CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
101. Nama Bayi


__ADS_3

"Ma...." panggil Pak Hartono saat membuka pintu kamarnya.


Seorang perawat tampak duduk di sebuah kursi di sebelah Bu Amalia yang sedang menonton film kartun di channel berbayar.


"Mama apa kabar? udah makan? wah nontonnya kartun Frozen," ujar Pak Hartono yang melihat ke arah televisi.


"Itu siarannya Bu Winarsih yang milihin katanya ibu enggak boleh nonton berita lagi. Tadi ibu sempat nggak mau mandi dan nggak mau makan. Terus-terusan menangis karena menonton berita Pak," lapor perawat itu pada Pak Hartono.


Wajah pria tua itu tampak lelah, tapi rautnya memancarkan kebahagiaan. Mendengarkan penuturan Perawat, Pak Hartono tersenyum memandang istrinya.


"Malem-malem Mama cantik banget. Keliatan seger," ujar Pak Hartono seraya menarik kursi roda istrinya untuk mendekat ke tepi ranjang.


"Tadi yang mandiin ibu juga istrinya Pak Dean ikut bantu saya. Sampai yang menyuapkan makan. Saya sempat turun dan minta tolong sama Mbah karena Ibu terus-terusan menangis. Jadi Bu Winarsih yang naik ke atas bantu saya." Perawat itu berdiri tak jauh dari kursi yang didudukinya tadi.


"Ya udah, nggak apa-apa. Saya udah pulang. Sekarang kamu bisa istirahat. Terima kasih ya, sudah menjaga istri saya hari ini. Itu yang membantu kamu tadi, istri Pak Dean, sekarang sedang di rumah sakit mau melahirkan anak pertamanya," terang Pak Hartono.


"Oh ya Pak?" tanya Perawat.


"Iya, tadi Dean sampai rumah langsung berangkat. Mungkin karena banyak bergerak ikut mengurus Ibu, anaknya langsung mau ke luar untuk ketemu eyangnya." Pak Hartono tertawa menepuk-nepuk pelan tangan Bu Amalia yang digenggamnya.


Bu Amalia terlihat menelengkan kepalanya mendengar perkataan Pak Hartono barusan.


"Saya permisi dulu Pak," ujar Perawat tadi.


"Baik, silakan." Pak Hartono tersenyum kemudian beralih memandang isterinya.


"Mama denger yang barusan Papa bilang? istrinya Dean sudah masuk rumah sakit mau ngelahirin. Karena takut kena macet, Dean pergi naik motornya. Papa nggak bisa larang. Mama kan tau anak mama itu persis seperti mama. Kalo sudah mau, ya tetap dilakukan. Nggak guna dilarang." Pak Hartono merapikan rambut isterinya.


"Winarsih baik ya Ma, selama Papa dan Dean pergi, dia ikut bantu ngerawat Mama." Pak Hartono kembali membelai tangan Bu Amalia.


"Sebentar lagi Dean pulang ke rumah bawa anaknya. Bayi laki-laki kata Dean. Nama belakangnya pakai nama Hartono. Papa seneng Ma. Di antara masalah yang sedang melilit kita ini, anak Dean jadi semacam penghibur hati Papa," ujar Pak Hartono tersenyum tipis.


"Mama harus cepat sembuh. Nanti kalau urusan Papa sudah selesai, Papa temenin terapi ke rumah sakit. Yang penting Mama tetap mau makan. Winarsih bener, Mama jangan nonton berita di televisi. Nggak usah khawatirkan Papa, semua sudah ada yang atur."


"Sudah malam, Mama istirahat ya. Papa juga udah capek," tukas Pak Hartono.


Kemudian Pak Hartono berdiri dari tepi ranjang dan merangkul pundak Bu Amalia. Pria tua itu berusaha sendirian untuk membaringkan tubuh isterinya yang sebagian masih tak bisa digerakkan.

__ADS_1


**********


"Itu diapain Dok?" tanya Dean saat melihat Dokter Azizah mengangkat jarum yang mirip kail dan dibubuhi benang.


"Dijahit sedikit. Nggak semuanya kok," ujar Dokter Azizah tersenyum geli karena melihat ekspresi Dean yang meringis saat bertanya.


Mendengar jawaban Dokter Azizah Dean tersenyum simpul.


Posisi kaki Winarsih masih membuka di depan Dokter Azizah. Dean kini sedang berdiri menggendong bayinya sambil sesekali melirik tangan Dokter yang sedang bekerja di bagian bawah tubuh Winarsih.


Sesaat kemudian Dokter Azizah meletakkan peralatannya dan Perawat kembali memasang bagian tempat tidur yang tadinya terpisah menjadi berbentuk ranjang.


