
Winarsih baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk setelah membersihkan wajah dan tubuhnya untuk segera berganti seragam tidur.
Sempat berpikir untuk mengatakan semuanya pada Dean beberapa saat yang lalu, kini pikirannya itu berubah.
Winarsih mengerti apa yang dirasakan Dean saat mendengar perkataan Bu Amalia tadi. Meski dia masih sedikit tak mengerti permasalahan Dean dengan wanita yang beberapa bulan lalu masih dibelanya mati-matian di hadapan orangtuanya itu.
Saat ini, Dean harus mendahulukan orangtuanya. Jika dia berada di posisi Dean dan Pak Hartono adalah ayahnya, Winarsih pasti tak perlu diminta berkali-kali untuk memenuhi permintaan orangtuanya.
Dan sekarang, ia tak mau menambah beban Pak Hartono yang baik itu dengan mengacaukan susunan rencana mereka.
Winarsih membuka handuknya dan meraih sebuah daster yang masih terlipat di atas ranjang.
Sebelum mengenakan daster itu, Winarsih mengendus aroma hangat daster yang baru disetrikanya tadi.
Sekarang Winarsih senang mematut-matut tubuh polosnya di depan cermin. Dadanya yang berbentuk bulat, kini semakin berisi dengan areola yang mulai melebar.
Usia kehamilannya yang hampir 4 bulan membuat perut bagian bawahnya sedikit menonjol. Setiap malam dia mengusap-usap bagian perutnya itu untuk merasakan sesuatu yang seperti menggelitik di dalam.
Winarsih kemudian mengenakan bawahan dan melewatkan kepalanya pada daster batik.
Biasanya dia selalu mengenakan bra saat tidur. Tapi belakangan ini Winarsih merasa nyaman dengan dadanya yang tak terhimpit sesuatu saat tidur.
Sebenarnya Winarsih menyukai saat-saat bekerja di dekat Pak Hartono. Pria tua itu memperlakukannya dengan sangat baik. Tegas namun tidak keras.
Jika majikannya itu melihat dirinya sulit memahami kata-kata sulit, Pak Hartono akan menjelaskannya dengan perlahan. Sedikit-banyak Pak Hartono sedang mengajarkan banyak hal padanya.
Kadang-kadang Pak Hartono terdengar seperti berbicara sendiri pada kertas yang dihadapinya.
Winarsih menyalakan lampu kuning yang berada di atas meja rias dan pergi ke dekat pintu untuk mematikan lampu utama.
Dia langsung meletakkan kepala di atas bantal dan guling yang ditumpuknya. Hingga kemudian terdengar suara Dean yang sangat dikenalinya. Dean memanggilnya dan dia langsung berdiri menuju pintu dengan langkah kaki nyaris tak terdengar.
Winarsih tak mau menemui Dean lagi. Meski hatinya sekarang rasa-rasanya ingin langsung membuka pintu dan menghambur ke pelukan pria itu. Winarsih hanya menangis sambil sesekali menggeleng mendengar tiap perkataan yang diucapkan Dean.
Tidak. Dean tidak membutuhkannya sebagai sebuah alasan. Pak Hartono adalah orang baik. Winarsih percaya jika kebaikan itu akan membawa sesuatu yang baik pula.
Meski harus menutup mulutnya dengan kedua tangan agar Dean tak mendengar isak tangisnya, Winarsih bersikukuh tak akan membuka pintu di belakang punggungnya.
__ADS_1
Beberapa saat Dean terdiam. Kemudian saat Dean mengatakan,
"Aku sayang kamu, bukan karena kasihan."
Dada Winarsih serasa bergemuruh. Dia baru saja mendengar kata-kata yang tak pernah diharapkannya dari seorang Dean.
Tangannya langsung memutar kunci dan membuka pintu. Dean, yang sepertinya semakin hari semakin tampan di mata Winarsih, sekarang berdiri dengan wajah paling letih dan menyiratkan kesedihan yang belum pernah dilihatnya sebelum ini.
Dahinya mengernyit. Dan memang, belakangan ini Winarsih melihat alis hitam yang bagus itu hampir selalu menyatu karena pemiliknya sedang resah.
Winarsih merentangkan tangan untuk mengabulkan permintaan Dean yang ingin memeluknya.
Saat Dean menatap wajahnya dan menariknya ke dalam pelukan, kehangatan yang dirasakannya dari dada pria itu membuat hatinya luruh.
Dagu Dean yang tepat berada di atas puncak kepalanya terasa berpindah beberapa kali. Winarsih merasa Dean mencium kepalanya berkali-kali.
"Kamu udah makan?" hal pertama yang ditanya oleh Dean.
Mencoba berhenti dari tangisnya, Winarsih menarik nafas.
"Win," panggil Dean melepaskan pelukan untuk menatapnya.
