
"Kamu liat itu Ut! Winarsih cantik sekali. Itu yang digendong anaknya sama Pak Dean. Kamu liat nggak Ut?" ujar Jaka yang duduk di balik sekat meja kerjanya.
Utomo yang tadi baru saja kembali dari mesin fotocopy di sudut ruangan, masih berdiri dengan memegang kertas beberapa lembar di tangannya. Pandangannya tak berkedip. Melekat langsung tertuju pada mata Winarsih yang juga sedang memandangnya.
Jantungnya berdenyut lebih keras melihat Winarsih berjalan bersama seorang pria tampan yang sedang menggendong anak mereka dengan tangan yang berada di genggaman pria itu. Hati Utomo masih terasa sakit sekali.
Hanya setahun yang lalu saat Winarsih memutuskan untuk meninggalkannya. Monas adalah saksi bagaimana hatinya hancur saat itu. Winarsih yang selalu diimpikannya menjadi seorang istri memutuskan untuk meninggalkannya. Bahkan tawaran untuk menanggung jawani kehamilan wanita itu pun ditolak mentah-mentah.
Winarsih sangat cantik. Kecantikannya melebihi wanita kota yang pernah dilihatnya selama ini. Winarsih memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh wanita-wanita kota itu. Meski penampilan Winarsih berubah, tatap matanya masih sama. Menurut Utomo, Winarsih masih seperti yang dulu. Yang baik, berpendirian teguh, rendah hati dan selalu memikirkan orang lain. Itulah minarsih yang dikenal Utomo.
Telinga Utomo mendengar bisik-bisik dari sekeliling meja kerjanya.
"Itu isteri Pak Dean."
"Itu anak Pak Dean, anaknya ganteng banget."
"Isterinya cantik banget."
"Benar-benar keluarga yang sempurna."
"Pak Dean benar-benar beruntung."
"Siapa isterinya itu?"
"Isterinya siapa?"
"Masa kamu nggak dengar, itu isterinya yang punya saham di Grup Cahaya Mas."
"Aku denger, isteri Pak Dean itu yang beli saham yang kemarin anjlok. Bisa dibilang, dia yang nyelamatin perusahaan mertuanya. Jadi Grup Cahaya Mas itu udah sepenuhnya milik Keluarga Hartono lagi."
"Jak! Kamu denger barusan apa yang mereka bilang ? Winarsih punya saham disini Jak! Winarsih bukan Winarsih yang dulu lagi. Dia sekarang atasan kita Jak! Berarti kalau macam-macam kita bisa angkat kaki dari sini." Utomo perlahan duduk kembali di kursinya. Winarsih telah pergi melalui deretan meja-meja kerja dalam gandengan tangan suaminya yang tampan.
"Iya Ut, Winarsih udah beda ya. Keliatan hebat. Berkelas. Seandainya ibu kamu ngeliat dia begini sekarang," jawab Jaka memandang wajah sahabatnya.
"Iya, seandainya ibuku liat wanita yang dulu disepelekannya." Utomo menatap muram kertas-kertas yang berada di tangannya.
"Tapi kalau Winarsih masih sama kamu, dia belum tentu kayak sekarang Ut. Maaf ya Ut, nggak maksud menyinggung. Tapi memang takdir orang itu kan beda-beda. Kita mau belok kanan atau ke kiri meski tujuannya sama, tapi yang kita temui di jalan pasti tetap beda." Jaka menepuk-nepuk pundak Utomo yang menghela nafas sangat panjang.
"Nikmati ajalah Jak," sahut Utomo.
"Iya Ut, bener. Ibaratnya makan. Nikmati apa yang ada di piringmu saja, enggak usah lihat isi piring orang lain." Pandangan Jaka berakhir saat Winarsih dan Dean masuk ke dalam lounge di sudut ruangan.
**********
Winarsih tak berani meneruskan tatapannya pada Utomo. Selain karena dia menghargai Dean yang berada di sebelahnya dia tak ingin semakin melukai hati pria itu.
Masa lalu tetaplah masa lalu baginya. Seperti kata Bu Amalia, dia harus melangkah dengan percaya diri, menegakkan dagunya dan hanya sedikit melontarkan senyuman. Dan kini mereka telah berada di depan pintu lounge kantor.
Pak Hartono yang tadinya berbicara serius kepada seorang pria yang sepertinya berusia tak jauh dengannya, menoleh ke arah Winarsih sekilas kemudian melanjutkan obrolannya.
Dan seperti ingin meyakinkan penglihatannya barusan, Pak Hartono kembali menoleh ke arah Winarsih. Pria tua itu hanya sedikit tersenyum. Bukan karena memandang wajah Winarsih, tetapi karena melihat tangan Dean yang menggandeng isterinya dan Dean yang sedang menggendong bayinya.
"Oh ini anaknya Pak Dean? Nggak pernah keliatan. Ini Bu Winarsih ya? Perkenalkan saya Firdaus Bu, Direktur di sini. Salam kenal dan selamat datang di keluarga besar Grup Cahaya Mas," ujar Pak Firdaus yang tadi berbicara kepada Pak Hartono.
