
Malam itu Atasannya bersikeras untuk pergi ke klub malam, demi mencari tahu informasi dari mulut seorang Disty secara langsung. Awalnya Ryan tak mengerti alasan Dean ke sana.
Ryan selalu bertanya apa gunanya, Atasannya itu bertemu lagi dengan wanita itu. Ryan menganggap hal itu tak ada gunanya.
Meski pernah terpeleset, tapi Dean adalah orang yang penuh perhitungan. Dean tak bertindak tanpa alasan.
Dean selalu mengajarkan padanya, bahwa untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh lawan mereka bisa dicermati dari isi cacian atau makiannya yang ditujukan pada kita.
Itu adalah Ilmu psikologi sederhana.
Setelah beberapa bulan terakhir ini menggunakan jasa sebuah agen, Dean mendapat satu informasi yang jelas dan sangat berharga.
Tapi informasi itu ibarat sebuah pisau bermata dua. Bisa sebagai senjata untuk menyerang dirinya, tapi juga bisa menjadi senjatanya untuk kembali menyerang.
Sebelum berangkat ke klub malam itu, Dean menitipkan satu nomor telepon yang bisa dihubungi Ryan saat dia memerintahkan lebih dulu.
Dean secara singkat menjelaskan rencananya kepada Ryan. Dan sekretarisnya itu sudah cukup memahami garis besarnya. Tak lupa Atasannya itu memaparkan kemungkinan A Dan B, juga resiko A dan B.
Meski begitu, Dean berulang kali memastikan kepada Novi, agar istrinya jangan sampai tahu.
Tak lupa dengan sombongnya Dean mengatakan akan mencengkram mulut Disty dengan tangannya sendiri.
Meski Ryan tak yakin bahwa Dean bisa melakukan kekerasan seperti itu. Dean tetaplah Dean. Putra bungsu dan anak baik Pak Hartono.
Ryan sedang berada di rumahnya. Duduk menghadapi sebuah laptop dan menunggu instruksi yang akan diberikan oleh Dean.
Sejak tadi tangannya tak berhenti mengetuk beberapa lembar foto. Tampaknya Dean sudah bisa membaca ke mana arah permainan yang sedang ditunjukkan oleh Disty.
Sesuai dengan instruksi Dean tadi, Ryan memang tidak ada menghubungi atasannya itu sampai dihubungi lebih dulu.
Hampir pukul 11 malam ketika Ryan mendapati ponselnya bergetar. Nama Dean tertulis di layar.
Ryan mendengarkan baik-baik percakapan yang sedang terjadi di telepon itu.
Disty dengan jelas mengatakan bahwa dialah yang memberikan video-video itu kepada wartawan. Kemudian dalam kalimat berikutnya terdengar wanita itu mengancam Pak Hartono.
Dari apa yang dikatakan wanita itu, Ryan bisa menyimpulkan bahwa, Disty masih memiliki cadangan rencana lain.
Setelah pembicaraan penting itu didengarnya, Ryan mendengar suara keramaian seperti yang pernah didengarnya sebelum ini.
Seruangan penuh orang yang tengah mabuk alkohol dan narkoba. Ini yang dimaksud Dean sebagai bonus luar biasa.
Dengan satu kali tekan, Ryan menghubungi satuan narkoba Kepolisian Resor yang tak jauh dari sana.
Dan seperti dugaan Dean sebelumnya, wartawan akan mengikuti polisi yang sedang melakukan tugasnya seperti kawanan lebah.
Tugas Ryan mengumpulkan barang bukti malam itu sudah selesai. Dia hanya tinggal pergi ke kantor polisi dan menemani Dean untuk memberikan keterangan.
__ADS_1
Dean akan segera menghapuskan anggapan bahwa dia adalah suami dari seorang wanita bernama Adisty Wulandari.
Dengan santai Ryan membereskan peralatan dan menyiapkan berkas yang bisa mendukung agar bosnya tak perlu berlama-lama di kantor polisi.
