
Saat Disty datang ke rumah Dean di pagi buta dan menyebabkan keluarga itu ribut-ribut, Winarsih menuruti keinginan suaminya untuk tak pergi ke ruangan depan.
Dengan segenap kemampuannya menahan rasa ingin tahu, Winarsih mencoba duduk tenang mendengar Dean meneriaki perempuan yang pernah menjalin cinta dengannya.
Awalnya Winarsih tak mengerti apa yang terjadi antara Dean dan mantan pacarnya itu. Tapi lama kelamaan, Winarsih semakin memahami apa tuntutan wanita itu pada suaminya.
Winarsih tak mempermasalahkan apapun soal apa yang pernah terjadi antara suaminya dan wanita itu di masa lalu. Dia hanya ingin sekarang Dean yang sebentar lagi akan menjadi seorang Bapak, dapat hidup tenang.
Winarsih juga tak ingin Dean terlalu sering membantah dan bertengkar dengan orangtuanya. Terkhususnya Bu Amalia. Dia adalah wanita yang melahirkan suaminya ke dunia ini.
Dia selalu mengingat pesan Pak Padmo sesaat sebelum meninggal yang mengatakan bahwa sebesar-besarnya kemarahan seorang Ibu, tak akan melebihi rasa sayang pada anaknya.
Winarsih sangat memahami penolakan Bu Amalia terhadap dirinya. Wanita tua itu pasti menginginkan Dean mendapat isteri yang pantas dan selevel dengannya. Hingga di titik ini, Winarsih masih sering merasa bahwa dirinya belum cukup pantas untuk Dean.
Meski, dalam keseharian mereka, Winarsih semakin hari semakin mencintai suaminya itu. Perasaan awal yang tadinya hanya menginginkan anaknya mendapat seorang Bapak, kini perlahan bertambah ingin memiliki Dean seutuhnya.
Dan pagi itu, saat keributan di ruang depan hilang dari pendengarannya, Winarsih perlahan beranjak ke ruang depan. Samar-samar dari ruang makan didengarnya Bu Amalia yang mengatakan bahwa wanita tua itu tetap tak bisa menerimanya sebagai menantu.
Bu Amalia bahkan mengatakan tak ingin berpapasan dengannya di rumah itu sembari menangis. Seorang Ibu yang menangis di depan anaknya pastilah karena sesuatu hal yang sangat menyakitinya.
Perlahan kakinya mundur dan kembali ke tempat di mana Dean meninggalkannya tadi. Sesaat Winarsih merasa bahwa dirinya menjadi penyebab Dean menjadi sosok anak yang tak berbakti.
Tapi melihat bagaimana Dean kembali ke ruang makan pegawai dan menangis di pangkuannya membuat Winarsih merasa dirinya benar-benar harus lebih kuat dari pria itu.
Tak mungkin hatinya tak sakit mendengar hal itu. Terkadang Winarsih berpikir, apakah dosa jika terlahir miskin ke dunia ini?
Dengan dada yang bergemuruh, dia mencoba tetap kuat demi suaminya itu. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah berjuang sekuat dan seyakin Dean.
Dia tak ingin menjadi beban bagi pikiran Dean. Dia harus mempercayai Dean melebihi siapapun di dunia ini.
**********
Dan hari ini, Dean yang sekilas lalu melihat dirinya berbicara dengan Irman tampak uring-uringan. Wajahnya yang biasa ceria terlihat sedikit kaku.
Winarsih yang tak pernah memikirkan soal kemungkinan Dean mencemburuinya pun jadi sempat memikirkan hal itu. Apa mungkin Dean cemburu?
Dean yang selalu terlihat luar biasa percaya diri itu rasa-rasanya tak mungkin cemburu.
__ADS_1
Ternyata kemungkinan Dean cemburu itu memang harus dipikirkan Winarsih saat suaminya itu cemberut mengetahui dirinya yang sedang memperhatikan seorang balita perempuan bersama Ayahnya.
Dean yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya ke manapun. Bahkan saat mereka duduk di sofa menunggu antrean Dokter, Dean sempat-sempatnya meremas benda kelelakiannya itu mempergunakan tangannya yang tergenggam.
Meski terkejut, tapi Winarsih merasa geli sekali dengan tingkah Dean yang selalu di luar dugaannya.
Anak majikannya yang sombong dan ketus itu kini bertingkah seperti bocah manja dan nakal bila bersamanya.
Hingga saat mereka tiba di kamar, Dean yang masih uring-uringan itu mengatakan soal dia yang tak peka alias tak mengerti keinginan suaminya.
Meski kadang harus mengikuti apa yang diinginkan suaminya secara perlahan-lahan, tapi Winarsih tak pernah keberatan.
Setiap sentuhan yang dilakukan Dean padanya selalu membuatnya bisa meninggalkan bumi sejenak.
