
Sebelum Dean menutup pintu kamar orangtuanya, telinganya masih menangkap cacian Bu Amalia yang ditujukan kepada Winarsih.
Hati Dean sebenarnya benar-benar sakit. Tapi dia tak ingin mengatakan sesuatu hal yang bisa menjadikannya seorang anak durhaka.
Cepat-cepat Dean meninggalkan kamar itu. Rasa laparnya saat itu menguap seketika. Dia merasa serba salah.
Ingin rasanya dia mengajak Winarsih pindah dari rumah itu. Tapi membayangkan meninggalkan Pak Hartono yang selalu berada di pihaknya, membuat Dean tak tega.
Sempat bingung bagaimana cara mengatakan hal yang sebenarnya tanpa menyakiti hati istrinya itu, akhirnya Dean memasukkan beberapa pakaian ke kopernya yang berukuran paling besar dan menyambar beberapa stel jas yang tergantung di lemarinya.
Beberapa menit kemudian dia telah tiba di depan pintu kamar Winarsih seperti seseorang yang baru saja diusir dari rumah.
Dean baru saja menyeka sudut matanya, tapi sekarang dia memeluk Winarsih dengan sebuah senyuman.
Malam itu, Dean yang telah berpakaian rapi dan mentereng dengan rambut yang tersisir ke belakang dengan aroma pomade khasnya, duduk bersandar di tepi ranjang tua sambil memeluk Winarsih.
Penampilan rapinya tadi sebenarnya dimaksudkan untuk mengajak Winarsih makan malam pertama kali bersama orangtuanya.
Tapi tampaknya Dean masih harus bersabar demi mewujudkan angan-angannya itu.
Kini dengan kehadiran koper raksasa Dean, kamar Winarsih lebih menyerupai sebuah gudang.
"Win," panggil Dean yang setengah bersandar di head board ranjang dan meminta Winarsih berbaring di sebelahnya.
"Ya?"
"Kalo kita pindah dari sini, Kamu mau nggak?" tanya Dean.
"Saya nggak mau Pak," jawab Winarsih cepat.
"Kenapa?" tanya Dean heran.
"Saya nggak mau Pak Dean ninggalin orang tua Pak Dean karena saya. Pak Hartono dan Bu Amalia sudah tua. Mereka cuma punya Pak Dean di sini. Kasihan kalau ditinggalkan," ucap Winarsih muram.
Dia teringat akan ibunya dan Yanto yang hanya berdua di rumah. Pasti berat bagi ibunya tak memiliki teman bicara yang bisa dijadikannya tempat berbagi penat pikiran.
Yanto yang memiliki kekurangan tak akan mengerti tentang keluh kesah yang disampaikan ibu mereka.
Perkataan Winarsih menambah rasa sedih di hati Dean.
Rasa sayang Dean kepada Winarsih tak tumbuh dalam satu malam saja.
Setelah melakukan hal yang menyakiti Winarsih empat bulan yang lalu, serta mengetahui bahwa Dean adalah yang pertama bagi wanita itu ternyata menimbulkan perasaan bersalah di hatinya.
Lama-kelamaan perasaan bersalah itu berubah menjadi perasaan tidak rela jika tubuh yang pernah disentuhnya itu berdekatan dengan laki-laki manapun.
Tanpa Dean sadari perasaan bersalah itu berubah menjadi perasaan sayang. Dan juga perasaan rindu.
Rindu ingin kembali merengkuh tubuh yang pernah merintih memohon kepadanya.
Setelah menikahi Winarsih, kini Dean merasa seluruh tubuh istrinya itu adalah miliknya. Dia juga baru menyadari kalau dirinya ternyata seorang pria yang cukup posesif
Ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri. Dan dengan dandanan yang seperti akan pergi ke sebuah resepsi, Dean kembali mencumbui istrinya yang hanya mengenakan selembar daster tanpa dalaman.
Tangan Dean sudah menjelajah ke mana-mana, terutama ke tempat yang selalu menjadi favoritnya.
Sejak tadi Dean tak henti-hentinya mengecup setiap sudut tubuh Winarsih yang bisa dijangkaunya.
__ADS_1
Sesekali tangannya berhenti berlama-lama di dada wanita itu. Mencari puncaknya yang terasa sudah mengetat di bawah jarinya.
Dean terus menyergap Winarsih dengan pijatan-pijatan lembut. Hingga akhirnya saat Dean berusaha kembali menarik daster istrinya, Winarsih berkata :
"Pak, saya laper. Udah hampir jam 9 malem tapi belum makan. Kasian anak Bapak," ucap Winarsih seraya mendongak memandangnya.
Dean menepuk kepalanya, "Ya ampuuun."
Bagaimana bisa dia sudah hampir memberi nafkah batin nyaris tiga kali, tapi belum memberi nafkah lahir kepada istrinya itu sekali pun.