DRRRRRRTTT DRRRRRRRT
Saat sedang berada di mobil waktu menunjukkan pukul lewat tengah malam, ponsel Ryan bergetar.
Ternyata itu adalah panggilan dari Novi.
"Ya Nov, ada apa ya?" tanya Ryan to the point.
"Pak Ryan, ini isteri Pak Dean nggak sengaja udah ngeliat berita razia narkoba barusan. Gimana dong? Saya ketiduran, nggak nyangka kalo Bu Winarsih bakal pergi ke lobby. Adiknya baru aja selesai dioperasi sekarang sedang di ruangan pemulihan. Operasinya berhasil, gimana dong Pak Ryan? Saya nggak bisa nahan lagi. Besok pagi Bu Winarsih minta dibelikan tiket pesawat ke Jakarta dengan penerbangan paling awal. Jadi gimana Pak?" suara bingung Novi terdengar di seberang.
Setelah mendengar perkataan Novi, Ryan yang baru saja menyalakan mesin mobil menuju Kepolisian Resor langsung mematikannya kembali.
"Tunggu sebentar ya Nov, saya mikir dulu nih gampangnya gimana. Yang nggak berbahaya buat kita juga. Karna Pak Dean juga udah wanti-wanti jangan sampai istrinya tahu," Ryan kemudian mengambil sebuah map dan melihat isinya. Dimana terdapat salinan akta pernikahan Dean dan Winarsih.
Kemudian Ryan beralih ke sebuah amplop tempat di mana foto-foto dan berkas pendukung yang mereka miliki berada.
"Pak, gimana dong? saya lagi di luar ini. Bu Winarsih lagi di dalam. Sejak tadi dia terus nyoba menghubungi Pak Dean tapi tidak dijawab,"
"Ya udah deh, gini aja Nov, besok pagi ambil penerbangan paling awal ke Jakarta bawa isteri Pak Dean. Besok pagi saya jemput, terus kita langsung sama-sama ke kantor polisi jemput. Malam ini semua yang digelandang tadi masih tes urine. Hasilnya juga nggak mungkin sebentar. Jadi biar masalah Pak Dean yang lain, biar Bu Winarsih aja juru bicaranya. Saya juga udah ngantuk. Biarin aja deh dia malem ini dia tidur di sana. Ya udah kamu hibur aja Bu Winarsih. Bilang nggak ada apa-apa. Semua baik-baik aja. Kamu juga nggak usah khawatir. Oke ya Nov,"
Pembicaraan diakhiri dan Ryan mengemasi berkas-berkasnya lagi untuk kembali masuk ke dalam rumah. Matanya benar-benar sudah sangat mengantuk.
Biarkan saja atasannya itu sekali-kali tidur di Kantor Polisi biar dia tahu rasa.
**********
Pukul 7 pagi Ryan telah berada di Bandar Udara untuk menjemput Winarsih yang baru saja tiba dari Jambi.
Wajah wanita itu terlihat pucat dan mata yang sedikit sembab mungkin malam tadi dia tak bisa tidur dan menangisi suaminya.
Di dalam perjalanan, Ryan tak berani berkata apa-apa kepada isteri Atasannya karena wajah wanita itu masam dan terlihat sedikit kesal.
Ryan merasa, memberikan penjelasan adalah tugas Dean sebagai suaminya.
Dan dalam hal ini, Ryan menyalahkan atasannya itu karena tidak melibatkan istrinya dalam mengambil tindakan atau keputusan.
Hampir satu jam kemudian mereka tiba di Kantor Kepolisian Resor.
Saat mobil berhenti dan terparkir sempurna, Ryan bahkan tak sempat bertanya kepada Winarsih apakah perlu didampingi olehnya atau tidak.
Wanita itu langsung turun dari mobil dan bergegas menembus kerumunan wartawan yang sedang duduk menunggu berita di Kantor Polisi.
Dean sedang duduk di salah satu kursi yang tak berada jauh dari kursi di mana Disty sedang duduk dan ditanyai oleh seorang Petugas.