Mungkin Dean menganggapnya melakukan hal itu hanya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang isteri.
Padahal, bisa saja mereka berdua sama besar menginginkannya.
Dean adalah seorang suami yang jauh melebihi ekspektasinya selama ini sebagai seorang wanita yang lahir dan besar di desa.
Dean yang tampan, dengan tungkai kakinya yang panjang dan warna kulitnya yang bagus selalu membuatnya jatuh hati setiap pagi.
Dean meremas dadanya yang seketika membuat kuduknya meremang. Puncak dadanya pun mengetat seolah menanti bibir suaminya yang selalu berdiam di sana.
Tapi Dean menariknya untuk duduk di tepi ranjang. Dengan mata yang menatapnya sendu, Dean melepaskan handuk yang sejak tadi menutup bagian kelelakiannya.
"Win--" lirih Dean padanya. Mata Winarsih disuguhi sesuatu yang sering dirindukannya sejak kehamilannya semakin besar ini.
Sekarang Winarsih mengerti apa yang diinginkan Dean. Terlebih suaminya memegang kepalanya dan mengarahkan mulutnya ke benda itu.
Sesaat kemudian Winarsih merasakan benda hangat itu mengetat sempurna di dalam mulutnya. Erangan Dean yang tangannya telah meraup seluruh rambutnya dan menuntun kepalanya maju mundur juga membuatnya terasa basah dengan sangat cepat.
Nafasnya yang mulai terasa sesak karena kehamilannya, semakin terasa memburu.
"Ya Win, kayak gitu. Enak," lirih Dean di sela-sela erangannya. Tangan suaminya yang lain sibuk memijat dadanya berkali-kali. Dari pijatan lembut, hingga pijatan yang nyaris disebut cengkeraman.
"Liat aku Win," pinta Dean memintanya mendongak. Dan Winarsih langsung menatap wajah suaminya yang terengah-engah dengan mulut setengah membuka menikmati kehangatan mulutnya.
__ADS_1
"Kamu seksi sekali Bu Winar," gumam Dean sembari mengusap bibir Winarsih yang masih dijejali properti milik suaminya.
Kemudian Dean menarik tangan Winarsih untuk berdiri dan membelakanginya. Terasa tangan Dean mengusap perutnya yang besar dari belakang hingga tangan itu turun dan membenamkan jarinya di bawah sana.
Bagian tubuh Dean sudah menantang dan menempelinya di belakang tubuh.
Dean semakin membenamkan jemarinya di bawah sana hingga membuat tegak tubuhnya tak sempurna.
Lengan kiri Dean yang meraup seluruh dadanya dan tangan kanannya yang bergerilya di bagian sensitifnya membuat nafas dan gerakan tubuh menjadi tak terkontrol.
"Aku nggak suka kamu diliatin laki-laki lain," bisik Dean memajukan langkah hingga lututnya menyentuh sisi ranjang.
"Aku harus selalu mastiin kalo cuma aku yang bisa ngasi ini untuk kamu Win." Dean membuat tubuhnya membungkuk dan berpegangan pada permukaan ranjang.
Sudah hampir tengah malam saat Dean memasuki tubuhnya dengan posisi tubuh mereka yang masih sama-sama berdiri.
Desahan dan pekikan pun lolos dari mulutnya. Dean mengayun di belakang tubuhnya seraya sesekali mengusap bagian kewanitaan yang telah basah sepenuhnya.
"Enak ya Win?" tanya Dean di sela-sela nafasnya yang memburu. Pertanyaan yang susah dijawab karena kenikmatan yang dirasanya nyaris menuju puncak.
"Pak--" pekik Winarsih mencengkeram tangan kiri Dean yang sedang meremas dadanya. Tubuhnya mengejang dan kakinya menjadi lebih rapat.
"Bu Winar udah dapet, aku jangan dijepit dong Bu Winar." Dean terkekeh sembari membenarkan letak berdirinya.
"Sebentar lagi ya--" gumam Dean kembali mengayun tubuhnya.
Beberapa saat kemudian gerakan suaminya semakin cepat dan Dean bergerak menghujam berkali-kali seraya mencengkeram pinggulnya.
Winarsih merasakan aset suaminya itu muntah beberapa kali di dalam tubuhnya.
"Enak Win--" Dean melepaskan benda itu dan memutar tubuhnya.
Suaminya menyeruput kedua puncak dadanya dan berdiam di sana beberapa saat hingga terasa sedikit perih.
Kegiatan favorit Dean ini tak tahu bagaimana jadinya nanti jika mereka telah memiliki bayi dan suaminya itu harus berbagi.
Dean anak bungsu yang pada dasarnya manja memang terkadang terlihat sama menggemaskannya seperti bayi bagi Winarsih.
__ADS_1
To Be Continued.....