
Pagi itu Dean sedang memakai dasinya di depan cermin kamar Winarsih. Winarsih yang sedang memperhatikan cara Dean menyimpulkan dasinya duduk mengamati dari sisi tempat tidur.
"Ayo sini," panggil Dean yang sejak tadi ternyata tahu kalau sedang diamati.
Winarsih berjalan mendekatinya.
"Bisa ngiketnya?" tanya Dean yang kembali mengurai dasinya hingga terlepas.
"Saya tadi cuma merhatiin, tapi ini saya coba ya Pak. Saya pengen bisa ngiket dasi Pak Dean setiap mau berangkat kerja." Winarsih sedikit mendongak melihat Dean.
Menyadari tinggi badan istrinya, Dean merentangkan kedua kakinya untuk memperkecil jarak tinggi mereka.
Winarsih tertawa kecil melihat kini wajah suaminya hanya berjarak satu jengkal dengannya.
"Tadi silang ke sini--terus ke sini--dan terakhir masuk ke sini--!" Winarsih bergumam sendirian seraya membuat simpulan pada dasi Dean.
"Ternyata bisa!" ujar Winarsih tersenyum lebar dan menyeret tubuh Dean menuju ke depan cermin.
"Wah!! Bu Winar--kamu bener-bener cepat belajar!" Dean memandang puas ke arah cermin. Tak menyangka Winarsih yang hanya menontoninya dari jauh ternyata sangat cepat belajar.
Selesai dengan dasi Dean, Winarsih meraih sebuah jas berwarna navy dan merentangkan jas itu ke belakang tubuh suaminya.
Setelah jas itu tersangkut di tubuh Dean dengan sempurna, Winarsih berjinjit-jinjit menepuk-nepuk permukaan jas yang dirasanya ada sedikit debu halus.
"Pak Dean ganteng sekali." Ucapan polos dari Winarsih meluncur begitu saja dari mulutnya.
Dean tersenyum mendengar hal itu. Kemudian ia meletakkan kedua tangannya di pipi Winarsih seraya mengatakan, "Bu Winar juga cantiiiikkk sekali. Apalagi ditambah dengan perutnya itu. Kalo Bu Winar nggak cantik, Pak Dean nggak akan mungkin senekad ini." Dean terkekeh.
Dan sebuah ciuman dari suaminya sebelum berangkat ke kantor kembali mendarat di bibir Winarsih.
*******
"Pagi Pak Dean..." sapa beberapa pegawai saat Dean melintasi jajaran meja kerja menuju ruangannya.
"Pagi" jawab Dean datar dengan langkah cepat menuju ruangannya yang terletak di ujung lorong.
Sesaat sebelum membuka pintu, Dean menghentikan langkah untuk menoleh kepada Ryan.
"Yan, bawa berkas susulan kemarin. Gua mau cek dulu."
"Oke Pak, meluncur segera."
Tak berapa lama Ryan muncul dengan sebuntelan map yang langsung ia letakkannya di atas meja kerja atasannya.
"Ini semua dari anak Grup Cahaya Mas 'kan?" tanya Dean.
Ryan mengangguk.
"Berkas Hartono Coil?" tanya Dean lagi.
"Ada di situ juga. Sudah lengkap dengan potongan-potongan pajaknya. Pajak perusahaan pak Hartono gak ada masalah Pak, semua udah dibayar dan seluruh transaksi-transaksi telah dipotongkan," terang Ryan.
"List perusahaan yang dikerjakan Winarsih itu sudah semuanya dicek?" tanya Dean lagi.
"Belum semuanya, tapi sebagian benar seperti yang Pak Dean bilang kemarin," jawab Ryan masih duduk dengan menyilangkan kaki di depan atasannya.
"Oke, sementara ini kita tahan dulu. Karena nggak mungkin kita menghunuskan pedang kepada orang yang sedang tangan kosong. Kita liat senjatanya apa, kita tinggal menyesuaikan. Tinggal video-video itu, kemarin mama dikirimin lagi video gua yang lagi--yah, gua nggak tau berapa banyak dia ngerekam tiap gua mabuk dan lagi.... Mama masih di rumah sakit karena itu," ujar Dean sedikit frustasi.
"Winarsih--eh maksud saya, istri Pak Dean ngeliat?" tanya Ryan penasaran.
__ADS_1
"Enggak, belum. Gak tau dianya." Dean menggeleng.