__ADS_1
"Baiknya kamu ngomong aja deh yang jujur untuk memudahkan kamu juga," ujar Dean sesekali menimpali jawaban yang dilontarkan Disty kepada Petugas.
"Jangan kamu bilang lagi ke orang-orang kalo aku itu suami kamu. Sebentar lagi Ryan bakal bawa salinan Akta Nikahku. Itu wartawan di luar banyak, aku tinggal ngomong. Tapi lebih seru kalo media yang ngeliput kamu kayak kemarin kamu nyebarin video-video itu. Aku udah simpan pengakuan kamu Disty," memanas-manasi lawan dengan kata-katanya adalah hobi Dean yang sudah mendarah daging sejak berprofesi sebagai Pengacara.
"Mana istrimu Dean? bawa! Aku pengen ketemu" sergah Disty.
"Kayaknya nggak penting banget istriku ketemu kamu. Dia sibuk, nggak ada waktu," ujar Dean.
Ya memang benar. Sekarang Winarsih sibuk. Malah dia yang banyak waktu sampai harus dibiarkan bermalam di Kantor Polisi oleh sekretarisnya yang kurang ajar.
Sejak malam, dia mencoba menghubungi Ryan namun tak dijawab.
"Ada apa Mbak kamu cari saya?" suara Winarsih tiba-tiba terdengar.
Setengah tak percaya, Dean perlahan memutar tubuhnya.
Tampak Winarsih yang memakai sebuah terusan berwarna kuning telur dan sepatu flat shoes mahalnya berdiri memasang wajah angker menatap Disty.
Disty menoleh ke arah Winarsih.
"Oh, kamu!"
"Iya Mbak, saya istrinya Pak Dean. Saya harap Mbak berhenti bertindak seperti ini. Pada akhirnya nanti akan merugikan Mbak sendiri. Kalau Mbak memang mencintai seorang laki-laki, ikuti langkahnya naik ke atas, bukan malah menyeretnya turun sampai dia tiba di tempat seperti ini," ucap Winarsih tajam.
Sesaat Disty terdiam mencerna perkataan seorang wanita yang di kata-katainya pembantu itu.
"Pak, saya isterinya Dean Danawira Hartono. Suami saya nggak ada sangkut-pautnya dengan Mbak yang duduk di kursi ini. Jadi segala tindak tanduknya adalah menjadi tanggung jawabnya sendiri bukan suami saya," terang Winarsih kepada petugas yang menanyai Disty sejak tadi.
Dean harus nyengir kepada petugas itu saat Winarsih selesai berbicara. Posisinya sekarang mirip seorang siswa yang tertangkap bolos di luar sekolah dan datang dijemput oleh ibunya.
"Ayo kita pulang. Wartawan mana yang mau tau tentang istri Pak Dean? biar saya yang ngomong. Baru pergi satu malam saja, tidurnya sudah di Kantor Polisi," omel Winarsih sembari berjalan menembus wartawan yang sedang menyodorkan berbagai macam alat perekam.
Dean memegangi isterinya yang sedang menuruni empat undakan tangga menuju parkiran. Ryan yang melihat mereka langsung ke luar dari mobil dan membantu berbicara kepada Wartawan.
Dengan wajah was-was Dean menggandeng isterinya menuju mobil dan membukakan pintu.
Sudah menjadi ciri khasnya selama ini bahwa Dean sering mengatasi masalah dengan masalah.
Dan di antara puluhan masalah yang dilewatinya, Dean merasa masalahnya malam nanti adalah masalahnya yang paling besar.
Dean mulai mempertimbangkan untuk menurunkan posisi Ryan ke bagian office boy.
To Be Continued.....
Jangan lupa tinggalkan jejaks ya,
Karena nulisnya di waktu senggang, maklumi ya kalau updatenya kadang telat.
__ADS_1
Kehidupan dunia nyata juga tak bisa diabaikan :*