah Toni. Alis Dean terangkat seolah bertanya pada sahabatnya, "siapa?".
Toni menjawab isyarat pertanyaan Dean itu hanya dengan kedipan mata. Winarsih sempat melihat syarat sahabat suaminya itu.
"Elu ngapain di kamar mandi berdua?" tanya Toni.
"Masang korset. Lu belum ngerti kalo dijelasin. Pikiran lu gua ngapain di dalem kamar mandi?" sergah Dean.
"Ya kayak nggak tau elu aja," jawab Toni santai.
Winarsih mengenali Toni sebagai sahabat Dean yang telah bercerai dari isterinya. Saat ini status pria itu memang menyandang gelar duda.
Dalam sekejap saja, Winarsih bisa mengambil kesimpulan bahwa wanita muda yang berada di sebelah Toni adalah pacarnya.
Wanita itu cukup muda, bahkan sekilas dilihat lebih muda dari Winarsih.
Tak berapa lama kemudian, masuklah seorang perawat yang sedang mendorong ranjang bayi ke ruangan. Dirja baru saja dikembalikan lagi seusai dijemur matahari pagi itu.
Bayi laki-laki itu tampak sedang tertidur pulas. Toni yang melihat hal itu langsung berdiri menghampiri Dean yang sedang menyongsong bayinya.
Kedua pria itu berdiri bersisian menghadapi bayi yang sedang tertidur. Keduanya tampak sedang berbisik-bisik menceritakan sesuatu dengan mesranya.
Pemandangan itu agak sedikit menggelikan. Mengingat mereka adalah dua orang pria normal yang sekarang tampak seperti pasangan.
"Itu siapa? kok muda banget? lu pedofil sekarang?" bisik Dean dengan mulut nyaris tak terbuka agar tak terdengar oleh Winarsih dan wanita yang dibawa Toni.
"Gua kan pengen kayak Pak Dean, dapet yang masih pink," jawab Toni yang juga dalam bisikan.
"Anji**! tapi itu kemudaan banget. Masih SMA?"
"Baru tamat 2 taon,"
"Udah lu apain aja?"
"Yang jelas gua jaga. Biar enggak DP duluan kayak lu." Toni terkekeh.
"Tapi lu harusnya kesini nggak usah bawa dia. Entar kalo elu dateng dengan cewek yang lain lagi trus diliat bini gua, gimana? bisa susah keluar. Bini gua bisa mikir kalo kita di luar tuh ketemunya cewek mulu." Dean melirik Winarsih yang sedang bersandar di kepala ranjang dan membaca sebuah buku.
__ADS_1
"Pak Dean segitu takutnya sekarang ama bininya. Lagian kalau bini lu mikirnya gitu, ya nggak salah juga. Kerjaan kita kan emang dari dulu begitu. Ketemunya cewek mulu. Pak Dean udah insaf ya?" Toni menahan tawanya.
Dean membuat ekspresi wajahnya seolah dia akan menonjok Toni karena mengatakan hal itu.
"Cakep ya De," ujar Toni seraya melihat Dirja yang sedikit menggeliat.
"Persis Bapaknya. Gua aja kagum, apalagi elu," sahut Dean.
Tony mencibir sekolah menyesal dengan hal yang baru saja dikatakannya.
Kemudian pintu kembali diketuk, Langit dan Rio muncul dengan sebuah parcel yang sangat besar.
"Pak Dean, ini kado dari kita bertiga ya," ujar Langit. "Lu belum bayar urunan ya Ton! tiba-tiba udah nyampe sini aja ama cewek," sambung Langit lagi.
Langit berjalan menuju sofa dan meletakkan parcel itu di atas mejanya. Pandangan langit sekilas tertuju pada pacar Toni yang sedang asyik dengan ponselnya.
Kemudian langkahnya kembali menuju pada ketiga sahabatnya yang sekarang berdiri ke dekat pintu. Seolah sedang mengamankan radius pendengaran dari kedua wanita yang berada tak jauh dari mereka.
Dirja menggeliat di ranjang bayinya. Mulutnya tampak mengecap-ngecap dengan lidah mungilnya. Kemudian suara erangan bayinya membuat keempat pria itu menoleh ranjang bayi berkelambu.
"Eh dia bangun, elu pada berisik banget. Ntar gua kasi ke ibunya dulu biar nyusu." Dean mengangkat bayi laki-laki itu ke dalam gendongannya.
"Pak Dean harus puasa lagi. Hihihi." Rio terkikik.
"Hihihi---" ulang Dean. "Ketawa lu."
"Kamu haus ya Nak? minum dulu ya sama ibu." Dean menimang anaknya sesaat.
"Wih, Dean udah mahir juga ternyata gendong bayi," ujar Langit.
"Gendong ibunya gua lebih mahir. Anak gua nyusu dulu ya. Ini tirai harus gua tutup. Ntar lu pada ngintip," canda Dean seraya berjalan terpincang menuju Winarsih dan tangannya mulai menarik tirai mengelilingi ranjang istrinya.
"Yaelah, objek pandangan kita kan beda Pak Dean. Emang elu!" sergah Toni. Suara Toni barusan tak mungkin tak didengar Winarsih.
"Pandangan Pak Dean emang nggak bisa menipu ya," tambah Langit terbahak.
"Kayak elu-elu nggak gitu aja," gumam Dean saat berada di sebelah Winarsih dan meletakkan Dirja ke dalam dekapan ibunya.
"Tirainya udah ketutup. Kenalin dong Ton," pinta Rio pada Toni untuk memperkenalkan pacarnya.
"Eh nggak boleh. Elu masih inget peraturan kita kan? pasangan kita dilarang untuk kenal sesama kita. Bahaya," bisik Toni.