"Win, maafin aku ya. Aku terlalu terbius acara temu kangen dengan calon anak kita ini. Padahal aku juga belum makan. Bayangin kalo aku udah makan," ujar Dean mengatupkan mulutnya sambil mengusap perut Winarsih.
"Hmm?" Winarsih tersipu mengalihkan pandangannya.
"Kalo sekarang kita masuk ke dalam rumah, mungkin masih bakal ketemu sama mama yang masih cemberut. Jadi gimana kalau kita makan sate yang biasa di simpang jalan. Mau?" Dean berucap masih sambil mengusap-usap perut istrinya.
Winarsih mengangguk senang.
"Sebentar ya... saya ganti baju dulu," ucap Winarsih bangkit dari ranjang.
Winarsih beranjak mengambil sepasang pakaiannya yang tersisa di dalam lemari kemudian pergi menuju kamar mandi.
"Eh kok ke sana? Bukanya di sini aja dong. Di depan aku. Aku 'kan pengen liat. Kan kita udah nikah." Dean mengucapkan kalimat saktinya untuk membuat Winarsih manut kepadanya.
Dengan sebelah tangan berada di kepalanya, Dean mirip seperti seekor duyung di dalam dongeng.
Dean berbaring miring di atas ranjang, melahap pemandangan istrinya yang sedang berganti pakaian. Matanya tak berkedip saat Winarsih melepas selembar batik kemudian membungkuk untuk mengaduk-ngaduk isi paperbag yang pernah diberikannya.
Ketika melihat Winarsih mengenakan pakaian yang sudah puluhan kali dilihatnya, Dean merasa hatinya kecut sekali.
Harusnya dia menikahi Winarsih saat dirinya menyadari bahwa noda di selimut yang masih tersimpan itu adalah memang ulah perbuatannya
Besok dia akan menelepon Ryan untuk mengatakan bahwa dirinya tak akan datang ke kantor.
Tak hanya ingin memberikan istrinya nafkah batin yang mengagumkan, Dean juga ingin memberikan nafkah lahir yang impresif kepada wanita itu
Beberapa menit kemudian mereka telah keluar kamar dan berjalan beriringan menuju pagar. Tangan Winarsih berada di dalam genggamannya.
Saat tiba di dekat pagar, "Eh, dompetku ketinggalan di kamar atas. Kamu tunggu di sini sebentar. Aku naik dulu," ucap Dean.
"Nggak usah, saya ada bawa uang Pak. Kalau cuma untuk beli sate saja masih cukup." Winarsih menunjukkan dompet kecil yang berada di genggamannya.
"Ah enggak! Aku harus ambil dompet dulu. Jangan buat keadaanku jadi makin seperti teraniaya Bu," Dean mengedipkan sebelah matanya kemudian berlari ke dalam melewati teras depan rumah.
"Nah kan---bener si Winarsih! Ut! Ini Winarsih! Win! Win! Keluar dulu! Utomo mau ketemu!" teriak Jaka yang seperti maling mengendap-endap di depan pagar sambil mengintip ke dalam.
Winarsih yang melihat Jaka memanggilnya, menoleh sekilas pada Pak Lutfi yang bertugas hari itu. Winarsih kemudian pergi keluar pagar menghampiri Jaka.
"Mas Jaka, ada apa? Udah malem kayak gini," tanya Winarsih heran.
Sekarang waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam.
"Kami berdua udah dari jam 7 malem duduk di luar pagar itu nungguin kalau-kalau kamu ada ke luar. Utomo mau ngomong." Jaka menunjuk Utomo yang berdiri merapat ke pagar yang di baliknya berdiri pos satpam.
"Eh Mas Jak, tapi aku--"
Jaka menarik lengan Winarsih agar mendekat ke arah Utomo. Winarsih resah menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Udah Win, kasian Utomo. Kasihani Aku juga yang selalu dirusuhinya. Utomo ingin minta maaf." Jaka sedikit menjauh dari Winarsih yang berdiri ragu-ragu di dekat Utomo.
"Win, kemarin pagi aku ke rumah kamu. Tapi kata tetanggamu, kamu sudah berangkat ke Jakarta dengan Bu Sumi. Aku jadi merasa bersalah Win. Maafin aku. Aku nggak ada maksud apa-apa selain ingin mengambil tanggungjawab itu demi kamu. Aku nggak mau kamu melahirkan anak itu sendirian. Nggak apa-apa Win, aku rela jadi ayahnya. Tapi aku nggak nyangka kamu bisa kembali lagi bekerja di rumah ini. Apa kamu nggak malu ke sana kemari dengan perutmu yang semakin membesar?" tutur Utomo dengan wajah putus asa.
"Mas Ut, bukan begitu. Sebenarnya aku sudah--"
"Aku mencintaimu Winarsih. Aku akan nerima keadaan kamu ini. Maafkan atas semua kata-kata kasarku. Maafkan aku yang sudah menghina adikmu. Aku benar-benar emosi malam itu. Aku nggak nyangka Bu Sumi bakal semurka itu denganku." Utomo terus berkata tanpa mengindahkan Winarsih yang menggeleng-geleng.
