
Selamat Membaca,
jangan lupa dilike dulu biar nggak lupa.
Kalo udah dilike, sini dicium dulu :*
**********
Sudah dua minggu Winarsih melahirkan anak pertamanya. Seorang babysitter menemaninya merawat Dirja di siang hari saat ia ikut sesekali membantu perawat Bu Amalia.
Siang itu Winarsih membawa bayinya ke dalam kamar Bu Amalia dan menemani ibu mertuanya itu menonton televisi. Winarsih tak membicarakan apa-apa dia hanya duduk menonton televisi sembari memangku Dirja yang tertidur.
Film yang diputar siang itu kebetulan memang sedang bagus. Winarsih yang memang jarang sekali menonton televisi menikmati waktu berduanya bersama Bu Amalia dalam kebisuan yang bermanfaat.
Film yang mereka tonton adalah film lama bertema natal yang berjudul Actually Love. Film itu menceritakan beberapa kisah cinta dari yang berbeda dengan bentuk cinta yang berbeda pula.
"Wah Bu, lihat. Ternyata Senator muda itu juga menaruh hati dengan anak magang di kantornya," ujar Winarsih girang saat melihat adegan film yang sedang menunjukkan seorang Senator muda yang sedang mengetuk tiap rumah demi mencari alamat wanita yang dicintainya.
Kemudian Dirja menggeliat di dalam pelukan Winarsih. Bayi laki-laki itu bangun membuka matanya dan mengeluarkan tangis kecil. Sepertinya jadwal kembali menyusu telah tiba.
"Halo Sayang, sudah bangun. Haus ya-- Dirja minum susu yuk." Winarsih membuka beberapa kancing bajunya untuk memposisikan Dirja yang akan menyusu. "Kita lagi ada di kamar Uti ini. Itu ada Uti. Dirja mau bilang apa? Uti cepat sehat ya biar bisa gendong Dirja," ujar Winarsih memutar sedikit kursinya untuk menghadap Bu Amalia.
Bu Amalia melirik Dirja dan sudut bibirnya terlihat menarik senyum.
"Pak Dean dulu kuat menyusu nggak Bu? Dirja ini dalam 2 jam bisa beberapa kali bangun untuk menyusu. Kadang malam juga terbangun berjam-jam. Memang Dirja nggak menangis, tapi kadang-kadang dia enggak mau ditaruh di ranjangnya. Harus digendong." Winarsih terus berbicara sambil sesekali menilik ekspresi wajah Bu Amalia. Dari lirikan matanya menunjukkan bahwa wanita itu menyimak setiap perkataan yang didengarnya.
"Selesai Dirja menyusu, kita turun ke bawah yuk Bu. Kita makan siang di meja makan aja. Ibu pasti bosen kalau di kamar terus," kata Winarsih.
Setelah 20 menit menyusu, Dirja terlihat kembali menguap. Putra pertama Dean itu dalam dua minggu saja berat badannya bertambah sangat banyak. Kulit yang tadinya terlihat kemerahan, kini semakin putih seperti Dean.
"Sus, bisa gendong Dirja sebentar. Kita sama-sama ke bawah ya, biar saya yang dorong Bu Amalia," pinta Winarsih pada babysitter yang berdiri tak jauh darinya.
Babysitter itu mengangguk kemudian mengambil Dirja dari tangan Ibunya. Winarsih kemudian menarik kursi roda Bu Amalia mendekat ke arahnya agar ia bisa merapikan pakaian wanita itu.
Saat tangan Winarsih membetulkan selimut yang berada di pangkuan ibu mertuanya, tangan Bu Amalia bergerak memegang tangannya.
"Ya Bu? ibu mau mengatakan sesuatu?" Winarsih yang sedikit terperanjat karena Bu Amalia menyentuhnya, langsung menatap dan menggenggam tangan ibu mertuanya.
"Ma--ma," gumam Bu Amalia sedikit tak jelas.
"Mama?" tanya Winarsih tak mengerti. Bu Amalia membesarkan pupil matanya menatap Winarsih.
"Iya saya dengar, Mama. Maksudnya apa ya Bu?" tanya Winarsih lagi sambil berpikir-pikir. Saat merasa mengerti dengan hal yang dimaksudkan Ibu Mertuanya, Winarsih membelalak.
"Ibu mau saya panggil Mama?" tanya Winarsih.
Bu Amalia terlihat senang karena Winarsih mengerti maksudnya.
"Iya--iya, mulai sekarang saya akan panggil ibu Mama. Begitu kan?" Bu Amalia yang mendengar perkataan Winarsih terlihat kembali menarik sedikit senyum.