"Sepele tapi berbahaya Pak," jawab Ryan.
"Ya, sanksi terberat manusia di dunia bukan hanya penjara. Tapi penghakiman manusia," ucap Dean menerawang.
"Eh iya Yan.... Entar kalo Disty dateng, suruh masuk aja ya" sambung Dean.
"Oh, udah mau ketemu?" Ryan menunjukkan mimik heran.
"Harus, gua mau dia tau sesuatu soal gua. Ya udah segitu aja." Dean mengibaskan tangannya.
"Baik Pak, saya permisi dulu. Eh itu berkasnya saya tinggal dulu ya. Nanti kalo udah Pak Dean cek, saya ambil lagi." Ryan bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi meja kerja.
Dean hanya bergumam tak menoleh saat menjawab Ryan.
*******
(Danawira's Law Firm, 12.30)
"Masuk aja Mbak, Pak Dean di dalem" ujar Dean pada Disty yang berjalan menuju mejanya.
Disty yang biasa bisa langsung menerobos masuk ke ruangan kerja Dean kini harus permisi dan menginformasikan kedatangannya pada sekretaris.
Hatinya semakin diliputi kemarahan. Begitu mudahnya orang yang kemarin masih menganggap ia segala-galanya, tapi kini berubah asing dalam sekejab.
Setelah membuka pintu, Disty langsung berjalan menuju meja kerja pria yang dianggapnya masih seorang kekasih.
Meja kerja itu biasa menjadi tempatnya melucuti dasi pria itu untuk mengecup dadanya.
Dean hanya mendongak Disty sekilas kemudian menutup map yang terbuka kemudian bangkit dari duduknya.
Disty melirik wajah Dean yang sebenarnya terlihat semakin tampan di balik wajah angkuhnya. Hatinya kecut melihat cara Dean mengibaskan tangan menunjukkan barisan sofa. Dia benar-benar telah diperlakukan seperti orang asing oleh pria itu.
"Oke, apa yang mau bicarakan?" tanya Dean setelah duduk menyilangkan kakinya.
"Kita De... soal kita" ujar Disty.
"Bagian yang mana?" tanya Dean.
"Kamu nggak pura-pura lupa dengan yang udah disampein ama mama kamu 'kan?" tanya Disty dengan wajah yang langsung nampak kesal melihat reaksi Dean.
"Sampe kapan sih kamu mau neror mamaku dengan cara kayak gitu? Bukannya lebih baik kamu berenti aja dan kita kembali ke kehidupan kita masing-masing?" tanya Dean.
"Kehidupan kita masing-masing? Kehidupan kita sebelumnya itu berdua De. Kita pacaran dan kamu udah ngelamar aku."
"Sorry, tapi kamu juga tau aku ngomong apa ke kamu 'kan? Aku mau kamu tunggu sampai orangtuaku bisa nerima kamu. Tapi apa yang kamu buat Dis?"
"Dan apa yang kamu lakuin Dean? Menghamili pembantumu? Atau mengakui anak yang ada di kandungan pembantu murahan itu sebagai anakmu?" sengit Disty dengan suara yang sudah meninggi.
"Jaga lidah kamu Disty. Anak yang dikandung istriku sekarang adalah berkat jasamu dengan minuman dan obatmu itu. Mungkin kalo nggak karena kamu, aku nggak akan sebahagia sekarang. Beberapa bulan lagi aku akan jadi bapak dari seorang bayi laki-laki. How amazing right (luar biasa bukan) ?" tukas Dean dengan mata berbinar dan tarikan senyum di sudut bibirnya.
Disty terdiam seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Tapi kamu tetap harus nikahin aku," ujar wanita itu kemudian.
"Sorry, nggak bisa. Aku nggak ada niat poligami. Semua yang ada pada istriku sekarang, sudah melebihi kata cukup atas ekspektasiku sebagai seorang laki-laki. Baru kali ini aku merasa benar-benar berguna."
"Lagipula, aku juga udah ngomong hal itu ke orangtuaku. Aku nggak bisa nikahi kamu." Dean bersandar santai menatap Disty.
__ADS_1
"Tapi resepsi itu tetap harus dijalankan Dean, atau ibumu yang sedang di rumah sakit itu bisa mati karena video telanjang anaknya," ujar Disty merasa puas setelah melihat Dean sedikit mengendurkan senyum karena ucapannya barusan.
"Dan istrimu harus merelakan suaminya berada di sebelahku sepanjang malam. Enggak enak kan De?" Disty kemudian tertawa.