"Bukan Mas Ut, Mas Utomo denger dulu."
"Ngapain kamu ke sini lagi Win? Mau mengemis tanggungjawab dengan anak majikanmu itu? Buka matamu Winarsih. Cuma aku satu-satunya laki-laki yang mencintaimu dengan tulus dan mau menerimamu. Jangan biarkan anakmu lahir tanpa ayah." Utomo bergerak hendak menyentuh tangan Winarsih yang kini juga memandangnya putus asa.
"Malem Pak Dean, mau ke mana?" terdengar suara Pak Lutfi menyapa Dean yang sepertinya sudah tiba di dekat pos satpam.
"Malem Pak Lutfi... saya mau kawin lari dengan Winarsih," jawab Dean kalem.
Hening. Pak Lutfi terdiam. Utomo terdiam. Bahkan Jaka yang berjongkok di trotoar sambil menepuk-nepuk nyamuk di wajahnya juga ikut terdiam.
"Ehem!! Ada drama apa ini?" Dean muncul dengan menenteng sebuah clutch coklat di tangan kirinya.
"Pak--" Winarsih mendekati Dean dan melingkarkan tangannya di lengan kanan suaminya dengan wajah khawatir. Winarsih khawatir dengan ucapan Dean yang sering di luar dugaan.
Tatapan Utomo beralih ke tangan Winarsih yang dinilainya terlalu genit karena sudah berani menyentuh anak majikannya. Jaka berdiri menatap Dean dari ujung kaki hingga kepala.
"Maaf Pak.... Saya ada urusan dengan Winarsih," jawab Utomo mulai kesal kepada Dean yang selalu ikut campur urusannya.
"Semua urusan istri saya, adalah urusan saya juga. Kamu ada urusan apa emangnya? Biar saya denger. Atau perlu nasihat hukum? Saya juga bisa bantu," ketus Dean.
"Win?" tanya Utomo melirik ke arah Winarsih.
"Dari tadi Mas Utomo nggak mau dengerin aku ngomong. Ini Pak Dean Mas, suamiku. Soal yang kemarin, aku sudah maafin Mas Utomo. Aku nggak ada berpikiran macem-macem. Aku udah sering bilang, Mas Utomo nggak usah khawatirkan aku. Aku juga minta maaf," tutur Winarsih menatap lurus Utomo.
"Udah?" tanya Dean kepada Utomo.
Utomo masih diam menatap tak percaya kepada Winarsih.
"Kalo udah selesai, kita berdua mau permisi dulu. Kasian anak saya di dalem perut dari tadi udah minta sate," ucap Dean seraya memeluk bahu Winarsih. Meninggalkan Utomo dan Jaka yang masih berdiri terperangah.
"Kamu jalannya di sebelah sini, aku nggak mau pipi kamu disentuh selain sama aku. Meski itu cuma angin," ucap Dean yang berpindah posisi ke dekat tepi jalan.
Malam itu, satpam yang sedang berjaga adalah Pak Lutfi sang CCTV. Dean tahu satpam itu pasti mendengar semua pembicaraan yang terjadi di luar tembok pagarnya.
Niat awal Dean yang ingin memecat Satpam itu berubah menjadi keinginan memberi edukasi soal hal membuka mulut.
Dan untuk Utomo, Dean berharap agar pria itu berhenti untuk mengejar dan menyepelekan Istrinya.
Pengantin baru yang malam ini harus tidur berdesakan di kamar paling pojok sayap kiri rumah, kini berjalan beriringan dengan saling menautkan jari satu sama lain di sepanjang trotoar pejalan kaki.
*******
Di tepi jalan sesaat setelah Dean dan Winarsih berjalan menjauh.
"Aku nggak rela Jak," gumam Utomo menatap Winarsih yang berjalan semakin menjauh di bawah jepitan lengan Dean.
"Sudah toh Ut. Kan aku sudah bilang, berhenti. Laki-laki sejati itu, tau kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Aku nggak bermaksud menghina kamu Ut. Tapi kamu juga sudah liat sendiri. Bukan kamu nggak ganteng. Tapi seandainya kamu berpakaian yang sama dengan Pak Dean tadi. Hasilnya pasti tetap beda. Karena masalah kita ini, bukan cuma di fesyen sense. Tapi muka. Ayolah pulang. Aku ngantuk. Besok pagi-pagi udah masuk kerja."
"Kalau sikap Pak Dean sudah seperti itu pada Winarsih. Jarak kamu dengan Winarsih juga sudah semakin jauh. Aku doakan semoga kamu nantinya bisa menatap istrimu seperti Pak Dean menatap Winarsih tadi. Duh, aku kok jadi pengen nambah anak keempat karena liat mereka," ujar Jaka seraya melambaikan tangannya ke arah sebuah taksi biru dan menyeret Utomo untuk segera pergi dari sana.
__ADS_1
To Be Continued.....