"Baik, kalau begitu kita turun ke bawah dulu ya Ma. Kita makan siang, nanti Mama saya yang suapin." Winarsih meraih kursi roda ibu mertuanya kemudian berjalan keluar kamar menuju elevator yang terletak persis di sebelah ruang kerja Pak Hartono.
Babysitter Dirja telah menunggu di dekat meja makan sambil menggendong bayi bertubuh montok yang kembali tertidur. Sedangkan Perawat Bu Amalia telah menyiapkan menu makanan untuk wanita yang sedang dirawatnya itu.
"Jadi dulu, setiap sore saya sering dimarahi karena pulang ke rumah penuh lumpur. Almarhum ayah, paling marah kalau saya pulang hampir magrib hanya untuk mencari ikan sepat dan gabus." Winarsih tertawa mengingat kekonyolannya. Ia telah menyuapkan sendok kelima kepada ibu mertuanya yang sedang tekun menyimak cerita masa kecilnya.
"Persis di sebelah rumah saya, ada rawa yang ditanami kangkung dan genjer. Sebenarnya itu milik orang lain, tapi pemiliknya nggak keberatan kalau kami mengambil sedikit sayuran di sana. Benar-benar beda rasanya, sayuran yang baru dipetik langsung dimasak dan dimakan. Saya suka semua jenis makanan, makanya badan saya sampai sebesar ini," ujar Winarsih meringis menyadari tubuhnya yang masih membengkak usai melahirkan.
Bu Amalia menghabiskan makan siangnya tanpa hambatan. Bahkan wanita itu menurut saja saat harus meminum begitu banyak obat yang terkadang ditolaknya.
**********
"Berengsek! dasar brengsek! 10 tahun untuk percobaan pembunuhan!" maki Dean saat ke luar dari ruang sidang.
Siku kanannya masih memegang tongkat. Meski kakinya kini sudah jauh lebih baik, tapi rasanya dia masih memerlukan tongkat itu untuk dapat berjalan lebih cepat saat di luar.
"Katanya Mbak Fika mau ke sini Pak," ujar Ryan.
__ADS_1
"Eggak usah-- nggak usah Yan. Urusan ini biar aku aja. Papa masih lebih perlu Fika ketimbang aku." Dean berjalan cepat menuju ke lorong yang mengarah ke parkiran.
"Kenapa berdiri di sini?" tanya Ryan saat melihat Dean berdiri merapatkan dirinya ke dinding.
"Gua mau nusuk mulut pengacara sombong itu dengan ujung tongkat ini, jadi gua tunggu di sini." Dean melirik ke arah pintu ruang sidang yang mulai terlihat ramai.
"Gila aja mau nusuk mulut orang, ntar Bapak bisa dipenjara," sergah Ryan.
"Gini-gini gua masih anak Menteri! jangan lupa lu!" balas Dean.
Tak lama kemudian, tiga orang pria keluar dari ruang sidang menuju lorong di mana Dean dan Ryan sedang berdiri.
Saat ketiga pria itu berjalan melintasinya, Dean meletakkan tongkatnya untuk menghalangi langkah para Penasehat Hukum yang mendampingi pelaku penusukannya.
"Tolong sampein ke si Atmaja, gua nggak bakal perpanjang lagi masalah ini. 10 tahun udah cukup untuk orang yang nusuk gua itu. Gua kasian ama anak bininya. Dia cuma dikambinghitamkan Si tua Pengecut itu. Gua cuma mau wanti-wanti, gua akan selesaikan urusan Hartono Coil secepatnya. Kalo Si Tua itu mau memperpanjang lagi, gua juga nggak bakal segan-segan untuk mengirim orang melukai dia," tegas Dean.
"Lah elu kalo nggak seneng ya banding aja!" seru Kepala Penasehat Hukum pelaku.
"Belagu lu t*ai! biar apa gua banding biar lu makin kaya? lu juga kalo nggak karena masalah kayak gini pasti sepi job," cemooh Dean.
"Itu urusan gua. Nggak urusan elu juga. Gua cuma ngebela--"
"Yang mana yang bayar elu? meski ngebela nggak pakai hati nurani? sekarang lu tau kan kenapa gua nggak mau jadi pengacara pidana? kotornya bener-bener Kotor banget." Dean mendecih.
"Sekali lagi, itu urusan gua. Mau makan uang sekotor apa,"
"Tapi bahasa pembelaan elu tadi, nggak perlu bawa-bawa Bokap gua, anji**!" tangan kanan Dean terangkat seperti hendak menghantamkan tongkatnya ke kepala pengacara itu. Ryan dengan cepat menahannya.