Beberapa orang pria yang duduk di dekat Pak Firdaus ikut berdiri menyalami Winarsih. Dean yang tadi sudah berada di sana hanya memandang isterinya yang mengangguk sedikit kepada para pria itu. Dia merasa gregetan sendiri. Bagaimana mungkin Winarsih bisa menjadi begitu anggun dan elegan.
__ADS_1
Pukul 10 lewat semua orang telah berkumpul duduk di kursinya masing-masing. Meja yang berbentuk U itu berpusat dengan sebuah layar proyektor besar.
Masing-masing di hadapan peserta rapat terdapat berbagai jenis minuman dan sekeranjang cemilan. Dilengkapi dengan sebuah laporan perusahaan Grup Cahaya Mas yang telah dijilid dan diletakkan beserta sebuah ballpoint berukirkan nama perusahaan itu.
Jantung Winarsih berdebar lebih cepat karena gugup dengan lingkungan sekelilingnya. Penampilannya memang telah berubah, tapi nyalinya menciut berada di antara para staf dan direksi yang memang sangat berpengalaman itu.
Terlebih ayah mertuanya yang merupakan seorang Menteri, duduk tak jauh darinya. Kakinya menyilang sempurna di bawah meja, tapi kedua tangannya masih terletak di atas pangkuan saling menaut.
Dean yang melirik ke arah istrinya. Lagi-lagi ia mengagumi wajah cantik dan berbeda Winarsih yang tampil hari itu.
Winarsih seperti wanita yang berbeda, dengan kecantikan yang berbeda. Bagi Dean, Winarsih selalu cantik. Dia cantik memakai dasternya, cantik saat sedang menyusui anaknya, cantik saat sedang merajuk dan kini Winarsih cantik tampil sebagai seorang wanita eksekutif.
Dean memandang tangan isterinya yang sedang bertaut di atas pangkuan. Ingatannya melayang pada pagi sesaat sebelum Winarsih dinikahinya. Kegugupan jelas tergambar dari sikap isterinya itu.
Winarsih adalah isterinya meski mereka berada di kantor. Mereka tetaplah menjadi kesatuan yang harus saling menguatkan. Sekarang Dean sedang menguatkan isterinya sekali lagi. Dia menggenggam tangan Winarsih dan meletakkan ke atas pahanya. Dean mengusap lembut punggung tangan isterinya.
Dean ingin mengalirkan kehangatan pada telapak tangan yang dingin itu. Winarsih menoleh menatapnya. Sesaat mereka saling bertatapan.
Kemudian Winarsih kembali mengalihkan tatapannya ke arah layar yang sedang menunjukkan grafik perusahaan.
Winarsih benar-benar berbeda pikirnya. Hari ini istrinya memang tampak sangat mahal. Sedikit bersyukur ia telah melewatkan pagi menyenangkan bersama isterinya tadi.
Pikiran kotor Dean pun sekilas merambati otaknya. Winarsih yang sekarang berpakaian rapi dalam balutan blazer saat ini adalah orang yang sama saat selimutnya ditarik paksa olehnya tadi pagi.
Dean yang sedang berada di dalam rapat tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Rapat itu terus berlangsung hingga jam makan siang. Winarsih permisi untuk menemui Dirja di lounge yang sedang bermain dengan Utinya. Dean yang masih penasaran dengan isterinya sendiri, kembali menggenggam tangan Winarsih dan menempeli wanita itu ke lounge.
Dan di luar dugaan Dean. Saat berlangsung voting untuk perubahan susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan, Winarsih dengan lancar bisa memberikan hak suaranya. Dean tak tahu berapa lama isterinya belajar demi mempersiapkan rapat hari itu. Tapi yang jelas, Dean kembali terpukau dan merasa jatuh cinta.
"Pak, saya dan Utinya Dirja pergi dulu ya. Bapak kan mau ketemu teman-teman." Winarsih menggendong Dirja di depan lobby kantor sesaat setelah rapat selesai dan mereka turun bersama.
"Tapi udah janji ama temen, kan nggak enak. Hari ini acaranya Pak Dean dengan mereka. Nggak apa-apa kok. Kami berangkat dulu ya," ujar Winarsih.
Dean merasakan ponsel di genggamannya bergetar. Dan sekilas ia melihat nama Toni tertera di layar. Dan ia melihat ibunya telah didorong ke teras untuk naik ke mobil.
"Ya udah, itu temen Pak Dean udah nelf. Saya pergi dulu ya." Winarsih yang melihat ponsel suaminya tak henti bergetar maju selangkah dan setengah berjinjit untuk mengecup pipi Dean.
Dean merona. Tatapannya berubah hanya dengan sebuah kecupan di pipi oleh isterinya. Ingin menahan Winarsih tapi ia merasa sedikit berlebihan karena di rumah mereka pasti bertemu lagi.
Aroma wangi rambut Winarsih masih tinggal di ujung hidungnya. Saat masih ingin menatap bibir penuh dan lesung pipi manis di hadapannya, Winarsih telah melenggang pergi menyisakan suara heels yang mengetuk lantai.