"Setelah itu apalagi?" tanya Dean.
"Aku akan tinggal di rumahmu, agar orang tau kita memang telah menikah," ujar Disty. "Dan supaya aku bisa ngeliat kamu setiap hari De, aku ingin kamu jatuh cinta lagi dengan perhatianku," sambung Disty di dalam hati.
"Lagipula, banyak acara yang harus kita hadiri setelah kita menjadi pasangan suami istri," ucap Disty lagi.
Disty tak akan membuat kehidupan Dean bersama pembantunya itu aman sentosa. Hampir yakin dia berpikir bahwa wanita kampung yang diperistri Dean akan segera lari terbirit-birit meninggalkan suaminya.
"Terus?" tanya Dean masih menyimak semua impian wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Dan yang paling penting, aku ingin mendapat sesuatu dari hasil kerja kerasku. Aku ingin memiliki salah satu aset atas namamu De. Dulu kamu pernah mengatakan aku bisa memiliki semuanya saat aku menjadi istrimu." Akhirnya Disty mengucapkan apa yang diinginkannya.
Bukan karena apa yang diberikan Dennis Atmaja padanya terlalu sedikit. Tidak. Disty hanya menginginkan sesuatu yang memang diberi Dean untuknya.
Dia ingin mengetahui sisa perasaan pria itu kepadanya. Entah itu sisa perasaan sayang Dean, atau juga perasaan kasihan yang sering dialamatkan Dean pada orang-orang.
Disty bisa menunjukkan kepada teman-temannya bahwa pacarnya yang sebentar lagi akan menjadi 'suami' telah memberikan sesuatu sebagai tanda cintanya.
"Itu aja?" tanya Dean singkat.
Disty mencibir dan mengangkat bahu.
"Tapi aku sekarang nggak punya apa-apa lagi Dis. Aku udah miskin," ujar Dean dengan wajahcemberut yang dibuat-buat.
"Maksud kamu?" tanya Disty sedikit bingung.
"Semua aset aku udah nggak ada,"
"Nggak usah bercanda."
"Aku nggak bercanda. Setelah menikah aku langsung memberikan semua apa yang kumiliki untuk istriku. Beberapa bangunan, tanah, deposito, bahkan saham perusahaanku di Cahaya Mas sekarang sedang dalam proses peralihan. Sekarang aku laki-laki miskin Dis. Aku nggak punya apa-apa lagi selain istriku." Dean mengerucutkan bibirnya.
"Laki-laki berengsek!!" teriak Disty.
"Jangan teriak-teriak. Ini kantor."
"Oya, kamu bisa minta sama mamaku kalo perlu apa-apa. Aku juga pengen tau dia mau ngasi kamu apa selain resepsi mewah itu." Dean terkekeh menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dean adalah anak bungsu dari Nyonya Amalia Hartono yang paham betul bagaimana ibunya mengatur harta keluarga.
Drrrrrrttt..... Drrrrrrrrrt....... Drrrrrrttt
Ponsel Dean bergetar di atas meja.
Tulisan "IBU" dengan foto dirinya sedang mencium bibir Winarsih muncul di layar. Disty refleks menoleh tampilan layar depan ponsel Dean di atas meja.
"Ya Bu?" sapa Dean. Nada suaranya telah berubah 180° dari beberapa detik yang lalu.
"Kenapa? Oh nomornya--iya, nanti aku kirim lewat pesan ya. Bu Winar udah makan siang? Makan yang banyak ya, untuk anak bapak juga." Dean tersenyum-senyum. Istrinya bertanya berapa nomor ponselnya karena Winarsih ingin mengabarkan pada ibunya di desa soal nomor telepon yang bisa dihubungi.
Kemudian Ryan membuka pintu ruangan dan muncul dengan nampan yang berisi dua cangkir teh.
Dean masih berbicara di telepon, dan Disty langsung bangkit meninggalkan ruangan itu. Suara pintu yang dibanting menyusul kemudian.
Ryan terperangah. Setelah Dean menutup telepon, pria itu mendekati Ryan dan mengambil secangkir teh dari atas nampan.
"Kamu minum aja itu teh satunya, tamunya udah pulang" ucap Dean sembari menyeruput teh kemudian berjalan kembali ke balik meja kerjanya.
__ADS_1
To Be Continued.....
Terus dukung ceritaku dengan Likes dan Comments yaa..