"Apalagi kenal elu-elu semua. Serem gua." Toni bergidik.
"Eh De--" panggil Rio berbisik pada Dean yang telah kembali berada di dekatnya. Pandangan Rio menoleh sekilas pada tirai yang tertutup.
"Hmmm?" Dean memajukan tubuhnya ke arah Rio.
"Kemarin Toni baru nyebut soal Ara kan? kemarin gua ketemu dia di Bank. Makin cantik," bisik Rio.
"Suara lu, udah ah. Gua serem bahasanya," ujar Dean.
"Kan gua cuma ngasi tau. Dia sendirian, kayaknya ngurus asuransi. Karna dia baru keluar dari ruangan khusus asuransi bank," tambah Rio.
Dean mengerling gelisah melihat tirai yang tertutup.
"Ada ngobrol?" tanya Langit.
"Kalo mau ngomongin begini harusnya kita di luar dong," potong Dean.
"Elu belakangan sibuk mulu, kita nggak pernah arisan lagi. Bartender Beer Garden aja kangen ama elu," sela Toni.
"Ada ngobrol. Dia yang nyapa gua duluan. Kayak biasa, yang ditanya ya pasti Dean. Akhirul kata, dia bilang lakinya baru meninggal makanya ke Bank ngurus asuransi." Rio menghela nafas keras seolah bangga dengan berita yang baru saja disampaikannya.
"Ara? janda?" tanya Langit.
"Ara. Janda." ulang Rio.
Toni menepuk pundak Dean dan berkata, "tantangan hidup lu yang sebenarnya baru dimulai De."
__ADS_1
"Apaan sih lu," ucap Dean mengedikkan bahunya. Mata Dean kembali tertuju pada tirai. Dia cemas kalau Winarsih bisa mendengar percakapan mereka.
Saat kecemasan soal itu berada di pikirannya, selintas nama Ara kembali muncul di benak Dean. Ara sekarang sudah menjadi seorang Janda yang ditinggal mati suaminya. Dean berharap dia tak akan pernah bertemu lagi dengan wanita itu.
Persoalan mereka memang sudah seharusnya ditutup. Dean tak mau Ara kembali datang mengungkit soal kisah cinta SMA yang meski belum menguap di dalam benaknya tapi memang sudah harus ditinggalkannya.
"De! saham perusahaan Bokap lu gua denger-denger, sebagian besar udah pindah ke orang lain ya? jadi Grup Cahaya Mas bukan milik kalian sepenuhnya dong," ujar langit tiba-tiba.
"Iya, gua semalam baru ngeliat di laporan pemegang saham yang masuk ke email. Karena nilai saham ancur-ancuran, pemegang saham rata-rata jual. Trus ada yang borong. sama orang yang sama. Grup Cahaya Mas bukan sepenuhnya milik Keluarga Hartono lagi. Tapi nggak apa-apalah gua udah pusing," jawab Dean.
"Sidang di Kalimantan kalah?" tanya Toni.
"Kalah, gua banding ke Pengadilan Tinggi sana. Bulan depan jadwal sidangnya keluar." Dean menghela nafas dalam.
"Kalo yang beli saham itu salah satu perusahaan di Atmaja gimana?" tanya Langit.
Dean hanya mengangkat bahunya."Kayaknya bukan, kalo perusahaan kecil-kecil yang diciptakannya itu bergerak untuk belanja saham, gua pasti tau," ucap Dean.
"Saat anak lain dulu tontonannya film kartun, gua nontonnya udah tayangan Bursa Efek," tambah Dean.
Ketiga sahabatnya hanya bisa mencibir saat mendengar hal itu dari Dean.
Dua orang petugas pantry masuk ke kamar dan membawa satu troli berisi makan siang pasien dan pendampingnya.
Ketiga sahabat Dean itu baru saja berpamitan pulang. Dean kembali masuk ke dalam tirai dan mendapati anak istrinya sedang tertidur lelap.
Perlahan Dean mengangkat Dirja dan meletakkannya di dalam ranjang bayi serta menutupnya dengan kelambu putih tipis.
Dean tersenyum dan mengelus pipi Dirja yang montok dan terlihat bersemu merah jambu.
Setelah memastikan Dirja tidur anteng, Dean menuju ranjang isterinya dan ikut berbaring di sebelah wanita itu.
Dean meraih tangan Winarsih yang terlipat di atas tubuh dan meletakkan telapak tangan istrinya itu ke pipinya.
Dengan posisi miring, Dean menatap wajah istrinya yang sedang terlelap.
"Kamu makin cantik setelah punya bayi," bisik Dean.
"Siapa yang Janda Pak?" tanya Winarsih tiba-tiba membuka matanya.
Dean sedikit terperanjat, "kamu baru tidur?".
"Udah lama, tapi kebangun sebentar karena ada yang ngomong kata Janda," jawab Winarsih menatap suaminya.
Dean mengerjap-ngerjapkan matanya serasa tak percaya. Merasa kagum dengan kehebatan telinga istrinya mendengar kata Janda yang diucapkan berbisik tadi.
"Mantan pacar Bapak itu ya?"
"Eh?"
"Bapak jadi kepikiran?"
"Enggak..."
"Jadi mau tau kabarnya?"
"Enggak..."
"Jadi penasaran ama ceritanya?"
"Enggak..."
Dean menciumi telapak tangan Winarsih yang masih berada di pipinya.
"Udah dikasi yang lengkap gini aku mau penasaran apa lagi sama wanita lain," ucap Dean memasukkan jari telunjuk Winarsih ke mulutnya.
"Win--" panggil Dean.
"Apa?" sahut Winarsih menatap Dean yang sedang menyesap jari telunjuknya.
__ADS_1
To Be Continued.....
Dean resah, gelisah, jadi mohon dibantu likenya XD