************
(Beer Garden SCBD Sudirman, 17.00)
"Susah ya menghubungi Pak Dean sekarang!" seru Rio saat melihat Dean masuk dan duduk di sebelahnya. Dean baru saja tiba di Beer Garden, ketiga temannya sudah berada di sana lebih dulu.
"Rapat Bro, lu kayak nggak pernah rapat tahunan aja." Dean melambaikan tangannya pada seorang pelayan.
"Bukan rapatnya! Lu-nya sekarang yang susah banget tiap diajak ketemu," tambah Toni.
"Sibuk gua--sibuk" jawab Dean.
"Udah pada pesen makan? Lu nggak laper De?" tanya Langit.
__ADS_1
"Belom laper gua karena ngeliat hal luar biasa hari ini," ucap Dean.
"Apa emangnya?" tanya Rio penasaran.
"Ada deeehh... Pak Rio penasaran aja." Dean tersenyum.
Genk Duda Akut meski sering membicarakan wanita lain, tapi mengharamkan untuk berbicara tentang isteri mereka. Bahkan mereka berjanji untuk tak saling memperkenalkan pasangan mereka. Bagi mereka persahabatan tak bisa dicampur-adukkan dengan urusan rumah tangga.
Berbeda dengan Ara yang memang sahabat mereka sejak SMA. Lagipula, konteks Ara memang tetaplah teman mereka hingga sekarang. Bukan siapa-siapanya.
"Eh Yo!" panggil Dean. "Itu Ara dateng lagi? Ngapain? Gua udah bilang kemarin, gua nggak mau ah kalo terus-terusan kita ngumpul ada perempuan." Dean memandang Ara yang sedang celingukan di depan pintu.
"Gua nggak enak. Gua harus ngomong apa dong? Kan dia cuma duduk doang. Trus dia bilang mau biasa-biasa aja. Emangnya dia ada ngomong apa ke elu? Nggak ada kan? Eh dia dateng--" Rio langsung terdiam karena Ara sudah tiba di meja mereka.
"Gua nggak ganggu lagi kan?" tanya Ara sumringah. "Enggak kok--" sahut tiga orang pria terkecuali Dean. Dia masih duduk dengan wajah sedikit cemberut. Dia menyesal tak mengekor isterinya tadi.
"Gua ngomong ama Dean sebentar boleh nggak? Urusan perusahaan gua yang di Kalimantan. Kayaknya gua perlu saran," ujar Ara.
"Ya udah, mau ngomong ya ngomong aja di sini." Toni mengetuk-ngetuk meja.
"Iya Ra, di sini aja juga bisa." Rio memandang wajah wanita itu.
"Enggak konsen gua kalo denger banyolan lu pada," jawab Ara.
"Emang mau ngomong apa sih?" tanya Dean dengan wajah serius. Dia mulai pusing dengan tingkah mantan pacarnya yang seolah-olah tidak mau memahami situasinya.
"Sebentar aja De, duduk di lain meja." Ara menunjuk satu meja kosong tak jauh dari teman-teman mereka.
Dean menghela nafas panjang mengedarkan pandangannya pada ketiga sahabatnya yang saling melemparkan tatapan "Nggak salah gua ya De."
Dean berdiri menuju meja yang ditunjuk Ara dan menarik kursinya sendiri.
"Jadi gini De--" Perkataan Ara kemudian tenggelam dalam lamunan Dean yang sedang memikirkan ke mana ibunya pergi mengajak anak dan isterinya sore itu.
Harusnya saat ini dia bersama keluarganya. Bukan malah duduk di depan mantan pacar yang memang dia sudah anggap seperti wanita yang bukan siapa-siapanya.
"De--de! Dean! Sebel ih dari tadi dikacangin." Ara menarik-narik ujung lengan kemejanya dengan manja.
"Eh iya," sahut Dean kembali memusatkan pandangannya pada Ara.
"Denger gua dulu Dean..." ucap Ara lembut seraya memegang ujung jari Dean dengan ekspresi kesal bercampur gemas.
"Pssst De!!" panggil Langit seraya menunjuk ke arah pintu masuk. Dean langsung menoleh ke belakang tempat di mana yang ditunjukkan Langit.
Winarsih yang sedang menggendong Dirja di satu tangannya sedang berjalan menuju ke meja tempat di mana dia dan Ara sedang duduk.
Winarsih sore itu sangat seksi pikirnya. Seorang wanita anggun dengan sepasang heels saja sudah memukau, tapi ditambah dengan seorang bayi tampan berada di dalam dekapannya membuat aura wanita itu semakin memancar.
Tapi anehnya, debar di dada Dean berbeda dari yang dirasakannya di kantor tadi.
To Be Continued.....
Jangan lupa dilike ya :*
Btw periode Give Awaynya untuk 2 Minggu ya.
__ADS_1
Dimulai dari tanggal 05 April 2021.
Poinnya untuk Winarsih dan Dean dulu ya :*