"Pakaian dalamnya ada Pak?" tanya perawat pada Dean.


"Di mana Nov?" tanya Dean kembali pada Novi.


"Sebentar," gumam Novi menuju meja batu tempat di mana dia meletakkan tas perlengkapan Winarsih.


"Ini Sus." Novi menyerahkan sebuah pakaian dalam yang kemudian diberi sebuah pembalut untuk ibu melahirkan oleh perawat tadi.


Dokter Azizah yang telah selesai mencuci tangannya kembali menghampiri Winarsih ke sisi ranjang.


"Sudah selesai proses lahirannya. Selamat untuk ibu dan Bapak atas kelahiran anak laki-laki pertamanya. Selanjutnya ada berencana untuk memasang alat kontrasepsi? kalau ada rencana, hari ke-40 sudah bisa kembali ke klinik saya," terang Dokter Azizah.


Mendengar pertanyaan Dokter, Winarsih mendongak seolah menunggu jawaban suaminya soal pasangan alat kontrasepsi tadi.


"Nggak, nggak usah Dok. Mumpung istri saya masih muda," ujar Dean tersenyum lebar masih dengan mendekap bayinya.


"Oh iya, baik Pak." Dokter Azizah tertawa.


"Kalau proses lahiran normal, cukup tiga hari dua malam aja di rumah sakit. untuk makan, nggak ada pantangan. Yang penting sehat, makan yang banyak agar produksi asinya lancar. Dan kalau asinya udah keluar seperti kata Bapaknya, Ibu Winarsih sudah bisa mulai menyusui sekarang,"


"Nanti dibantu ya Sus," tambah Dokter Azizah yang tertuju pada Perawat.


"Baik Dok,"


"Saya permisi dulu ya." Dokter Azizah mengulurkan jabat tangan kepada Dean yang kemudian langsung disambut oleh pria itu.

__ADS_1


"Pak, kamarnya sedang dipersiapkan. Sebentar lagi Ibunya sudah bisa dibawa ke ruang rawat. Selagi menunggu sekarang, bayinya sudah bisa disusi ibunya. Mari saya bantu lepaskan pakaian atasnya dulu ya," ujar Perawat kemudian meraih tali pengikat seragam pasien itu yang terletak di punggung Winarsih.


"Karna tali pengikatnya di belakang, jadi untuk menyusui, saya bantu lepaskan dulu," tukas perawat tadi mulai melepaskan pakaian Winarsih dan menutupnya tubuh wanita itu dengan selimut.


Winarsih berbaring dengan sudut tempat tidur 45° bersandar dengan sebuah bantal.


"Sebentar saya lihat dulu ya." Perawat tadi memposisikan tubuh Winarsih agar sedikit lebih tegak dan memudahkannya menyusui bayi.


Kemudian Perawat menurunkan selimut hingga sepasang dada Winarsih terpampang begitu saja. Dean yang menyaksikan hal itu, refleks menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan kanannya.


Perawat mulai memencet payu*dara istrinya untuk mengetahui apakah ASI telah keluar.


Dean membasahi bibirnya dengan kedua tangan memeluk buntalan bayi mereka. Pandangan akan sepasang dada Winarsih yang mengeluarkan ASI membuatnya sedikit gelisah. Dean merasa isterinya semakin seksi sekarang.


"Sudah keluar ASInya Pak, bayinya bisa mulai disusui," ujar perawat pada Dean.


Dean meletakkan bayi mereka ke dalam pelukan Winarsih yang sudah sejak tadi merentangkan tangannya.


Sejak melahirkan anaknya itu, Winarsih baru sekejap saja menggendong bayinya. Selebihnya, Dean seperti memonopoli.


Winarsih menunduk dan meletakkan mulut bayinya di puncak dada kirinya yang terlihat mulai mengeluarkan tetes ASI.


Dean duduk bersisian dengan Winarsih, seraya memeluk bahu isterinya itu. Kepalanya ikut menunduk dan mulutnya setengah terbuka saat melihat mulut bayi laki-laki mereka mulai menerima puncak dada ibunya.


Saat perlahan-lahan bayi itu mulai menyesap makanannya, pandangan Dean sayu terharu.


"Enak ya Nak?" gumam Dean dengan pandangan tak lepas dari bayinya.


"Bapak juga kangen Nak," ujar Dean dengan nada suara merana. Mendengar hal yang dikatakan suaminya barusan, Winarsih tersenyum geli.


"Namanya siapa?" tanya Winarsih.


"Dirja Daniswara Hartono," jawab Dean.


"Artinya selamat dan mulia," sambung Dean lagi.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2