"Udah sidang putusan! jadi elu mau apa?" tantang Kepala Penasehat Hukum itu.
"Gua mau nusuk mulut lu pake ini!" Tak bisa dicegah oleh Ryan, Atasannya itu dengan cepat mengarahkan ujung tongkatnya menyentuh mulut Kepala Penasehat Hukum itu.
Kepala Penasehat Hukum itu meludah berkali-kali karena ujung tongkat Dean yang kotor sempat masuk ke dalam mulutnya.
"Gua selalu dapet apa yang gua mau dari dulu. Kalo gua pengen nusuk mulut lu, gua harus bisa. Sekarang kalo mau nuntut gua, silakan tuntut. Gua bakal tutup kantor lu dan memastikan bahwa karir lu berakhir di negeri ini. Inget, selain gua lebih kaya dari elu, Bokap gua masih menjabat Menteri. Sepulang dari sini, lu bisa cuci bersih-bersih mulut kotor lu itu." Dean berbalik dan menjauhi tiga orang pria yang sedang marah dan memandang benci padanya.
Itu adalah hal yang lumrah dalam kehidupan dan birokrasi. Jika manusia tak perlu membela diri selama hidup di dunia, mungkin pengadilan tak akan pernah ada.
Setelah dari Pengadilan, Dean bergegas menuju kembali ke kantornya. Dua orang Pengacara Perdata yang merupakan bagian dari Danawira's Law Firm sedang menunggunya untuk melakukan rapat.
Hari sudah mulai gelap, tapi menurut Dean hal itu memang harus segera diselesaikannya. Dia tak ingin banyak menunda-nunda karena kurang dari 3 minggu lagi, dia harus berangkat ke Kalimantan untuk kembali membela Hartono Coil di Pengadilan Tinggi.
Waktu menunjukkan hampir tengah malam saat Dean tiba di pagar rumahnya dengan sebuah sedan hitam. Saat tiba di depan teras, Dean mencampakkan tongkatnya ke jok belakang dan bergegas turun dari mobil. Hari itu benar-benar sangat melelahkan baginya.
DRRT--DRRT
Sebuah pesan singkat baru saja masuk ke ponselnya. sembari berjalan tergesa-gesa Dean membuka pesan itu.
Apa kabar De? ini Ara.
Mata Dean terbelalak. Dasar Rio kurang ajar. Kenapa Rio harus memberikan nomor ponselnya pada Ara. Dean menghela nafas mencoba berpikir positif. Memang bisa saja Ara meminta nomor ponselnya terkait dengan masalah hukum yang sedang menimpanya.
Ah tapi pengacara di negeri ini bukan cuma dia saja. Kenapa Ara harus mencarinya?. Cepat-cepat Dean menghapus pesan itu dan kembali mengantongi ponselnya. Masalah yang tak dicari saja, bisa datang tanpa diundang. Apalagi masalah yang sengaja dijemputnya?.
Dean bergidik ngeri membayangkan Winarsih yang menangis keras di ruang rawatnya dulu karena merasa ditolak olehnya.
Dean sangat rindu pada Dirja yang sekarang begitu montok seperti Ibunya. Beberapa hari selalu berada di luar rumah, membuat Dean kehilangan momen menatap isterinya yang sedang menyusui.
Saat dia membuka pintu kamar, pandangannya langsung disuguhi oleh Winarsih yang sedang berdiri menimang Dirja dan mendendangkan sebuah lagu.
"Dirja belum tidur Bu?" tanya Dean.
"Udah, baru selesai nyusu. Ini mau tidur lagi," jawab Winarsih.
"Kok udah selesai nyusunya? aku kan mau liat," canda Dean pada isterinya yang terlihat lelah.
"Sebentar ya, Bapak gulung lengan baju dulu." Dean mengeluarkan isi saku dan meletakkan ponselnya di meja nakas. Lantas ia buru-buru menggulung lengan bajunya.
__ADS_1
"Sini Win, biar aku yang gendong. Kamu kalo mau tidur nggak apa-apa. Udah capek juga dari pagi," ujar Dean.
"Bapak juga udah capek dari pagi di luar. Saya mau ke kamar mandi, titip Dirja sebentar ya." Winarsih berlalu pergi ke kamar mandi setelah memberikan Dirja ke tangan Bapaknya.
"Titip--titip, kamu dikira barang titipan apa? anakku loh ini," gumam Dean yang berbicara pada bayinya.