Winarsih mendongak menatap pria yang memiliki selisih umur 8 tahun darinya itu.
Dean menarik lengan Winarsih dan membawanya masuk ke kamar. Kepala Dean hanya berjarak sedikit saja dari gawang pintu yang dilewatinya.
Dean mendudukkannya di tepi ranjang dan menarik sebuah bangku untuknya sendiri. Kini, Winarsih tak bisa menyembunyikan wajahnya lagi dari pria itu.
Dengan menggenggam kedua tangannya, Dean menatap wajah Winarsih lekat-lekat.
"Aku mau nanya sesuatu, tapi aku nggak mau jadi terdengar kasar. Selama ini aku selalu nunggu kamu mau cerita ke aku lebih dulu. Win, apa kamu sedang hamil?" tanya Dean.
Mendengar pertanyaan Dean, Winarsih hanya diam menunduk. Dia tak tahu harus menjawab apa. Dia takut akan kekacauan yang akan terjadi di rumah itu.
Bisa-bisa Pak Hartono kembali pingsan dan masuk rumah sakit. Sekarang saja kondisinya belum pulih betul. Dan Winarsih terbayang wajah dan tangisan Bu Amalia tentang keluarganya yang hancur.
Jujur, Winarsih takut sekali pada wanita itu. Bagaimanapun juga dia adalah wanita yang telah melahirkan Dean.
__ADS_1
"Kamu hamil anak aku Win?" tanya Dean dengan selembut mungkin dengan pandangan tak lepas dari Winarsih.
"Enggak Pak," jawabnya singkat.
"Nggak apa Win? Kamu nggak hamil atau itu bukan anak aku?" tanya Dean lagi.
Winarsih harus mengakhiri keraguan Dean. Dia tak mau Dean terus-terusan dalam keadaan terpuruk seperti sekarang ini.
"Saya nggak sedang hamil. Dari mana Pak Dean berpikiran seperti itu? Kalau Pak Dean mendengarnya dari pegawai lain, mereka nggak tau apa-apa soal diri saya. Saya di sini cuma mau kerja Pak, mau cari uang untuk keluarga di kampung. Pak Dean juga nggak usah dateng ke kamar saya lagi. Saya nggak enak dengan pegawai lain. Saya juga nggak mau Pak Dean jadi bahan omongan di antara pegawai Bapak sendiri. Lagipula sebentar lagi Pak Dean bakal--menikah. Saya nggak mau membingungkan Pak Dean dengan sikap saya. Saya juga minta maaf. Saya nggak pernah bermaksud memanfaatkan Pak Dean. Dan untuk yang pernah terjadi, saya sudah memaafkan Bapak." Winarsih memberanikan diri membalas tatapan Dean.
Beberapa saat lamanya Winarsih melihat Dean menunduk melihat tangan mereka yang masih menggenggam satu sama lain.
Dean menghela nafas panjang dan berat.
Dengan wajah datar seperti yang selalu dilihat Winarsih selama ini, Dean kembali menatapnya.
"Baik. Mungkin saya yang salah. Saya percaya kamu Win, apapun yang kamu bilang. Saya percaya kamu," ucap Dean yang membuat Winarsih sedikit kehilangan rasa percaya dirinya tadi.
"Kalau mau kamu memang begitu, saya nggak paksa kamu. Saya nggak akan dateng ke sini lagi seperti mau kamu. Yang penting, kamu tetap kerja seperti biasa. Saya juga minta maaf, kalau sesekali nanti saya pasti ada nyariin kamu."
Dean menghentikan bicaranya untuk kembali memandang Winarsih yang tadi berani menatap, tapi kini kembali menunduk.
"Win, kalau kamu bilang seperti itu, saya nggak tau mau bilang apalagi. Saya cuma bisa minta izin sama kamu, untuk bulan depan."
Dean melepaskan genggaman dan meraih wajah Winarsih. Pria itu kembali menciumnya. Dan bibir wanita itu tak berani bergerak untuk menyambut.
Dean pergi meninggalkan Winarsih di kamar itu tanpa menoleh lagi.
Dia, Winarsih. Gadis miskin 21 tahun tamatan SMP yang merantau ke kota. Duduk di kamar 3x4 meter dengan segala sikap naif dan kebingungannya terhadap kehidupan kaum kaya.
Pikiran lurusnya masih memegang perkataan klasik, cinta itu tak harus memiliki.
Winarsih memutuskan akan kembali ke kampung halamannya esok hari. Tak bisa memiliki Dean tapi melihatnya setiap hari bersama wanita lain bukan termasuk kehidupan impiannya.
Dia lebih memilih jadi bahan gunjingan seisi kampung, namun bisa menangis di pangkuan ibunya.
To Be Continued.....
__ADS_1