"Pipimu itu Nak, dua minggu minum ASI udah bikin kamu gembul banget. Enak kan? ASI Ibumu emang luar biasa. Bapak aja sampe nagih. Tapi sekarang Ibumu pelit sama Bapak."
"Kalo ngajak anaknya ngomong yang bener," gumam Winarsih sembari menyeka wajahnya dengan handuk.
"Itu udah yang paling bener. Isi hatiku yang paling dalam Bu," jawab Dean tersenyum. "Masak aku harus ngasi tau Dirja soal kasus-kasus di kantor."
"Iya tapi--"
"Ssshhhhhh... anaknya udah tidur. Aku taruh di boxnya dulu. Biar ibunya bisa bantuin aku buka baju. Aku terlalu capek malem ini sampai nggak ada tenaga lagi untuk buka resleting," tukas Dean kalem kemudian perlahan-lahan meletakkan bayinya ke dalam box.
Winarsih tersenyum geli. Dean yang akhir-akhir ini selalu pulang larut malam membuat mereka jarang bisa terlibat obrolan lama.
"Udah bisa dilepas tongkatnya?" tanya Winarsih saat melihat Dean yang berjalan nyaris sempurna ke arahnya.
"Udah, cuma tadi sengaja dipakai ke pengadilan untuk senjata,"
"Hah?"
"Enggak--enggak apa-apa. Bercanda," potong Dean cepat seraya meletakkan rambut isterinya ke belakang bahu.
"Bu Win, aku butuh bantuanmu," ujar Dean pelan mengusap wajah isterinya yang duduk di tepi ranjang.
"Hmmm?" Mata Winarsih menatap sendu suaminya. Dia juga merindukan Dean yang sepanjang hari berkeliaran di luar rumah.
Dean dengan cepat melepaskan ikat pinggang dan mencampakkannya ke lantai.
"Win, bukain. Aku mau kamu yang buka," pinta Dean masih memandang manik mata Winarsih.
Winarsih kemudian menarik kedua tangan suaminya untuk lebih mendekat. Dengan cekatan ia menurunkan resleting dan melepaskan pengait celana bahan itu hingga turun ke lantai.
Dengan sekali tarikan, Winarsih telah menggenggam kelelakian milik suaminya.
"Lanjutin Win," gumam Dean menarik kepala isterinya untuk segera melahap benda miliknya. Mata Dean memejam menikmati sensasi yang terasa sudah sangat lama tak dirasakannya.
"Pelan-pelan pake lid--" Dean mengerang merasakan sentuhan lembut di ujung aset berharganya. Perlahan tangannya kembali meraup seluruh rambut Winarsih dan membawa kepala wanita itu untuk mengikuti iramanya.
"Aduh Win, dimana nih--" ucap Dean seraya mengerang. Puncak kenikmatan nyaris mendekatinya. Tapi konsentrasinya terpecah dengan di mana dia harus menumpahkan isi hasrat yang telah dipendamnya selama dua minggu.
Winarsih mendongak menatap wajah suaminya, Dean yang bersitatap dengan isterinya semakin terdesak. Pemandangan bibir Winarsih yang sedang menyesap miliknya membuat Dean mencengkeram rambut isterinya sedikit lebih keras.
"Aduh Win--aduh!" Dean menarik bagian tubuhnya dari mulut Sang Isteri sesaat setelah mencapai puncak kenikmatannya.
"Eh??" pekik Winarsih tertahan.
"Maaf Win, kayaknya kamu harus cuci muka lagi," ujar Dean seraya mengusap bibir penuh Winarsih yang tampak semakin seksi dengan hiasan cairan hangat darinya.
Winarsih hanya diam menikmati jemari Dean yang sering mengusap bibir bawahnya tiap dia melakukan layanan itu untuk suaminya.
"Temenin aku mandi yuk," ajak Dean. Winarsih mengangguk dan tersenyum. Kemudian wanita itu bangkit menuju kamar mandi lebih dulu untuk kembali membasuh wajahnya.
DRRT--DRRT
Ponsel di atas meja nakas kembali bergetar. Di layar kembali muncul pesan dari nomor ponsel yang tadi mengaku sebagai Ara.
Dean meraih ponselnya dan sekilas membaca pesan itu dari atas layar tanpa membukanya.
De, kok pesanku cuma dibaca aja? kamu sibuk?
Ya, tentu saja sibuk. Saat ini dia memang sedang sibuk-sibuknya. Dean langsung mematikan ponselnya.
To Be Continued.....
__ADS_1